Ref:  Terlalu repot membuat konde dan lagi sekarang banyak debu akibat polusi 
udara. hehehe

http://www.shnews.co/detile-18271-kartinian-tak-lagi-berkonde.html


Kartinian Tak Lagi Berkonde 
Wahyu Dramastuti | Senin, 22 April 2013 - 14:35:40 WIB

: 76 




(SH/Muniroh)
Murid, guru, beserta orang tua TK Aisyah 94 Kali Pasir melakukan pawai dengan 
memakai pakaian kebaya untuk mengenang Hari Kartini, di Cikini Raya, Jakarta, 
Senin (22/4). 
Peringatan Hari Kartini lebih dimaknai sebagai hari pembebasan.


Tiga belas perempuan naik ke atas panggung. Tampil satu per satu berparade 
membacakan surat-surat Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Semuanya 
terlihat cantik-menarik. Namun hanya satu dari 13 perempuan itu yang berkonde: 
artis Jajang C Noor. Tak ada yang salah dengan penampilan mereka, memang. 
Zamanlah yang berubah. 

Memperingati Hari Kartini di era digital ini tak lagi identik dengan tampil 
mlipis berkebaya dengan tusuk konde dan bersandal jinjit. Layaklah, dalam 
parade pembacaan surat-surat Kartini, Kamis (18/4) malam lalu di Galeri Cipta 2 
Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, ada pembaca yang mengenakan rok mini dengan 
sepatu high heels dan rambut lurus bergaya asimetris. 

Tak ada yang merasa terusik dengan penampilan itu. Ini jelas beda dengan tahun 
1980-an di era Presiden Soeharto, ketika masyarakat masih kriwil memandang 
acara peringatan Kartini tidak elok kalau kaum perempuannya datang tanpa kebaya 
dan tusuk konde. Maka di zaman itu mengenakan kebaya dan konde sewaan pun 
jadilah, kalau perlu giwang dan kalungnya juga sewa, yang penting tampil ala 
Ibu RA Kartini. 

Apalagi para penonton yang datang di Kamis (18/4) malam itu, tampil lebih 
selebor lagi. Ada yang memasang anting-anting di cuping hidung dengan kaus 
pendek memperlihatkan pusarnya. Ada yang bercelana jeans butut bolong-bolong. 
Namun mereka semua tertib menyimak surat-surat Kartini yang dibacakan di atas 
pentas. 

Tak terdengar suara berisik di bangku belakang, sekalipun mike pengeras suara 
sempat mati beberapa kali sehingga pembaca yang suaranya lembut hanya terdengar 
sayup-sayup dari bangku belakang. Tapi tak ada pula penonton memprotes suasana 
kurang nyaman itu. Yang ada hanya gema tepuk tangan setiap kali surat selesai 
dibacakan. 

Tepuk riuh juga mengiringi ketika surat Kartini untuk Estella H Zeehandelaaar 
dibacakan: 

“...Saya ingin bebas agar saya boleh dan dapat berdiri sendiri, tidak perlu 
tergantung pada orang lain, agar... agar tidak harus kawin! Tetapi kami harus 
kawin, harus, harus! Tidak kawin adalah dosa, cela paling besar yang ditanggung 
seorang gadis Bumiputera dan keluarganya. 

Dan, mengenai perkawinan di sini, aduh, azab sengsara masih merupakan ungkapan 
yang terlalu halus untuk menggambarkannya. Bagaimana tidak, kalau hukumnya 
dibuat untuk orang laki-laki dan tidak ada sesuatu pun untuk perempuan, kalau 
hukum dan pendidikan keduanya untuk laki-laki belaka? 

...kalau anak perempuan berjalan, maka ia harus melakukannya dengan 
pelan-pelan, dengan langkah pendek-pendek, sopan, aduh... seperti siput. Kalau 
berjalan agak cepat, maka akan dikatai seperti kuda berlari. Saya sendiri 
disebut “kuda kore”, kuda liar, karena saya jarang berjalan pelan melainkan 
selalu pecicilan. Dan, karena suatu dan lain hal lagi saya dikatai juga, sebab 
saya sering sekali tertawa terbahak-bahak dan memperlihatkan banyak gigi; itu 
dianggap perbuatan tidak sopan.” 

Penonton tertawa mendengar isi ungkapan hati Kartini di tahun 1899 itu. Bukan 
melecehkan, tapi sebaliknya menghargai para perempuan Indonesia yang hidup di 
abad ke-19. Anak muda bernama Kristin Amelina (26), Asisten Manajer dan Manager 
Marketing PT Alpha Merah Kreasi, lantas menyarankan agar kawula muda sekarang 
meniru sikap Kartini yang berpikiran maju ke depan. 

“Itu memang adat zaman segitu. Perempuannya tidak berpendidikan tinggi. Jadi 
aku merasa beruntung hidup di era sekarang yang tidak diikat oleh adat,” 
katanya kepada SH. Kristin pun setuju bahwa peringatan Hari Kartini tidak 
mutlak diikuti oleh perempuan dengan berpakaian kebaya dan konde sebab yang 
lebih penting adalah bagaimana meneruskan pemikiran Kartini. 

Belenggu dan Ancaman 

Sayangnya, kenyataan tak seindah angan-angan. Seperti yang dituturkan oleh Ruth 
Indiah Rahayu, peneliti feminis yang berasosiasi dengan Institut Sejarah Sosial 
Indonesia (ISSI) dan Institut Kajian Krisis dan Studi Pembangunan Alternatif 
(Inkrispena). Menurutnya, di era kini perempuan masih dikekang oleh perkawinan 
yang tidak adil. 

“Problem perkawinan itu yang paling membelenggu. Setelah itu, soal pembagian 
pekerjaan gender yang tidak berubah dari zaman dulu sampai sekarang, semisal 
pekerjaan di rumah tangga; perempuan karier begitu sampai di rumah masih wajib 
melakukan pekerjaan rumah tangga. Selain itu, masih ada persoalan kekerasan 
seksual, serta kurangnya perlindungan terhadap perempuan pekerja dari ancaman 
kekerasan, dan masalah di tempat kerja seperti kurangnya kesempatan bagi 
perempuan untuk naik jabatan,” jelasnya kepada SH, di Komunitas Salihara, 
baru-baru ini. 

Ruth juga mencontohkan soal kesehatan reproduksi dan menyusui yang tidak 
diakomodasi oleh pemerintah dan pihak swasta. Dalam hal ini, perusahaan dan 
kantor pemerintah tidak memberikan uang tunjangan menyusui dan pengasuhan anak. 
Sebaliknya dari pihak perempuan, ada yang tidak peduli akan pentingnya cuti 
haid karena merasa masih kuat. ”Padahal ini penting sebagai hakikat perempuan,” 
lanjutnya. 

Oleh karena itu, perempuan harus meletakkan diri sesuai harkat dan martabatnya. 
Hal ini jugalah yang diingatkan oleh Aquarini Priyatna, dosen Sastra Inggris di 
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Jawa Barat. 

Menurutnya, perempuan harus memberi kesempatan pada lelaki untuk menolongnya. 
“Orang yang mau meminta tolong itu justru kuat, karena ketika minta tolong 
pasti dia meminta tolong kepada orang yang lebih kuat," kata dia. 

Aquarini juga menegaskan feminitas di masyarakat masih dianggap ada di bawah 
maskulinitas. Namun diingatkan pula bahwa menjadi perempuan tidak berarti 
lantas tampil seperti lelaki. 

Tampaknya apa yang dikemukakan Aquarini itu terekspresikan pada parade 
pembacaan surat-surat Kartini di TIM. Para pembaca meskipun tidak berkain 
kebaya dan sanggul konde, tetap terlihat feminin. Dengan kain panjang membebat 
tubuh dan rambut tergerai mereka tampil anggun. Yang berpakaian rok mini dan 
high heels pun mempresentasikan bahasa tubuhnya dengan santun. 

Perempuan-perempuan Kartini baru tersebut selain Jajang C Noor adalah Ratna 
Riantiarno (artis dan pendiri Teater Koma), Laksmi Notokusumo (sutradara teater 
dan koreografer), Faiza Mardzoeki (Direktur Institute Ungu), Okky Madasari 
(novelis dan pendiri Yayasan Muara Bangsa), dan Firliana Purwanti (Senior 
Development Program Coordinator Kedutaan New Zealand). 

Selain itu, Juanita Wiratmaja (penyiar SCTV), Yuniyanti Chuzaifah (Ketua Komnas 
Perempuan), Winner Fransisca (mahasiswa Universitas Paramadina), Jumisih (Ketua 
Forum Buruh Lintas Pabrik), Tommy F Awuy (Dosen Filsafat UI), Tiga Setia Gara 
(penyanyi), dan Mumu Aloha (Managing Editor Detik.com). 

Mengapa dikatakan presentasi bahasa tubuh? Kalau menurut Ruth Indiah Rahayu, 
bahasa perempuan adalah bahasa kejujuran karena tidak manipulatif. Apa yang 
dirasakan oleh perempuan adalah benar. Kalau kejujuran ditulis, itulah yang 
dikatakan sebagai kebenaran. 

“Seperti misalnya perempuan korban pemerkosaan, berarti omongan perempuan itu 
benar. Tak mungkin kita menuliskan pelakunya,” kata Ruth. Kasus pemerkosaan 
ditarik sebagai contoh karena sampai saat ini masih terus-menerus menjadi topik 
panas yang tak kunjung reda. Perempuan di zaman moderen bebas pulang malam, 
tetapi seksualitasnya tetap terancam. 

Sumber : Sinar Harapan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke