Andaikan ada orang yang mengatakan: " Bom atom yang dijatuhkan Amerika di 
Hirosima dan Nagasaki adalah DIPERLUKAN". Apakah Hashimoto setuju?
ASAHAN.

----- Original Message ----- 
From: Chan CT 

Sent: Thursday, May 16, 2013 4:33 AM
Subject:  Wali Kota Osaka: Perbudakan Seks Saat PD II "Diperlukan"


  
Wali Kota Osaka: Perbudakan Seks Saat PD II "Diperlukan" 
Dina Damayanti | Rabu, 15 Mei 2013 - 16:42:20 WIB

(Foto:dok/cbsnews.com)
Wali Kota Osaka Toru Hashimoto. 
Pernyataan ini dikecam oleh sesama pejabat Jepang.

TOKYO - Banyak pejabat Jepang yang terkesima ketika mendengar pernyataan yang 
dilontarkan oleh seorang politisi nasionalis terkemuka yang mengatakan bahwa 
para perempuan yang dipaksa menjadi pelacur untuk menghibur para tentara Jepang 
saat Perang Dunia II adalah tindakan "yang diperlukan."

Toru Hashimoto yang menjabat sebagai Wali Kota Osaka mengatakan kepada para 
wartawan saat jumpa pers mingguannya, Senin (13/5) bahwa "semua orang akan 
memahami" peran dari "para perempuan penghibur" ketika para tentara 
mempertaruhkan nyawa mereka dan Anda ingin memberikan mereka "istirahat."

Meski ia menyadari bahwa masalah ini adalah "hasil tragis dari perang", 
Hashimoto yang merupakan salah satu ketua partai nasionalis Jepang, Partai 
Restorasi, menegaskan bahwa penggunaan pelacur oleh para tentara bukanlah ciri 
khas Jepang. 

Anehnya lagi, Hashimoto juga mengungkapkan bahwa selama perjalanan menuju 
pangkalan militer di pulau Okinawa ia mengatakan kepada seorang komandan 
militer AS bahwa bisnis hiburan dewasa di Jepang harus "dimanfaatkan lebih" 
oleh para personel AS.

"Saya mengatakan kepadanya ada beberapa tempat yang beroperasi dalam 
batas-batas hukum yang dapat digunakan untuk melampiaskan frustrasi seksual, 
sehingga mereka [militer AS] seharusnya memanfaatkannya atau para perwira 
marinir itu tidak akan mampu mengendalikan hasrat seksual agresif mereka."

Ia mengatakan perwira itu menolak untuk membahas sarannya.

Reaksi Dalam Negeri
Pernyataan Hashimoto ternyata tidak mendapat dukungan oleh para rekannya sesama 
politisi Jepang.

"Serangkaian komentar yang dilontarkan oleh politisi Jepang yang terkait dengan 
penafsiran kita mengenai sejarah [perang] telah disalahpahami," kata Menteri 
Pendidikan Jepang Hakubun Shimomura kepada wartawan dalam konferensi pers 
mingguannya hari Selasa. 

"Dalam hal ini pernyataan Hashimoto dilontarkan pada waktu yang tidak tepat. 
[Tapi] saya ingin mengetahui apakah ada makna positif dengan sengaja membuat 
pernyataan tersebut di saat seperti ini? Adapun komentar mengenai hiburan 
dewasa, saya tidak percaya bahwa itu datang dari seorang laki-laki yang 
mewakili partai politik. "

Sesama menteri Jepang lainnya, Tomomi Inada juga mengatakan hal senada, "Saya 
bertanya-tanya apakah ini sesuatu yang harus dikatakan oleh wakil dari partai 
politik? Saya sendiri menilai bahwa (masalah) perempuan penghibur melanggar hak 
azasi perempuan."

Menteri Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga tidak langsung merespon 
pernyataan Hashimoto, tapi malah mengatakan kepada wartawan bahwa "sikap dari 
pemerintah Jepang terkait isu perempuan penghibur adalah seperti yang telah 
dinyatakan berulang kali di masa lalu, bahwa mereka mengalami pengalaman yang 
sangat menyakitkan dan kami bisa merasakan rasa sakit itu ketika kami 
memikirkan mereka." 

Budak Seks
Para sejarawan memperkirakan tak kurang dari 200.000 perempuan yang dipaksa 
menjadi budak seks untuk mantan personel Angkatan Darat Kekaisaran Jepang 
berasal dari Filipina, China dan Semenanjung Korea - semua wilayah yang saat 
itu diduduki oleh Jepang. Sementara banyak perempuan tersebut yang kini telah 
meninggal, sekelompok korban asal Korea yang masih hidup selama bertahun-tahun 
menggelar aksi protes di luar Kedutaan Besar Jepang di Seoul. Mereka menuntut 
pengakuan yang lebih besar atas penderitaan yang mereka alami, serta kompensasi 
individu.

Tokyo menyatakan bahwa tanggung jawab hukum untuk menebus kesalahan itu telah 
diselesaikan melalui sebuah perjanjian bilateral yang ditandatangani tahun 1965 
dengan Korea Selatan. Pemerintah Seoul sendiri menyatakan "kekecewaan mendalam" 
atas komentar Hashimoto.

"Sudah ada pengakuan di seluruh dunia ... bahwa masalah mengenai perempuan 
penghibur yang diperkosa saat perang oleh tentara Jepang selama periode 
kekaisaran di masa lalu adalah pelanggaran hak azasi manusia serius," kata 
seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Jepang kepada Agence France-Presse, 
Selasa.

"Pemerintah kami sekali lagi mendesak pejabat terkemuka Jepang untuk 
menunjukkan rasa penyesalannya atas kekejaman yang terjadi selama periode 
kekaisaran Jepang dan untuk memperbaiki cara berpikir dan cara mereka 
berkomentar."

Tahun 1993, pemerintah Jepang mengeluarkan pernyataan mengakui "rasa sakit dan 
penderitaan yang tak terukur" yang dialami oleh ribuan perempuan yang dipaksa 
berhubungan seks selama Perang Dunia II. Jepang bahkan berjanji untuk pertama 
kalinya memasukkan isu perempuan penghibur ke dalam buku pelajaran SMP yang 
baru.

Tapi perang Jepang di masa lalu terus membayangi hubungan dengan negeri 
tetangga dekatnya di Asia seperti Korea Selatan dan China, yang saat ini tengah 
bersitegang karena sengketa teritorial di wilayah tersebut. 

Sumber : CNN/BBC

Kirim email ke