IGJ:
Kenaikan BBM Pacu Impor Ikan dan Pangan
 

Jakarta,
6 Mei 2013. Indonesia for Global Justice memperkirakan kenaikan Bahan Bakar
Minyak menjadi Rp 6500,- akan berdampak pada membanjirnya produk pangan impor di
Indonesia. Jika wacana ini direalisasikan, maka impor pangan diperkirakan
melonjak hingga lebih dari 30 persen.  

Direktur
Eksekutif IGJ, M. Riza Damanik, menjelaskan, "setidaknya ada dua faktor
utama yang mempengaruhi lonjakan volume impor pangan akibat kenaikan BBM, yaitu
meningkatnya biaya produksi ditingkat petani dan nelayan. Lalu, di tingkat
konsumen, kenaikan BBM akan memicu inflasi yang menyebabkan penurunan daya beli
masyarakat."    

Di
sejumlah daerah seperti Jambi misalnya, dengan harga solar hari ini sebesar Rp
4500,- per liter, para petani sudah harus membayar seharga Rp 8000,- hingga Rp
10.000,- per liter di tingkat eceran. Demikian halnya para nelayan maupun usaha
pemindangan ikan di Nusa Tenggara Barat, yang membeli solar dengan harga Rp
1500,- hingga Rp 3500,- lebih mahal dari harga BBM bersubsidi yang ditetapkan
pemerintah.  

"Ada
pekerjaan rumah yang belum dilunasi pemerintah. Yakni, membenahi distribusi BBM
bersubsidi secara berkeadilan ke kampung petani dan nelayan. Pada periode 2011
- 2012, hanya kurang dari 10 persen dari proyek pembangunan Solar Packet Dealer
Nelayan (SPDN) yang berhasil beroperasi di kampung nelayan. Selebihnya belum
beroperasi, bahkan 4 diantaranya dibatalkan. Kondisi ini mengandaikan masih
akan tingginya akumulasi kenaikan harga BBM yang bakal dibayarkan oleh petani
dan nelayan kedepannya", terang Riza.  
Tabel
1. Status Proyek Pembangunan SPDN di Kampung Nelayan, 2011-2012  
No  Status SPDN  Jumlah  
1  Sudah beroperasi  5  
2  Belum beroperasi  44  
3  Batal beroperasi  4  
   Total  53  Sumber: IGJ (2013)
 

Bagi
keluarga menengah ke bawah, lebih dari 70 persen pendapatan per bulan habis
untuk membeli kebutuhan pangan. Jika harga jual produk pangan di tingkat petani
sudah naik akibat kenaikan biaya produksi, maka konsumen akan beralih ke produk
pangan impor yang lebih murah sebagai bagian dari strategi bertahan hidup di
tengah pendapatan yang tidak berubah dan tingginya inflasi.  

"Kenaikan
BBM akan memukul keras produsen pangan lokal yang tidak bisa bersaing dengan
harga pangan impor yang lebih murah. Bayangkan jika disuruh memilih antara
membeli kentang Dieng seharga Rp 7500 per kilogram atau kentang Cina seharga Rp
3500 per kilogram bisa dipastikan produk pangan impor akan merajai pasar-pasar
tradisional", tambah Riza.  
 
Tabel
2. Perbandingan Harga Sejumlah Produk Holtikultura Lokal dan Impor  
Jenis Komoditas  Harga Produk Lokal (Rp/Kg)  Harga Produk Impor (Rp/Kg)  
Bawang Putih  25000  24000  
Kentang Menu ABC  5500  4400  
Cabe Merah  30000  23000   
Sumber: Informasi
Harga Komoditi, Kementan periode April 2013 dan lainnya, diolah
 
"Nilai
impor bahan pangan Indonesia saat ini tidak kurang dari US$ 20,6 milyar.
Kenaikan BBM Rp 6500,- akan memacu terjadinya lonjakan kenaikan nilai, volume,
maupun jenis produk pangan impor hingga mencapai 30 persen lebih. Olehnya,
subsidi BBM tetap diperlukan guna menjaga ketersediaan pasokan pangan dan
perekonomian rakyat Indonesia", tutup Riza.  
 
Informasi
lebih lanjut:
M.Riza
Damanik, Direktur Eksekutif IGJ
di
0818773515/ [email protected]
 
 
Sekretariat
Indonesia for Global Justice
Jln.Tebet
Barat XIII No.17 Jakarta 12810
Tel
& Fax: 021-8297340 Email: [email protected]

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke