http://www.voa-islam.com/news/opini/2013/05/07/24402/generasi-pemakan-sogok-suap-dan-mamat/

Selasa, 07 May 2013



Generasi Pemakan Sogok, Suap, dan Mamat
Jakarta, (voa-islam.com) Sekarang tumbuh lapisan baru di Indonesia. Terutama di 
era Reformasi ini. Lapisan baru dan generasi baru. Mereka ini jenis generasi 
yang belum pernah ada di masa sebelumnya.

Tetapi, jenis generasi baru ini, bukan generasi yang akan dapat menjadi tulang 
punggung dan pelopor bagi masa depan Indonesia.

Justeru generasi baru ini, cenderung akan membawa kehancuran di masa depan. 
Mereka ini tidak bakal mampu menghadapi berbagai kecenderungan baru, persaingan 
secara global, dan kondisi baru ini memerlukan  jenis manusia yang kuat, baik 
secara moral (agama), keilmuan,  intelektual, dan profesionalitas.

Generasi baru ini terdiri jenis manusia manja. Hidupnya hanya dapat diproeksi 
oleh sebuah sistem. Sistem  korup. Hidup mereka hanya bersandar pada hasil 
rente, hasil sogok dan suap, dan menjadi "makelar umat".Mereka bergaya "borju" 
(borjuis).

Mereka sangat menikmati uang dari hasil sogok, suap, dan menjadi "makelar". 
Bukan hanya menjadi "makelar"  proyek di departemen-departemen, tetapi yang 
lebih menyedihkan lagi, mereka menjadi "makelar" umat (si-mamat). Umat menjadi 
barang dagangan mereka (al umah bido'ah). Sekarang  ini di Indonesia ada jenis  
dagangan (komoditdas) baru, di Indonesia yang paling laku, yaitu umat.

Menjelang pemilu  atau pilkada, mereka menciptakan komoditas baru yang bernama 
umat. Mereka dengan berbagai cara dan methode menciptakan komoditas baru, yang 
nanti akan menjadi barang dagangan yang sangat laku.

Kalau mereka bisa mengumpulkan umat 7 juta, 10 juta, 15 juta, atau mungkin 20 
juta, pasti nilai tawarnya akan sangat tinggi. Mereka bisa menenteng barang 
dagangan umat kepada siapa  saja, terutama mereka yang lapar dengan  kekuasaan. 
Sekarang banyak orang Indonesia, sangat lapar, dan bukan lapar makanan, tetapi 
lapar dengan kekuasaan.

Para pengumpul umat yang menjadi sangat piawi itu, hanya duduk manis  di rumah 
atau dikantor masing-masing, atau duduk di lobi  hotel, vila, apartemen, dan di 
pedopakan yang ada di  lembah, dan mereka yang lapar dan haus kekuasaan itu, 
mereka mendatangi para "pedagang" umat, sambil menawarkan harta, jabatan, dan 
kekuasaan.

Tetapi, mereka para pedagang umat, masih tak puas dengan apa yang mereka 
dapatkan, mereka masih menerima rente, sogok, dan suap. Dengan begitu kondisi 
itu, lahirlah jenis generasi baru, generasi yang hidupnya hanya ditopang oleh 
sistem yang korup, hidupnya tergantung oleh rente, sogok dan suap. Tidak hidup 
diata tetesan keringat dan kerja keras.

Mengapa orang-orang cina menjadi kompetitor baru di area global, karena mereka 
dari lahir  dididik dengan kerja keras. Mereka tidak pernah makan di 
tempat-tempat "mewah" sebelum mereka menjadi sukses. Mereka makan bubur. Tidak 
pernah berubah. Mereka lulusan universitas di Amerika  Serikat. Mereka tetap 
bercucuran keringat. Bekerja keras.

Sebaliknya, di generasi baru yang pemakan rente, sogok, suap, dan si-mamat itu, 
sekarang menjadi "spoil system" (sistem yang dimanjakan). Mereka hanya menjadi 
"aksesoris", dan tak akan dapat menggantikan sistem bobrok, dan munafik. 
Karena, generasi pemakan rente, sogok,suap dan si-mamat, akhirnya hidup dengan 
pola dan gaya sendiri. Selamanya tak bisa memberikan harapan bagi masa depan.

Mungkin mereka hanya bisa memenuhi mall, plaza, hotel-hotel, apartemen, villa, 
dan tempat-tempat keramaian. Mereka tidak akan bisa memenuhi ruang-ruang 
kehidupan yang mulia, dan memberikan harapan baru, bagi masa depan. Masa  depan 
umat manusia. Membuat perubahan.

Generasi baru yang hanya bisa menengadahkan tangannya kepada penguasa zalim, 
para pengusaha culas, dan para pemimpin-pemimpin palsu.

Indonesia tidak akan pernah melahirkan generasi Muhamad al-Fatih yang dapat 
menaklukan Konstatinopel dengan penuh kebanggaan. Muhamad al-Fatih yang 
memberikan kebanggaan kepada seluruh Muslim dan Mukmin sepanjang kehidupan.

Tetapi, generasi baru sejenis, seperti Anas Urbaningrum, Nazaruddin, Andi 
Malaranggeng, Ahmad Fathonah, Luthfi Hasan  Ishak, Djoko Susilo, dan lainnya. 
Mereka hanya menjadi sampah sejarah. Memalukan. Tak memberikan kebanggaan 
sedikitpun bagi Mukmin dan Muslim. Wallahu'alam.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke