http://www.suarapembaruan.com/home/jangan-remehkan-kantor-opm-di-oxford/35223

Benny Wenda (3)

Jangan Remehkan Kantor OPM Di Oxford
Rabu, 8 Mei 2013 | 22:08

 Benny Wenda berbicara dalam Internasional Parlemen West Papua (IPWP) di 
Westminister Abbey, Inggris, untuk membahas status Papua Barat dalam Indonesia, 
Selasa, 23 Oktober 2012. [Google] 


Berita Terkait

  a.. Menjadi Koordinator Diplomasi Internasional Soal Papua 
  b.. Berjuang Untuk Papua Merdeka, Dari Melbourne Hingga Oxford 
  c.. Bentrokan Dengan Aparat, 2 Warga Papua Tewas 
  d.. Kenapa Pusat Takut Berdialog Dengan Rakyat Papua? 
Diplomasi internasional menuntut Papua merdeka bukan sekali terjadi. Sejak 
Papua bergabung dengan NKRI, perjuangan itu mulai digalakkan sampai saat ini. 

Hanya pemerintah saja yang seolah-olah kaget ketika sebuah organisasi Papua 
merdeka pimpinan Benny Wenda berdiri di Oxford, Inggris. 

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai, pembukaan kantor Gerakan 
Separatis Papua di Oxford, Inggris akan mengganggu hubungan Indonesia dan 
Inggris, sekalipun Pemerintah Inggris menyatakan dukungannya pada Negara 
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).  

"Pemerintah Inggris menyatakan tetap dukung NKRI. Namun, kegiatan di Oxford itu 
akan mengganggu hubungannya dengan Indonesia," tulis Presiden Yudhoyono di akun 
jejaring sosial, twitternya @SBYudhoyono, Senin (6/5)  malam.

Dalam dua pesan twitternya itu, Presiden Yudhoyono juga mengatakan, "Indonesia 
telah menyatakan penolakan dan ketidaksenangan atas pembukaan kantor Gerakan 
Separatis Papua di Oxford Inggris." 

Pada akhir pekan lalu, Pemerintah Indonesia telah menyampaikan protes keras dan 
keberatan yang mendalam terhadap pembukaan kantor  itu.  

"Atas instruksi kami, Dubes RI di London telah menyampaikan posisi Pemerintah 
tersebut kepada Pemerintah Inggris," kata Menteri Luar Negeri Marty M 
Natalegawa dalam pernyataan persnya.  

Apa kata Pemerintah Inggris soal protes Indonesia? 

Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Mark Canning, menegaskan bahwa sikap Dewan 
Kota Oxford yang merestui dan memfasilitasi pendirian sebuah kantor perwakilan 
untuk Organisasi Papua Merdeka (OPM) bukanlah sikap pemerintah Inggris. 

"Kami memahami kesensitifan isu ini bagi pemerintah Indonesia," kata Canning 
dalam siaran persnya, Sabtu, 4 Mei 2013. Dia menjelaskan bahwa pandangan Dewan 
Kota Oxford tidak mewakili pandangan pemerintah Inggris. 

"Dewan Kota Oxford seperti halnya dewan-dewan lainnya di Inggris, bebas 
mendukung tujuan apa pun yang mereka inginkan. Mereka bukan bagian dari 
pemerintah," kata Canning. 

"Segala bentuk tindakan mereka tidak ada hubungannya dengan pemerintah Inggris 
dalam hal ini."  

Meski begitu, Dubes Inggris mengaku prihatin dengan masih adanya sejumlah kasus 
dugaan pelanggaran HAM di Papua. 

"Kami juga sependapat dengan pernyataan perwakilan Komisi HAM PBB Navi Pilay 
yang mengatakan bahwa masih ada beberapa keprihatinan dugaan pelanggaran HAM di 
Papua yang harus ditangani," kata Canning. 

Pertemuan Parlemen 

Perjuangan Benny Wenda untuk Papua merdeka sudah lama. Namun, secara resmi baru 
dimulai ketika ia dipilih menjadi Koordinator Diplomasi Internasional soal 
Papua melalui Konferensi  Parlemen Nasional West Papua (PNWP) di Jayapura pada 
Kamis,  5 April 2012. 

Situs resmi Komite Nasional Papua Barat, www.knpbnews. com melansir, Konferensi 
PNWP dihadiri anggota-anggota parlemen dari 22 parlemen daerah di seluruh tanah 
Papua. 

Selanjutnya, secara terbuka hasil konferensi dideklarasikan di hadapan ribuan 
rakyat Papua di Lapangan They Eluay, Sentani,  pada  Senin, 9 April 2012. 

Pada kesempatan itu, atas nama rakyat Papua,  secara resmi PNWP mengeluarkan 
Surat Kuasa kepada Benny Wenda di Oxford, Inggris. 

Ketua PNWP, Buctar Tabuni kepada Majalah Selangkah, menuturkan, rakyat Papua 
merasa koordinasi antar pejuang Papua merdeka di luar negeri adalah mendesak. 

Maka, kata dia, rakyat Papua melalui 22 parlemen daerah di seluruh tanah Papua 
memilih dan menetapkan Benny Wenda. ”Mandat perjuangan dari daerah-daerah telah 
diputuskan sebagai keputusan nasional dalam perjuangan Papua Merdeka,” katanya. 

Dalam sidang yang dipimpin Ronsumbre Harry itu, Benny Wenda dianggap memiliki 
kemampuan dan semangat kerja dalam mendorong kompanye dan jaringan diplomasi di 
luar negeri, selain diplomat lain yang juga memperjuangkan kemerdekaan Papua. 

Ia dianggap sebagai salah satu pemimpin Papua Merdeka yang berhasil menunjukan 
jalan menuju pembebasan melalui pembentukan International Parliamentarians for 
West Papua (IPWP) dan International Lawyers for West Papua (ILWP). 

Perjuangan Benny Wenda mendapat apresiasi dunia internasional ketika dia 
menggelar pertemuan anggota parlemen dari seluruh dunia dan masyarakat sipil 
yang tergabung dalam Internasional Parlemen West Papua (IPWP) di Westminister 
Abbey, Inggris, untuk membahas status Papua Barat dalam Indonesia, Selasa, 23 
Oktober 2012. 

Dikabarkan, mereka berbicara soal Act of Free Choice tahun 1969, Perjanjian New 
York tahun 1962, dan hak penentukan nasip sendiri bagi Papua Barat. 

Menariknya, pertemuan itu digelar seminggu setelah kunjungan Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono  (SBY) ke Inggris. 

Dalam rilisnya, IPWP mengatakan, selama hampir lima puluh tahun, Papua Barat 
telah berada di bawah pendudukan Indonesia. Pada tahun lalu saja, puluhan 
demonstran damai telah dipenjara dan pemimpin terkemuka kemerdekaan Papua Barat 
 dibunuh. 

Pertemuan di Inggris itu dihadiri pemimpin diplomasi internasional untuk 
kemerdekaan Papua Barat, di antarnaya Caroline Lucas (Partai Hijau MP untuk 
Brighton Pavillion), Andrew Smith (Partai Buruh MP untuk Oxford Timur), dan 
Harries dari Inggris dan para pemimpin masyarakat sipil dari Tapol, Down to 
Earth, Jaringan Pertambangan London, dan Pengacara Oxford University. 

Saat itu juga digelar uga konferensi video dengan anggota parlemen dari 
Australia dan Selandia Baru. Dikabarkan, dalam waktu tidak terlalu lama, 
anggota parlemen dan organisasi setiap negara yang tergabung dalam IPWP akan 
memanggil pemerintah mereka melalui PBB. 

Mereka akan meminta untuk segera digelar latihan pemungutan suara bagi rakyat 
di Papua Barat. “Biarkan mereka menentukan  masa depan mereka sendiri sesuai 
dengan standar internasional hak asasi manusia, prinsip-prinsip hukum 
internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa,” tulisnya. 

Belajar dari pengalaman Timor Timur, Pemerintah Indonesia harus serius 
menyikapi perjuangan Benny Wenda ini. Jangan pernah meremehkan perjuangan Papua 
merdeka. [L-8]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke