http://www.antaranews.com/berita/374151/penjual-jamu-itu-terduga-kelompok-teroris

“Penjual jamu" itu terduga kelompok teroris
Sabtu, 11 Mei 2013 22:58 WIB | 

Oleh Heru Suyitno

 
Terorisme Kebumen Mobil satuan Gegana masuk kedalam lokasi penggerebekan 
terduga teroris di Desa Ungaran, Kutowinangun, Kebumen, Jateng, Kamis (9/5). 
(ANTARA/Idhad Zakaria) 


 
Jakarta (ANTARA News) - Penggerebekan terduga kelompok teroris di sebuah rumah 
kontrakan di Dusun Kembaran, Desa Ungaran, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten 
Magelang, Jawa Tengah (Jateng), oleh tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes 
Polri masih menjadi perbincangan hangat masyarakat setempat.

Dusun Kembaran berada sekitar 500 meter arah utara jalan raya Purworejo-Kebumen 
tersebut sebagian besar penduduknya bertani. Seperti daerah lain di Kebumen, 
dusun ini juga merupakan penghasil kelapa.

Selama ini masyarakat di Dusun Kembaran hidup damai, aman, dan tenteram dalam 
suasana pedesaan yang agamis.

Suara tembakan dan ledakan keras pada Rabu (8/5) malam hingga Kamis (9/5) pagi 
dalam penyerbuan terduga kelompok teroris tersebut membuat suasana di dusun 
tersebut mencekam.

Bahkan hampir semalaman warga sekitar tidak bisa tidur karena sebentar-sebentar 
mendengar suara tembakan.

Saat penggerebekan tersebut, beberapa keluarga yang tinggal berdekatan dengan 
rumah kontrakan tersebut diminta petugas untuk mengungsi ke tempat yang aman.

Warga Dusun Kembaran yang rumahnya berjarak sekitar 15 meter arah barat daya 
rumah yang ditempati terduga kelompok teroris tersebut, Ny Astuti (45) 
mengatakan, sekitar pukul 19.30 WIB sebelum terjadi bakutembak warga diminta 
oleh pamong desa untuk mengungsi.

Janda anak satu ini kemudian mengungsi ke rumah tetangganya, Ny. Suratmi, yang 
tinggal tiga rumah arah barat dari rumahnya.

"Saya, anak saya, dan ibu saya mengungsi di rumah Bu Suratmi, namun kami tetap 
tidak bisa tidur karena mendengar suara tembakan. Bahkan anak saya sempat 
pusing-pusing, setelah diberi obat juga sembuh," katanya.

Ia mengatakan, rumah kontrakan tersebut milik Suswadi (55), yang kini telah 
meninggal dunia, sedangkan istrinya tidak tinggal di rumah tersebut. Dia 
memilih tinggal bersama anaknya di Jakarta.

"Sebelumnya rumah itu kosong satu tahun lebih, sejak Pak Suswadi meninggal," 
katanya.

Astuti mengaku tidak kenal dengan penghuni baru itu, namun pernah ketemu dengan 
salah satu penghuninya, saat menanyakan rumah kakaknya, Marjono (54) yang 
kebetulan membawa kunci rumah tersebut.

"Orang yang mencari kakak saya tersebut masih muda dan santun dalam berbicara. 
Kami tidak menyangka kalau dia termasuk kelompok teroris," katanya.

Sebelum terjadi penggerebekan pada Rabu malam, katanya, beberapa aparat tanpa 
seragam sejak siang telah mengintai rumah tersebut dan pada sore hari jumlah 
mereka bertambah banyak dan sekitar pukul 22.00 WIB terdengar suara tembakan.

Marjono mengatakan, sebelum terjadi penggerebekan, pada siang harinya seorang 
penghuni kontrakan minta tolong dicarikan tukang menguras sumur. Kemudian dia 
mengajak Dullah Wardi (56) untuk menguras sumur. 

Ia menuturkan, sekitar pukul 14.30 hingga 16.30 WIB dia ikut membantu Dullah 
Wardi menguras sumur yang ada di dalam rumah tersebut.

"Setelah selesai saya langsung pulang, tetapi sebelum sampai di rumah saya 
dihadang oleh orang yang mengaku aparat. Saya dikasih tahu bahwa yang 
mengontrak rumah itu adalah kelompok teroris," kata Marjono.

Awalnya dia tidak percaya, namun saat menjelang malam, suasana sekitar rumahnya 
berubah mencekam. Usai Magrib sebelum terjadi bakutembak, dia bersama istri dan 
tiga anaknya diminta mengungsi oleh polisi ke tempat yang aman.

Sepengetahuan Marjono di rumah kontrakan itu hanya ada empat orang, salah 
satunya mengenalkan diri bernama Tri asal Semarang. Mereka mengaku bekerja 
sebagai penjual jamu keliling.

"Mereka seperti orang kebanyakan, tidak ada yang aneh. Bahkan pak Tri itu 
bahasa Jawa-nya halus dan sopan. Memang penghuni rumah itu pergi pagi pulang 
malam. Namanya juga orang jualan keliling, jadi saya maklumi kalau jarang 
ketemu tetangga," katanya.

Kepala Urusan Umum Desa Ungaran, Yuli Waluyo, mengatakan, semestinya seorang 
pendatang baru di desa itu paling lambat 2x24 jam telah menyerahkan KTP maupun 
kartu identitas lainnya kepada perangkat desa.

"Sebenarnya kepala dusun melaui RT sudah berusaha meminta KTP, namun yang 
bersangkutan selalu menunda-nunda," katanya.

Tiga Tewas

Kapolres Kebumen AKBP Heru Trisasono menyatakan tiga dari tujuh orang terduga 
teroris tewas dalam penyergapan di rumah kontrakan di Dusun Kembaran, Desa 
Ungaran, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen.

"Dalam penyergapan pada Rabu malam hingga Kamis pagi itu, tiga orang terpaksa 
dilumpuhkan karena melakukan perlawanan," kata Kepala Kepolisian Resor Kebumen 
itu.

Ia mengatakan, mereka terpaksa ditindak tegas karena sudah berulang kali 
diperingatkan untuk menyerah, namun mereka malah melakukan perlawanan dari 
dalam.

"Empat orang di antaranya diamankan dengan selamat. Dua orang disergap di dalam 
rumah kontrakan, sedangkan dua orang lainnya disergap di luar rumah," katanya.

Ia mengatakan, barang bukti yang ditemukan dalam penggerebekan rumah kontrakan 
tersebut, antara lain bom pipa, granat, senjata jenis FN, peluru, laptop, dan 
telepon seluler.

Selain itu, polisi juga mengamankan tiga sepeda motor dari rumah kontrakan para 
terduga teroris setelah mereka dilumpuhkan oleh Tim Densus 88 Mabes Polri.

Sepeda motor tersebut, dua di antaranya merupakan Honda Supra X, masing-masing 
warna biru dengan nomor polisi H 6715 KM dan warna merah bernomor polisi AA 
3048 KL, serta satu Honda Vario warna merah dengan nomor polisi H 4945 DU.

Berdasarkan keterangan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen 
Pol Boy Rafli Amar, tiga orang terduga teroris yang tewas di Kebumen diketahui 
bernama Toni, Bastari, dan Bayu. 
Editor: Ella Syafputri


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke