Sekedar berbagi info, waktu orang tua saya meninggal di Australia, kebiasaan disana yang sudah di adopsi secara umum adalah mengundang para pelayat untuk makan bersama di restoran (biasanya di club yg relative economis) seusai acara pemakanan. Dari upacara di gereja sampai ke tempat pemakaman memang steril dari makanan & minuman.
Demikian pengalaman yang kita alami sendiri. Sent from my BlackBerry® -----Original Message----- From: "ASAHAN" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Wed, 15 May 2013 00:14:26 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [inti-net] Fw: SAMBAL PETAI ----- Original Message ----- Setuju banget, bung Audy. Meskipun menyesuaikan diri dengan kebiasaan sesuatu bangsa di mana kita numpang tinggal itu tidak selalu mudah, bahkan sering-sering korban perasaan. Kemarin malam saya lihat acara TV "Discovery" di mana seorang Inggris datang ke Afrika untuk pembuatan sebuah film dokumenter avonturis. Dia menemui seorang kepala desa dan diharuskan memotong sekor kambing dengan pisaunya sendiri sebagai upacara adat setempat. Hal itu dilakukannya dengan berat hati karena menurut kultur Barat moderen, memotong hewan tidak bisa begitu saja tanpa menyuntiknya dengan obat bius (di Belanda setiap tiba acara idul korban yang dilakukan olah orang-orang Turki atau Marocco, maka penyembelihan kambing secara massal yang bersimbah darah yang tentu saja tanpa obat bius, selalu menimbulkan kritik keras orang-orang Belanda).Memang rasa peri kebinatangan mereka sangat hewanis. Tapi orang Inggris itu melakukannya juga dan setelah itu katanya: "Kita berada di luar negeri, jadi kita harus menghormati kultur bangsa yang kita kunjungi meskipun sangat berlawanan dengan kultur kita sendiri". Ada memang orang Barat yang demikian. Lain dengan orang Jerman yang diceritakan May Swan yang lebih suka kehilangan pacar asal bisa mengatakan : "rumah kalian bau (pete)". Dia tidak mau mengerti bahwa pete yang "bau"sama enaknya dengan keju yang juga bau. Lalu trasi. Sepuluh tahun yang lalu di Belanda hampir di semua supermarket dijual trasi Indonesia, Thailan maupun Malaysia. Sekarang tidak mungkin menemukan trasi dijual di supermarket yang manapun termasuk di semua toko Indonesia dan Tionghoa di seluruh Belanda. Saya hampir-hampir ngamuk kehilangan trasi yang sangat saya gemari itu meskipun mungkin mendapat julukan: "belanda item suka terasi". Ternyata trasi dilarang masuk Belanda. Mereka bilang bau, merusak lingkungan dan tidak bersih alias jorok(tentu saja jorok kalau trasi mentah dioleskan ke kemeja mereka). Sungguh sedih hidup tanpa trasi. Tapi juga kita memang harus menghormati kultur Barat yang tidak bisa berdamai dengan trasi dan baunya dan juga kita hidup di negeri mereka dan merekalah "big boss" kita, mau apa lagi. Juga dalam setiap upacara mengantarkan mayat teman atau kenalan, di rumah mayat , orang Indonesia selalu menghidangkan makanan berupa bermacam kue-kue hingga lemper yang enak-enak. Para pelayat tidak pulang dengan perut kosong sambil menikmati penganan beserta kopi panas dan juga ngobrol-ngobrol yang sering-sering begitu riuh dan gembira . Ini juga adat bangsa kita dalam mengantar orang yang telah mati. Di kampung saya sendiri, begitu seseorang menghembuskan nafas terahirnya, maka yang pertama-tama dipikirkan oleh keluarga si mati adalah makanan untuk hidangan para pelayat. Dan tidak sekedar makanan, tapi berusaha menghidangkan makanan yang paling enak dan sering-sering tidak kalah dengan hidangan pesta kawin. Tapi di Belanda kebiasaan orang Indonesia menjamu para pelayat dengan kue-kue yang di bawa ke rumah mati sudah dilarang oleh Belanda kira-kira lima enam tahun lalu.Tidak boleh bawa hidangan. Tapi pada upacara pertemuan para pelayat selanjutnya, orang Indonesia masih tidak mau menyerah dengan larangan yang menyedihkan itu. Setelah upacara pemakaman selesai, panitia menyediakan kue-kue yang sudah dibungkus rapi dan menghadang setiap pelayat yang pulang meninggalkan pintu keluar dan memberikan sebungkus kue-kue untuk dibawa ke rumah atau di makan dalam perjalanan pulang. Luar biasa. Betapa kuatnya adat dan kebiasaan sesuatu bangsa. Tapi tidak bisa berlangsung lama. Rupanya itupun ketahuan oleh pihak Belanda dan kemudian mereka larang. Sekarang yang boleh hanya hidangan kopi yang itupun disediakan oleh maskapai asuransi kematian yang selalu dibayar mahal oleh si mati seumur hidupnya. Hanya boleh minum kopi dan sesudah itu pulang cepat-cepat karna si mati selanjutnya sedang menunggu tamu-tamu pelayat mereka yang akan mengisi ruangan. Secangkir kopi juga harus cepat dihabiskan. Tentu mereka yang cerdik dan bijaksana mengisi cangkir kopinya dengan gula sebanyak banyaknya agar cukup energi dan kalori pulang sampai ke rumah . Tapi omong-omong tentang kopi ada anekdot yang cukup mengesankan. Begini ceritanya. Antara orang Belgia dan orang Belanda selalu suka saling menyindir dan mencela kebiasaan masing-masing. Umpamanya orang Belanda menuduh orang Belgia itu suka yang aneh-aneh dan perbuatan dan tingkah lakunya selalu mereka anggap aneh (maklum orang Belanda terkenal sebagai bangsa yang menganggap aneh semua kebiasaan yang bukan kebiasaan mereka. Tapi orang Belgia juga bukan tidak awas terhadap kebiasaan orang Belanda yang mereka perhatikan yang akan menjadi bahan olok-olok bagi mereka. Begini: Orang Belanda memang punya kebiasaan minum kopi TIDAK dalam cangkir yang transparan tapi selalu dalam cangkir yang biasanya tebal dan berwarna gelap jadi tidak nampak bagaimana rupa kopi di dalamnya. Orang Belgia mengatakan kebiasan Belanda minum kopi dalam cangkir yang tidak transparan adalah karena kopi orang Belanda itu sangat encer karena mereka adalah bangsa yang hemat dan malu kalau ketahuan kalau mereka minum kopi encer jadi harus selalu dalam cangkir yang melindungi keencerannya. Tapi sekarang gejala itu agaknya sedikit berubah dan justru orang Belanda suka menggunakan cangkir transpran dan bisa terlihat jelas kental encernya kopi yang mereka minum dan sekarang tampak selalu terlihat kental. Mengapa? Karna sekarang banyak bermunculan mesin kopi otomatis dengan dosis kopi yang sudah ditetapkan dalam setiap tabung plastik tertutup rapat dan memang tampak banyak dan padat. Nah, mungkin orang Belanda mau membuktikan pada orang Belgia, bahwa mereka juga mampu minum kopi kental dan karenanya seperti telah menjadi mode baru, mereka menggunakan gelas transparan dan tidak lagi selalu menggunakan cangkir butek seperti dulu. Ternyata adat dan kebiasaan itu bisa juga berubah karna dipengaruhi oleh jaman, mode dan kemajuan tehnik. Bisakah bau trasi itu dihilangkan( bawang putih sudah bisa) dan warnanya dibikin putih hingga tampak bersih dari yang merah tua agar bisa kembali di export ke Belanda? Tapi kalau sudah begitu apa rasanya masih enak? Masakan antara bau dan rasa bisa dipisahkan. Ah, trasi, trasi! dalam baumu kubayangkan rasa. ASAHAN. ----- Original Message ----- From: Audy Fw: SAMBAL PETAI “Sambal petaiku dikatakan bau!” Huehehe... Saya penggemar sambal peta May, hati ayam-nya itu yang mantap... Saya sudah beberapa kali pindah rumah dan pindah negara, jadi tahulah bagaimana kira-kira rasanya beradaptasi ditempat baru. Jadi betul sekali, dengan technology yang ada sekarang, dunia itu sudah seperti satu kampung besar... dimanapun kita berada, kita harus bersikap disitulah rumah kita. Salam, Audy From: MAY SWAN Sent: Friday, May 10, 2013 10:07 AM Subject: SAMBAL PETAI Morning, Bung Ibrahim Setuju dengan ucapannya: Kalau sudah dekat semua jadi baik. "Maka “Tak cinta karena tak kenal.” Begitu, kan, Bung Ibrahim? Mengenai perkenalan dengan orang Jerman dari dekat, sebenarnya saya jarang sekali ada kesempataan itu. Kakak saya yang cantik jelita pernah berpacaran dengan seorang Jerman, tinggi, ganteng, engineer dari Baden Baden ketika mereka berdua bertemu di Jakarta dulu. Orangnya ramah, sangat bersahabat, sekali kali aku juga diajak kakak keluar bersama mereka. Ia datang ke Jakarta karena ayah saya memesan power generator dari sebuah perusahaan di Jerman untuk gedung bioskup yang baru dibelialih dari pemilik lama di Pamanukan sebuah kecamatan di Kabupaten Subang. Pada masa itu sebagai film distributor ayah saya menangani filem filem Indonesia dan Hindustani. Orang Jerman ini datang dengan tugas memberi petunjuk pemasangan alat mesinnya. Dulu barang barang Tiongkok belum masuk ke Indonesia seperti sekarang, maka machinery berat seperti power generator masih perlu dipesan langsung dari Jerman, negeri industri yang terkenal sangat maju. Suatu hari Ibu saya yang pandai sekali memasak dan sangat bangga dengan keachlian kulinernya sedang masak sambal petai. Harumnya mantap memenuhi seluruh ruangan. Seketika itu datang orang Jerman ini ingin bertemu dengan kakak saya. Mereka sudah janjian akan keluar bersama. Setelah masuk ke ruangan, diantara bersin dan batuk batuk ber kali kali yang tak tertahan, ia berkata dengan suara serak kepada kakak saya “Bau apa ini, kenapa rumahmu begini bau?” Ketika ibu saya dapat tahu komentar tersebut, ia gusar sekali, “Kurang xxxx%%%% mosok masakanku dikatakan bau!” To make a long story short, kisah percintaan kakak dengan pemuda Jerman itu putus tidak berbuah. Apakah sambal petai turut berperan, aku tidak tahu. Satu lagi pengalaman dekat dengan orang Jerman, terjadi ketika aku ikut River Cruise sepanjang Sungai Danude hingga Sungai Rhine di Amsterdam melalui negeri Jerman, Austria, Hungary dan Bratislava. Perjalanan yang sangat menyenangkan. Tiga minggu di dalam kapal kecil yang hanya mengambil muatan dua ratus lebih penumpang, mau tidak mau terjadi interaksi dekat dengan sesama penumpang, juga dengan cruise managernya, seorang Jerman. Ia cukup berpengetahuan dan mengatur acara harian dengan clock precision. Kalau ia bilang datang berkumpul pada jam 4 siang, kita harus berada ditempat pada jam 4 siang, tidak jam 4.15, tidak jam 4.20. Tapi sebaliknya kalau kita minta bantuan, ia selalu bersedia menolong. Pernah sekali, kapal berlabuh di Cologne. temankuToton Soeharto janji akan menjemput di pelabuhan dan bawa aku turun jalan jalan di kota. Setelah menunggu lebih dari setengah jam, belum juga datang. Saya minta pertolongan cruise manager ini, langsung ia berhubungan dengan Toton dan memberitahu dimana letaknya kapal. Rupanya, Toton tidak dapat tempat parkir, maka menunggu di tempat lain yang cukup jauh. Demi bantuannya aku dapat jalan jalan setengah hari di Cologne bersama Toton. Sampai hari ini, cruise manager orang Jerman ini termasuk tour manager yang paling aku hormati. Kerjanya sangat professional, pelikas dan bersahabat. Jadi, anak anak sudah masuk warga Jerman? Bagus. Kita sudah go international, nih. Saya selalu berpendapat, we should make a home wherever we are. Salam, May Swan. Ibrahim Isa wrote: May Swan Dear, Saya ikuti sejak semula tulisan-tulisan May Swan sekitar perjalanan ke Eropah. Menarik, menarik, dan menarik. May memang pandai berceritera. Pada akhir setiap tulisan selalu kita dibikin kecewa, karena tulisan itu berhenti di situ. Nah, kali ini ceritera Maymerupakan suatu k e s i m p u la n kecil mengenai perjalanan ke Eropah. . . lagi-lagi menarik dan santai dibaca. Pokoknya enak dibaca dan memberikan masukan yang juga menarik tentang kesan-kesan umum negeri-negeri yang dikunjungi. Yang juga menarik dan menggelitik dan bikin sementara pembaca juga 'garuk-garuk kepala, meskipun tidak gatal', ialah pengalaman tentang "mesin computer yang menggantikan pekerjaan buruh", di sebuah hotel di Perancis. Lalu, tanya May, bagaimana dengan pejuangan kaum buruh selanjutnya? Kirta-kira begitulah, May melemparkan suatu bahan pemikiran secara "sambil lalu" dan sederhana, tetapi justru merupakan soal besar dalam perjuangan kaum buruh untuk perbaikan nasib, dewasa ini. * * * Bukan karena putri kami sekeluarga sekarang ini adalah warga-negara Jerman, . . . . saya pertanyakan kesan May mengenai oprang-orang Jerman yang tidak seramah orang Inggris. Sementara suara menyatakan bahwa orang Inggris itu agak 'sombong' . Mereka sering bilang orang Inggris tidak perlu belajar bahasa asing lain. Karena bahasa Inggris adalah 'bahasa dunia'. Saya punya teman-teman asing, antara lain orang Inggris dan Jerman. Kesan saya . . . kalau'sudah dekat', semua mereka ramah, sopan dan amat bersahabat . . . . khususnya mereka yang progresif . . Yah, lagi-lagi ini kesan . . . May. * * * May, belum ceritera bagaimana dengan orang Turki? Murti dan saya sering makan di restoran Turki. Mereka sangat ramah, dan bangga dengan ke-TURKI-ANNYA, meski menyandang paspor Belanda. Dulu kata teman Turki itu, orang Turki banyak yang pada keluar cari kerja. Sekarang banyak orang luar berdatangan ke Turki mencari kerja. Artinya Turki sekarang ini meningkat kemakmurannya. Menarik pembicaraan dengan seorang supir taxi orangTurki. Dalam suatu percakapan supir Turki itu menyatakan: Dulu kami memang ingin jadi anggota Uni Eropah. Sekarang "enggak paté-en". Tak perlu masuk Uni Eropah. Mereka sedang dilanda krisis. Lihat Junani, Spanyol, Itali .. .. hampir bangkrut. Sedangkan Turki ekonominya tumbuh dan berkembang terus. Hidup Erdogan, katanya. * * * Sering menulis yang pendek-pendek dan padat . .. seperti yang sering May lakukan sungguh bagus. Mengenangkan buku-buku yang ditulis May selama ini, saya fikir MAY INI ADALAH DUBES BERKELILING, memperkenalkan Indonesia dimana-mana, mesk tidak pernah dibenum oleh pemerintah RI * * * Sampai sini dulu. Salam hangat dan sampai jumpa lagi di internet dan siapa tahu . . May akan sekali lagi mengunjungi Eropah . Amsterdam, I. Isa http://www.synergyprofit.com/ ------------------------------------ Gabung di milis INTI-net, kirim email ke : [email protected] Kunjungi situs INTI-net http://groups.yahoo.com/group/inti-net Kunjungi Blog INTI-net http://tionghoanet.blogspot.com/ http://tionghoanets.blogspot.com/ Tulisan ini direlay di beberapa Blog : http://jakartametronews.blogspot.com/ http://jakartapost.blogspot.com http://indonesiaupdates.blogspot.com *Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan* CLICK Here to Claim your Bonus $10 FREE ! http://profitclicking.com/?r=kQSQqbUGUh Visit Profit Click Income http://profitclickincome.blogspot.com/ NEW Portal and Search Engine for ALL http://www.synergyprofit.com/ Yahoo! Groups Links
