----- Original Message ----- 

Setuju banget, bung Audy. Meskipun menyesuaikan diri dengan kebiasaan sesuatu 
bangsa di mana kita numpang tinggal itu tidak selalu mudah, bahkan 
sering-sering korban perasaan. Kemarin malam saya lihat acara TV "Discovery" di 
mana seorang Inggris datang ke Afrika untuk pembuatan sebuah film dokumenter 
avonturis. Dia menemui seorang kepala desa dan diharuskan memotong sekor 
kambing dengan pisaunya sendiri sebagai upacara adat setempat. Hal itu 
dilakukannya dengan berat hati karena menurut kultur Barat moderen, memotong 
hewan tidak bisa begitu saja tanpa menyuntiknya dengan obat bius (di Belanda 
setiap tiba acara idul korban yang  dilakukan olah orang-orang Turki atau 
Marocco, maka penyembelihan kambing secara massal  yang bersimbah darah yang 
tentu saja tanpa obat bius, selalu menimbulkan kritik keras orang-orang 
Belanda).Memang rasa peri kebinatangan mereka sangat hewanis. Tapi orang 
Inggris itu melakukannya juga dan setelah itu katanya: "Kita berada di luar 
negeri, jadi kita harus menghormati kultur bangsa yang kita kunjungi meskipun 
sangat berlawanan dengan kultur kita sendiri". Ada memang orang Barat yang 
demikian. Lain dengan orang Jerman yang diceritakan May Swan yang lebih suka 
kehilangan pacar asal bisa mengatakan : "rumah kalian bau (pete)". Dia tidak 
mau mengerti bahwa pete yang "bau"sama enaknya dengan keju yang juga bau. Lalu 
trasi. Sepuluh tahun yang lalu di Belanda hampir di semua supermarket dijual 
trasi Indonesia, Thailan maupun Malaysia. Sekarang tidak mungkin menemukan 
trasi dijual di supermarket yang manapun termasuk di semua toko Indonesia dan 
Tionghoa di seluruh Belanda. Saya hampir-hampir ngamuk kehilangan trasi yang 
sangat saya gemari itu meskipun mungkin mendapat julukan: "belanda item suka 
terasi". Ternyata trasi dilarang masuk Belanda. Mereka bilang bau, merusak 
lingkungan dan tidak bersih alias jorok(tentu saja jorok kalau trasi mentah 
dioleskan ke kemeja mereka). Sungguh sedih hidup tanpa trasi. Tapi juga kita 
memang harus menghormati kultur Barat yang tidak bisa berdamai dengan trasi dan 
baunya dan juga kita hidup di negeri mereka dan merekalah "big boss" kita, mau 
apa lagi.

Juga dalam setiap upacara mengantarkan mayat teman atau kenalan, di rumah mayat 
, orang Indonesia selalu menghidangkan makanan berupa bermacam kue-kue hingga 
lemper yang enak-enak. Para pelayat tidak pulang dengan perut kosong sambil 
menikmati penganan beserta kopi panas dan juga ngobrol-ngobrol yang 
sering-sering begitu riuh dan  gembira . Ini juga adat bangsa kita dalam 
mengantar orang yang telah mati. Di kampung saya sendiri, begitu seseorang 
menghembuskan nafas terahirnya, maka yang pertama-tama dipikirkan oleh keluarga 
 si mati adalah makanan untuk hidangan para pelayat. Dan tidak sekedar makanan, 
tapi berusaha menghidangkan makanan yang paling enak dan sering-sering tidak 
kalah dengan hidangan pesta kawin. Tapi di Belanda kebiasaan orang Indonesia 
menjamu para pelayat  dengan kue-kue yang di bawa ke rumah mati sudah dilarang 
oleh Belanda kira-kira lima enam tahun lalu.Tidak boleh bawa hidangan. Tapi 
pada upacara pertemuan para pelayat selanjutnya, orang Indonesia masih tidak 
mau menyerah dengan larangan yang menyedihkan itu. Setelah upacara pemakaman 
selesai, panitia menyediakan kue-kue yang sudah dibungkus rapi dan menghadang 
setiap pelayat yang pulang meninggalkan pintu keluar  dan memberikan sebungkus 
kue-kue untuk dibawa ke rumah atau di makan dalam perjalanan pulang. Luar 
biasa. Betapa kuatnya adat dan kebiasaan sesuatu bangsa. Tapi  tidak bisa 
berlangsung lama. Rupanya itupun ketahuan oleh pihak Belanda dan kemudian 
mereka larang. Sekarang yang boleh hanya hidangan kopi yang itupun disediakan 
oleh maskapai asuransi kematian yang  selalu dibayar mahal oleh si mati seumur  
hidupnya. Hanya boleh minum kopi dan sesudah itu pulang cepat-cepat karna si 
mati selanjutnya sedang menunggu tamu-tamu pelayat mereka yang akan mengisi 
ruangan. Secangkir kopi juga harus cepat dihabiskan. Tentu mereka yang cerdik  
dan bijaksana mengisi cangkir kopinya  dengan gula sebanyak banyaknya agar 
cukup energi dan kalori pulang sampai ke rumah . Tapi omong-omong tentang kopi 
ada anekdot yang cukup mengesankan. Begini ceritanya. Antara orang Belgia dan 
orang Belanda selalu suka saling menyindir dan mencela kebiasaan masing-masing. 
Umpamanya orang Belanda menuduh orang Belgia itu suka yang aneh-aneh dan 
perbuatan dan tingkah lakunya selalu mereka anggap aneh (maklum orang Belanda 
terkenal sebagai bangsa yang menganggap aneh semua kebiasaan yang bukan 
kebiasaan mereka. Tapi orang Belgia juga bukan tidak awas terhadap kebiasaan 
orang Belanda yang mereka perhatikan yang akan menjadi bahan olok-olok bagi 
mereka. Begini: Orang Belanda memang punya kebiasaan minum kopi TIDAK dalam 
cangkir yang transparan tapi selalu dalam cangkir yang biasanya tebal dan 
berwarna gelap jadi tidak nampak bagaimana rupa kopi di dalamnya. Orang Belgia 
mengatakan kebiasan Belanda minum kopi dalam cangkir yang tidak transparan 
adalah karena kopi orang Belanda itu sangat encer karena mereka adalah bangsa 
yang hemat dan malu kalau ketahuan kalau mereka minum kopi encer jadi harus 
selalu dalam cangkir yang melindungi keencerannya. Tapi sekarang gejala itu 
agaknya sedikit berubah dan justru orang  Belanda suka menggunakan cangkir 
transpran dan bisa terlihat jelas kental encernya kopi yang mereka minum dan 
sekarang tampak selalu terlihat kental. Mengapa? Karna  sekarang banyak 
bermunculan mesin kopi otomatis dengan dosis kopi yang sudah ditetapkan dalam 
setiap tabung plastik tertutup rapat dan memang tampak banyak dan padat. Nah, 
mungkin orang Belanda mau membuktikan pada orang Belgia, bahwa mereka juga 
mampu minum kopi kental dan karenanya seperti telah menjadi mode baru, mereka 
menggunakan gelas transparan  dan tidak lagi selalu menggunakan cangkir butek 
seperti dulu. Ternyata adat dan kebiasaan itu bisa juga berubah karna 
dipengaruhi oleh jaman, mode dan kemajuan tehnik. Bisakah bau trasi itu 
dihilangkan( bawang putih sudah bisa) dan warnanya dibikin putih hingga tampak 
bersih dari yang merah tua agar bisa kembali di export ke Belanda? Tapi kalau 
sudah begitu apa rasanya masih enak? Masakan antara bau dan rasa bisa 
dipisahkan. Ah, trasi, trasi! dalam baumu  kubayangkan rasa.
ASAHAN.




  ----- Original Message ----- 
  From: Audy 
  Fw: SAMBAL PETAI


    

  “Sambal petaiku dikatakan bau!” Huehehe... 

  Saya penggemar sambal peta May, hati ayam-nya itu yang mantap... 

  Saya sudah beberapa kali pindah rumah dan pindah negara, jadi tahulah 
bagaimana kira-kira rasanya beradaptasi ditempat baru.
  Jadi betul sekali, dengan technology yang ada sekarang, dunia itu sudah 
seperti satu kampung besar... dimanapun kita berada, kita harus bersikap 
disitulah rumah kita. 

  Salam,
  Audy

  From: MAY SWAN 
  Sent: Friday, May 10, 2013 10:07 AM
  Subject: SAMBAL PETAI

    

  Morning, Bung Ibrahim

  Setuju dengan ucapannya: Kalau sudah dekat semua jadi baik. "Maka “Tak cinta 
karena tak kenal.” Begitu, kan, Bung Ibrahim?

  Mengenai perkenalan dengan orang Jerman dari dekat, sebenarnya saya jarang 
sekali ada kesempataan itu. Kakak saya yang cantik jelita pernah berpacaran 
dengan seorang Jerman, tinggi, ganteng,  engineer dari Baden Baden ketika 
mereka berdua bertemu di Jakarta dulu. Orangnya ramah, sangat bersahabat, 
sekali kali aku juga diajak kakak keluar bersama mereka. Ia datang ke Jakarta 
karena ayah saya memesan power generator dari sebuah perusahaan di Jerman untuk 
gedung bioskup yang baru dibelialih dari pemilik lama di Pamanukan sebuah 
kecamatan di Kabupaten Subang. Pada masa itu sebagai film distributor ayah saya 
menangani filem filem Indonesia dan Hindustani. Orang Jerman ini datang dengan 
tugas memberi petunjuk pemasangan alat mesinnya. Dulu barang barang Tiongkok 
belum masuk ke Indonesia seperti sekarang, maka machinery berat seperti power 
generator masih perlu dipesan langsung dari Jerman, negeri industri yang 
terkenal sangat maju.

  Suatu hari  Ibu saya yang pandai sekali memasak dan sangat bangga dengan 
keachlian kulinernya sedang masak sambal petai. Harumnya mantap memenuhi 
seluruh ruangan. Seketika itu datang orang Jerman ini ingin bertemu dengan 
kakak saya. Mereka sudah janjian akan keluar bersama. Setelah masuk ke ruangan, 
diantara bersin dan batuk batuk ber kali kali yang tak tertahan, ia berkata 
dengan suara serak kepada kakak saya “Bau apa ini, kenapa rumahmu begini bau?” 
Ketika ibu saya dapat tahu komentar tersebut, ia gusar sekali, “Kurang xxxx%%%% 
mosok masakanku dikatakan bau!” 

  To make a long story short, kisah percintaan kakak dengan pemuda Jerman itu 
putus tidak berbuah. Apakah sambal petai turut berperan, aku tidak tahu.

  Satu lagi pengalaman dekat dengan orang Jerman, terjadi ketika aku ikut River 
Cruise sepanjang Sungai Danude hingga Sungai Rhine di Amsterdam melalui negeri 
Jerman, Austria, Hungary dan Bratislava. Perjalanan yang sangat menyenangkan. 
Tiga minggu di dalam kapal kecil yang hanya mengambil muatan dua ratus lebih 
penumpang, mau tidak mau terjadi interaksi dekat dengan sesama penumpang, juga 
dengan cruise managernya, seorang Jerman. Ia cukup berpengetahuan dan mengatur 
acara harian dengan clock precision. Kalau ia bilang datang berkumpul pada jam 
4 siang, kita harus berada ditempat pada jam 4 siang, tidak jam 4.15, tidak jam 
4.20. Tapi sebaliknya kalau kita minta bantuan, ia selalu bersedia menolong. 
Pernah sekali, kapal berlabuh di Cologne. temankuToton Soeharto janji akan 
menjemput di pelabuhan dan bawa aku turun jalan jalan di kota. Setelah menunggu 
lebih dari setengah jam, belum juga datang. Saya minta pertolongan cruise 
manager ini, langsung ia berhubungan dengan Toton dan memberitahu dimana 
letaknya kapal. Rupanya, Toton tidak dapat tempat parkir, maka menunggu di 
tempat lain yang cukup jauh. Demi bantuannya aku dapat jalan jalan setengah 
hari di Cologne bersama Toton. Sampai hari ini, cruise manager orang Jerman ini 
termasuk tour manager yang paling aku hormati. Kerjanya sangat professional, 
pelikas dan bersahabat.

  Jadi, anak anak sudah masuk warga Jerman? Bagus. Kita sudah go international, 
nih. Saya selalu berpendapat, we should make a home wherever we are. 

  Salam,
  May Swan.



  Ibrahim Isa wrote:

  May Swan Dear,

  Saya ikuti sejak semula tulisan-tulisan May Swan sekitar perjalanan ke
  Eropah. Menarik, menarik, dan menarik.
  May memang pandai berceritera. Pada akhir setiap tulisan selalu kita
  dibikin kecewa, karena tulisan itu berhenti di situ.

  Nah, kali ini ceritera Maymerupakan suatu k e s i m p u la n kecil
  mengenai perjalanan ke Eropah. . . lagi-lagi menarik dan santai dibaca.
  Pokoknya enak dibaca dan memberikan masukan yang juga menarik tentang
  kesan-kesan umum negeri-negeri yang dikunjungi.

  Yang juga menarik dan menggelitik dan bikin sementara pembaca juga
  'garuk-garuk kepala, meskipun tidak gatal',
  ialah pengalaman tentang "mesin computer yang menggantikan pekerjaan
  buruh", di sebuah hotel di Perancis. Lalu, tanya May, bagaimana
  dengan pejuangan kaum buruh selanjutnya? Kirta-kira begitulah, May
  melemparkan suatu bahan pemikiran secara "sambil lalu" dan sederhana, tetapi 
justru merupakan soal besar dalam perjuangan kaum buruh untuk perbaikan nasib, 
dewasa ini.

  * * *

  Bukan karena putri kami sekeluarga sekarang ini adalah warga-negara
  Jerman, . . . . saya pertanyakan kesan May mengenai oprang-orang Jerman yang 
tidak seramah orang Inggris.

  Sementara suara menyatakan bahwa orang Inggris itu agak 'sombong' . Mereka 
sering bilang orang Inggris tidak perlu belajar bahasa asing lain. Karena 
bahasa Inggris adalah 'bahasa dunia'.

  Saya punya teman-teman asing, antara lain orang Inggris dan Jerman.
  Kesan saya . . . kalau'sudah dekat',
  semua mereka ramah, sopan dan amat bersahabat . . . . khususnya mereka
  yang progresif . . Yah, lagi-lagi ini kesan . . . May.

  * * *

  May, belum ceritera bagaimana dengan orang Turki? Murti dan saya sering
  makan di restoran Turki. Mereka sangat ramah, dan bangga dengan 
ke-TURKI-ANNYA, meski menyandang paspor Belanda. Dulu kata teman Turki itu,
  orang Turki banyak yang pada keluar cari kerja. Sekarang banyak orang
  luar berdatangan ke Turki mencari kerja. Artinya Turki sekarang ini meningkat 
kemakmurannya. Menarik pembicaraan dengan seorang supir taxi orangTurki.
  Dalam suatu percakapan supir Turki itu menyatakan: Dulu kami memang
  ingin jadi anggota Uni Eropah. Sekarang "enggak paté-en". Tak perlu masuk Uni 
Eropah. Mereka sedang dilanda krisis. Lihat Junani, Spanyol, Itali .. .. hampir 
bangkrut. Sedangkan Turki ekonominya tumbuh dan berkembang terus.
  Hidup Erdogan, katanya.

  * * *

  Sering menulis yang pendek-pendek dan padat . .. seperti yang sering May
  lakukan sungguh bagus.

  Mengenangkan buku-buku yang ditulis May selama ini, saya fikir

  MAY INI ADALAH DUBES BERKELILING, memperkenalkan Indonesia dimana-mana,
  mesk tidak pernah dibenum oleh pemerintah RI

  * * *

  Sampai sini dulu. Salam hangat dan sampai jumpa lagi di internet dan
  siapa tahu . .
  May akan sekali lagi mengunjungi Eropah .

  Amsterdam,

  I. Isa

http://www.synergyprofit.com/


------------------------------------

Gabung di milis INTI-net, kirim email ke : [email protected]

Kunjungi situs INTI-net    
http://groups.yahoo.com/group/inti-net

Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
http://tionghoanets.blogspot.com/

Tulisan ini direlay di beberapa Blog :
http://jakartametronews.blogspot.com/
http://jakartapost.blogspot.com
http://indonesiaupdates.blogspot.com

*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*

CLICK Here to Claim your Bonus $10 FREE !
http://profitclicking.com/?r=kQSQqbUGUh

Visit Profit Click Income 
http://profitclickincome.blogspot.com/

NEW Portal and Search Engine for ALL
http://www.synergyprofit.com/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/inti-net/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/inti-net/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke