http://www.analisadaily.com/news/2013/10477/rapuhnya-sistem-keamanan-penerbangan-kita/

Jumat, 19 Apr 2013 00:15 WIB 
Rapuhnya Sistem Keamanan Penerbangan Kita
 

(ilustrasi)

Oleh: Elvis Hotlen.Sabtu sore, 13/4 lalu, pesawatLion Air jatuh di 
PantaiSegara, sekitar 50 meter dariujung landasan Bandar Udara Ngurah Rai, 
Bali. Penyebab kecelakaan masih ditelisik oleh Komite Nasional Keselamatan 
Transportasi. Tapi setidaknya satu hal yang mesti segera dilakukan: mengawasi 
secara ketat seluruh penyelenggara penerbangan. Kendati tak ada korban tewas, 
pilot pesawat Lion Air tidak pantas mendapat pujian. Soalnya, pesawat 
berpenumpang 101 orang tersebut tidak sedang mendarat darurat. Seorang 
penumpang mengatakan saat itu juga tak ada peringatan apa pun. 

Dugaan sementara, pilot terlalu dini menurunkan pesawat atau undershoot. 
Akibatnya, pesawat tidak menyentuh landasan, melainkan terjun ke laut. Lion 
Air, maskapai penerbangan nasional yang baru saja menandatangani pembelian 234 
pesawat Airbus buatan Prancis, harus mengalami petaka yang mencoreng 
reputasinya. Kecelakaan Lion pun menarik perhatian dunia. Sejumlah media massa 
internasional mengaku tertarik memberitakan kecelakaan Lion karena maskapai 
penerbangan ini tercatat paling ambisius di dunia selama satu dekade terakhir.

Setelah menandatangani pembelian 230 pesawat Boeing senilai US$ 21,7 miliar 
atau Rp 200 triliun, 18 November 2011, Lion menandatangani lagi pembelian 234 
pesawat Airbus A-320 senilai US$ 24 miliar atau Rp 234 triliun, 18 Maret 2013. 
Mengoperasikan sekitar 178 pesawat, Lion menempati peringkat pertama maskapai 
penerbangan nasional dengan jumlah armada terbesar sekaligus perusahaan yang 
paling banyak mengangkut penumpang. Mengusung tagline Everybody can fly, 
perusahaan yang didirikan Rusdy Kirana, Oktober 1999, itu menggebrak angkasa 
Indonesia.

Maskapai penerbangan ini dengan jitu memanfaatkan lonjakan jumlah kelas 
menengah Indonesia yang saat ini mencapai 60 juta orang. Dengan tarif yang jauh 
lebih murah dari maskapai yang sudah lama eksis, Lion langsung merebut hati 
banyak penumpang Indonesia. Bahkan boleh dikatakan, saat ini maskapai 
penerbangan Lion Air telah merajai dunia penerbangan nasional, apalagi dengan 
harga tiketnya yang relative cukup terjangkau.

Ada banyak penyebab kecelakaan pesawat, misalnya seperti faktor pesawat, 
keadaan cuaca, hingga kesalahan manusia. Pesawat Boeing 737-800 Next 
Generation, yang baru digunakan selama dua bulan oleh Lion Air, ada kemungkinan 
tidak bermasalah. Setidaknya tak ada laporan kerusakan. Begitu pula keadaan 
cuaca ketika pesawat sedang mendarat, tidak ada gangguan yang membahayakan 
penerbangan. Analisis penyebab petaka pun kemudian mengarah ke faktor manusia.

Kinerja orang-orang yang terlibat dalam kegiatan penerbangan amat menentukan 
keselamatan penerbangan. Hal ini berhubungan pula dengan kualitas pengawasan 
dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Pengawasan 
sangat penting demi memastikan semua maskapai penerbangan mengutamakan 
keselamatan.

Dalam kejadian Lion Air baru-baru ini, sebab-musabab kecelakaan pesawat Lion 
Air di Denpasar masih harus ditunggu kejelasannya. Masyarakat mempercayakan 
proses penyelidikan kepada pihak-pihak berwenang untuk mengungkap penyebab 
kecelakaan itu.

Sistem Keamanan Penerbangan

Hanya saja, peristiwa kecelakaan itu mengajak kita untuk secara serius menelaah 
lagi sistem keamanan penerbangan di Indonesia karena pada kenyataannya, 
rata-rata kecelakaan pesawat masih tergolong tinggi. Dibandingkan pada 
negara-negara di Asia yang "hanya" mengalami tiga kali kecelakaan dalam 
setahun, frekuensi kecelakaan pesawat di Indonesia bisa mencapai sembilan kali 
dalam setahun. Apabila dibandingkan dengan frekuensi kecelakaan moda 
transportasi lain seperti angkutan umum darat dan laut, moda transportasi 
penerbangan masih paling aman.

Meski demikian, risiko dan jumlah korban tergolong sangat tinggi pada setiap 
kecelakaan. Musibah pesawat Lion Air di Denpasar, Bali, mengingatkan semua 
pihak untuk senantiasa meningkatkan faktor keamanan. Penerbangan murah tidak 
dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan sistem keamanan karena pada dasarnya 
penerbangan murah hanya menekan biaya pada sisi layanan sekunder. Lion Air 
sebagai maskapai penerbangan yang boleh dibilang "terdepan" dalam bisnis 
penerbangan murah harus tetap menjaga faktor keamanan.

Sebab, musibah itu bukan kali pertama bagi Lion Air. Maskapai penerbangan yang 
baru saja memborong 234 unit Airbus dari Eropa itu setidaknya telah 19 kali 
celaka sejak pertama kali beroperasi pada Juni 2000. Saking seringnya mengalami 
kecelakaan, Lion Air pernah masuk daftar maskapai yang dilarang di Uni Eropa 
pada Februari 2012.

Pemerintah selaku regulator penerbangan tidak boleh alpa menuntaskan 
penyempurnaan keamanan penerbangan. Lion Air juga ikut menanggung tanggung 
jawab besar untuk mewujudkan penerbangan yang aman.

Strategi Lion Air dengan penerbangan murah mampu menangkap pangsa pasr domestik 
terbesar di sektor penerbangan. Kesuksesan itu berlanjut dengan pembelian 234 
Airbus A320 senilai 24 miliar dolar AS, nilai kontrak pembelian terbesar dalam 
sejarah penerbangan setelah pada 2011 memesan 230 unit Boeing 737-900 ER 
senilai 22,4 miliar dolar AS. Prestasi tersebut harus dilanjutkan dengan 
mengedepankan faktor keamanan yang tentu juga sangat bergantung pada faktor 
manusia.

Standar layanan di landasan yang masih terkesan minimalis termasuk salah satu 
bagian penting yang tidak boleh dilupakan karena kemungkinan risiko kecelakaan 
terbesar adalah pada saat lepas landas dan mendarat. Termasuk pula, edukasi 
pada masyarakat pengguna untuk mendukung peningkatan sistem keamanan 
penerbangan. Sebenarnya, dengan peralatan serba canggih, radar yang memberikan 
berbagai kemudahan, pesawat dinilai memiliki risiko paling rendah dibanding 
angkutan laut dan darat. Angka kecelakaan menunjukkan, korban maninggal dan 
cedera di jalan raya jauh lebih banyak dibanding pesawat. Lalu, kenapa pesawat 
Lion yang baru dioperasikan Maret 2013 mendarat di laut, tidak di landasan pacu 
Ngurah Rai?

Mengapa pesawat yang dikemudikan pilot berpengalaman ini menukik ke laut dan 
terbelah, tidak sampai meledak dan terbakar? Bagaimana mungkin penumpang dan 
awak pesawat selamat? Apa penyebab utama pesawat ini tidak mampu mendarat di 
landasan pacu, hanya terpaut beberapa ratus meter? Kesalahan tekniskah, 
kesalahan manusia, atau faktor cuaca ekstrem? Jawaban akurat perlu menunggu 
hasil penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Alat 
perekam dalam penerbangan pesawat Lion Air berupa Flight Data Recorder (FDR) 
atau Cokpit Data Recorder (CDR) sudah diambil komite ini.

Kita berharap, jawaban yang akurat dan jujur segera disampaikan KNKT agar 
masyarakat mengetahui kenyataan sebenarnya dan maskapai penerbangan tidak 
sekadar beroperasi untuk mengejar keuntungan jangka pendek. Dari berbagai 
sumber, kita mendapat informasi bahwa kecelakaan pesawat di Indonesia selama 
ini lebih disebabkan oleh human error, faktor kesalahan manusia. Namun apapun 
sebabnya, factor keamanan dalam dunia penerbangan haruslah selalu dijadikan 
prioritas.***

Penulis adalah pengamat sosial kemasyarakatan, tinggal di Medan


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke