Tks konfirm hadir
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: Al Faqir Ilmi <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 13 May 2013 10:34:37
To:  <Invalid address>
Reply-To: [email protected]
Subject: [inti-net] Undangan Diskusi : KOMPAS – Lingkar Muda Indonesia  
“KEPEMIMPINAN YANG BERKEUTAMAAN”

Lingkar Muda Indonesia (LMI)
Sekretariat:
Insitute Ecosoc, Tebet Timur Dalam VI-C/17, Jakarta 12820,
Telp./Fax.
(021) 830 4153, email: [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------
 
Undangan
Diskusi Seri I tahun 2013
KOMPAS– Lingkar Muda Indonesia
  
 “KEPEMIMPINAN YANG BERKEUTAMAAN”
  
 
Kepada
Yth. Ibu/Bapak/Sdr-i
Pemerhati masalah Keindonesiaan
Di Tempat
 
 
Indonesia saat ini
adalah bangsa yang menyimpan keluhan sekaligus janji. Daftar keluhan bisa
sangat panjang dan berderet. Kita sebut saja satu per satu. Pelanggaran HAM,
konflik antaragama, kesenjangan kaya dan miskin, kontrak karya yang merugikan,
konflik antar aparatur negara, korupsi yang menggurita, dan masih banyak yang
lain. Namun, di tengah gelapnya ruang tunggu republik ini, kita masih memiliki
janji akan perbaikan. Pada  2014 nanti
APBN kita diper- kirakan menginjak angka 2.500 triliun rupiah. Indikator
ekonomi pun menunjukan sesuatu yang tidak mengecewakan. Pertumbuhan ekonomi
kita masih lumayan jika dibandingkan dengan beberapa negara di kawasan Asia
Timur lainnya.   
 
Meski mengandung janji
dan harapan, segenap kesulitan yang dialami bangsa ini tidak dapat dipandang
sebelah mata. Buat apa APBN yang berlimpah jika korupsi membocorkannya di
tengah jalan. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi juga tidak membanggakan
ketika kualitas hidup mereka yang tunasejahtera tidak mengalami perubahan. 
Apalagi
ketika pertumbuhan tersebut tidak membuat utang luar negeri kita berkurang. 
Utang
yang terus membubung bakal menabung risiko tersendiri bagi generasi penerus
republik ini.
 
Janji dan keluhan yang
dimiliki republik ini membutuhkan lebih dari sekadar pemimpin. Kita  memiliki 
banyak pemimpin, namun sedikit dari
mereka yang memiliki kepemimpinan. Kepemimpinan bukan sekadar jargon atau ide
yang enak diucapkan. Kepemimpinan memiliki konsekuensi praksis yang tidak
sederhana. Apalagi ketika kita berbicara soal kepemimpinan politik.
Kepemimpinan politik jauh lebih ruwet dari kepemimpinan di bidang lainnya.
Kepemimpinan politik menuntut akuntabilitas yang lebih luas dan sublim sebab
berhadapan dengan rakyat dengan beraneka kepentingan dan ideologi. Keputusan
seorang pemimpin politik, sebab itu, tidak bisa disebandingkan dengan keputusan
seorang pemimpin korporat untuk melakukan right
sizing demi efisiensi. Keputusan pemimpin politik memiliki dimensi yang
lebih tinggi ketimbang efisiensi yakni keadilan. Tidaklah cukup memiliki
pemimpin yang dapat menghemat subsidi demi kesehatan anggaran negara. Kesehatan
anggaran satu perkara,  sementara akses
rakyat terhadap sumber-sumber ekonomi adalah perkara lain.
 
Pertanyaan
diskusi kita adalah “kepemimpinan macam apa yang dibutuhkan republik ini untuk
menyelesaikan masalah secara akuntabel sekaligus menunaikan janji tanpa
komplikasi etis?”Sebagai bahan renungan, Terry Price, seorang profesor ilmu 
kepemimpinan,
mendefinisikan tiga jenis kepemimpinan (Price, 2006, hlm. 65-85). Pertama 
adalah kepemimpinan yang
berkeutamaan. Integritas adalah salah satu keutamaan kardinal yang perlu
dimiliki pemimpin.  Pemimpin harus
memiliki integritas sebagai disposisi yang stabil dalam mengambil 
keputusan-keputusan
penting.  Tanpa itu, pemimpin hanya akan
diombang-ambingkan oleh situasi dan persepsi publik. Tanpa integritas, pemimpin
bakal dikendalikan oleh lembaga survei yang merekam setiap jengkal pendapat
publik terhadap keputusan yang (bakal) diambil. Pemimpin akhirnya  hanya 
mengambil keputusan yang menyenangkan
orang banyak. Padahal, apa yang menyenangkan orang belum tentu sesuai dengan
patokan-patokan umum soal integritas.  Kalkulasi utilitarian memang mem- 
bahagiakan
orang banyak, namun belum tentu berintegritas.
 
Keduaadalah kepemimpinan
situasional. Bertolak belakang dengan jenis terdahulu, kepemimpinan jenis ini
justru mengedepankan situasi dan bukan disposisi etis yang namanya integritas.
Machiavelli berpendapat bahwa pemimpin harus bersiap mengubah keputusan sesuai 
dengan
situasi yang berkembang. Pemimpin yang efektif berbeda dengan dia yang
berintegritas. Dalam situasi darurat, seorang pemimpin dapat saja mengorbankan
integritas demi keselamatan orang banyak.  Kepemimpinan bukan sesuatu yang 
ajek, melainkan dinamis sesuai dengan situasi
yang berkembang.
 
Ketiga adalah
kepemimpinan transaksional. Filsuf Hobbes berpendapat bahwa hubungan antara
pemimpin sebagai yang berdaulat dan rakyatnya adalah hubungan pertukaran.
Rakyat menyerahkan segenap haknya, sementara pemimpin membalasnya dengan
membangun stabilitas politik. Kepemimpinan transaksional melihat pemimpin lebih
dari sekadar tempat penyimpanan integritas atau dia yang merespons situasi.
Kepemimpinan transaksional memandang pemimpin sebagai dia yang mengikatkan diri
secara kontraktual dengan rakyatnya. Apa yang dipertukarkan secara kontraktual
tidak mesti bersifat ekonomi, namun bisa juga politis atau psikologis sifatnya.
Misalnya, suara konstituen dipertukarkan dengan kepemimpinan yang menentramkan.
Atau, sikap hormat rakyat  dipertukarkan
dengan keikhlasan seorang pemimpin untuk mendengar keluh kesah dan aspirasi.
 
Ketiga jenis
kepemimpinan di atas tentu saja memiliki kelebihan dan kelemahannya
masing-masing. Apa pun jenis atau tipe kepemimpinan yang berlaku, kita tetap
saja harus mengujinya di laboratorium sosial bernama Indonesia. Historisitas,
kondisi faktual, kendala geografis, semuanya perlu dipertimbangkan sebelum kita
memutuskan pemimpin seperti apa yang dibutuhkan. Karenanya kami mengundang
Rekan-Rekan untuk hadir dalam diskusi yang akan diadakan pada:
 
Hari, tanggal     : Rabu,
15 Mei 2013
Pukul               : 14.00-17.30WIB
Tempat            : Gedung Serba Guna Bentara Budaya Jakarta (BBJ)
                             Jl. Palmerah Selatan 17, Jakarta Pusat
 
 
Pembicara dan Materi Bahasan:
 
1.     Ahmad Syafii Maarif: “Kepemimpinan yang Berkeutamaan (Ide, Sejarah dan
Filsafatnya)”
2.     Saldi Isra: “Pemimpin yang Berkeutamaan Menurut Konstitusi”
3.     Haryatmoko: “Kepemimpinan yang Berkeutamaan dari Sudut Kebudayaan”
Moderator       : Donny
Gahral Adian
 
Jakarta, 8 Mei 2013
 
Salam Solidaritas
Steering
Committee
 
1.       Zuhairi
Misrawi (Lingkar Muda NU)
2.       Imam
Cahyono (Lingkar Muda Muhammadiyah)
3.       Donny
Gahral Adian (Lingkar Muda Akademisi)
4.       Sri Palupi (Lingkar
Muda CSO)

[Non-text portions of this message have been removed]




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke