http://www.shnews.co/detile-19388-polisi-tangkap-ketua-knpb-.html

Polisi Tangkap Ketua KNPB 

Yuliana Lantipo | Selasa, 14 Mei 2013 - 15:42:06 WIB

: 188 



(dok/ist)
Viktor Yeimo. 
Aparat yang menutup ruang demokrasi di Papua.


JAKARTA - Ketua Umum Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Viktor Yeimo ditangkap 
aparat kepolisian di Jayapura, Papua saat melakukan orasi di depan Kator 
Majelis Rakyat Papua (MRP), Senin (13/5). 
  
“Polisi langsung ke depan dan tarik Viktor bersama tiga orang lain. Polisi bawa 
mereka naik ke mobil dan pergi,” kata sumber SH melalui telepon dari lokasi di 
depan kantor MRP, Jayapura, Selasa (14/5). 
  
Tiga orang lain yang ditangkap adalah Yongky Ulimpa (23), Ely Kobak (17), dan 
Marthen Manggaprow. 
Dijelaskan, Viktor Yeimo memimpin massa yang tergabung dalam KNPB dan 
masyarakat, untuk menuntut pemerintah dan aparat keamanan segera menangkap 
pelaku penembakan warga sipil pada 1 Mei lalu, dan membebaskan belasan orang 
yang diitahan di beberapa kota di Papua. 

Mengulang perkataan Viktor, sumber SH mengatakan, aparat kemanan masyarakat 
diminta tegas, apalagi pelakunya sudah jelas merupakan anggota polisi. Dalam 
aksi yang dihadiri sekitar 200 orang itu, bermaksud menyambut dibukanya kantor 
perwakilan organisasi Papua Merdeka di Oxford, Inggris baru-baru ini, serta 
masuknya Papua sebagai anggota Melanesia Speek Group (MSG) yang berkantor pusat 
di Vanuatu. 

Dihubungi terpisah, Ketua Komisi A Bidang Ketahanan, Keamanan, Politik Luar dan 
Dalam Negeri DPRP Jayapura, Ruben Magai mengatakan, Kapolda dan Wakapolda Papua 
bertanggung jawab atas keselamatan aktivis yang ditahan. 

Meski begitu, dia mengecam tindakan aparat yang menutup ruang demokrasi di 
Papua. Menurutnya, aparat keamanan seharusnya bertugas menjaga kemanan dan 
kelancaran aksi damai yang sudah didahului surat pemberitahuan. 

“Kapolda dan Wakapolda Papua bertanggung jawab atas penangkapan aktivis Papua. 
Mereka—polisi—itu untuk mengamankan, bukan menangkap apalagi memukul dan 
menyiksa orang yang ingin bersuara,” tandas Ruben Magai kepada SH. 

Ruben Magai mengaku sudah menelpon dan mengirim pesan singkat kepada Kapolda 
dan Wakapolda Papua terkait alasan penangkapan dan penyiksaan, namun tidak 
mendapat respons. “Saya sudah kirim pesan SMS dan telepon, tapi mereka tidak 
jawab,” ujarya. 

Protes 

Selain itu, tindakan aparat kepolisian Papua juga mendapat kecaman dari 
mahasiswa Papua di luar negeri. Perhimpunan Mahasiswa Papua di Australian 
Capital Territory (ACT) dan Forum SETARA mengecam penembakan yang menewaskan 
warga sipil Papua menjelang peringatan peralihan administrasi West New Guinea 
(sekarang dikenal sebagai Papua) dari UNTEA ke NKRI pada 1 Mei 1963. 

“Kami, mahasiswa Papua di ACT dan Forum SETARA mengecam tindakan brutal yang 
dilakukan aparat keamanan Indonesia kepada masyarakat sipil Papua dalam 
perayaan 50 tahun integrasi Papua ke Indonesia di Sorong, Biak, Timika dan Ibu 
Kota Provinsi Jayapura. Setelah adanya pelarangan untuk peringatan 1 Mei yang 
dikeluarkan secara resmi oleh Kapolda Papua dan Gubernur Papua, operasi 
gabungan POLRI dan TNI mengerahkan tindakan kekerasan dalam upaya membatasi 
kebebasan berbicara dan berkumpul bagi masyarakat Papua,” seperti dilansir 
dalam rilis yang dikirim ke SH hari ini. 

Di Sorong, operasi gabungan melakukan penembakan yang menewaskan dua warga 
Papua yaitu Abner Malagawak (22) dan Thomas Blesia (22). Tiga orang lainnya 
mengalami luka serius dan dirawat di rumah sakit adalah Salomina Klaibin (42) 
yang baru saja meninggal tanggal 6 Mei 2012, Herman Lokden (18), dan Andreas 
Safisa (24). Tujuh orang lain telah ditangkap dan ditahan. 

Di Jayapura, operasi gabungan membubarkan secara paksa masyarakat yang 
berkumpul di sekitar makam tokoh pemimpin Papua, Theys Eluay. Tidak ada yang 
dilaporkan terluka tetapi aksi penembakan oleh aparat memicu ketakutan dan 
kemarahan masyarakat terhadap pemerintah Indonesia.  

Di Biak, polisi menangkap dan menahan 15 orang setelah mengibarkan Bendera 
Bintang Kejora tetapi tidak ada dakwaan dijatuhkan. Di Timika, polisi 
menangkap, menahan, dan diduga menyiksa 15 orang. Di tempat lain, perayaan 1 
Mei di Nabire berjalan dengan damai. 

Hingga berita ini diberikan, Viktor Yeimo, Marthen Manggaprow, Yongky Ulimpa, 
Ely Kobak masih ditahan di kantor Polda Papua. Massa pun membubarkan diri. 

Sumber : Sinar Harapan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke