Ref:  Kalau Ahok disuruh belajar ke Pakistan, Mesir, Yemen, Bangladesh atau 
Arab Saudia untuk menjadi orang suci dapat dimnengerti, tetapi disuruh belajar 
ke China yang komunis, apakah staf khusus presiden NKRI  terdiri dari 
orang-orang komunis dalam mana mereka ingin agar Ahok menjadi komunis? Huh, 
Jokowi bisa repot makan tak enak dan tidur pun tidak nyenyak. hehehehe

http://cetak.shnews.co/web/read/2013-04-26/11314/staf.khusus.presiden.minta.ahok.belajar.ke.china#.UXujdcqgbvc



Staf Khusus Presiden Minta Ahok Belajar ke China 
Tutut Herlina | Jumat, 26 April 2013 - 15:50:29 WIB


Pembebasan tanah untuk infrastruktur terbaik di dunia dilakukan di China oleh 
pemerintahan Komunis

JAKARTA – Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menyebut 
rakyat di bantaran Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, yang menolak 
digusur sebagai komunis. 

Pernyataan Ahok tersebut sangat disesalkan banyak pihak. Sebagai seorang 
pemimpin, Ahok tidak semestinya gampang memberikan stigma kepada rakyatnya 
sendiri. 

Seorang warga Jakarta Timur, Frimatus Dedy mengatakan, tindakan Ahok sebenarnya 
tidak beda jauh dengan mantan Presiden Soeharto. Orang yang berkuasa selama 32 
tahun itu dengan mudah menggunakan stigma komunis kepada rakyat yang mengritik 
kebijakannya. 

“Sebentar lagi Ahok tidak akan beda dengan Soeharto. Dia gunakan kekuasaannya 
untuk menstigma rakyatnya, sekalipun rakyat itu jadi korban atas kebijakannya,” 
katanya, Kamis (25/4) malam, ketika menanggapi pernyataan Ahok itu. 

Staf Khusus Presiden Andi Arief juga mengkritik pernyataan Ahok. Menurutnya, 
menjadi seorang pemimpin bukan berarti memiliki tiket mengatasi persoalan 
masyarakat dengan gampang. Sebaliknya, pemimpin perlu menggunakan cara yang 
tepat untuk mengatasi persoalan, bukan menggunakan ancaman atau stigmatisasi. 

“Peristiwa Ahok menyebut rakyatnya dengan stigma komunis, menggambarkan ia 
kehilangan akal menjadi pemimpin. Ini hal serius,” katanya kepada SH, Kamis. 

Andi menjelaskan, kebiasaan masyarakat mempetahankan tanahnya merupakan sebuah 
kepastian. Oleh karena itu, perlu pendekatan, bukan justru melakukan serangan 
pagi-pagi dengan menyebut mereka yang ingin mempertahankan tanah dengan ganti 
rugi disebut komunis. 

“Entah apa yang dipikirkan Ahok saat keluar kata tak pantas itu. Harusnya dia 
ingat 'tuntutlah ilmu sampai negeri China'. Pembebasan tanah untuk 
infrastruktur terbaik di dunia dilakukan di China oleh pemerintahan komunis dan 
masyarakat yang mayoritas komunis itu,” katanya. 

Dia menambahkan, perbuatan Ahok tidak beda dengan perbuatan mengandung rasisme 
yang dilontarkan pengacara Farhat Abas. “Ahok sama rasis dengan Farhat Abas di 
Twitter. Kini, dalam bentuk lain dia gunakan senjata stigma komunis kepada 
rakyat yang membela kepentingannya,” paparnya. 

Cabut Dukungan 

Terpisah, menanggapi pernyataan Wakil Gubernur Bsuki Tjahaja Purnama, Ketua DPP 
Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Arief Poyuono menegaskan bahwa Partai 
Gerindra akan meninjau bahkan mencabut dukungan pada pemerintahan Joko 
Widodo-Ahok yang belakangan menunjukkan sikap antirakyat. 

“Ketua Prabowo telah memerintahkan, apabila pemerintah yang kita dukung berubah 
menjadi antirakyat dan menyakiti rakyat, maka kita akan mencabut dan menentang 
pemerintahan tersebut,” demikian tegasnya kepada SH di Jakarta, Jumat (26/4). 

Menurutnya, Ahok tidak paham tentang komunisme dan sekadar menakut-nakuti 
rakyat korban gusuran agar tidak meminta ganti rugi. Sikap tersebut menurutnya 
bertentangan dengan komitmen Partai Gerindra terhadap rakyat. 

“Kalau itu tanah negara, mengapa selama ini dibiarkan rakyat bermukin di situ. 
Itu hak rakyat untuk minta ganti rugi. Karena pemilik negara ini bukan Jokowi 
atau Ahok, tapi rakyat, termasuk rakyat miskin yang akan mereka gusur,” 
tegasnya. 

Pernyataan Ahok tersebut menurutnya sangat menyakiti hati rakyat kecil yang 
mendukung Jokowi-Ahok dalam memenangkan Pilkada Jakarta lalu. “Jangan arogan. 
Emangnya dia bisa jadi seperti ini kalau bukan didukung oleh rakyat yang 
sekarang akan digusur tanpa ganti rugi,” tegasnya. (Web Warouw) 

Sumber : Sinar Harapan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke