Kongkalikong Sindikat Kingkong Gerogoti Telkom

Islam Times- Modus lainnya adalah dengan melakukan pemusatan penjualan 
pulsa pada satu atau dua perusahaan tertentu saja. Kabarnya PT Telesindo
 dan PT Akar Daya yang digadang-gadang sebagai perusahaan penjual pulsa 
Telkomsel.

Dua tahun menjelang suksesi, partai politik bersiap mengisi lumbung-lumbung kas 
partai. Proyek-proyek di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi incaran.

Delapan orang petinggi PT Telkom Tbk, berkumpul di perumahan elit Golf 
Mansion Nomor 26, Jakarta Selatan. Ditemani salah seorang bendahara 
Partai Berlambang Matahari Terbit, pria berambut putih menerima tamunya.
 Di rumah pribadi yang dipagari tembok putih setinggi dua meter dan 
gerbang besi bercat coklat ini, siasat mulai dirancang.

Di 
sinilah Arief Yahya Direktur Utama Telkom bersama direksi yang terpilih 
lain menggelar pertemuan beberapa hari sebelum Rapat Umum Pemegang Saham
 (RUPS) Telkom, 11 Mei 2012 lalu. Salah seorang sumber di dalam Telkom 
menyebutkan bahwa pertemuan ini bukan sekali saja tapi sudah berlangsung
 sejak tiga bulan sebelumnya. Beberapa tempat yang sering digunakan 
selain rumah tersebut adalah lapangan Golf Rawamangun, Jakarta Timur. 
Munculnya pertemuan tersebut menimbulkan dugaan bahwa pergantian Direksi
 Telkom yang dilakukan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) 
Dahlan Iskan, Mei lalu, sarat dengan intervensi politik. Saat RUPS 
berlangsung masa jabatan Dirut Telkom sebelumnya yakni Rinaldi 
Firmansyah baru saja diperpanjang lima tahun kedepan sejak RUPS-SLB 
semester I/2011. Namun saat RUPS, justru Dahlan memilih Arif Yahya 
sebagai pucuk pimpinan Telkom menggantikan Rinaldi Firmansyah.

Arif adalah Direktur Enterprise and Wholesale, yang diangkat pada 2005. 
Lulusan teknik elektro Institute Teknologi Bandung ini bergabung di 
Telkom sejak lulus kuliah pada 1986. Rumor yang beredar, pergantian ini 
sebagai langkah partai untuk menyiapkan dana Pemilihan Presiden 2014 
mendatang. Telkom menjadi rebutan lumbung partai karena membukukan 
keuntungan besar bagi negara, nomer dua setelah BUMN yang bergerak di 
sektor minyak dan gas.

Dalam siaran persnya, medio tahun ini 
kinerja keuangan dan operasi Telkom sepanjang semester I-2012 terus 
membaik. Pendapatan Telkom tumbuh sebesar 6,8% atau Rp 36,7 trilliun. 
Kenaikan tersebut antara lain disumbang pertumbuhan pendapatan anak 
perusahaan bidang seluler sebesar 9,5% atau Rp 25,4 trilliun.

Riad Oscha Chalik, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Nasional 
Telekomunikasi (Aptanel) menduga terpilihnya Arief Yahya dalam bursa 
pencalonan direktur saat itu atas desakan Menko Perekonomian Hatta 
Radjasa. Padahal Arief saat menjabat sebagai Direktur Enterprise and 
Wholesale tersandung dugaan kasus Gratifikasi Program Mobile Pusat 
Layanan Internet Kecamatan (MPLIK). Bahkan Kementerian Komunikasi dan 
Informatika sempat melayangkan surat teguran pada 09 Januari 2012. 
Namun, yang mengherankan, Dahlan Iskan tetap menunjuk Arief sebagai 
Dirut Telkom.

Dahlan mengakui mendengar kasus Arief tapi telah 
mengklarifikasinya. “Itu sudah clear. Tidak mungkinlah saya ngawur. 
Tidak memperhatikan begitu-begitu. Memang ada yang lain selain Arief,” 
tegas mantan bos Grup Jawa Pos ini kepada sejumlah wartawan beberapa 
waktu lalu. Selama ini sudah menjadi rahasia umum bahwa proses pemilihan
 direksi BUMN sarat dengan kepentingan politik. Menurut Riad, salah satu
 modus partai mengeruk dana lewat proyek BUMN adalah dengan menempatkan 
orang kepercayaan. Nah untuk kasus Telkom, Hatta menempatkan Sakti Wahyu
 Trenggono, salah satu Bendahara Partai Amanat Nasional. “itu orang 
dekat Hatta,” ujar Raid.

Trenggono juga dikenal sebagai 
pengusaha yang pertama kali bergerak di bidang penyewaan Base 
Transceiver Station (BTS) telepon seluler. Ia pemilik PT Solusindo 
Kreasi Pratama. Kedekatan Arief Yahya dan Trenggono terjalin melalui 
berbagai kerjasama proyek.

Proyek besar pertama perusahaan yang
 didirikan tahun 2002 ini datang dari Telkom(Flexi) di tahun yang sama. 
Saat itu Arief Yahya menjadi Kandatel Jakarta Barat. “Telkom Flexi 
banyak kasih proyek besar pada Trenggono, untuk penyewaan tower,” ujar 
narasumber dari Garasi 49 (Gerakan Rakyat AntiKorupsi 49).

Dengan bantuan Trenggono inilah, Arief Yahya mendapat dukungan Hatta 
Radjasa. Sumber lain mengatakan mereka sering tampak mengayuh stik golf 
bersama di lapangan golf Rawamangun dan Bogor Raya. Bahkan, sejak tiga 
bulan sebelum RUPS, Arief sudah mendapat kepastian menjadi Dirut berkat 
lobby Trenggono pada Hatta. Hatta sampai berucap “sudah you diam saja, 
jangan bergerak. You susun kabinet, pasti jadi,” kata narasumber Garasi 
49 menirukan ucapan Hatta. Riad menduga dukungan ini jelas tidak gratis.

Sumber dari Garasi 49 menduga Arief Yahya menjanjikan sejumlah proyek 
Telkom kepada Trenggono. Untuk mewujudkan misinya, Arief banyak 
melakukan perombakan manajemen dengan orang-orang yang dahulu ada di 
bawah divisinya. Dia semakin leluasa manakala Dahlan Iskan memberikan 
kebebasan Arief untuk membentuk direksi di bawahnya.

Sebagai 
contoh, Telkomsel berencana menyewa BTS milik PT Tower Bersama Group 
(TBG). Di TBG ini Trenggono memiliki saham hampir 30% persen. Saham ini 
didapatkannya setelah ia menjual PT Solusindo Kreasi Pratama pada TBG 
dua tahun lalu. Awalnya Trenggono hanya mendapatkan 10% persen saham dan
 belakangan bertambah setelah berhasil mendapatkan proyek 10.000 BTS 
yang akan disewakan pada Telkomsel.

Menurut Riad, proyek BTS 
tersebut untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang ditargetkan mencapai 
200 juta. Tower yang dibangun PT TBG ini berada di area terpencil atau 
Blank Spot. Perusahaan plat merah ini akan menyewa setiap tower PT TBG 
yang digunakan senilai Rp 17,5 juta perbulan. Tahap pertama yang sedang 
berjalan sekitar 1.900 tower, 1300 tower di antaranya diserahkan pada PT
 TBG dan sisanya 600 tower diserahkan pada PT Dayamitra Telekomunikasi.

Sebenarnya, proyek ini akan digarap seluruhnya oleh PT Dayamitra 
Telekomunikasi, anak perusahaan Telkom yang bergerak di bidang penyewaan
 BTS. Saat itu Rinaldi masih menjabat sebagai dirut Telkom.

Seiring pergantian direksi, pelaksanaan proyek ini kini dipegang oleh PT
 TBG dan PT Dayamitra. PT TBG tertarik menggarap proyek ini untuk 
mendulang uang dari bursa lewat initial public offering (IPO). “Kabarnya
 TBG pada tahap pertama bisa mendapat dana dari bursa senilai Rp 7 
trilliun. Nah, yang Rp 1 trilliun buat Pak Rambut Putih untuk 
konsolidasi 2014,” ujar Riad. Meski begitu, Hermas Setya Budi, Direktur 
Utama TBG mengaku tak mengetahui adanya proyek 10.000 BTS dari 
Telkomsel. “Kami tidak dapat memberikan informasi mengenai hal ini,” 
ujarnya kepada Garasi 49.

Modus lainnya adalah dengan melakukan
 pemusatan penjualan pulsa pada satu atau dua perusahaan tertentu saja. 
Kabarnya PT Telesindo dan PT Akar Daya yang digadang-gadang sebagai 
perusahaan penjual pulsa Telkomsel. Bahkan ada dugaan pemutusan kontrak 
kerjasama Telkomsel dengan PT Prima Jaya Informatika merupakan upaya 
mengalihkan jatah pulsa PT Prima. Namun PT Prima melawan hingga berujung
 putusan pailit PT Telkomsel dari Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Riad menuding pemusatan penjualan pulsa ini untuk mempermudah mengambil
 setoran ke partai. Bila terlalu banyak perusahaan yang bermain dalam 
penjualan pulsa tentu akan merepotkan pengumpulan upeti. Tapi tentu saja
 pemusatan penjualan pulsa pada satu atau dua perusahaan membuat 
perusahaan pulsa di daerah banyak yang gulung tikar. “Anggota saya di 
Indonesia Timur omzetnya turun drastis dari Rp 8 Milyar tinggal Rp 2 
Milyar per minggu karena diambil jatahnya oleh jaringan Telesindo,” 
ungkap Riad kepada Garasi 49

Ketika dikonfirmasi Presiden 
Direktur Telesindo, Hengky Setiawan mengakui berencana mengembangkan 
jaringan distribusi pulsa secara nasional. Langkahnya dengan 
mengakuisisi perusahaan pulsa lainnya. Namun, dia membantah harus 
menyetor sebagian keuntungan bisnisnya pada oknum Telkom. “Tidak pernah .
 Isu dari mana itu,” katanya dengan nada tinggi, beberapa waktu lalu.

Menurut Riad, proyek lainnya yang menjadi incaran adalah proyek 
pemasangan jaringan dan perawatan infrastruktur. Proyek itu diserahkan 
pada Huawei Indonesia dengan melibatkan Trenggono. Proyek senilai US$ 
500 juta ini diduga sarat rekayasa dalam proses tender. Berhembus kabar,
 melalui Trenggono, perusahaan swasta dari Cina itu telah memberikan 
komisi senilai US$ 5 Juta pada Hatta, tapi isu itu segera ditampiknya. 
Karena Hatta tahu jumlah yang diberikan pada Trenggono jauh lebih besar.

Ketika dikonfirmasi soal isu ini, Yunny Christine, Corporate 
Communication Huawei Indonesia enggan berkomentar. “Kami tidak akan 
memberi tanggapan atas pertanyaannya,” katanya via surat elektronik 
kepada sumber di Garasi 49.

Arief sendiri belum bisa 
dikonfirmasi sampai saat ini. Ketika disambangi di kantornya di PT 
Telkom Jakarta, beberapa waktu lalu, Arif tidak bersedia bertemu. Saat 
rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR mengenai kinerja Telkom, 
Arief pun mangkir.

Ririek Adriansyah, Direktur Complience And 
Risk Management Telkom mengaku tak tahu menahu ihwal tudingan di atas, 
termasuk pertemuan di rumah Hatta Radjasa. Dahi Ririek berkerut dengan 
raut wajah terkejut ketika membantas isu pertemuan tersebut. “Saya tidak
 tahu. Tanyakan saja sama yang cerita,” kata Pjs Dirut Telkom dengan 
nada meninggi. Ketika dikonfirmasi, Hatta juga tak menjawab satu pun 
pertanyaan yang diajukan oleh aktivis Garasi 49 tentang dugaan-dugaan di
 atas.

Menurut sumber Garasi 49, dugaan adanya korupsi tingkat 
tinggi di BUMN paling basah milik Indonesia itu sudah dilaporkan kepada 
KPK pada tanggal 31 Oktober 2012, pukul 14:32. Laporan diterima oleh 
Saudari Reni, staf administrasi KPK. Nomor telpon yang tercantum dalam 
laporan itu atas nama Pak Romo dengan nomer telp: 021-25578300 dan 
sampai saat ini belum ada tanggapan, tindak lanjut atau proses apa-apa 
dari Ketua KPK Saudara Abraham Samad atas laporan dari masyarakat yang 
menamakan Gerakan Rakyat Anti Korupsi 49 yang beralamatkan di Jalan 
Guntur 49 Jakarta tersebut.

Semoga saja KPK tidak melakukan 
pemberantasan korupsi yang tebang pilih, mengingat penegakan hukum atas 
tindak pidanan korupsi yang bersifat tebang pilih justru akan semakin 
menyuburkan korupsi, kongkalikong, patgulipat dan kolusi di Bumi 
Pertiwi. [TIM Islam Times/HJ/MK] 

baca juga :
Ada Apa Dibalik Penjualan Saham 'Sehat' Telkomvision Kepada CT Corps? ==> 
http://chirpstory.com/li/89795

Praktik KKN Kroni Menko Hatta Rajasa Hancurkan PT. Telkom Tbk ? ==> 
http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2013/06/medianusantara-praktik-kkn-kroni-menko.html

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke