http://www.shnews.co/detile-19907-sby-abaikan-seruan-agamawan.html

SBY Abaikan Seruan Agamawan 
Saiful Rizal | Kamis, 23 Mei 2013 - 14:20:59 WIB




(dok/antara)

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan tetap berangkat ke Amerika Serikat.


JAKARTA – Komunitas masyarakat sipil yang terdiri dari kaum agamawan dan 
rohaniwan, aktivis, dan penggiat hak asasi manusia, Kamis (25/5), kembali 
menyatakan penolakannya terhadap penghargaan yang diberikan Yayasan Appeal of 
Conscience Foundation (ACF) terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mereka 
juga mendesak presiden untuk menolak pemberian penghargaan tersebut. 

AFC adalah organisasi yang giat mempromosikan perdamaian, demokrasi, toleransi, 
dan dialog antarkepercayaan yang berbasis di New York, Amerika Serikat. Mereka 
memberi penghargaan terhadap Presiden Yudhoyono atas kontribusinya dalam 
demokratisasi dan rekonsiliasi konflik di Tanah Air. 

Komunitas masyarakat sipil di Indonesia menolak penghargaan ini karena sama 
sekali tidak mencerminkan apa yang sebenarnya terjadi di Tanah Air di bawah 
kepemimpinan Yudhoyono. 

"Presiden Yudhoyono seharusnya merefleksikan rencana pemberian penghargaan 
kepada dirinya. Apakah pantas atau tidak menerima penghargaan tersebut? Sebab 
bila dia menerima penghargaan itu, banyak konsekuensi yang harus ditanggung dan 
dijalankannya," kata Sekterais Dewan Nasional Setara Institute, Benny Susetyo 
kepada SH, Kamis. 

Setara menggelar acara penolakan penghargaan tersebut di Jakarta hari ini. 
Sejumlah tokoh dan aktivis HAM hadir dalam acara tersebut, antara lain Adnan 
Buyung Nasution, Todung Mulya Lubis, Musdah Mulia, Allisa Wahid, dan 
Jallaluddin Rakhmat. 

Menurut Benny, bila presiden pada akhirnya menerima penghargaan itu maka harus 
berani menegakkan hukum terhadap para pelaku kekerasan di Tanah Air. Bila 
Presiden Yudhoyono tidak mampu menegakkan hukum yang berlandaskan konstitusi 
maka presiden sebaiknya menolak pemberian penghargaan itu. 

Sebelumnya tokoh cendekiawan dan rohaniwan dari Sekolah Tinggi Filsafat 
Diyarkara, Franz Magnis Suseno SJ, telah terlebih dulu menyatakan protesnya 
dengan melayangkan surat ke AFC. Surat dikirim ke ACF melalui e-mail pada Rabu 
(15/5), segera setelah ia mengetahui rencana pemberian penghargaan itu dari 
media. 

Ia tidak memprotes soal penghargaan kepada seorang presiden, tapi lebih kepada 
esensi bahwa penghargaan yang diberikan itu berkaitan dengan upaya memajukan 
toleransi di Indonesia. Menurutnya, selama 10 tahun reformasi, toleransi 
keagamaan di Indonesia berkurang. 

Dalam suratnya, Magnis menulis, penghargaan itu hanya akan membuat malu ACF. 
Menurut Magnis, selama 8,5 tahun kepemimpinan Presiden Yudhoyono, kaum 
minoritas Indonesia justru berada dalam situasi tertekan. Presiden bahkan tidak 
pernah memberikan seruan kepada rakyatnya untuk menghormati hak-hak kaum 
minoritas. Kekerasan terhadap kelompok minoritas, termasuk Ahmadiyah dan Syiah, 
terus terjadi. 

"Pemerintah tidak melakukan upaya perlindungan apa pun terhadap para korban 
konflik kekerasan itu,” ungkap Magnis kepada SH, Kamis ini. 

Romo Magnis juga mengatakan, selain persoalan yang dihadapi oleh jemaah 
Ahmadiyah dan Syiah, hingga kini jumlah gereja yang ditutup juga meningkat; 
juga tentang persoalan kesulitan bagi warga Kristen untuk memperoleh izin 
mendirikan tempat ibadah, serta banyaknya peraturan untuk sekadar melakukan 
kebaktian secara terbuka. 

Penulis buku Soeharto, the Life and Legacy of Indonesian Second President- an 
Authorized Biography, Retnowati Abdulgani Knapp, juga mengirimkan surat kepada 
ACF atas penghargaan ini. Ia meminta agar AFC mempertimbangkan protes yang 
dilayangkan oleh Romo Magnis. Ia menekankan bahwa pemberian penghargaan itu 
justru memicu debat panas di Indonesia dan ia khawatir akan menghancurkan 
persatuan Indonesia. 

Tetap Berangkat 

Namun di tengah protes ini, Presiden Yudhoyono dipastikan tetap akan berangkat 
ke AS untuk menerima penghargaan tersebut. "Sejauh ini tidak ada perubahan yang 
saya dengar," kata Juru Bicara Istana Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha, Kamis. 

Menurut Julian, hal itu dilakukan presiden sejalan dengan agenda membahas 
Millenium Development Goals (MDGs) 2015 di AS."Presiden SBY ke AS akhir Mei 
2013 untuk menyerahkan hasil akhir pembahasan agenda High Level Panel Post MDGs 
2015," jelasnya. 

Sebelumnya, Sekretaris Kabinet Dipo Alam mempertanyakan penolakan penghargaan 
tersebut. "Yang jelas selama ini presiden tidak pernah minta. Kita tidak ada 
minta-minta supaya ada penghargaan itu. Itu kan recognition mereka," tegasnya. 

Dipo mengatakan penilaian atas perkembangan toleransi antarkelompok masyarakat 
di Indonesia hendaknya tidak disandarkan berdasarkan kasus per kasus, namun 
dilihat juga secara luas. (Ant/Faisal Rachman) 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke