http://www.suarapembaruan.com/nasional/nasib-tkw-ntt-memilukan-sudah-miskin-diperdagangkan-lagi/35175


Nasib TKW NTT Memilukan, Sudah Miskin Diperdagangkan Lagi
Rabu, 8 Mei 2013 | 8:20

 Sebanyak 19 TKW ditahan di Polda NTT, untuk dimintai keterangan yang hendak 
diberangkatkan ke Malaysia dan Singapura. [Yos Kelen] 


Berita Terkait

  a.. Jangan Jadi TKW Terus 
[KUPANG]  Perdagangan manusia (human trafficking) makin marak di Provinsi Nusa 
Tenggara Timur (NTT). 

Banyak  putra daerah NTT yang miskin dan tidak diperdayakan oleh pemerintah 
setempat mudah terpengaruh dengan iming-imingan mendapatkan kerja yang layak di 
luar negeri. 

Mereka pun tidak berpikir panjang dan menerima tawaran tersebut, apalagi dengan 
iming-imingan gaji besar. Padahal  banyak dari mereka ditipu atau dibohongi 
oleh agen penyalur tenaga kerja. 

Kepolisian NTT baru-baru ini menggagalkan upaya pengiriman 19 tenaga kerja 
wanita (TKW) oleh PT Okda Harapan Mulia cabang Kupang. 

Perusahaan milik Lambertus Modok  yang berlokasi di Perumnas Kota Kupang, 
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini, merekrut anak NTT untuk dipekerjakan ke 
Singapura dan Malaysia. 

"19 TKW itu langsung di bawa ke Polda NTT dan ditahan untuk dimintai keterangan 
sebagai saksi terhadap human traffiking serta pemalsuan dokumen TKW tersebut,” 
kata Kabid Humas Polda NTT, AKBP Ida Pello, kepada SP di Kupang , Rabu (8/5) 
pagi. 

Menurut  Ida Pello, 19 orang TKW itu direncanakan dikirim sebagai tenaga kerja 
di Singapura dan Malaysia. 

"Pada TKW tersebut juga ditemukan pemalsuan kartu tanda penduduk (KTP) oleh 
pihak perusahaan sebagai Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta 
(PPTKIS) cabang Kupang. Penangkapan 19 TKW itu atas informasi yang disampaikan 
masyarakat setempat kepada pihak kepolisian," kata Ida Pello. 

Pimpinan PT Okda Harapan Mulia cabang Kupang, Lambertus Modok, belum dilakukan 
pemeriksaan, karena pemeriksaan 19 TKW itu belum selesai. 

“Hingga pagi ini, belum ada tersangka, namun dari hasil pemeriksaan TKW itu 
sudah ada calon tersangkanya, jelas Ida Pello. 

Orang tua salah satu calon TKW, Kornelis Naik Kofi, saat ditemui SP di Mapolda 
NTT, mengatakan, anaknya Yance Lodo, direkrut perusahaan itu untuk bekerja di 
Malaysia, tetapi anaknya menelepon bahwa dia ditahan di Polkda NTT. “Dari 
informasi itu kami datang untuk melihat dia,” kata Kornelis Kofi. 

Menurut Yance Lodo, mereka ingin mencari kerja di Malaysia. 

“Tetapi kalau dokumen kami di palsukan oleh perusahaan, itu kami tidak tahu. 
Kami juga berharap jangan ditahan, karena kami tidak bersalah dan tres. Kami 
hanya ingin berangkat sampai di tempat tujuan untuk bekerja. Itu harapan kami. 
Kami juga tidak tahu kalau perbuatan perusahaan itu melanggar hukum,” kata 
Yance Lodo. 

Pemalsuan KTP

Sementara itu, rohaniwan Pater Bernadus Beru, SVD  yang menjadi pimpinan Biara 
Bruder Gregorius (BBG) Kupang, mengatakan, masalah human trafficking 
(perdagangan manusia) di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur  (NTT) saat ini 
sudah sangat parah. Jika tidak ditangani serius akan sangat menghancurkan 
daerah ini.       

“Kita prihatin dengan kondisi daerah ini, jika pihak-pihak yang bertanggung 
jawab tetap membiarkan masalah human trafficking itu ada dan menggerogoti 
daerah ini. Pemerintah bersama pihak keamanan harus serius menanggani masalah 
ini,” kata Pater Bernard kepada wartawan di Kupang. 

Perdagangan manusia, kata Pater Bernard, justru dilakukan oleh orang-orang yang 
berpendidikan, namun mereka tidak mau tahu apa dampaknya. Mereka hanya ingin 
mendapatkan uang yang sebanyak-banyaknya dari pekerjaan yang tidak terpuji ini. 

“Saya sudah kontak beberapa bupati di NTT, terutama di Flores dan Timor untuk  
serius memperhatikan masalah ini. Kalau saya diberikan kesempatan untuk turun 
langsung ke masyarakat, saya akan kupas habis-habisan masalah ini,” katanya. 

Menurut Pater Bernard, sasaran human trafficking ini adalah masyarakat kecil di 
desa-desa yang sedang terjepit secara ekonomi. 

“Karena masalah ekonomi keluarga ini maka ketika ada tawaran untuk bekerja di 
luar daerah hingga luar negeri mereka langsung menyetujuinya,” katanya. 

Kasus terakhir yang dihadapi lima TKW asal Kabupaten Kupang dan Belu yang 
berhasil diselamatkan   Justice, Peace, and Integrity Creasion (JPIC)  SVD ini 
justu harus membuka mata pihak yang berwajib. 

Kelima orang itu termasuk 19 orang yang ditahan Polda NTT sudah menjadi korban 
human trafficking. Karena menurut pengakuan mereka, KTP yang mereka pegang 
sendiri tidak tahu siapa yang membuatnya. 

“Tiba-tiba saja mereka dibagikan KTP sebelum diberangkatkan. Kemudian, tidak 
ada tanggung jawab dari perusahan yang merekrut mereka untuk mengantar sampai 
tujuan. Mereka dilepaskan pergi tanpa arah,” katanya. 

Pater Bernard mengaku akan segera bertemua Gubernur NTT, Frans Lebu Raya dan 
Kapolda NTT, Brigjen Pol Drs Ketut Untung Yoga Ana untuk membicarakan masalah 
ini. Pasalnya masalah ini harus ditanggapi serius. 

“Jangan menari di atas penderitaan orang lain dong,” tambah pater Bernard. 
[Yos/L-8]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke