Ref: 

Indonesia lies between latitudes 11°S and 6°N

Wheat is most successful between the latitudes of 30° and 60°N and 27° and 
40°S (Nuttonson, 1955). The optimum growing temperature is about 25°C, with 
minimum and maximum growth temperatures of 3° to 4°C and 30° to 32°C, 
respectively (Briggle, 1980). Wheat is adapted to a broad range of moisture 
conditions from xerophytic to littoral. Although about three-fourths of the 
land area where wheat is grown receives an average of between 375 and 875 mm 
of annual precipitation, it can be grown in most locations where 
precipitation ranges from 250 to 1 750 mm (Leonard and Martin, 1963). 
Optimal production requires an adequate source of moisture availability 
during the growing season; however, too much precipitation can lead to yield 
losses from disease and root problems. Cultivars of widely differing 
pedigree are grown under varied conditions of soil and climate and show wide 
trait variations. Although wheat is being harvested somewhere in the world 
in any given month, harvest in the temperate zones occurs between April and 
September in the Northern Hemisphere and between October and January in the 
Southern Hemisphere (Percival, 1921)


http://us.bisnis.news.viva.co.id/news/read/411132-riset--indonesia-bisa-jadi-produsen-gandum

Riset: Indonesia Bisa Jadi Produsen Gandum
Kebijakan strategis dan dukungan pemerintah diperlukan.
ddd
Rabu, 8 Mei 2013, 04:58 Mohammad Adam, Arjuna Nusantara (Padang) 
 
Hamparan ladang gandum di Slovakia. (Antara/ Rosa Panggabean)
BERITA TERKAIT
 
Impor Gandum Melonjak 200 Ribu Ton
  a.. Mendag: Harga Terigu Bakal Naik 
  b.. Hatta: Empat Negara Tutup Kran Ekspor Gandum 
  c.. Bea Masuk Antidumping Terigu Segera Berlaku 
  d.. BPOM Tak Tahu Ada Toksin di Terigu Turki 
Follow us on  VIVAnews - Hasil riset tim peneliti gandum Universitas Andalas 
(Unand) mengungkap, kebutuhan Indonesia terhadap gandum dipenuhi dengan 100 
persen produk impor. Tahun 2011, impor gandum mencapai 6,2 juta ton dengan 
nilai US$2,5 miliar. Sementara, Indonesia punya potensi untuk menjadi produsen 
gandum. Itu sudah dibuktikan di tujuh provinsi.

Melalui Kementerian Koordinator Perekonomian, Unand bekerjasama dengan Slovakia 
untuk melakukan penelitian adaptasi penanaman bibit gandum. Untuk uji Multi 
Lokasi dan demonstrasi dilaksanakan di tujuh provinsi. Enam provinsi tersebut 
adalah Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, 
Bengkulu, dan Irian.

Rektor Unand, Werry Darta Taifur,  menjelaskan kepada VIVAnews usai membuka 
workshop pengembangan gandum di Indonesia di kampus Unand, Selasa 7 Mei 2013, 
bahwa Untuk penelitian optimasi budidaya dan sosialisasi teknologi budidaya, 
dilakukan sepenuhnya di Sumatera Barat.

Kegiatan uji coba penanaman bibit gandum perdana, dimulai di Sumatera Barat 
pada tahun 2011. Ada sembilan lokasi dengan perbedaan kondisi agroklimatnya, 
yakni Alahan Panjang (1616 mdpl) dan Sukarami (1048 mdpl) di Kabupaten Solok, 
Golden (987 mdpl) dan Pekonina (980 mdpl) di Kabupaten Solok Selatan, Balingka 
(1040 mdp) dan Koto Ilalang (1200 mdpl) di Kabupaten Agam, serta Rambatan (570 
mdpl), Tabek Patah (1000 mdpl), dan Sumanik (800 m dpl) diKabupaten Tanah Datar.

"Dari hasil penelitian yang dilakukan selama ini, membuktikan kalau Indonesia 
bisa produksi gandum sendiri. Buktinya, provinsi yang sudah kita jadikan lokasi 
penelitian, bisa menghasilkan gandum," ujar Werry.

Kedutaan Besar Slovakia untuk Indonesia, Stefan Rozkopal yang hadir dalam 
seminar juga mengatakan bahwa negaranya siap mendukung pengembangan gandum di 
Indonesia.

"Kami akan selalu bekerja sama. Tapi di sini harus ada keputusan strategis atau 
keputusan politik dari pemerintah Indonesia," kata Rozkopal.

Menurut Rozkopal, sekarang adalah momen yang penting membuat kebijakan 
strategis. Hasil penelitian Unand bekerjasama Slovakia di tujuh provinsi 
membuktikan Indonesia berpotensi memproduksi gandum. "Kebijakan strategis 
pemerintah perlu. Indonesia mau jadi produser, atau terus mau jadi importer," 
kata Rozkopal.

Menurut Werry, kalau pemerintah tidak ada upaya memrpoduksi gandum di dalam 
negeri, maka ketergantungan terhadap produk impor akan kian tinggi. 

"Nilai uangnya setelah dihitung-hitung, impor bisa mencapai Rp1,2 triliun. 
Slovakia saja yang luasnya hanya seluas Jawa Timur, bisa menjadi salah satu 
produsen gandum yang besar di dunia. Prospek di Indonesia, tujuh provinsi tadi 
dikumpulkan, jauh lebih besar hasilnya dari Slovakia," kata Werry.(umi)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke