http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/05/02/2/150930/Harga-Minyak-Dunia-Stabil-Rezim-SBY-Dituding-Berbohong


EKONOMI
Harga Minyak Dunia Stabil, Rezim SBY Dituding Berbohong
Laporan: Timi Trieska Dara
Kamis, 02 Mei 2013 | 15:37 WIB
Metrotvnews.com, Jakarta: Pengamat ekonomi Yanuar Rizky menilai tidak ada 
argumentasi pemerintah yang tepat untuk menaikkan harga bahan bakar minyak 
(BBM) dalam waktu dekat.



"Saat ini biaya impor meningkat bukan karena harga minyak dunia yang naik, 
melainkan rupiahnya melemah. Tidak jelas alasan pemerintah menaikkan harga BBM. 
Di bursa komoditas menyebutkan harga minyak dunia tidak naik," kata Yanuar 
Rizky dalam diskusi 'Menggugat Harga BBM Bersubsidi di Kantor KPBB di Gedung 
Sarinah, Jakarta, Kamis (2/5).

Sebelumnya, Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) menuding pemerintah 
memanipulasi penetapan harga BBM Bersubsidi yang mengacu pada Mid Oil Plats 
Singapore (MOPS). Di mana pemerintah dan PT Pertamina mematok harga BBM 
kualitas tinggi untuk BBM kualitas rendah yang beredar di masyarakat.



Penelitian kadar oktan (RON) untuk bensin di Indonesia rata-rata 88. Sehingga 
tidak tepat, jika pemerintah menggunakan harga BBM untuk RON 92 untuk BBM 
kualitas yang lebih rendah. Menanggapi hal ini, Yanuar menyebut pemerintah 
tidak jujur kepada masyarakat.

"Pemerintah harus jujur ke masyarakat karena RON yang disebutkan tidak benar. 
Secara makro ekonomi juga tidak jujur karena Rupiah melemah," lanjutnya.

Yanuar menambahkan, BBM tanpa subsidi (Pertamax) pun harganya tinggi karena 
nilai tukar Rupiah melemah.

"Pada dasarnya kita tersengat oleh sandera yang kita ciptakan sendiri. Importir 
yang menganut rezim devisa bebas, sehingga tekanan inflasi dipengaruhi oleh 
pelemahan nilai tukar Rupiah," pungkasnya.


Editor: Irvan Sihombing

+++++

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/05/02/2/150922/Pemerintah-Dinilai-Memanipulasi-Harga-BBM-Bersubsidi

EKONOMI
Pemerintah Dinilai Memanipulasi Harga BBM Bersubsidi
Laporan: Timi Trieska Dara
Kamis, 02 Mei 2013 | 15:19 WIB


Metrotvnews.com, Jakarta: Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) dan elemen 
masyarakat menuding pemerintah memanipulasi dalam penetapan harga bahan bakar 
minyak (BBM) bersubsidi. Diduga, pemerintah dan Pertamina memanipulasi 
penetapan harga dengan menggunakan acuan harga BBM kualitas tinggi, sementara 
yang dijual ke masyarakat BBM berkualitas rendah.

"Jadi, jika dikatakan pemerintah harga Rp6.500 per liter jelas sebuah 
kebohongan. BBM kita yang kualitas rendah dipaksa menyamai harga rata-rata 
menurut MOPS (Mid Oil Plats Singapore). Patokan pemerintah terlalu tinggi," 
kata Koordinator KPBB Ahmad Safrudin dalam diskusi di Jakarta, Kamis (2/5).

Selama ini, harga BBM bersubsidi mengacu pada MOPS, yakni harga rata-rata 
menurut MOPS ditambah alpha sebagai keuntungan Pertamina. Namun, dari 
penelitian kadar oktan atau Research Oktan Number (RON) di 26 kota di Tanah 
Air, bensin Indonesia ada di kisaran RON 88. Hanya di Manokwari yang RON 92.

Menurut Safrudin, tidak satu pun kualitas premium Indonesia yang dipatok 
Rp4.500 per liter itu masuk katagori kualitas BBM yang ditetapkan oleh Asosiasi 
Industri Mobil dan Industri Minyak sedunia (World Wide Fuels Charter/WWFC).

Pada 2010, jelas Safrudin, saat harga minyak mentah dunia berada di level US$ 
80/BBL, harga bensin menurut MOPS Rp5.617 per liter. Ini untuk bensin kualitas 
RON 92 atau kualitas seperti Pertamax. Tentu harga ini tidak adil apabila 
dijadikan patokan penetapan harga premium kualitas rendah (RON 88).

"Ini tidak sesuai dengan yang disampaikan PT Pertamina dan Badan Pengatur Hilir 
Migas dua pekan lalu yang menyebut bensin RON kita (Indonesia) 92. Ini 
menyesatkan dan memanipulasi rakyat," jelas Safrudin. Akibatnya, kendaraan 
bermotor akan rusak jika terus menerus menggunakan BBM kualitas rendah.

Menurut Safrudin, dalam menetapkan harga premium pemerintah harus menghitung 
berdasarkan harga pokok produksi berdasarkan biaya minyak mentah sesuai mutu 
dan sumbernya. "Jika harga BBM harus naik untuk menyelamatkan ekonomi negara, 
pemerintah harus meningkatkan kualitas BBM. Jika tidak, itu berarti 
memanipulasi warga negara," kata Safrudin.

Solusi lainnya, kata Safrudin, pemerintah dapat menerapkan pajak emisi dan 
pajak karbon jika memang berniat mengumpulkan uang dari sektor minyak dan gas 
sebagai tambahan pajak BBM 

EKONOMI
Pemerintah Dinilai Memanipulasi Harga BBM Bersubsidi
Laporan: Timi Trieska Dara
Kamis, 02 Mei 2013 | 15:19 WIB

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke