http://www.shnews.co/detile-18207-tere-totalitas-menggiringnya-keluar-dari-dpr.html


Tere, Totalitas Menggiringnya Keluar dari DPR 
Hans Arthur Sinjal | Sabtu, 20 April 2013 - 12:05:11 WIB

: 719 




(SH/Don Peter)
Anggota Komisi X Fraksi Partai Demokrat Theresia Ebenna Ezeria Pardede (kiri) 
didampingi ayahanda, Tombang Mulia Pardede, meninggalkan ruangan setelah 
memberikan pernyataan pengunduran dirinya sebagai 
Menjadi wakil rakyat adalah pengabdian, dan pengabdian harus total. 


Tere adalah fenomena. Berani tampil beda. Bukan hanya di panggung musik—dunia 
yang membesarkan namanya—tapi juga di panggung politik. Pada saat para artis 
bersaing memperebutkan kursi legislatif dan eksekutif, Tere malah berpaling 
meninggalkan panggung yang keras dan maskulin itu. 

Itu terjadi pada 21 Mei 2012 saat ia mengundurkan diri dari Dewan Perwakilan 
Rakyat (DPR). Lantas bagaimana sekarang, apakah Tere kembali akan terjun ke 
dunia politik? Bagi Tere yang bernama lengkap Theresia Ebenna Ezeria Pardede 
(33) ini, politik adalah cara berjuang, bukan tujuan. 

Maka ia sudah memutuskan untuk tidak lagi berjuang melalui medium politik. 
Mantan anggota DPR periode 2009-2014 dari Partai Demokrat untuk Daerah 
Pemilihan (Dapil) Jawa Barat II itu menganggap dirinya sudah tidak kompatibel. 

Tere, perempuan kelahiran Jakarta, 2 September 1979, tahun lalu atas inisiatif 
pribadi keluar dari keanggotaan DPR karena merasa sudah tidak mungkin 
melanjutkan perjuangan dengan kompleksitas permasalahan yang dihadapi. Ia 
merasa performanya di parlemen minim. 

Selain mundur dari Komisi X DPR, ia juga mundur dari keanggotaan di Partai 
Demokrat, walaupun tidak ada persoalan dengan ideologi dan visi partai 
berlambang bintang segitiga itu. Ia mundur dari Partai Demokrat sebagai 
cerminan dari totalitasnya. Tere memiliki karakter total. “Ketika masuk, ya 
saya masuk. Ketika keluar, saya keluar. Itu karakter saya," tuturnya. 

Pilihan Tere bisa diterima akal sehat. Ia tegas menganggap berada di DPR 
bukanlah pekerjaan, melainkan menjadi wakil rakyat. Menjadi wakil rakyat 
berarti pengabdian. Konsep berpikir seperti itulah yang belum dipahami oleh 
banyak orang, bahkan oleh orang yang sudah duduk di kursi wakil rakyat. 

“Kalau mengabdi ya harus total, kan wakil rakyat ditugaskan untuk itu. Mereka 
disumpah untuk mengabdi. Jadi mestinya semua pihak yang terhubung dengan wakil 
rakyat punya tingkat pemahaman dan pengertian yang tinggi, menyadari bahwa 
tugas yang diemban itu sungguh-sungguh pengabdian. Sekali lagi, bukan 
pekerjaan. Pekerjaan wakil rakyat ya memperjuangkan aspirasi masyarakat yang 
diwakilinya melalui fraksi dan komisi di mana ia ditempatkan,” katanya ketika 
dihubungi SH, Jumat (19/4). 

Ditanya mengenai anggota DPR perempuan yang justru tidak memperjuangkan hak-hak 
perempuan, Tere menjelaskan hal itu kompleks, karena partai politik (parpol) 
punya banyak peran dalam menentukan berhasil tidaknya keterwakilan perempuan 
dalam relevansinya memperjuangkan nasib perempuan. 

“Banyak faktor yang harus dianalisis, jangan mengecilkan peranan wakil rakyat 
perempuan dulu. Saya kenal beberapa yang memang berjuang, tapi mungkin skala 
perjuangan dan impact-nya tidak terlalu berdengung karena terkubur isu lain 
yang lebih 'seksi' untuk politik praktis yang sangat maskulin ini,” jelasnya. 

Ia pun mencontohkan sosok RA Kartini yang menjadi pedoman bagi kaum perempuan 
saat ini. Baginya, Kartini adalah simbol perjuangan bagi kesetaraan kaum hawa 
di Indonesia. “Meskipun kita sebenarnya punya banyak tokoh lain, seperti Dewi 
Sartika, Cut Nyak Dhien, dan lain-lain. Poin dari perjuangan yang masih harus 
terus disuarakan adalah kesetaraan untuk mendapatkan peluang dan kesempatan,” 
ujarnya. 

Menurutnya, masyarakat harus realistis bahwa hingga saat ini kesejahteraan kaum 
perempuan di Indonesia masih sangat jauh dibandingkan negara tetangga di Asia. 
Angka kematian ibu masih tinggi, serta akses pendidikan dan kesehatan bagi kaum 
perempuan masih terbatas. 

“Belum lagi persoalan yang menjadi agenda MDG's (Millenium Developments Goals 
(MDG’s-red) lainnya, seperti kasus HIV dan masalah trafficking (perdagangan 
manusia-red) yang seperti fenomena gunung es. Hal inilah yang harusnya jadi 
topik unuk dibahas dan dicari solusi, bukan lagi Kartini-nya. Esensi perjuangan 
Kartini adalah perjuangan kesetaraan kesempatan demi perbaikan tingkat 
kesejahteraan kaum perempuan di Indonesia khususnya, dunia pada umumnya,” 
ucapnya. 

Pilih Bermusik 

Sementara itu dunia yang lebih menghidupi jiwanya, yaitu panggung musik, tak 
pernah bisa dilepaskan dari kehidupan Tere. Penyanyi yang dikenal lewat single 
hit “Awal yang Indah” dan “Dosa Termanis” itu masih berkutat di karier 
musiknya. 

“Setelah menyelesaikan studi S-2 tahun lalu, saat ini saya lebih banyak 
konsentrasi pada keluarga dan tetap bermusik. Saat ini saya lebih nyaman 
berkontemplasi sambil menikmati alam, mensyukuri hidup yang telah saya jalani,” 
ungkapnya. 

Bakat bermusik mulai terlihat saat ia masih duduk di bangku SMP. Kemudian 
setelah di bangku SMA, ia mulai aktif dalam kegiatan band. Tere mengawali 
karier sebagai penyanyi latar untuk Dewa 19, Anang, dan Ari Lasso. Tetapi Tere 
mulai dikenal masyarakat luas saat berkolaborasi dengan Pas Band lewat lagu 
“Kesepian Kita” yang dirilis pada 2001. 

Saat ini, Tere masih aktif menciptakan lagu. Tercatat sudah empat album yang 
dirilis, yakni Awal yang Indah (2002), Sebuah Harapan (2003), Begitu Berharga 
(2005), dan Teretorial Hits (2008). Bahkan, album Awal yang Indah berhasil 
menyebut Platinum Award. Memang, kini Tere lebih banyak berada di belakang 
layar untuk membantu pembuatan lagu maupun pengerjaan album. 

“Untuk musik saya memang masih terus mencipta lagu, karena sampai saat ini saya 
juga masih terikat kontrak komposer eksklusif dengan Sony Music Indonesia. Saya 
juga sedang mempersiapkan kursus musik alternatif dengan Pia (vokalis Utopia) 
dan Fia (personel Pop The Disco) untuk membuat lagu,” ujarnya. 

Sumber : Sinar Harapan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke