Ref: Kalau intoleransi bukan cermin wajah NKRI, lantas wajah siapa atau apa 
yang dicerminkan?  

http://www.suarapembaruan.com/nasional/intoleransi-bukan-cerminan-wajah-indonesia/34624

Intoleransi Bukan Cerminan Wajah Indonesia

Sabtu, 27 April 2013 | 14:43

 Nilai yang terkandung di Pancasila [google] 


Berita Terkait

  a.. Massa Intoleran Beringas, Jemaat Dilempari Air Kencing, Polisi Tak 
Berdaya 
  b.. Intoleransi Adalah Bukti Kebohongan 
[JAKARTA] Adanya tindakan intoleran sesungguhnya tidak mencerminkan wajah 
Indonesia yang sesungguhnya menjunjung Bhineka Tunggal Ika.

Dalam survei yang dilakukan sebuah media massa nasional, menyebutkan 98,9 
persen orang di Indonesia meyakini bahwa toleransi adalah modal hubungan antar 
masyarakat yang paling tepat bagi Indonesia.

Ketua Moderate Muslim Society Zuhairi Misrawi mengatakan Jawa Barat menjadi 
daerah yang paling banyak terdapat kelompok fundamentalis yang sesungguhnya 
sangat merana dari sisi ekonom.

Menurutnya, diperkirakan ada sekitar 50 kelompok fundamentalis di wilayah 
tersebut. Bahkan lanjutnya fundamentalisme ini sudah masuk ranah kepolisian dan 
angkatan bersenjata. Sebuah situasi yang baginya sangat berbahaya.

Sementara itu, meski 98,9 persen setuju toleransi, kegalauan masyarakat yang 
hanya sekitar 1 persen itu patut diperhatikan. Berdasarkan monitoring sejak 
tahun 2008 aksi fundamentalis itu terjadi di daerah Bogor, Bekasi dan Depok. 
Ada pula kasus yang menimpa jamaah Ahmadiyah di Bandung dan Kuningan.

"Pancasila seharusnya menjadi kitab suci kita dalam berbangsa dan bernegara. 
UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika harus menjadi pemersatu," katanya dalam Dialog 
Kebangsaan bertema Menggugat Peran Negara dalam Kebebasan Beribadah, di 
Jakarta, Sabtu (27/4).

Oleh karena itu, intelektual muda Nahdlatul Ulama ini memandang diperlukannya 
upaya menumbuhkan toleransi dan multikulturalisme, membangun dialog, mendorong 
lahirnya kebijakan publik serta mendorong masyarakat sipil konsisten harmoni 
dan membangun kebersamaan.

Dialog kebersamaan ini diadakan Forum Masyarakat Katolik Indonesia-Keuskupan 
Agung Jakarta (FMKI KAJ). 

Ketua Bidang III FMKI KAJ Handoyo Buddhisejati mengungkapkan seminar ini 
diadakan untuk menyadarkan pemerintah agar dapat lebih berperan sebagai 
pengayom masyarakat, termasuk kalangan yang kebebasan beragamanya sering 
diganggu.

"Negara nyaris selalu absen dalam menghentikan sederet pelanggaran kebebasan 
beribadah di tanah air," ucapnya.

Handoyo mengaku prihatin karena berdasarkan catatan Setara Institute tentang 
kekerasan yang dialami kaum minoritas. Tahun 2011 tercatat ada 244 kasus dan 
angka itu meningkat menjadi 264 kasus tahun 2012. [R-15]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke