Ref:  Bukan masalah diplomasi yang lemah, tetapi pelanggaran HAM  luarbiasa 
yang dilakukan oleh rezim NKRI, misalnya terhadap rakyat Papua begitu hebat 
sehingga tidak bisa ditutup lagi. Bukan saja pelanggaran tsb,  tetapi juga 
dalam bidang ekonomi, rakyat Papua dimarginalisasikan. Mereka menjadi miskin  
melarah di tanah mereka  yang kaya raya. Beberapa minggu lalu diberitakan 
adanya bahaya kelaparan yang memakan korban 95 jiwa. Para  pengibar bendera 
Bintang Kerjora dihukum  jauh lebih berat dari teroris.


http://www.gatra.com/politik-1/29775-dpr-diplomasi-indonesia-dengani-inggris-dan-jerman,-lemah.html

DPR: Diplomasi Indonesia dengan Inggris dan Jerman, Lemah 

  Monday, 06 May 2013 10:38 
  Published Date 

 
Organisasi Papua Merdeka (OPM) (ANTARA/ Husyen Abdillah)
Jakarta, GATRAnews - Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menilai, 
pembukaan resmi kantor Perwakilan Free West Papua (Pembebasan Papua Barat), di 
Kota Oxford, Inggris, akibat lemahnya diplomasi pemerintah Indonesia.


"Lancarnya pembukaan pos perwakilan OPM (Organisasi Papua Merdeka) di Inggris, 
dan akan menyusul di Jerman, menunjukkan bahwa kemampuan diplomatik Indonesia 
dalam membentuk opini di luar negeri sangat rendah dan keteteran," nilai 
Hasanuddin, di Jakarta, Senin (6/5). 

Padahal, menurutnya, Indonesia sudah menempatkan banyak diplomat, atase, dan 
pejabat teras lainnya di Inggris dan Jerman. "Coba bandingkan, di dua negara 
itu, kita menempatkan puluhan diplomat, atase dan pejabat teras lainnya 
termasuk atase pertahanan dan perwakilan dari BIN," tandasnya.

Tapi ternyata, ujar politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini, 
tak mudah meyakinkan publik Inggris dan Jerman. Puluhan perwakilan pemerintah 
Indonesia itu, malah kalah oleh seorang Beny Wenda yang bergerak sendirian 
tanpa staf dan tanpa dukungan logistik yang memadai.

Menurutnya, Benny juga hanya membutuhkan tiga tahun, sejak tahun 2010 untuk 
dapat mulai menggalang massa, sehingga sekarang sukses membentuk opini dan 
diterima publik Inggris dan Jerman.

Guna mencegah hal tersebut terulang kembali, maka pemerintah Indonesia harus 
melakukan sejumlah langkah penting. "Ke depan, pemerintah harus lebih fokus 
lagi menyelelesaikan masalah Papua dari 3 sisi secara komprehensif," tandas 
Hasanuddin.

Pertama, penyelesaian masalah politik dan ekonomi di dalam negeri sendiri, 
khususnya publik internasional. Kedua, menyelesaikan masalah pasukan bersenjata 
OPM, dan ketiga, menghadapi opini politik dan opini publik di luar negeri. (IS)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke