http://www.shnews.co/detile-19072-polisi-tetapkan-dpo-penembak-brimob-puncak-jaya.html

Polisi Tetapkan DPO Penembak Brimob Puncak Jaya 
Odeodata H Julia | Selasa, 07 Mei 2013 - 15:03:08 WIB

: 54 




(dok/antara)

Pemerintah harus serius tangani gerakan OPM.


JAYAPURA – Setelah lebih dari dua tahun menyelidiki kasus penembakan anggota 
Brimob di Puncak Jaya, Papua, Polda Papua akhirnya mengeluarkan data daftar 
pencarian orang (DPO). 

Kepala Humas Polda Papua I Gede Sumerta Jaya di Jayapura, Senin (6/5), 
mengatakan keempat DPO tersebut adalah Rambo Wenda alias Inggaranggo, Jamdua 
Telenggen, Oniara Wenda, dan Wakanyo Wenda. 

“Berdasarkan hasil pengembangan dari pemeriksaan yang sudah kami tahan dan 
tangkap, yaitu Yogor Telenggen,” kata Gede. 

Ia menjelaskan penetapan DPO berdasarkan hasil pendalaman pemeriksaan terhadap 
tersangka Yogor Telenggen alias Kartu Kuning. Dari keterangan Yogor terungkap 
keempat DPO terlibat, bahkan perintah penembakan berasal dari Rambo Wenda yang 
merupakan pemimpin kelompok. Foto dan identitas DPO akan segera disebarkan ke 
setiap Polres di Papua maupun Papua Barat. 

“Kami berharap masyarakat bisa bekerja sama dan menginformasikan ke pihak yang 
berwajib, apabila melihat atau mengetahui keberadaan mereka,” ujarnya. 

Yogor dikenakan Pasal 170 KUHP dan UU Darurat tentang Kepemilikan Senjata 
Tajam, dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. Dua anggota Brimob 
tewas tertembak dalam penyerangan yang dilakukan oleh kelompok Yogor di Kampung 
Wandegobak, Puncak Jaya, Papua, Desember 2011. 

Mereka ditembak saat dalam perjalanan menuju Puncak Senyum untuk menjemput 
rekannya yang sedang sakit. Namun sayangnya dalam perjalanan itu, konvoi Brimob 
ini justru diserang. 

Sementara itu Polres Kepulauan Yapen Papua berhasil menangkap tiga pelaku 
pembunuhan anggota Polsek Angkaisera, Jefri Sesa, Sabtu (27/4) lalu. 

Terduga pelaku pembunuhan adalah TM (31), AK (57), serta YB yang diduga 
terlibat pembakaran kantor Polsek Angkaisera, Desember 2011. Ketiga pelaku 
merupakan satu komplotan yang kerap melakukan tindakan kriminal, seperti 
pemalakan dan pemerasan terhadap warga maupun perusahaan yang beroperasi di 
wilayah itu. 

Pihak kepolisian kini mengejar beberapa pelaku lainnya, termasuk pelaku utama 
yang diketahui bernama Rudi Oreiri. Berdasarkan keterangan kedua tersangka, 
Rudi adalah orang yang memerintahkan pembunuhan terhadap Jefri. 

Namun, pembunuhan terhadap Jefri tidak terkait dengan kelompok Organisasi Papua 
Merdeka (OPM). Kepolisian memastikan pembunuhan terhadap Jefri hanya masalah 
kriminal biasa. Ini berbeda dengan penembakan anggota Brimob di Puncak Jaya 
yang semua pelakunya anggota OPM. 

Di Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), kalangan Basis Tradisional dan 
Perguruan Tinggi di Pontianak mengingatkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 
supaya tidak mengulang kesalahan Presiden BJ Habibie dalam menangani OPM. 

Sikap lunak BJ Habibie dalam mengatasi pemberontak di Timor Leste (Timor Timur) 
sangar merugikan Indonesia. 

“Dulu, tahun 1999, gerakan separatis di luar negeri selalu dianggap enteng 
pemerintah pusat sehingga Timor Timur lepas dari Indonesia. Karena itu, 
sekarang pemerintah pusat jangan mengulangi kesalahan fatal kedua kalinya 
dengan menganggap enteng terhadap berdirinya perwakilan OPM di Oxford, Inggris, 
Minggu, 28 April 2013,” kata pengajar Universitas Muhammadiyah Zainuddin Isman. 

Zainuddin menilai apa yang dilakukan OPM saat ini sudah sangat serius karena 
organisasi serupa sudah dibentuk di Port Moresby, Papua Nugini. Malah deklarasi 
di Oxford dihadiri pemain rugbi nasional dari Papua Nugini, Paul Aiton, 
kemudian Jenifer Robinson, serta sejumlah orang berpengaruh lainnya secara 
internasional. 

Sekretaris Dewan Adat Dayak Kalbar Jakobus Kumis secara terpisah mengatakan 
apabila kaum separatis Papua dibiarkan berkeliaran, kasus serupa akan disusul 
di Sulawesi, Aceh, dan Kalimantan. 

“Ketidakadilan yang dialami masyarakat di daerah, seperti eksploitasi sumber 
daya alam yang hanya dinikmati kelompok tertentu yang dekat dengan lingkaran 
kekuasaaan di tingkat pusat, tetap akan menjadi pemicu ketidakpuasan di daerah 
sehingga berujung kepada gerakan separatisme. Pemicu tindakan separatisme 
merupakan buah dari keserakahan pemerintah pusat,” ujar Jakobus. 

Karena itu, kata Jakobus, pemerintah memang tidak boleh main-main dengan upaya 
memajukan kesejahteraan ekonomi di daerah. Berbagai kekayaan alam di daerah 
kini dikuras oleh sejumlah orang dari pemerintah pusat. Jika masalah ini tidak 
diselesaikan dengan baik, risiko terburuk akan dihadapi pemerintah Indonesia. 
(Aju) 

Sumber : Sinar Harapan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke