http://regional.kompas.com/read/2013/04/16/14555335/Berenang.Bersama.Ikan.Hiu


Berenang Bersama Ikan Hiu
Selasa, 16 April 2013 | 14:55 WIB 
 KOMPAS/SRI REJEKI Pengunjung mencoba berenang bersama ikan hiu jenis black tip 
dan white tip di kolam penangkaran milik Cunmin (74) di Pulau Menjangan Besar, 
Kepulauan Karimunjawa, di Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (16/3/2013). Daya tarik 
wisata lainnya di perairan Karimunjawa adalah selam. Terdapat 18 titik menarik 
untuk penyelaman yang kaya akan terumbu karang dan biota laut. 

BAGAIMANA rasanya berenang bersama ikan hiu? Mitos bahwa ikan ini ganas dan 
tidak segan memangsa manusia membuat hati berdebar-debar kencang ketika mencoba 
masuk ke dalam kolam berukuran 30 x 10 meter persegi, berisi lebih dari 10 hiu 
jenis sirip hitam (black tip) dan sirip putih (white tip).

Jangan lupa memakai baju lengan panjang atau cairan antinyamuk agar bebas dari 
gigitan nyamuk di dalam hutan. 
-- Triyo Laksono

Di dalam kolam berkedalaman 1,5 meter ini, ikan-ikan hiu terkadang mendekati 
dan memutari kita. Namun, lebih sering menghindari manusia. Jika pengunjung 
ingin dikelilingi hiu, pemilik kolam akan melempar ikan kecil untuk memancing 
ikan-ikan hiu mendekat.
Di dalam air berwarna hijau kebiruan ditambah pemandangan pantai dan laut yang 
indah, acara berenang bersama ikan-ikan hiu jadi pengalaman yang tidak mudah 
dilupakan.

Berenang bersama ikan hiu menjadi salah satu ikon wisata di Kepulauan 
Karimunjawa. Warga setempat, Cunmin (74), merintis dua kolam hiunya sejak 30 
tahun lalu sebagai daya tarik rumah apungnya yang berada di Pulau Menjangan 
Besar, salah satu pulau di Kepulauan Kari-munjawa yang secara administratif 
berada di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Kolam-kolam itu sebenarnya ialah 
wilayah lautan yang diberi pembatas batu-batuan, tidak jauh dari pantai Pulau 
Menjangan Besar.

”Awalnya saya beli sepasang hiu. Lama-lama jadi banyak. Seekor hiu bisa 
melahirkan 2-3 ekor anak per kelahiran,” kata Cunmin, pemilik Penginapan Apung 
Ikan Hiu Kencana, belum lama ini.

Cunmin pernah pula memiliki sepasang lumba-lumba, tetapi dilepaskan karena 
mahalnya harga pakan. Lumba-lumba perlu diberi makan setiap hari. Adapun 30 
ekor hiunya diberi makan tiga kali seminggu. Sekali makan, hiu-hiu 
peliharaannya menghabiskan 20 kilogram ikan segar dengan harga Rp 5.000 per kg. 
Dari kolam hiunya, ia mematok tiket masuk Rp 5.000 per orang dan tambahan Rp 
10.000 bagi pengunjung yang berenang di kolam hiu. Kapal sandar dikenai Rp 
30.000 per unit. Rata-rata per minggu ia kedatangan 20 turis asing dan ratusan 
wisatawan domestik.

Ikan-ikan hiu di kolam Cunmin disebutnya jinak karena dipelihara sejak kecil. 
Sepanjang tak ada luka dan tidak bergerak yang mengagetkan, pengunjung bisa 
dengan nyaman berenang di kolam. Kenyataannya, ikan hiu hanya memangsa 
ikan-ikan kecil, kecuali jenis great white shark, bull shark, dan tiger shark 
yang dikabarkan pernah menyerang manusia.

Berenang bersama ikan hiu hanya salah satu daya tarik wisata di Karimunjawa. 
Ada sejumlah daya tarik wisata alam lainnya di kepulauan yang ditetapkan 
sebagai Taman Nasional Karimunjawa ini. Selain wisata bahari yang menonjol, 
seperti menyelam, snorkeling, memancing, pemandangan matahari terbit dan 
terbenam, wisata daratnya juga menarik. Sebut misalnya susur hutan mangrove, 
kemping, pengamatan burung atas 33 jenis burung darat dan pantai, susur goa, 
wisata religi ke makam Sunan Nyamplungan, dan wisata budaya seperti rumah adat 
suku Bugis.

Untuk menyusuri hutan mangrove atau bakau di Pulau Karimun dan Kemujan, 
tersedia jalur perjalanan atau trek dari papan kayu sepanjang 3 kilometer yang 
menembus jantung hutan. Dengan begitu, perjalanan di tengah hutan dengan pohon 
bakau setinggi rata-rata lebih dari 5 meter tetap terasa nyaman. Kita bisa 
leluasa mengamati kekayaan pohon mangrove yang tumbuh alami di lahan seluas 
10,5 hektar.

”Ada empat shelter untuk beristirahat dan area pemandangan sunset bagi yang 
ingin menikmati suasana matahari tenggelam dengan nuansa berbeda. Jangan lupa 
memakai baju lengan panjang atau cairan antinyamuk agar bebas dari gigitan 
nyamuk di dalam hutan,” kata Triyo Laksono, pemandu dari Tourism Information 
Center Karimunjawa.

Di sini terdapat 25 spesies mangrove sejati dari 13 famili dan tujuh mangrove 
ikutan dari tujuh famili. Masih ada pula lima spesies mangrove ikutan dari lima 
famili berbeda di luar area hutan pelestarian.

Di kawasan yang dikelola Balai Taman Nasional Karimunjawa ini terpasang papan 
informasi mengenai jenis-jenis mangrove di titik-titik tertentu sepanjang trek. 
Sayang, banyak papan yang kosong karena tulisan yang dicetak di atas bahan 
plastik ini pudar atau copot. Rumah yang dijadikan tempat penjualan tiket juga 
kurang dimanfaatkan untuk memberi informasi lebih banyak kepada pengunjung.

Jenis mangrove yang paling banyak ditemukan di Karimunjawa ialah Excoecaria 
agallocha. Namun, jenis yang paling luas penyebarannya ialah Rhizophora stylosa.

Kekayaan hutan mangrove Karimunjawa ditandai masih adanya jenis langka, seperti 
mangrove duduk (Schipiphora hydrophilaceae), waru laut (Malvaceae), mangrove 
betah (Excoecaria agallocha), mangrove tinggi (Rhizophoraceae), dan mangrove 
pedada lanang (Sonneratia alba). (SRI REJEKI)


Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel 

+++++

http://regional.kompas.com/read/2013/04/24/09552169/Digigit.Hiu.Kaki.Nelayan.Nyaris.Putus

Digigit Hiu, Kaki Nelayan Nyaris Putus

Penulis : Kontributor Bone, Abdul Haq | Rabu, 24 April 2013 | 09:55 WIB 

 KOMPAS.com / ABDUL HAQ Akibat digigit hiu, seorang nelayan di Kabupaten Bone, 
Sulawesi Selatan harus mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Umum 
Daerah (RSUD) Tenriawaru dengan kaki yang nyaris putus. Rabu, (24/04/2013). 

BONE,KOMPAS.com - Kaki seorang nelayan di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan 
nyaris putus setelah digigit  hiu saat tengah mencari ikan ditengah laut. 
Beruntung korban langsung diselamatkan oleh nelayan lainnya dan mengevakuasinya 
ake darat serta dilarikan ke rumah sakit umum daerah (RSUD) setempat. Rabu, 
(24/04/2013).

Peristiwa yang menimpa Arifuddin (20) warga Polewali Mandar, Sulawesi Barat ini 
terjadi pada Selasa (23/4/2013), sekitar pukul 16.00 WITA. Saat itu korban 
tengah mencari ikan di perairan Teluk Bone dengan menggunakan sampan kecil.

Saat itulah seekor ikan hiu berukuran sekitar 1 meter menerkam kakinya. 
Arifuddin sempat terseret ke dalam air dan melawan hiu tersebut dengan dayung 
sampannya. Dia akhirnya mampu kembali ke sampannya yang telah terbalik. 
Sejumlah nelayan yang berada di sekitar lokasi bergegas menolongnya.

"Panjangnya sekitar satu meter untung saya dapat itu dayung dan langsung tusuk 
kepalanya baru saya naik kembali di perahu," ujar Arifuddin. Meski demikian 
kaki kanannya nyaris putus dengan luka robek akibat tiga gigitan hiu. 

Menurut nelayan setempat, keberadaan hiu di perairan tersebut mengaku bahwa hal 
ini merupakan kejadian yang langka. "Ikan hiu di perairan teluk Bone memang 
kadang muncul tapi jarang sekali itupun biasa kalau muncul hanya lewat tidak 
menetap," ujar Lafame, nelayan yang mengantar Arifuddin.

Korban yang dilarikan ke RSUD Tenriawaru Bone langsung mendapatkan perawatan 
intensif. "Korbannya tiba kemarin sekitar jam 6 sore dan langsung dirawat inap 
dan lukanya sudah agak baikan cuma untuk berjalan kayaknya belum bisa," ungkap 
singkat Ramly, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) RSUD Tenriawaru. 

Editor :
Kistyarini
  a.. Regional 
  b.. Terpopuler 
  c.. Terkomentari
Selengkapnya
  a.. Pemprov Riau: Pertamina Jangan Cari... 
  b.. Ratusan Orang Rimba Bisa Baca Tulis 
  c.. Propam Selidiki Penggelapan BBM di... 
  d.. Dieng Masih Membahayakan 
  e.. UN SMA/MA di Kupang Ditunda Lagi
buka 
TOPIK PILIHAN
GEBRAKAN...

Basuki: Bila Ada Korupsi Proyek JLNT, Penjarakan!
LION AIR JATUH KE...

Santunan Rp 55 Juta Memaksa? Ini Komentar Lion Air
TEROR BOM DI...

Istri Tersangka Bom Boston Bantu Penyelidikan
UJIAN NASIONAL...

Mendikbud: Jangan Buru-buru Usul Hapus atau...
SEMIFINAL LIGA...

Roura: Barca Tak Siap Hadapi Bayern
See More: Index Berita Kompas Ekstra Info Kita Surat Pembaca Berita Duka 
Seremonia Iklan Baris DKK Matahati Tanah Air Kompas Kita 
Kompas AR Kompas Dakode Kompas Widget Kompas Apps Kabar Palmerah RSS Feed Site 
Map Yayasan Nusa Membaca 
     
About Kompas.com | Advertise With Us | Info iklan | Privacy policy | Terms of 
use | Karir | Contact Us | KOMPAS.com for IE9 | KOMPAS.com Toolbar | Pedoman 
© 2008 - 2013 KOMPAS.com - All rights reserved
 

 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke