http://www.shnews.co/detile-19138-intoleransi-meningkat-sby-dapat-penghargaan.html

Intoleransi Meningkat, SBY Dapat Penghargaan 
Ruhut Ambarita | Rabu, 08 Mei 2013 - 14:15:12 WIB

: 163 




(dok/antara)

Kalangan pemuka agama dan pegiat HAM menolak penghargaan untuk Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono. 


JAKARTA - Di tengah meningkatnya aksi intoleransi terhadap komunitas beragama 
di Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima penghargaan World 
Statesman 2013 dari Yayasan Appeal of Conscience yang berasal dari Amerika 
Serikat (AS) atas jasanya dalam penyelesaian konflik sipil maupun agama. 
Kalangan pemuka agama dan pegiat hak asasi manusia menolak pemberian 
penghargaan ini. Namun, agaknya presiden akan tetap pergi ke New York untuk 
menerima penghargaan tersebut. 

Puluhan orang yang berasal dari Solidaritas Korban Pelanggaran Kebebasan 
Beragama/Berkeyakinan, termasuk jemaat dari GKI Yasmin dan HKBP Filadelpia, 
aktivis Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) dan 
Forum Rohaniawan se-Jabotabek menggelar aksi di depan Kedutaan Besar AS, 
Jakarta untuk menolak penghargaan ini. 

Pendeta Palti Pandjaitan dari Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) 
Filadelpia kepada SH, Rabu (8/5), menilai jumlah kasus intoleransi di Indonesia 
meningkat tajam sejak SBY menjabat sebagai presiden pada 2004. Ia mengatakan, 
banyak kasus yang bisa dijadikan contoh terkait hal tersebut. 

HKBP adalah gereja Kristen yang memiliki jemaat terbesar di Indonesia. Banyak 
Gereja HKBP disegel dan jemaatnya mengalami teror, salah satunya Gereja HKBP 
Filadelpia di Tambun, Bekasi, Jawa Barat. 

Palti mengatakan, tidak hanya jemaat gereja yang ia pimpin merasakan terror, 
tetapi ratusan gereja ditutup dan jemaat Kristen di seluruh Indonesia 
terus-menerus mengalami teror. Umat Islam di Indonesia juga mengalami hal 
serupa, seperti jemaah Ahmadiyah dan Syiah. 

Seperti diketahui, penyerangan terhadap komunitas Ahmadiyah terus terjadi di 
Indonesia tanpa bisa diantisipasi aparat keamanan. Hal sama terjadi pada 
komunitas Syiah di Madura yang hingga hari ini harus tinggal di lokasi 
penampungan dan menghadapi desakan pengusiran warga. 

Di tengah situasi ini, rencana lembaga AS memberikan penghargaan “Negarawan” 
kepada Presiden Yudhoyono dinilai tak pantas. “Presiden tidak pantas menerima 
itu,” ujar Palti. 

Palti mengatakan, para pemuka lintas agama di Indonesia telah mengirimkan surat 
resmi kepada lembaga yang akan memberikan penghargaan kepada SBY dan Pemerintah 
Amerika Serikat. Surat tersebut berisi protes keras dari para pemuka lintas 
agama di Indonesia. 

Menurut Palti, Presiden Yudhoyono baru layak menerima penghargaan yang 
berkaitan dengan toleransi setelah memberi tindakan nyata melindungi warga 
negaranya dalam menjalankan ibadah. 

Tidak hanya itu, presiden layak menyandang status kepala negara yang negarawan 
setelah mencabut peraturan daerah yang diskriminatif dan tidak bertentangan 
dengan konstitusi. “Presiden tidak cukup hanya pidato di Istana. Dia harus 
bertindak melindungi kebebasan beragama. Kalau hanya kata-kata, saya juga 
bisa,” ujarnya. 

Secara terpisah, Bikku Jayamedho yang mewakili komunitas umat Buddha di 
Indonesia mengatakan, secara konseptual apa yang disampaikan Yudhoyono soal 
toleransi selama ini sudah cukup baik. Namun, pidato saja tidak cukup untuk 
melindungi kebebasan beragama di Indonesia. 

“Banyak pidatonya yang toleran, tapi tindakannya tidak tegas. Seperti seorang 
pendeta, banyak khotbahnya bagus-bagus, tapi apakah seirama dengan perbuatan? 
(Yudhoyono) adalah seorang pengkhotbah yang bagus, tapi sebagai kepala negara 
tidak,” ujar Jayamedho. 

Hal senada dikatakan Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia Persekutuan 
Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Jeirry Sumampow. “Pemerintahan SBY justru 
memberi panggung terhadap kelompok-kelompok intoleran, yang melakukan kekerasan 
tidak ditindak tegas,” ujar Jeirry. 

Menurut Jeirry, sudah banyak laporan soal intoleransi beragama kepada presiden, 
tetapi tidak ada yang ditindaklanjuti, malah kekerasan dan intoleransi semakin 
meningkat. “Jika menerima penghargaan itu, SBY seharusnya malu kepada penganut 
Ahmadiyah, Syiah, jemaat GKI Yasmin, HKPB Philadelpia, HKBP Ciketing, dan HKBP 
Setu. Penghargaan itu adalah ironi,” tukasnya. 

Anggota Komisi III DPR, Eva Kusuma Sundari juga mengatakan Presiden Yudhoyono 
tidak pantas menerima penghargaan di bidang kebebasan beragama. “Kalau presiden 
mau menerima, itu haknya, tetapi secara legitimasi jelas bertentangan dengan 
realitas yang terjadi saat ini,” ungkapnya. 

Eva mengatakan, eskalasi intoleransi justru semakin meningkat. Presiden 
Yudhoyono tidak mampu menyelesaikan persoalan-persoalan terkait kebebasan 
beragama. “Bagaimana dia (presiden) bisa menerima penghargaan itu, sementara 
setiap minggu jemaat GKI Yasmin beribadahnya di depan Istana,” paparnya. 

Eva menganggap penghargaan itu bernuansa politis. Ada agenda tertentu di balik 
pemberian penghargaan tersebut. Menurut Eva, Presiden SBY juga tidak tepat jika 
menyalahkan persoalan kebebasan beragama kepada pemerintah daerah karena urusan 
agama seharusnya berada di tangan pemerintah pusat. 

Kekerasan Ahmadiyah 

Terkait serangan terhadap komunitas Ahmadiyah di Tasikmalaya yang terjadi 
Minggu (5/5), Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan mengatakan, aksi kekerasan 
itu merupakan ekses dari indikasi masih aktifnya penyebaran Ahmadiyah di Jawa 
Barat. Padahal telah dikeluarkan larangan penyebaran Ahmadiyah lewat Peraturan 
Gubernur Jawa Barat No 12/2011. 

Isi Pergub tersebut, menurut Heryawan, memperkuat SKB 3 Menteri maupun fatwa 
Majelis Ulama Indonesia tentang pelarangan penyebaran ajaran Ahmadiyah. Namun, 
menurut Heryawan, Pergub sama sekali tidak mengatur tentang larangan beribah 
bagi Ahmadiyah. Sejauh tidak menyebarkan ajarannya, Ahmadiyah tidak bisa 
dilarang menjalankan ibadah. 

Aturan dalam Pergub No 12/2011 itu sudah dianggap tegas. Oleh karenanya, 
Heryawan menilai belum perlu dilakukan perubahan aturan dari Pergub menjadi 
perda. Heryawan tetap meminta tidak menggunakan cara-cara kekerasan dalam 
meluruskan ajaran yang salah. “Kerukunan antarumat beragama di Jabar harus 
terus dijaga. Tidak boleh ada kekerasan,” ungkapnya. 

Kemarin, saat membuka sidang kabinet terbatas bidang ekonomi dan keamanan, 
Presiden Yudhoyono meminta agar konflik-konflik berbasis agama segera 
diselesaikan secara tuntas, guna memberikan rasa tentram dan kedamaian kepada 
masyarakat. 

“Menyangkut konflik antarumat beragama ini, saya sebetulnya berharap semua 
pihak, utamanya jajaran pemerintah daerah di mana benturan atau kekerasan 
sosial itu terjadi, mengambil tanggung jawab penuh untuk mengatasinya, sampai 
tuntas. Tentu pemerintah pusat juga tidak bisa tinggal diam memberikan bantuan 
yang sama sampai tuntas,” katanya. 

Ia juga menegaskan, penyelesaian masalah tersebut tidak boleh sepotong-sepotong 
atau sekadar telah dilakukan pertemuan antarkedua pihak yang bertikai. Namun 
permsalahan dapat diselesaikan secara permanen. 

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono dalam konferensi pers 
seusai sidang kabinet terbatas mengatakan, sejauh ini mekanisme penyelesaian 
konflik berbasis agama terutama Ahmadiyah telah tertuang dalam Surat Keputusan 
Bersama (SKB) Tiga Menteri Tahun 2008. 

Pelaksanaan SKB tiga menteri tersebut perlu untuk didorong sebagai upaya dalam 
pencegahan konflik berbagai agama. “Seperti juga kasus Ahmadiyah di Tasik dan 
lain-lain, saya kira dengan berpedoman pada SKB dapat dilakukan pencegahan. Ini 
tugas pemerintah, tentu didukung seluruh komponen masyarakat, terutama pemda 
(pemerintah daerah),” katanya.(Ant/Vidi Batlolone/Didit Ernanto) 

Sumber : Sinar Harapa


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke