----- Original Message ----- From: ASAHAN
Kita harus tekankan berkali-kali dan selalu demikian: Lupakan perjuangan ekstra perlementer, lupakan semua bentuk parlemen borjuasi bila kita memang bermaksud mengadakan perubahan revolusioner mendasar dan menegakkan kekuasaan rakyat. Pelajaran dramatis dan fatal dari PKI 51/65 yang bermaksud baik merebut kekuasaan ke tangan rakyat dengan jalan Parlemen atau jalan damai telah gagal total dan mendatangkan kehancuran serta kebinasaan pada rakyat dan semua gerakan revolusioner, memubazirkan atau menghamburkan secara sia-sia semgnat revolusioner dan tindakan revolusioner yang pernah dihembuskan PKI tanpa bisa membela dan menyelamatkan rakyat dan semua gerakan revolusioner ketika mereka disapu bersih oleh suharto. Semua ini tak boleh terulang kembali dan kita harus meninggalkan secara tegas politik jalan damai PKI 51/65 dan mengantinya dengan garis politik revolusioner yang tegas dengan kekuatan rieel yang akan kita bangun: Menghancurkan kekuatan musuh secara total dengan basis kekuatan rakyat yang terorganisasi dan berdisiplin serta berbasis ideologi revolusioner. Cukup sudah organisasi-organisasi legal yang diisi atau dikemudikan oleh orang-orang sisa-sisa tawanan dan buangan suharto yang menuntut keadilan dan ganti rugi pada rezim yang berkuasa sekarang tanpa mencatat satu gram kemenanganpun. HAM dan keadilan serta ganti rugi tidak akan pernah diberikan rezim penerus suharto pada musuh-musuh mereka. Sebaliknya kebencian dan dendam mereka terus bertambah dan selalu menjadi catatan dan dokumen mereka untuk pada suatu saat yang baik memberikan pukulan balas seperti yang mereka lakukan pada teror besar G30S(uharto). Menghidupkan situasi revolusioner seperti ketika menjelang PKI dihancurkan adalah berarti mengulangi malapetaka, avonturisme dan oportunisme. Kader revolusi sudah bukan para tokoh yang bergantian ulang alik ke luar negeri seperti di jaman "kejayaan PKI" atau "sesuai dengan kebesaran Partai". Masuk penjara beberapa minggu lalu setelah keluar jadi pahlawan lalu melancong ke luar negeri dan setelah pulang ke tanah air jadi birokrat revolusi atau disekolahkan ke luar negeri atau bahkan jadi duta atau jadi spesialis(meskipun tanpa diploma). Di luar negeri kita sudah muak(meskipun tetap datang) meghadiri pertemuan-pertemuan yang diadakan untuk mendengarkan ceramah-ceramah "para delegasi"dari tanah air yang dikirim oleh organisasi-organisasi legal"revolusioner". Koran, radio, tv dan segala selebaran informasi lainnya akan memberikan gambaran lebih lengkap daripada yang mereka omongkan. Hasilnya cuma memboroskan uang dan tenaga yang pada ujung-ujungnya adalah juga uang rakyat Indonesia. Di segi lain kita harus kritis bahkan super kritis menanggapi setiap organisasi-organisasi legal "revolusioner" yang baru didirikan, atau yang sudah didirikan maupun yang akan didirikan. Seandainyapun mereka tampak revolusioner, maka kerevolusioneran mereka bisa membahayakan rakyat karena akan selalu diawasi hingga bahkan diterror penguasa, sedangkan mereka tidak punya kekuatan membela diri dan melindungi rakyat dari terror penguasa. Tapi yang tak kurang bahayanya bagi gerakan revolusioner yang sesungguhnya adalah mereka yang telah rusak ideologi revolusionernya selama didikan musuh dalam buangaan dan penjara-penjara suharto lalu membikin bermacam cara terselubung maupun dengan cara-cara munafik menawarkan perdamaian dengan musuh sambil tetap tampak revolusioner di sana-sini tapi yang ditawarkan adalah politik dan idiologi sosial demokrat yang berinti anti revolusi yang itu selalu mendapat sokongan dan bantuan kaum sosial demokrat Internasional yang sangat bekepentingan akan Indonersia yang "demokratis", "aman tentram", "tidak reaksioner"tapi juga absolut tidak revolusioner yang itu juga bersangkut paut dengan penanaman modal asing di Indonesia dan strategi global Neoliberalisme di segala bidang. Di Indonesia para pelakunya, biasanya, sisa-sisa para elit bekas PKI yang sudah kapok dan sudah mapan hidupnya yang sangat sinis terhadap revolusi dan Komunisme. Sudah pasti bukan semua mereka adalah begitu tapi juga pasti di antara mereka cukup banyak yang begitu. Kita menghadapinya dengan kewaspadaan, kritis hingga penelanjangan. Tapi bicara soal perjuangan ekstra parlementer, itu bukan berarti kita menabukan atau memantangkan bentuk perjuangan demikian. Namun perjuangan ekstra parlementer yang bermuatan ide revolusioner sebaiknya diadakan oleh massa rakyat sedangkan Partai revolusioner jangan sampai terlibat di dalammnya demi menjaga keamanan gerakan massa rakyat itu sendiri. Itu tidak berarti sebuah Partai revolusioner di Indonesia harus pasif atau masa bodoh atau apatis terhadap semua gerakan-gerakan massa rakyat ekstra parlementer yang revolusioner. Partai revolusioner secara ideologis harus menyokong setiap gerakan massa revolusioner tapi harus taktis dalam memposisikan dirinya, tidak kekiri-kirian serta fleksibel sambil menjaga gerakan revolusioner rakyat terus bergelora. Partai revolusioner berfungsi memimpin revolusi dan bukan terbawa-bawa olah gerakan massa revolusi rakyat. Lahirnya dan ujudnya Partai revolusioner di Indonesia saat sekarang TIDAK menunggu izin kaum penguasa penerus Orbia(Orde biadab) suharto, TIDAK mengakui parlemen borjuis sekarang ini, dan TIDAK bermaksud turut Pemilu dan sebaliknya akan selalu memboikot Pemilu borjuis Indonesia. ASAHAN. ----- Original Message ----- From: [email protected] To: Sent: Sunday, May 19, 2013 10:13 AM Subject: Re: #sastra-pembebasan# Re: Keluarga Dalam Sejarah (KDS) Weleh muluk sekali, klaim sebagai : - kelompok kaum revolusioner, dan - kelompok KDS pewaris sejarah. :. revolusi dan sejarah yang mana !?! TEff ~people knowing without understanding~ Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: MiRa <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sun, 19 May 2013 00:39:52 To: GRI MHMD<[email protected]>; sastra pembebasan<[email protected]>; GELORA45<[email protected]>; TE 2003<[email protected]>; per doi<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: #sastra-pembebasan# Re: Keluarga Dalam Sejarah (KDS) aku suka dengan catatan karya tulisan dibawah ini... telah memberi pencerahan dalam berevaluasi diri... salam juang, MiRa --- In [email protected], "gri. mhmd" <gri.mhmd@...> wrote: > > <http://www.writelonger.com/user/rahmadisamosir> > *KELUARGA DALAM SEJARAH (KDS)? DAN PEWARIS SEJARAH* > > *(Oleh : Nurman)* > > > Usai pertemuan nasional salah satu ormas yang diselenggarakan dalam bulan > Maret 2013, saya mendengar istilah baru yang dikirim melalui SMS kepada > salah satu kawan aktivis ormas tersebut. Dalam sms tersebut tersirat sebuah > penyesalan atas pengorbanan yang telah dikeluarkan berkaitan dengan > terselenggaranya temu nasional ormas tersebut. Bunyinya antara lain merasa > percuma telah mendatangkan salah satu anggota keluarga dari almarhum tokoh > pejuang revolusioner 1948 yang disebutnya sebagai Keluarga Dalam Sejarah (*saya > sendiri tidak tahu walaupun saya hadir dalam acara pembukaan temu nasional > tersebut*) karena tidak diperkenalkan nama dan sosok orang yang dimaksud. > > Saya dan para peserta temu nasional tersebut tidak hanya belum mengenal > sosok itu, tetapi juga belum mengetahui bagaimana isi hatinya atau jalan > fikirannya. Apakah sama dengan sikap dan kepribadian dari almarhum tokoh > revolusiner yang kita hormati tersebut atau tidak; dan apakah mempunyai > pendirian yang sama atau tidak; apakah selalu mengikuti perkembangan di > tanah air sejak lahirnya orba hingga sekarang; dan hal yang lebih penting > lagi adalah apa yang dikerjakan selama ini bagi perjalanan sejarah Rakyat > Pekerja Indonesia? Hal itu menunjukkan suatu keinginan baik untuk > mengumpulkan apa yang disebutnya sebagai Keluarga Dalam Sejarah (KDS). > Juga merasa percuma telah memberikan kontribusi dan memfasilitasi sebagian > utusan-utusan dari daerah untuk mensukseskan temu nasional tersebut. > Pengirim SMS telah merasa demikian berjasa, tetapi merasakan pula betapa > tidak puasnya terhadap hasil-hasil temu nasional tersebut. > > Dari pernyataan-pernyataan ketidak puasan tersebut, timbul suatu > pertanyaan: > > a. Jadi, mereka yang dari daerah-daerah tersebut mengikuti temu > nasional karena didatangkan, bukan atas kesadaran sendiri memenuhi > undangan untuk mengikuti dan mensukseskan temu nasional sebagai forum > terhormat dalam merumuskan program-program perjuangan. > > b. Bukankah temu nasional tersebut diselenggarakan sebagai evaluasi > nasional terhadap apa saja yang telah dilakukan oleh para pengurus di > seluruh jajaran organisasi. Kemudian dengan tujuan untuk memperbaiki > seluruh kelemahan dan kegagalan dalam berorganisasi, ataukah hanya sebagai > ajang untuk memperebutkan pimpinan organisasi? > > c. Apakah persetujuan diselenggarakan temu nasional hanya > dilatarbelakangi untuk merebut kekuasaan kepengurusan organisasi ataukah > untuk memperbaiki kesalahan, kekurangan dan kelemahan yang terjadi dalam > perjalanan organisasi dan selanjutnya merumuskan program-program yang > progresif? > > Kemudian, munculnya istilah KDS membuat saya tertarik untuk menulis. Apakah > dengan mempopulerkan istilah KDS itu ingin membangun suatu kelompok elit > (orang-orang istimewa) yang didasari oleh hubungan biologis (misalnya > semacam golongan darah biru dalam budaya feodalisme) dari para pejuang, > sehingga secara otomatis justru merasa punya hak istimewa karena sebagai > keturunan dari para pejuang. > > Jika ini terjadi, maka berarti mengingkari hukum dialektika mengenai faktor > intern yang menentukan dalam setiap perkembangan materi. Anak atau > keturunan dari siapapun dia sangat ditentukan oleh kesadaran di dalam > praktek sosial orang yang bersangkutan. Sedangkan hubungan biologis > (keturunan) hanyalah bersifat mempengaruhi. Secara teori, memang ada > disebutkan bahwa seorang materialis tidak hanya harus mengenal materi, > tetapi juga bisa mengubah materi. Artinya bahwa seorang materialis sebagai > faktor luar dapat melakukan perubahan sesuatu materi (misalnya keadaan > anaknya sendiri atau seseorang), apabila gagasan dan langkah-langkah yang > diambilnya sesuai dengan syarat-syarat yang dibutuhkan oleh perkembangan > dan perubahan di dalam intern materi (anak) yang bersangkutan. Demikian > juga perubahan masyarakat Indonesia dari negeri dan masyarakat jajahan > model baru menjadi negeri dan masyarakat demokrasi baru, sangat ditentukan > oleh kekuatan, kemampuan dan kesesuaian syarat-syarat yang dibutuhkan > faktor dalam materi itu sendiri. Sebagaimana yang terjadi pada seorang > puteri bangsawan bernama Kartini. Semangat perlawanan terhadap sistem > yang membelenggu wanita jaman itu, bukan dilahirkan oleh hubungan > > biologis keluarganya, melainkan tumbuh dari dalam diri Kartini sendiri yang > kemudian diwujudkan di dalam praktek sosial sesuai kemampuannya di zaman > itu. > > > > *Sepertiga Abad Berkuasa Penuh dan Jatuhnya Suharto. * > > Pada awalnya, baik secara riel maupun formal, rezim orde baru adalah > kekuasaan fasis militer. Mulai dari Presiden sampai Gubernur harus dipimpin > oleh para Jenderal. Sedangkan lembaga-lembaga birokrasi sampai ke tingkat > Lurah harus diperintah oleh militer. > > Ketika Suharto berkuasa penuh selama sepertiga abad, memang penuh > tindakan-tindakan represif dan tak kenal ampun membasmi siapapun yang > mencoba menentangnya. Begitu pandai Suharto memainkan manajemen konflik, > yang berujung semua keputusan berada di tangannya. Di saat-saat seperti > itu, hampir semua golongan X baik yang tidak tertangkap maupun yang > pulang dari buangan, tiarap total. Bahkan kalau ada yang memberanikan diri > untuk menerobos, untuk keluar dari bayang-bayang ketakutan, mereka yang > dihubungi justru takut bicara politik dengan alasan kewaspadaan. > > Selama sepertiga abad kekuasaan fasis militer Suharto, sedikit sekali para > pimpinan atau kaum revolusioner yang menguatkan diri mematahkan benteng > trauma dan memberanikan diri bergerak menerobos situasi represif untuk > mencari dan bergaul dengan kekuatan massa yang sedang tumbuh > > Mereka yang terus aktif meskipun dalam suasana represif itu, ada yang > bergabung dengan klompok pro-demokrasi yang kala itu dipelopori oleh PRD, > dan adapula di tempat-tempat lain, melalui berbagai cara. > > Setelah jatuhnya Suharto dari kursi kepresidenan disusul dengan apa yang > disebut era reformasi, mereka yang mengaku dan merasa diri sebagai kaum > revolusioner mulai menggeliat dan membangun berbagai wadah perkumpulan. > Tetapi wadah perkumpulan itu hanya digunakan untuk saling menunjukkan > kehebatan masing-masing di masa lalu, bukan untuk merumuskan situasi dan > kondisi obyektif masyarakat Indonesia saat ini dan memecahkan > persoalan-persoalan pokok yang harus dikerjakan. > > Lebih celaka lagi, di setiap forum tempat berkumpul, dijadikan arena > bernostalgia, tanpa memikirkan bahwa tempat itu banyak disusupi oleh para > intel dan orang-orang non X. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tahu > Mrxisme tapi tidak kenal keadaan alias berteori materialis tapi berpraktek > idealis. Bertentangan dengan anjuran agar Tahu Marxis dan Kenal Keadaan > (dalam bertindak). > > Berbagai lembaga maupun perkumpulan yang dibangun bersifat eksklusif dan > teralienasi dari masyarakat umum, sehingga tidak hanya terisolasi dari > Rakyat Indonesia, melainkan juga sangat mudah diindikasikan oleh masyarakat > tertentu terutama oleh kaum reaksioner. > > Keberanian yang muncul setelah lengsernya Suharto dari kursi kepresidenan, > menimbulkan berbagai penafsiran. Ada yang menilai sebagai hasil gerakan > mahasiswa yang disebabkan tindakan represif rezim Suharto terhadap gerakan > mahasiswa yang berpuncak pada peristiwa Trisakti dan Semanggi. > > Penulis menilai bahwa aksi massa rakyat yang didominasi oleh mahasiswa itu > adalah terakumulasinya berbagai kontradiksi yang terarah pada kepada > Suharto. Berbagai kontradiksi itu antara lain adalah kontradiksi di > kalangan militer antara mereka yang mendapat tempat/posisi (istilah mereka > tempat basah) dari Suharto dengan yang tidak mendapatkan tempat > menguntungkan. Kontradiksi di kalangan petinggi militer dari berbagai > angkatan yang didominasi oleh Angkatan Darat. Kontradiksi antara kaum > imperialis pemberi pinjaman yang sejak tahun 1987 mulai diganggu oleh > krisis keuangan dengan > > penguasa Indonesia di bawah pemerintahan Suharto yang tak mampu lagi > mengembalikan cicilan pinjaman. Kontradiksi di antara konglomerat yang > sepenuhnya difasilitasi oleh Cendana (Lie Swie Liong dan Bob Hasan Cs) > dengan konglomerat lain yang membentuk kelompok Jimbaran. Kontradiksi > antara politisi golongan sipil dengan militer yang mendominasi seluruh > kekuasaan, baik di lembaga eksekutif maulun legislatif dan berbagai > kontradiksi-kontradiksi lain yang menganggap Suharto sebagai penguasa > tunggal. Oleh karena itu, seluruh kontradiksi mengarah pada turunnya > Suharto dari kursi kepresidenan. Jadi kontradiksi pokok yang membuat > jatuhnya Suharto adalah kontradiksi di dalam kekuasaan rezim fasis militer > orde baru Suharto. Sedangkan kontradiksi dasarnya tidak berubah, yaitu > antara sistem penjajahan model baru yang diwakili rezim penguasa antek > imperialis dengan Rakyat Indonesia yang dijajah dan dihisap serta ditindas. > > > > Banyak orang menilai bahwa dengan turunnya Suharto dari kursi kepresidenan > dianggap runtuhnya orde baru yang digantikan oleh orde reformasi. > Seakan-akan reformasi itu bukan kelanjutan dari orde baru. Padahal, yang > berubah itu adalah bentuk dan presidennya. Sedangkan isinya tetap sebagai > pelindung dan centeng-centeng modal asing. > > Mereka yang menilai bahwa setelah Suharto lengser dan terjadi reformasi, > adalah era demokrasi dalam pengertian demokrasi untuk Rakyat. Maka para > pemimpin dari golongan X bermunculan untuk berusaha naik panggung > terbuka. Ada yang bergabung dengan mendirikan partai politik baru untk ikut > pemilu, ada berbondong-bondong masuk ke partai pemilu yang karena dipimpin > oleh anak Soekarno, dan ada pula yang berpetualang ikut sana dan ikut sini > untuk cari posisi dan fasilitas. Mereka berilusi bahwa dengan berada di > dalam sistem boneka imperialis itu dapat menyelesaikan kontradiksi dasar > bagi perubahan total kehidupan Rakyat Indonesia, yaitu melepaskan negeri > dan Rakyat Indonesia dari penajajahan model baru dan sisa-sisas feodalisme. > > > > Selama setengah abad lebih ini, kita diajarkan oleh pengalaman kongkret, > bahwa perjuangan parlementer itu diperlukan hanya sebatas dan bersifat aksi > kecil hasil atau aksi-aksi reform atau sekedar untuk membelejeti kejahatan > kaum imperialis dan bonekanya. Jika kita terjebak pada aksi-aksi > rehabilitasi dan rekonsiliasi sebagaimana yang sering diiming-imingi, > hanyalah impian untuk membuang-buang waktu hingga para penuntut mati satu > persatu tanpa hasil. Sebab, kontradiksi di antara yang dituntut dan yang > menuntut itu adalah dua kekuatan yang kontradiksinya bersifat antagonis. > Tetapi berbagai ilusi yang ditiupkan oleh angin rehabilitassi, telah > membuat kita mengantuk dan melupakan hakekat negara. > > > > *Pewaris Sejarah Untuk Meluruskan Jalan Sejarah. * > > > > Lebih setengah abad sudah, kaum revolusioner terpuruk akibat pukulan > berat yang dialami itu, tidak diperhitungkan dan tidak disiapkan > sebelumnya. Maka jutaan manusia tak berdosa menanggung akibat dari > keganasan dan kebengisan para algojo antek-antek imperialis yang dimotori > oleh militer Angkatan Darat Kanan pimpinan Jenderal Suharto. Kemudian > berdirilah kekuasaan penjajah melalui fasis militer Suharto yang > menyebabkan terjadinya perubahan total terhadap negeri dan masyarakat > Indonesia. > > Selama setengah abad itu, baik sisa-sisa dari kaum revolusioner yang > selamat maupun para pimpinan yang telah kembali ke masyarakat dan > keluarganya, lebih merasa mengalami pukulan berat sebagai orang tak > bersalah yang membuatnya trauma berkepanjangan. Dalam keadaan demikian, > terjadilah isolasi diri dari kehidupan dan pergaulan masyarakat umum, yang > disebabkan oleh bayang-bayang yang telah dialaminya selama belasan tahun. > Ini salah satu keberhasilan rezim orde baru dalam menciptakan stigma bahaya > laten komunis. > > > > Terhimpunnya keluarga dari keturunan orang-orang revolusioner atau > tokoh-tokoh revolusi yang menamakan diri sebagi Keluarga Dalam Sejarah > (KDS) tentu saja baik sekali, jika bertujuan untuk memenangkan cita-cita > perjuangan para pendahulu pelaku sejarah. Tetapi, siapa yang menjamin bahwa > keluarga dari keturunan pelaku sejarah yang didasarkan pada hubungan > biologis itu, seluruhnya secara otomatis akan menjadi orang-orang > revolusione? Jika kita mendasarkan diri pada hubungan keluarga (biologis), > berarti kita mengingkari teori bahwa *keadaan sosial menentukan kesadaran > sosial. *Jadi, setiap orang sangat ditentukan oleh praktek sosialnya, bukan > karena dia anak siapa. Meskipun saya pada waktu yang lalu tak pernah henti > di dalam gerakan perjuangan, apakah saya bisa menjamin seluruh anak-anak > saya kelak menjadi pejuang semua? Menurut penulis, bahwa seseorang bisa > menjadi revolusioner bukanlah karena hubungan biologis, tetapi faktor > kesadaran orang yang bersangkutanlah (faktor dalam orang tersebut) yang > menentukan. Adapun hubungan biologis adalah mempunyai peranan penting dalam > mendorong dan mempengaruhi anggota keluarganya > > *Membangun Kekuatan Revolusioner. * > > Bagi mereka yang menyadari bahwa untuk melakukan perubahan secara mendasar, > membebaskan negeri dan Rakyat Indonesia dari penjajahan model baru dan > sisa-sisa feodal, tidak bisa mengandalkan perjuangan parlementer. Hanya ada > satu jalan untuk melakukan perubahan mendasar. Tidak cukup hanya dengan > mengunyah-ngunyah teori di depan podium di setiap forum. Tetapi dibutuhkan > kerja kongkret bersama berjuta-juta massa Rakyat. Bagaimana mungkin kita > bisa membangkitkan, mengorganisasi, dan pada waktunya memobilisasi massa > Rakyat untuk bergerak melakukan perubahan, jika selama ini, kita hidup > mengisolasi diri menjadi kaum elit yang terpisah dari kehidupan Rakyat, > yang juga tidak kalah menderitanya sebagai korban kebiadaban orde baru > sebagai boneka imperialis. > > Jalan untuk menuju perubahan mendasar itu membutuhkan kekuatan seluruh kaum > revolusioner dari manapun datangnya. Kekuatan itu harus mengikutsertakan > dan bersandar pada generasi muda yang terorganisasi secara riel. Tidak > cukup hanya mengandalkan apa yang menamakan diri KDS. Itu hanya segelintir > dari ratusan juta Rakyat yang perlu dibangkitkan kesedarannya, perlu > diorganisasi ke dalam ormasrev-ormasrev. Tanpa membangun organisasi yang > progresif, menyatukan fikiran bekerja dengan kompak, maka cita-cita > perubahan mendasar secara revolusioner itu hanya menjadi impian belaka. > > > > Bersatulah Seluruh Kaum Progresif Untuk Membangun Kekuatan Revolusioner ! > > > > Jkt, 14mei22013. ------------------------------------ Gabung di milis INTI-net, kirim email ke : [email protected] Kunjungi situs INTI-net http://groups.yahoo.com/group/inti-net Kunjungi Blog INTI-net http://tionghoanet.blogspot.com/ http://tionghoanets.blogspot.com/ Tulisan ini direlay di beberapa Blog : http://jakartametronews.blogspot.com/ http://jakartapost.blogspot.com http://indonesiaupdates.blogspot.com *Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan* CLICK Here to Claim your Bonus $10 FREE ! http://profitclicking.com/?r=kQSQqbUGUh Visit Profit Click Income http://profitclickincome.blogspot.com/ NEW Portal and Search Engine for ALL http://www.synergyprofit.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/inti-net/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/inti-net/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
