Ref: Mana ada Dewan Penipu Rakyat  (DPR) yang disiplin di NKRI?  

http://www.shnews.co/detile-19369-disiplin-dpr-makin-rendah.html

Disiplin DPR Makin Rendah 


Tajuk Rencana | Selasa, 14 Mei 2013 - 13:49:58 WIB

: 68 



(dok/antara)

Dengan disiplin yang rendah, sulit diharapkan mereka mampu menyelesaikan 
tugas-tugas.


Kedisiplinan para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) benar-benar 
mengecewakan. Banyak dari mereka masih memperpanjang masa liburan dan tidak 
mengikuti pembukaan masa sidang keempat sehingga ruangan pleno tampak lengang. 
Hampir separuh anggota membolos, suatu fakta yang sangat disesalkan. 
Menurut catatan, terdapat 233 anggota dewan yang membolos dan mereka berasal 
dari semua fraksi. Kejadian seperti sudah beberapa kali terjadi dan sering 
dikritik, namun tidak ada peningkatan kedisiplinan para anggota tersebut. 

Ketua DPR Marzuki Alie pernah mengatakan kejengkelannya, seandainya ia memiliki 
wewenang maka ia akan memecat para anggota yang tidak disiplin tersebut. 
“Sayangnya Ketua DPR tidak punya kewenangan untuk memberikan hukuman. Kalau 
saya punya kewenangan sudah lama saya pecat-pecatin itu," katanya suatu kali. 

Kita juga sangat menyesalkan rendahnya kedisiplinan para anggota DPR tersebut. 
Ini bentuk pelecehan terhadap kepercayaan pemilih sekaligus memperlihatkan 
bahwa mereka memandang seenaknya tugas-tugas parlemen ini. Padahal dalam tahun 
ini tercatat ada 26 rancangan undang-undang (RUU) yang harus mereka selesaikan 
yang tentu membutuhkan kesungguhan dan keseriusan pembahasannya. 

Dengan disiplin yang rendah, sulit diharapkan mereka mampu menyelesaikan 
tugas-tugas Prolegnas tersebut atau kita tidak bisa mengharapkan hasil yang 
maksimal. 

RUU akan dibahas dengan terburu-buru, tanpa kajian yang mendalam, tanpa 
ketelitian yang tinggi, sehingga mutu UU yang dihasilkan juga rendah. Belum 
lagi bila ada “intervensi" tertentu yang mampu membelokkan pandangan anggota 
sehingga lebih mendahulukan interes pribadi ketimbang kepentingan rakyat. 

Penelitian Lingkar Madani Indonesia (Lima) beberapa waktu lalu memperlihatkan 
betapa rendahnya kreativitas DPR dalam menyelesaikan tugas. Selama 2011, DPR 
hanya menyelesaikan sekitar 30 persen dari target Prolegnas. Ini artinya tidak 
ada keinginan yang serius dari DPR untuk menyelesaikan pembahasan RUU yang 
berkaitan dengan kepentingan rakyat. 

Maka tidak mengejutkan bila tingkat kepercayaan rakyat terhadap parlemen terus 
merosot karena proses politik yang terjadi di DPR itu makin tidak sehat, bahkan 
seolah hanya kedok bagi partai dan anggota untuk menggaruk uang negara melalui 
pembahasan anggaran dan sebagainya. 

Keserakahan para elite partai juga diperlihatkan dengan terang-terangan melalui 
penggarapan proyek-proyek yang sudah digelembungkan (mark up) biayanya, 
kemudian mereka beramai-ramai menjarahnya. 

Terlalu banyak contoh untuk dikemukakan dan kita sudah memahaminya. Dari kasus 
sogok-menyogok hingga pembengkakan anggaran proyek, bahkan juga perekayasaan 
anggaran dan pemberian hak istimewa untuk menangani program tertentu, seperti 
dalam kasus impor sapi. 

Korupsi menjerat eksponen hampir semua partai. Bahkan partai yang selama ini 
mengklaim dirinya sebagai antikorupsi, yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS), 
belakangan ini makin limbung karena keterlibatan pemimpin puncak dalam kasus 
korupsi. 

Meski demikian, sangat disayangkan kita tidak memiliki alat untuk menghentikan 
proses politik di DPR, yang jelas-jelas membodohi rakyat tersebut. Kita ini 
terlalu lunak, mudah lupa, dan tidak bersikap tegas terhadap berbagai 
penyimpangan yang dilakukan para elite politik. Bahkan anggota DPR yang 
terjerat perkara korupsi dan sudah dihukum, ada yang masih menikmati fasilitas, 
menerima gaji, bahkan pensiun. 

Maka satu-satunya harapan hanya ada pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 
untuk terus melacak para koruptor tersebut, menjerat mereka, dan menyita harta 
hasil korupsi itu. Kita mendukung KPK mengenakan pasal pencucian uang (money 
laundering), seperti yang diberlakukan terhadap sejumlah tersangka korupsi 
karena kita meyakini hanya dengan cara pemiskinan itu bisa menimbulkan rasa 
jeri dan memiliki efek jera. 

Kita juga berharap rakyat pemilih bersikap makin dewasa, pintar memilih 
kualitas calon-calon anggota DPR, dan tidak mudah terbuai oleh janji-janji 
kosong yang menyesatkan. 

Proses pendewasaan pemilih memang membutuhkan waktu, namun kita percaya proses 
tersebut terjadi sehingga mereka tidak akan memilih lagi para elite politik 
yang berdisiplin rendah dan tidak peduli terhadap kepentingan rakyat. 

Sumber : Sinar Harapan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke