http://id.berita.yahoo.com/sby-terkesan-biarkan-intoleransi-005100884.html

SBY terkesan biarkan intoleransi
Merdeka.com – 5 jam yang lalu
 
 
MERDEKA.COM. Pastor Franz Magnis-Suseno menilai Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono tidak tegas menyikapi kekerasan atas nama agama. Padahal, insiden 
semacam itu tidak jarang menelan korban jiwa dan membuat kaum minoritas menjadi 
sasaran terpaksa mengungsi. 

"Saya kira kalau presiden memberi perintah tegas tentu akan berhenti," kata 
Romo Magnis, sapaan akrabnya, saat ditemui merdeka.com Selasa lalu di kampus 
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. 

Berikut penuturan Romo Magnis kepada Alwan Ridha Ramdani dan Islahuddin.



Dalam konflik atas nama agama, presiden sudah banyak mengeluarkan imbauan agar 
segera ditindak?

Imbauan bukan tugas pemerintah. Masyarakat mengimbau dan menuntut pemerintah 
menegakkan hukum. Mestinya pemerintah mendukung polisi menegakkan hukum dalam 
kasus kekerasan atas nama agama. Kadang kita melihat polisi hanya menonton saat 
kejadian kekerasan. Kalau kita bertanya, seringnya menjawab akan dituduh 
melanggar hak asasi manusia.

Itu tidak masuk akal. Tapi sebetulnya itu berarti kalau kami bertindak keras 
apa akan mendapat beking dari atasan kami. Jadi apakah pihak kapolri tidak ada 
beking dalam hal ini? Tentu kapolri hanya memberi perintah kekerasan atas nama 
agama tidak diizinkan dengan tegas kalau dia punya beking dari atasannya. Siapa 
atasannya kapolri? Di situ masalahnya.

Saya kira kalau presiden memberi perintah tegas tentu akan berhenti. Saya ingat 
suatu kasus. Salah satu ormas dulu suka menyisir saat bulan puasa di 
pusat-pusat hiburan. Setahun lalu, kapolda bilang sebelum puasa, sekarang tidak 
ada penyisiran lagi, kita tidak mengizinkan. Sejak itu, organisasi itu tidak 
melakukan penyisiran saat Ramadan di tempat hiburan. Ternyata bisa juga kan.

Artinya pemimpin harus tegas untuk menyelesaikan kekerasan atas nama agama?

Betul sekali. Komunal sangat sulit di daerah, kesukuan, dan etnis kompleks, 
karena ada masyarakat asli dan pendatang. Saat pilkada, pelbagai pihak 
memobilisasi pendukungnya. Di situ mudah sekali memainkan kartu suku dan etnis 
dikaitkan agama. Itu lebih sulit, itu pun bisa ditindak. Ini saya anggap lebih 
berbahaya, tapi konflik-konflik agamais di Jawa, terutama Jawa Barat, hanya 
sedikit yang punya latar belakang itu. Asal pemerintah tegas, hal itu tidak 
perlu terjadi.

Saat pemerintah abai, terus apa yang bisa dilakukan masyarakat sipil?

Masyarakat sipil bisa ikut dengan berkomunikasi dan saya kira masyarakat sudah 
melakukan itu. Tokoh-tokoh umat Islam sudah banyak melakukan itu. Misalnya 
Katolik di Flores, NTT (Nusa Tenggara Timur), adalah mayoritas. Mereka 
hendaknya merasa bertanggung jawab atas keamanan dan ketenangan minoritas.

Dari minoritas juga dituntut memperhatikan kepekaan mayoritas. Jadi jangan 
membawa diri secara provokatif atau selalu mengatakan minoritas. Demikian juga 
Katolik tinggal di kawasan mayoritas muslim perlu menjaga perasaan dan tidak 
menghina penganut muslim. Itu diperlukan dalam tingkat masyarakat.

Hal itu bisa diajarkan oleh tokoh-tokoh agama. Hal ini sudah berjalan, tapi 
harus sering diingatkan. Di situ ada tanggung jawab dalam masyarakat, dua pihak 
di dalamnya.

Sejak kapan intoleransi ini makin menguat di Indonesia?

Kita harus memperhatikan benih-benih intoleransi itu selalu ada. Itu manusiawi, 
karena manusia itu dengan sendirinya curiga jika ada yang baru atau asing di 
sekitarnya. Bisa menjadi ancaman kemudian bisa menjalani hubungan baik. 
Masalahnya apa kita dukung rasa curiga itu, kemudian bangsa ini akan pecah?

Sekarang saya melihat intoleransi dalam beberapa kasus, seperti di Tasikmalaya 
dan perusakan gereja sudah terjadi sejak zaman Orde Baru. Kesan saya, SARA 
(Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan) begitu ditakuti sehingga 
ketegangan-ketegangan yang ada tidak bisa diselesaikan dengan biasa namun terus 
ditekan. Pada tahun-tahun terakhirnya Soeharto sudah mulai kehilangan wibawa, 
lalu mulai ketegangan itu meluap.

Dalam situasi demokrasi saat ini, sulit melarang orang mengeluarkan pendapat. 
Misalnya menghasut juga harus ditegaskan untuk ditindak karena menghasut sudah 
mengarahkan orang untuk merusak. Di negara demokrasi mana pun, hal itu tidak 
diizinkan dan itu sudah diatur dalam undang-undang. 

Menurut saya, situasi di Indonesia masih sangat teratur, mungkin itu membuat 
Presiden SBY mendapatkan penghargaan itu. Tapi keteraturan itu jangan dibiarkan 
saja karena intoleransi bertambah, ketegangan juga bertambah. Katakan saja 
Ahmadiyah sudah ada di sini sejak 1920, tapi sekarang diributkan? Apakah 
kekerasan akan berhenti pada mereka? Kalau ini tidak disentuh, kekacauan akan 
berhenti di mana?

Apakah selama ini Anda melihat sudah tindakan tegas kepada pelaku kekerasan 
atas dasar agama?

Itu sangat problematik. Orang melakukan kekerasan harusnya ditindak. Misalnya 
mereka yang melakukan kekerasan dalam kasus Cikeusik, Jawa Barat, Sampang 
(Madura), tidak dihukum semestinya. Hanya dihukum tiga bulan dan enam bulan, 
kemudian dianggap pahlawan. Itu bukan hukuman.

Apakah ada kompensasi dari penghargaan itu kepada Presiden SBY?

Penghargaan itu karena mereka hanya melihat satu fakta, di bawah pemerintahan 
SBY Indonesia kembali menjadi negara normal. Mereka melihat kehidupan dari 
Sabang sampai Merauke aman, tidak ada konflik-konflik. Mereka anggap semua 
konflik berakhir, dianggap konflik-konflik kecil dan ini dianggap prestasi.

Indonesia dianggap negara aman dari berbagai konflik. Mungkin itu menggoda ACF 
untuk tidak melihat segi-segi negatif akan mengancam stabilitas, seperti 
meningkatnya intoleransi agama. Jadi itu masalah. Kalau kita menegur pemerintah 
dalam hal pembiaran, kita lalu tidak menyangkal di bidang lain ada prestasi.

Saya tidak pernah mengatakan presiden sekarang adalah presiden gagal, itu tidak 
betul. Di luar negeri, Indonesia itu dianggap sudah berada di ambang 
kehancuran. Tapi saya tidak percaya itu karena kebangsaan Indonesia itu lebih 
kokoh ketimbang yang tampak di permukaan. Kalau itu mau dihormati, silakan. 
Tapi jangan lalu menyebut jasanya di bidang toleransi.

Jadi presiden membiarkan terjadinya intoleransi?

Saya punya kesan kepada presiden tidak banyak intervensi dalam hal itu. Entah 
itu betul atau tidak. Tapi kesan itu di lapangan terlihat seperti pembiaran.

Sumber: Merdeka.com

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke