Ref: Bukan malu tetapi tidak mau menolak karena gelar ini sangat penting untuk 
mengharumkan namanya


http://www.shnews.co/detile-19971-mengapa-malu-menolak-penghargaan.html


Mengapa Malu Menolak Penghargaan? 

Ignatius Haryanto* | Jumat, 24 Mei 2013 - 14:46:15 WIB

: 



(dok/SH)

Menolak penghargaan bukanlah suatu sikap yang memalukan atau merendahkan diri 
sendiri.


Perdebatan tentang apakah Presiden Susilo Bambang Yudhyono perlu menerima atau 
tidak menerima penghargaan sebagai “The World Statesman” dari lembaga Appeal of 
Conscience Foundation (ACF) menjadi makin menghangat dalam beberapa waktu 
belakangan ini. 
Tak kurang dari Duta Besar Republik Indonesia di Washington, Dino Patti Djalal, 
yang juga pernah menjadi juru bicara presiden, turut urun rembuk dalam 
tulisannya di media massa nasional pada Selasa, 21 Mei 2013. 

Tulisan tersebut hendak mengajak pembaca percaya bahwa tak berlebihan jika SBY 
menerima penghargaan tersebut sembari mengakui masih ada banyak kelemahan 
Indonesia dalam menangani sejumlah persoalan di Indonesia. 

Menyusul Dino, lingkaran Istana yang lain, Dipo Alam, turut memanaskan polemik 
dengan mengatakan apa yang menjadi kritik dari Romo Frans Magnis-Soeseno 
dianggapnya sebagai kritik yang dangkal, berdasarkan atas apa yang hanya 
dilihat lewat televisi. 

Memang, sebelumnya Romo Frans Magnis-Soeseno, guru besar dari Sekolah Tinggi 
Filsafat Driyarkara, mengkritik keras dan meminta kepada lembaga CAF untuk 
membatalkan pemberian penghargaan World Statesman kepada Presiden SBY. 

Jika merunut lebih ke belakang, kita pun ingat akan komentar dari juru bicara 
kepresidenan Julian Aldrin Pasha yang mengatakan Indonesia tak meminta 
penghargaan tersebut, dan ia menyebutkan Presiden SBY telah berhasil menjamin 
kehidupan antarumat beragama di Indonesia. 

Sementara itu Romo Frans Magnis-Soeseno mengatakan penghargaan tersebut 
tidaklah pantas, karena dikatakan dalam 10 tahun terakhir toleransi di 
Indonesia berkurang banyak, dan ada banyak kasus di mana kelompok masyarakat 
minoritas mendapat halangan untuk menunaikan ibadahnya. Bukan hanya pada 
kelompok Kristen, tetapi juga kepada kelompok muslim lain, seperti penganut 
Syiah dan juga Ahmadiyah. 

Apakah SBY nanti jadi menerima penghargaan tersebut atau tidak, biar waktu yang 
menunjukkan hasil akhirnya. Namun di luar itu, ada baiknya logika yang ada di 
balik pro dan kontra tersebut diperiksa lebih jauh, terutama dari kelompok yang 
mendukung SBY menerima penghargaan tersebut. 

Jika dikatakan oleh juru bicara kepresidenan bahwa Indonesia atau SBY tidak 
pernah meminta-minta penghargaan tersebut, kalau pun penghargaan itu tak 
didapatkan atau ditolak, itu artinya tidak signifikan, karena toh dikatakan 
Indonesia tidak sedang mencari-cari penghargaan tersebut. 

Dengan kerendahan hati Indonesia bisa secara diplomatis menyatakan terima kasih 
atas penghargaan tersebut, namun Indonesia merasa ada pihak lain yang lebih 
pantas menerima penghargaan tersebut, sementara Indonesia akan terus bekerja 
untuk memastikan misi utama dari penghargaan ini dijalankan secara konsekuen 
oleh Indonesia. 

Jika hasil kerja untuk melindungi kelompok minoritas telah Indonesia lakukan 
bukan mustahil di kemudian hari atau beberapa tahun nanti, lembaga yang sama 
akan memberikan penghargaan atas selarasnya kata dan perbuatan dari Indonesia 
dalam hal perlindungan terhadap kelompok minoritas masyarakat di Indonesia. 

Menolak Penghargaan 

Menolak penghargaan bukanlah suatu sikap yang memalukan atau merendahkan diri 
sendiri. Ada banyak pihak yang pernah terbuka menyatakan penolakan atas hadiah 
tertentu yang diberikan. Dalam penghargaan Nobel misalnya, sastrawan Jean-Paul 
Sartre pernah menolak hadiah Nobel Sastra tahun 1964 pada dirinya. 

Di dalam negeri, sejumlah pihak pernah menyatakan penolakan atas pemberian 
anugerah Ahmad Bakrie Award, yaitu Romo Frans Magnis-Soeseno, Daoed Joesoef, 
Sitor Situmorang, dan Seno Gumira Ajidarma. Belakangan salah satu penerima 
Ahmad Bakrie Award ini, Goenawan Mohamad, mengembalikan anugerah yang telah 
diberikan tersebut. 

Semua penolakan ini terkait dengan aktivitas perusahaan grup Bakrie yang 
dianggap belum memadai untuk menyelesaikan konflik dan dampak dari semburan 
lumpur akibat aktivitas penambangan oleh PT Lapindo beberapa tahun yang lalu 
itu. 

Jadi menolak penghargaan bukanlah sesuatu yang memalukan. Bahkan mungkin bisa 
menjadi suatu penyataan sikap jujur seorang intelektual, atau mereka yang 
peduli dengan kondisi masyarakat di sekelilingnya. 

Penolakan sendiri bukanlah suatu indikasi bahwa yang diberi penghargaan 
menunjukkan karya mereka kurang berkualitas, sebaliknya mereka yang menolak 
mungkin memiliki pandangan tersendiri atas penghargaan tersebut, dan merasa ada 
suatu panggilan moral yang jauh lebih penting untuk diikuti ketimbang menerima 
penghargaan, diberi ucapan selamat, berpidato di depan ratusan orang ataupun 
menerima hadiah berupa uang. 

Kita mungkin bisa menggunakan pengandaian tentang membeli sepasang sepatu di 
sebuah toko. Tentu saja kita akan memilih sepatu dengan nomor yang pas dengan 
ukuran kita saat ini. Untuk itu maka kita perlu mengukur kaki kita dan juga 
sepatu yang kita kehendaki, agar kita bisa menggunakan sepatu yang pas dengan 
ukurannya. Jika kita menggunakan sepatu yang sempit, tentu sangat tidak nyaman 
untuk dikenakan. 

Sebaliknya, jika sepatu yang terlalu besar yang kita pakai juga menimbulkan 
ketidaknyamanan tersendiri. Oleh karena itu, memilih sepatu harus sesuai dengan 
kebutuhan kita. Terlalu sempit atau terlalu besar, dua-duanya tidak nyaman. 
Untuk itu kita harus menggunakan sepatu dengan nomor yang pas dengan ukuran 
kaki kita. 

Jika dikembalikan pada urusan pro kontra di atas maka mematut diri dan menilai 
dirinya apakah cocok atau tidak, atas suatu pertanggungjawaban atas suara hati, 
tanggung jawab sebagai intelektual, dan bahkan seorang negarawan. 

Muhammad Hatta ketika akhirnya memutuskan mengundurkan diri sebagai wakil 
presiden justru telah menunjukkan kenegarawanannya ketika ia merasa sudah tak 
lagi bisa bekerja sama dengan Sukarno yang kala itu ia nilai sudah melenceng. 

Kenegarawanan akan melihat suatu masalah dalam rentang jangka panjang bukan 
dalam rentang waktu pendek atau sejenak. Penghargaan tak lebih berarti 
ketimbang tindakan nyata yang dibutuhkan oleh para warga yang membutuhkannya. 
Jadi menolak pemberian penghargaan tak mengurangi apa prestasi yang telah 
ditorehkan, sebaliknya, menunjukkan kualitas kenegarawanan sesungguhnya. Tak 
perlu melakukan hal demikian. 

*Penulis adalah Direktur Lembaga Studi Pers dan Pembangunan, Jakarta. 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke