Ref: tentu saja ada solusinya: rakyat tetap pegang bendera GAM, sedangkan solusi SBY lain, yaitu rakyat Aceh tidak boleh memiliki dan tidak boleh mengibarkan bendera GAM. Jadi kehendak rakat Aceh bertentangan dengan kehendak SBY dan rezimnya. SBY berada posisi kuat karena panglima tertinggi dari banyak serdadu bermeriam, jadi solusinya akan berbentuk intimidassi dengan kekuatan kekerasan. Ancamnya akan kira-kira demikian, kalau tidak setuju dengan kehendak SBY akan didatangkan banyak serdadu jahat ke Aceh untuk merampas bendera GAM dari tangan rakyat. Dan dr Zaini Abdullah, gubernur serta sahabatnya diancam untuk dibebaskan dari jabatan , tugas dinas pekerjaan NKRI dengan tidak hormat.
http://www.presidenri.go.id/index.php/fokus/2013/04/18/8954.html Kamis, 18 April 2013, 12:19:11 WIB Presiden Percaya Ada Solusi Soal Bendera Aceh Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono percaya akan ada solusi yang dapat menghindarkan kita dari skenario sebelum Perjanjian Helsinki. Persoalan bendera dan lambang Aceh harus diletakkan dalam perspektif menghormati kekhususan Aceh sekaligus menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparringa menyampaikan hal ini di Jakarta, Kamis (18/4) siang. Ia menyampaikan sikap Presiden SBY dalam polemik tentang peraturan atau Qanun Nomor 3/2013 tentang lambang dan bendera Aceh. "Tidak seorang pun mengambil manfaat karena percekcokan yang tidak signifikan. Hari hari yang paling sulit telah dilalui kedua belah pihak. Ini saatnya untuk memastikan bahwa setiap orang menjadikan dirinya bagian dari usaha besar untuk memajukan Aceh dan Republik, menghormati kekhususan Aceh dan menjaga NKRI," kata Daniel Sparringa. Presiden, lanjut Daniel, berpandangan bahwa masalah bendera adalah hal yang pasti dapat ditemukan jalan keluarnya. "Masalah ini juga bukan hal yang pelik yang membuat kita menghadapi jalan buntu di ujungnya. Presiden mendorong agar semua pihak mengambil hikmah dari setiap sejarah yang kita buat," Daniel, yang juga pakar sosiologi politik Universitas Airlangga, Surabaya, menambahkan. Menurut Daniel, Presiden juga meminta agar perspektif politik baru yang telah memberi ruang bagi kemajuan bersama menjadi fondasi yang memperkuat hubungan Jakarta dan daerah. "Dan meneguhkan komitmen kita sebagai bangsa yang bersatu," Daniel menegaskan. (har) [Non-text portions of this message have been removed]
