Ref: Kalau dihabiskan Rp 1 miliar untuk lolos ke DPR, apakah uang yang ditaburkan itu bisa diperoleh kembali jika menjadi anggota DPR? Kasihan sekali bagi yang berhasrat untuk menjadi anggota DPR yang tidak bisa menaburkan uang banyak, jadi mungkin ibaratnya seperti apa yang dikatakan bernafsu besar, tetapi tidak bertenaga.
http://www.suarapembaruan.com/politikdanhukum/untuk-lolos-ke-dpr-pimpinan-mpr-saja-butuh-rp-1-miliar/34318 Untuk Lolos Ke DPR, Pimpinan MPR Saja Butuh Rp 1 Miliar Senin, 22 April 2013 | 18:40 Hajriyanto Y. Thohari. [Dok.SP] Berita Terkait a.. Pemerintah Alokasikan Dana Pemilu 2014 Rp 8 Triliun [JAKARTA] Untuk menjadi anggota DPR RI butuh dana yang tidak sedikit. Wakil Ketua MPR RI, yang juga politisi senior Partai Golkar, Hajrijanto Y Tohari mengaku telah menghabiskan dana Rp 1 miliar untuk menuju DPR RI pada Pemilu 2009 lalu. Namun, kali ini Hajriyanto hanya menyediakan sekitar Rp 575 juta untuk kembali maju dalam pemilihan legislatif Pemilu 2014 mendatang. Karena dia tidak pernah melakukan kampanye-kampanye yang bersifat massal-massif-besar-besaran. "Saya tidak pernah mengadakan kegiatan-kegiatan yang sifatnya massif, massal seperti kampanye di alun-alun atau kecamatan. Jadi, uang sebesar Rp 1 miliar dalam Pemilu 2009 itu, yang Rp 425 juta saya gunakan untuk mendirikan studio radio. Radio H namanya, dan selebihnya Rp 575 juta untuk kampanye biasa dan sederhana saja dalam mencari dukungan," tandas Hajriyanto pada wartawan di Gedung DPR/MPR RI Jakarta, Senin (22/4). Dengan demikian, lanjut Hajrijanto, dirinya selama empat bulan berputar-putar di beberapa kecamatan dan itu menghabiskan sekitar Rp 575 juta. “Itu untuk putar-putar selama empat bulan. Untuk ke dusun-dusun, makan, snack dan sebagainya. Sebab di Wonogiri saja sebanyak 156 desa," katanya. Tapi, kata Hajrijanto, untuk mengikuti Pemilu 2014 mendatang, dirinya cukup mengeluarkan modal kurang lebih setengah miliar atau Rp 500 juta saja. Dirinya yakin sudah diterima oleh konstituennya di daerah pemilihan Jawa Tengah V, dan itu karena selalu menjalin komunikasi dengan baik selama ini. "Jadi, saya tidak harus membuka forum-forum atau pertemuan baru, tingggal melanjutkan dan mengintensifkan saja apa yang sudah saya datangi sewaktu masa reses," ujarnya. Dengan demikian, selama kampanye di dapilnya, car a yang lebih efektif adalah dengan turun langsung ke lapangan. Tujuannya, untuk mendengarkan langsung aspirasi rakyat. "Saya tidak pernah mengadakan yang namanya pengerahan massa secara besar-besaran. Bahkan di tingkat kecamatan saja tidak. Apalagi di alun-alun kabupaten itu juga tidak sama sekali," katanya. [L-8] [Non-text portions of this message have been removed]
