Ref: Berapa lama sudah diadakan test klinik tentang kemujaraban teh kulit salak 
dan berapa pasien diuji?

http://www.suarapembaruan.com/nasional/teh-kulit-salak-mampu-turunkan-diabetes/35171

Teh Kulit Salak Mampu Turunkan Diabetes
Rabu, 8 Mei 2013 | 7:42

 Salak [google] 



[MALANG] Peneliti dari kalangan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas 
Brawijaya Malang mengungkapkan, limbah kulit salak yang sudah diolah menjadi 
serbuk teh mampu menjadi obat penurun panas dan diabetes.   

"Ide dasar pembuatan teh dari kulit salak ini bermula dari keinginan kami untuk 
memanfaatkan limbah kulit salak karena mengandung unsur aktif 'Cinamic acid 
derivative'," kata salah seorang mahasiswa yang tergabung dalam penelitian teh 
kulit salak tersebut Mhas Agoes Triambada di Malang, Rabu (8/5).   

Selain Mhas Agoes Triambada, ada empat mahasiswa lain yang mendukung penelitian 
tersebut, yakni Audisty Oktavian, Saraswati, Wildan Noor, dan Rahayu.   

Lebih lanjut Mhas Agoes mengatakan bahwa Cinamic acid derivative merupakan 
senyawa yang mampu mendorong regenerasi sel epitel. Zat tersebut juga berperan 
penting dalam proses perbaikan pankreas pada penderita diabetes tipe I.   

Unsur aktif lain yang terkandung dalam kulit salak yang sudah diolah menjadi 
teh itu, kata Mhas Agoes, adalah Pterostilbene, yakni zat anti diabetes yang 
berperan langsung dalam menurunkan kadar gula darah.   

Teh berbahan baku limbah kulit salak karya lima mahasiswa Universitas Brawijaya 
(UB) Malang yang diberi nama "Litlak Tea" itu dijual seharga Rp3.000. Teh kulit 
salak tersebut diolah menjadi sejumlah varian rasa, yakni original, cokelat, 
dan vanila dengan ukuran gelas sedang.   

Rasa original dikhususkan untuk penderita diabetes, sedangkan rasa cokelat dan 
vanila untuk kalangan non-diabetes. 

"Kami berharap teh hasil penelitian kami ini bisa diterima oleh semua kalangan 
sebagai minuman sehat dan nikmat, terutama bagi penderita diabetes," ujarnya.   

Kelima mahasiswa tersebut juga berharap ada investor yang mau bergabung untuk 
memajukan dan mengembangkan peluang usaha tersebut dan akhirnya bisa diterima 
pasar secara luas. [Ant/L-8]

++++

http://www.suarapembaruan.com/home/riset-terapi-baru-seputar-diabetes/24384

Riset Terapi Baru Seputar Diabetes
Minggu, 9 September 2012 | 11:10


Metode baru terapi diabetes menjanjikan harapan pertolongan bagi jutaan 
penderita penyakit gula. Suntikan insulin teratur mungkin tidak diperlukan 
lagi. 

Riset di bidang terapi penyakit diabetes merupakan yang paling intensif 
dilakukan saat ini. Tidak mengherankan, karena jumlah penderita penyakit gula 
itu di seluruh dunia setiap tahunnya terus meningkat drastis. 

Penelitian antara lain difokuskan pada intervensi kekebalan tubuh dengan 
antibodi monoklon. Para ilmuwan dewasa ini terus mencari unsur aktif yang dapat 
mencegah serangan sistem kekebalan tubuh sendiri, terhadap sel-sel beta yang 
memproduksi insulin. 

Demikian diungkapkan Elmar Jäckel dari sekolah tinggi kedokteran di Hannover. 
Terapinya terutama amat menarik bagi para pengidap diabetes tipe 1, karena para 
penderitanya saat diagnosa pertama, seringkali masih memiliki sekitar 15 persen 
sisa sel-sel beta yang mampu memproduksi insulin. 

Antibodi monoklon dapat melindungi sisa sel beta dari serangan sistem kekebalan 
tubuh sendiri, yang menghancurkan sel beta yang tersisa. Dampak dari 
penghancuran sel produsen insulin oleh sistem kekebalan tubuh sendiri adalah 
diperlukannya suntikan insulin secara teratur untuk meregulasi kadar gula dalam 
darah. 

Tapi riset internasional sejauh ini menunjukkan hasil berbeda-beda. Misalnya 
pemanfaatan preparat seperti Teplizumab berdampak berbeda. Pada penderita 
diabetes  tipe 1 berusia muda dan bertumbuh ramping di Eropa dan Amerika, 
preparat itu menunjukkan khasiat bagus. 

Sementara bagi para penderita diabetes di Asia khasiatnya kurang terasa. Elmar 
Jäckel meyakini diabetes tipe 1 di Asia memiliki penyebab berbeda, dan karena 
itu obat-obatan kemungkinan juga berkhasiat berbeda. 

"Selain itu, para penderita diabetes tipe 1 di Asia juga mengidap kelebihan 
berat badan, sementara di Eropa kebanyakan lebih ramping", kata pakar 
kedokteran dari Hannover itu. 

Riset lebih lanjut bertujuan menjelaskan pertanyaan, mengapa tidak semua 
penderita diabetes tipe 1 dapat menarik keuntungan dari obat-obatan yang sudah 
ada. 

Rekayasa Sel 

Disamping antibodi monoklon, terdapat strategi lain untuk mengintervensi sistem 
kekebalan tubuh. Misalnya saja para peneliti di Brasil melakukan eksperimen 
dengan sel punca dari dalam darah. Prosedur terapinya mirip dengan pengobatan 
penyakit leukemia. 

Mula-mula sistem kekebalan tubuh dihancurkan dengan radiasi Röntgen. Setelah 
itu dilakukan transfusi dengan sel punca darah segar. Dengan itu diharapkan 
sel-sel pemunuh yang terbentuk baru dalam sistem kekebalan tubuh, berperilaku 
lebih jinak terhadap sel-sel beta pada kelenjar pankreas. Studi klinis pertama 
menunjukkan hasil yang memuaskan.   

Strategi lain dikembangkan Israel, AS dan Jerman. Dasar pertimbangannya, organ 
tubuh terus melakukan regenerasi, bagian dari jaringan dapat diambil tanpa 
menimbulkan kerugian terhadap pasien. Juga sel-sel hati dan sel pankreas 
memiliki fungsi yang amat mirip, cukup dilakukan mutasi genetika kecil, untuk 
mengubah sel-sel hati menjadi sel-sel beta penghasil insulin. 

"Pada ujicoba menggunakan binatang hal itu berfungsi," ujar Jäckel. 

Namun belum diketahui, apakah pemrograman ulang sel-sel hati itu merupakan 
altenatif yang tepat bagi manusia. Peneliti kedokteran dari Hannover itu 
menyebutkan, penegasannya baru dapat diketahui antara 5 sampai 10 tahun ke 
depan. 

Satu langkah lebih jauh dari sekedar ujicoba pada binatang di laboratorium, 
adalah strategi imunisasi untuk mencegah diabetes tipe1. Vaksinnya kemungkinan 
sudah dapat dipasarkan tiga tahun ke depan ujar Jäckel. Berita menggembirakan 
datang bagi penderita diabetes tipe 2. 

Para periset menyebutkan, dalam waktu dekat ini sebuah preparat yang memiliki 
potensi sebagai obat ampuh berspektrum luas. Preparat yang kemungkinan diberi 
nama "Forxiga“ itu, berfungsi merangsang ginjal membuang kelebihan gula darah 
lewat air seni. 

Dengan demikian, para pasien tidak perlu lagi menyuntikkan insulin. Komite 
urusan obat-obatan Eropa sudah menyampaikan pernyataan positif. Dengan itu, 
diberikan lampu hijau bagi izin edarnya di negara-negara Eropa. Tapi kapan 
tepatnya obat itu beredar di pasar, sejauh ini belum diputuskan. [DW/L-8]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke