http://www.indopos.co.id/index.php/berita-nasional/3836-tanpa-disertai-blsm-jumlah-kemiskinan-bertambah

Tanpa Disertai BLSM, Jumlah Kemiskinan Bertambah 

Tuesday, 07 May 2013 13:00 
Written by Adityo 

 


Dampak Kenaikan BBM



JAKARTA - Pemerintah meminta pengertian semua pihak bahwa kenaikan harga bahan 
bakar minyak (BBM) mutlak disertai dana kompensasi Bantuan Langsung Sementara 
Masyarakat (BLSM). Ini mengingat kenaikan harga BBM tanpa disertai BLSM diklaim 
dapat meningkatkan angka kemiskinan dari 11,66 persen pada saat ini atau 
diperkirakan naik menjadi 13 persen. “Kenaikan BBM pasti menyebabkan infl asi.

Harga sembako naik, harga angkutan naik dan sebagainya. Tanpa kompensasi 
langsung kemiskinan semakin dalam,” kata Menteri Koordinator Bidang 
Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) H.R. Agung Laksono seusai memimpin rapat 
koordinasi tingkat menteri tentang Finalisasi Direktif Presiden 2013 di 
Jakarta, (3/5). Menko menambahkan, pemberian kompensasi BLSM ini sesuai dengan 
arahan presiden.

Kala itu presiden menginstruksikan daya beli masyarakat harus dipertahankan dan 
kemiskinan absolut pada tahun ini jangan sampai bertambah akibat harga BBM 
naik. Mengingat mendesaknya kebutuhan dana BLSM, pemerintah berharap pembahasan 
APBNP untuk tahun ini di DPR-RI bisa dipercepat. ”Pemerintah ingin pada akhir 
Mei atau awal Juni, APBN Perubahan (APBNP)sudah bisa disepakati.

Karena dana BSLM bakal bersumber dari APBNP yang harus disepakati pemerintah 
dan DPR-RI,” ujar Politisi Golkar itu Agung mengaku belum bisa menentukan 
besaran dana untuk penerima BSLM. Itu semua, tergantung dari pembahasan di DPR 
nanti. Yang jelas, pemerintah ingin dana BLSM berkisar antara Rp 100 ribu – Rp 
150 ribu untuk 15,5 juta Rumah Tangga Sasaran (RTS) per bulan. Untuk rentang 
waktu, pemerintah mengusulkan pemberian BLSM diberikan pada RTS sangat miskin 
selama 3-6 bulan.

Agung mengatakan, kecurigaan bahwa BLSM bakal disalahgunakan untuk kepentingan 
politik dinilainya terlalu berlebihan. “Masak kita mau menolong orang miskin 
malah dicurigai,” kata Agung yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP 
Partai Golkar. Kalau perlu, lanjut dia, sesuai usulan presiden saat pembagian 
BSLM semua partai boleh ikut serta mengibarkan benderanya di lapangan agar 
masyarakat tidak salah tangkap pemberian BSLM hanya bersumber dari partai 
tertentu.

BSLM dulunya bernama Bantuan Langsung Tunai (BLT). Model bantuan seperti BLT 
adalah dana hibah sosial tanpa syarat (unconditionally cash transfer) yang 
kerap digunakan pemerintah sebagai bentuk kompensasi kenaikan harga BBM. Di 
luar negeri jenis hibah sosial seperti ini sudah jarang dipakai karena kerap 
terjadi masalah salah penggunaan dan tujuan di lapangan. Perluasan bantuan 
bersyarat kendati telah merencanakan memberikan BSLM sebagai kompensasi jika 
BBM jadi dinaikkan, pemerintah juga masih memberikan kompensasi lain.

Kompensasi itu adalah dengan memperluas cakupan dan memperbesar alokasi dana 
dari program-program penanggulangan kemiskinan yang sudah ada. Program-program 
itu adalah beras untuk rakyat miskin (Raskin), Bantuan Siswa Miskin (BSM), dan 
Program Keluarga Harapan (PKH). Untuk saat ini, Raskin diberikan pada 15,5 juta 
RTS sangat miskin. Masingmasing RTS mendapakatkan jatah 15 kg beras per bulan 
sebanyak 12 kali dalam satu tahun.

Nantinya jatah beras diusulkan bertambah menjadi 20 kg dan diberikan 15-16 kali 
dalam setahun. Sedangkan PKH pada saat ini diberikan untuk 2,4 juta RTS. Jika 
dirata-rata, setiap RTS mendapat hibah sebesar Rp 1,4 juta per tahun. Dengan 
bakal dinaikkannya harga BBM, pemerintah mengusulkan penambahan alokasi dana 
PKH, sehingga rata-rata hibah per tahun per RTS meningkat jadi Rp 1,8 juta. 
(nel)




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke