Ref: Mana bisa pembolos merusak partai, kalau setoran ke kas partai tetap 
berjalan lancar. Kalau yang namanya pembolos hadir pun apakah banyak sumbangan 
produktivitas  dan kreativitas dalam lapangan kerjanya? Badan legislatif yang 
namanya DPR itu tidak lain dari Dewan Penipu Rakyat. Seorang politikus NKRI 
terkenal menyatakan bahwa DPR itu tak beda dengan taman kanak-kanak. 

http://www.indopos.co.id/index.php/berita-politik/4057-pembolos-merusak-partai

Pembolos Merusak Partai 
  Thursday, 16 May 2013 09:02 
  Written by Bowo 

 




JAKARTA - Tingginya tingkat ketidakhadiran para anggota DPR terus menuai banyak 
kritikan. Mereka diminta tidak kembali maju sebagai caleg pada Pemilu 2014.  
Selain merugikan rakyat, mereka juga merusak citra parpol yang mengusung caleg 
tersebut.

“Perilaku membolos anggota dewan itu sama saja merusak citra partainya. Karena 
(bolos) ini soal kinerja elite partai sebagai kader parpol yang bersangkutan.  
Kalau yang bersangkutan sering membolos sama saja rusak citra partainya,” ujar 
pengamat politik dari UI Boni Hargens, kemarin.

Boni mengatakan, anggota dewan pembolos adalah cermin wakil rakyat yang tidak 
bertanggungjawab. ”Padahal kan mereka harus memperjuangkan kepentingan rakyat 
dalam sidang-sidang di DPR. Itu tugas yang sangat penting,” imbuhnya.

Menurutnya,  kalau sering tidak masuk kerja untuk apa dia jadi anggota dewan?   
Anggota DPR itu harus selalu hadir dalam menjalankan fungsi-fungsi legislasi, 
budgeting maupun kontrol, sehingga masyarakat yang diwakilinya merasa terwakili 
aspirasinya.

Boni meminta media massa memberikan informasi yang sejelas-jelasnya kepada 
masyarakat terhadap anggota DPR yang hobi membolos itu, supaya rakyat tahu 
kinerja mereka selama ini. ”Dan anggota DPR yang sering tidak masuk harus 
diberi sanksi yang paling keras,” pungkasnya.

Peneliti politik senior dari LIPI Siti Zuhro meminta parpol mencoret nama 
anggota DPR pembolos itu dari pencalegan, sehingga tidak bisa lolos lagi ke DPR 
periode berikutnya.

Siti mengatakan sebanyak 90 persen anggota DPR saat ini kembali mengajukan diri 
sebagai caleg untuk periode DPR 2014-2019. Jika kondisi ini dibiarkan  maka 
periode mendatang tak jauh beda dengtan yang ada sekarang.  Ini tentu sangat 
memprihatinkan.

”Pertama parpol harus mereview ulang anggota itu, lantas mengevaluasi 
kinerjanya selama ini. Baru merevisi nama-nama yang tidak tepat dalam daftar 
caleg sementara itu. Karena disiplin itu dimulai dari bagaimana anggota dewan 
berkomitmen lalu konsisten dengan sumpah jabatan mereka,” tegas Siti.

Dia beralasan karena tahapan pencalonan saat ini adalah masa perbaikan 
persyaratan KPU yang masa waktunya hingga 22 Mei 2013 mendatang, sehingga 
parpol bisa mengganti dan mencoret nama-nama yang ingin diganti.

”Saya benar-benar tak habis pakir dan benar-benar heran terhadap para anggota 
dewan pembolos itu. Entah apa yang menjadi ambisi anggota DPR itu jika pada 
periode sekarang mereka bolos tanpa keterangan. Lantas tanpa merasa malu 
mencalonkan lagi di Pileg 2009,” ujar Siti.

Ditegaskan, proses pencalonan kembali anggota dewan harus mendapat perhatian 
serius baik oleh parpol  dan masyarakat, sehingga tak perlu lagi anggota 
pembolos masuk parlemen. ”Tidak boleh lagi ada wakil rakyat yang tidak 
berdedikasi dan tidak berkonstribusi di DPR,” tukasnya.

Siti beharap parpol lebih tegas dalam mencalonkan kembali kadernya. ”Partai 
harus tegas dong, jangan menutup mata dengan kondisi anggotanya. Jangan pula 
seolah kalau ada anggota yang absen rapat dan korupsi seolah itu personal dan 
hanya oknum. Gak bisa seperti itu. Partai itu wadah, jadi harus punya 
tanggungjawab pengawasan terhadap anggotanya,” pungkas Siti.

Pengamat politik UI Ibramsjah juga mengkritik perilaku bolos anggota DPR itu. 
Menurutnya, perilaku buruk itu sudah menjadi kebiasaan dan budaya. ”Bukan 
perilaku baru. Bolos adalah penyakit kambuhan,” lontar Ibramsjah. 

Dia menuturkan, para anggota DPR sekarang sudah kehilangan rasa malu. Hal ini 
terjadi karena mereka tidak mengerti apa fungsi mereka sebagai anggota DPR. 
”Mereka menjadi anggota DPR bukan pengabdian tapi karena mau cari proyek saja 
kok,” ujarnya.

Ibramsjah juga berpendapat jika parpol mereka tidak dapat menindak tegas para 
kadernya untuk bisa bersikap layaknya anggota DPR,  maka sama saja partai 
melakukan pembiaran terhadap kadernya sendiri. ”Makanya saya minta kepada para 
pemilih di Indonesia agar jangan lagi memilih anggota DPR pembolos yang kembali 
nyaleg pada Pemilu 2014 nanti. Karena jelas kinerja mereka gak becus,” tegasnya.

Sementara itu, pengamat politik dari Charta Politika Arya Fernandes menilai 
para anggota dewan pembolos itu sama saja makan gaji buta dari uang rakyat. Dia 
pun meminta masyarakat agar mempertimbangkan kembali dukungannya terhadap caleg 
incumbent yang pembolos itu. ”Rakyat harus memberikan perhatian kepada 
pembolos. Ini sama saja memakan gaji buta,” lontar Arya. (ind)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke