Res: Apa komentar Anda mengenai catatan ini?

http://www.hidayatullah.com/read/2013/07/23/5624/%E2%80%9Cgebrakan-baru-islamisasi-ilmu-prof-wan-mohd-nor%E2%80%9D.html

Catatan Akhir Pekan ke-363 
“Gebrakan Baru Islamisasi Ilmu Prof. Wan Mohd Nor”
Selasa, 23 Juli 2013 - 12:57 WIB 
Tujuan islamisasi ilmu adalah melahirkan manusia-manusia yang beradab tinggi, 
dan mampu mengemban amanah khalifatullah dan risalah kenabian 

  
Oleh: Dr. Adian Husaini

JURNAL Pemikiran Islam Islamia (Republika-INSISTS), edisi Kamis (18/07/2013), 
menurunkan sebuah tulisan menarik  berjudul “ISLAMISASI, DEWESTERNISASI DAN 
DEKOLONISASI”, karya Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud. Bagi pecinta dan 
pemerhati khazanah pemikiran Islam kontemporer, nama penulis tersebut tentu 
sudah tidak asing lagi.

Tahun lalu, Prof Wan Mohd Nor meluncurkan buku penting berjudul Rihlah Ilmiah: 
Dari Neomodernisme ke Islamisasi Ilmu Kontemporer. Buku ini menggambarkan 
perjalanan intelektualnya, berguru kepada dua ilmuwan besar di abad ke-20 dan 
ke-21, yaitu Prof. Fazlur Rahman – pelopor gagasan neomodernisme – dan Prof. 
Naquib al-Attas – pelopor gagasan Islamisasi Ilmu kontemporer. Kini, bersama 
sejumlah cendekiawan muslim berkaliber tinggi, ia memimpin sebuah institusi 
pendidikan tinggi pasca sarjana bernama Center for Advanved Studies on Islam, 
Science, and Civilization (CASIS), Universiti Teknologi Malaysia, yang kini 
menjadi salah satu pusat perkaderan intelektual Muslim dari berbagai dunia.

Dalam artikelnya – yang dikutip dari monograp pidato professorialnya --- Prof 
Wan Mohd Nor menekankan pentingnya kaum Muslim memiliki kepedulian serius 
terhadap pengembangan institusi pendidikan tinggi. Sebab, institusi inilah yang 
paling strategis dan arkitektonis menentukan perkembangan suatu bangsa.

Mengutip pendapat sejumlah akademisi terkemuka, seperti Clerk Kerr, disebutkan, 
bangsa-bangsa yang bermaksud meraih pengaruh intenasional seyogyanya mendirikan 
pusat-pusat studi yang unggul (excellent) pada level tertinggi. (Clerk Kerr, 
“The Frantic Rush to Remain Contemporary” Deadalus. Journal of the American 
Academy of Arts and Sciences. Volume 94, No. 4 Fall 1964). 

Philip Coombs, mantan Undersecretary of State  AS semasa pemerintahan John F 
Kennedy, menyatakan, bahwa pendidikan dan budaya adalah “aspek keempat” dari 
politik luar negeri, disamping ekonomi, diplomasi dan aspek militer. Babak 
Perang Dingin telah meningkatkan kepentingan strategis dari Pendidikan Tinggi. 
Kini, persenjataan modern lebih bergantung pada ilmu pengetahuan ilmiah 
dibandingkan dengan hitungan tradisional jumlah tentara dan banyaknya 
perlengkapan militer. (Philip Coombs, The Fourth Dimension of Foreign Policy: 
Education and Cultural Affairs (New York: Harper and Row, 1964).

Pada 6 Juli 2013, saat bertindak sebagai keynote speaker dalam Seminar tentang 
Pendidikan Islam di Jakarta, Prof Wan Mohd Nor juga sudah memberikan penjelasan 
yang sangat mendasar tentang pentingnya para akademisi Muslim memberikan 
perhatian yang serius terhadap Pendidikan Tinggi dan terus berusaha melakukan 
proses islamisasi terhadap ilmu pengetahuan. Itu bukan berarti mengabaikan  
pendidikan tingkat dasar dan menengah.

Tapi, perlu dicatat, bahwa para guru yang mengajar di pendidikan dasar dan 
menengah adalah produk dari pendidikan tinggi. Bukankah Nabi Muhammad saw juga 
sudah mengingatkan, bahwa anak-anak terlahir dalam kondisi fitrahnya. Kedua 
orang tualah yang mengarahkannya menjadi Majusi, Yahudi, atau Nasrani.

Seminar pendidikan Islam itu diselenggarakan oleh Program Pendidikan Islam 
Pasca Sarjana UIKA Bogor, bekerjasama dengan Casis-UTM dan AQL-Islamic Center 
pimpinan KH Bahtiar Nasir. Seminar juga mengambil tema Islamisasi Kurikulum 
Pendidikan Tinggi.

Pemakalah lain adalah Dr. Nirwan Syafrin (pakar pemikiran Islam, wakil rektor 
UIKA Bogor), Dr. Wendi Zarman  (pakar sains Islam, dosen UNIKOM Bandung), dan 
Adnin Armas MA (pakar filsafat Islam, direktur eksekutif INSISTS), Dr. Adian 
Husaini,  dan juga KH Bahtiar Nasir, Sekjen Majlis Intelektual dan Ulama Muda 
Indonesia (MIUMI).

Sebelum seminar di Jakarta tersebut,   pada 26 Juni 2013, Prof Wan  Mohd Nor  
menyampaikan pidato profesorialnya yang bersejarah di UTM, berjudul 
“ISLAMIZATION OF CONTEMPORARY  KNOWLEDGE AND THE ROLE OF THE UNIVERSITY IN THE 
CONTEXT OF DE-WESTERNIZATION AND DECOLONIZATION.”  Pidato ini dihadiri oleh 
lebih dari 550 akademisi dari berbagai negara dan universitas serta 
disebut-sebut sebagai pidato ilmiah yang paling banyak menarik perhatian dalam 
sejarah universitas tersebut.

Dalam pidatonya -- yang sebagiannya dikutip dalam artikel di Jurnal Islamia 
INSISTS-Republika tersebut -- Prof Wan Mohd Nor menggambarkan fenomena global 
munculnya kesadaran kritis terhadap dampak buruk peradaban Barat bagi 
kemanusiaan. Menurutnya, globalisasi Eropa dimulai dengan perjalanan-perjalanan 
“penemuan” pada akhir abad ke 15.

Hal ini diikuti dengan imperialisme, yang dicirikan dengan adanya penaklukan 
dan pengendalian politik secara langsung dari kota-kota besar Eropa. 

Sejak abad ke-17 dan seterusnya, imperialisme ini berhasil terwujud berkat 
kolonisasi – dengan pembentukan komunitas-komunitas imigran di wilayah-wilayah 
penjajahan, meniru kota-kota besar, dan didukung dengan adanya perbudakan dan 
buruh kontrak. Itu menghasilkan kolonisasi — sebuah kondisi yang mengacu pada 
penundukan sistematis bangsa terjajah.

Perkembangan yang saling terkait ini, yang dimungkinkan oleh worldview 
Eropasentris yang menggambarkan perspektif epistemik tertentu, telah 
menimbulkan banyak penderitaan dan kerugian politik, ekonomi, serta sosial 
budaya penduduk asli. Dominasi Barat menjadi lebih intensif – dengan ikut 
berperannya Amerika Serikat pada pertengahan abad ke 20 dalam bentuk 
neokolonialisme – terutama melalui konsep modernisasi dan perkembangan, dan 
kemudian, melalui konsep demokrasi, kebebasan, dan hak asasi manusia.

Dijelaskan, bahwa kolonisasi memainkan peran penting dalam konsepsi dan sifat 
Perguruan Tinggi di semua negara yang baru merdeka. Dalam arti, bahwa meskipun 
banyak diantaranya yang didirikan sebelum kemerdekaan, namun keberadaan mereka 
hingga kini - dan pembentukan Perguruan Tinggi-perguruan tinggi yang baru – 
dibuat untuk melayani kepentingan modernisasi bangsa dan negara baru sesuai 
dengan pola yang "benar" ala Barat. Perkembangan ekonomi dari Negara-negara 
"belum berkembang" ini dipaksa untuk mengikuti dengan ketat semua tahapan 
Rostowian yang memungkinkan modernisasi termasuk penerapan semua lembaga yang 
memungkinkan pencapaian tersebut di Barat, termasuk perguruan tinggi-perguruan 
tingginya.

Kesadaran baru

Tapi, sejak era 1970-an, muncullah kesadaran akan dampak buruk westenisasi dan 
kolonisasi sehingga memunculkan wacana “de-westernisasi” dan dekolonisasi di 
berbagai belahan dunia.  Sejak tahun 1970-an pula, gerakan Ilmu Pengetahuan 
Pribumi (Indigenous Knowledge Movement), terutama di Amerika Utara, yang 
berusaha untuk menawarkan satu sistem alternatif bagi pendidikan dan ilmu 
pengetahuan -- selain yang ditawarkan Eropa --  menerima penghargaan dan 
pengakuan internasional.  Pada 1990-an, gerakan ini telah menghasilkan wacana 
dekolonisasi dan memikirkan kembali pendidikan bagi masyarakat pribumi.

Lebih jauh dipaparkan, bahwa adalah penting bagi warga demokrasi liberal Eropa 
untuk memahami suara-suara alternatif dan bahkan tidak setuju dengan yang lain, 
yang tidak hanya akan memperlambat roda neo-kolonialisme, tetapi yang lebih 
penting, akan membuat orang Barat memahami bagaimana mitos superioritas mereka 
telah merusak diri mereka sendiri.  “Mereka mungkin bisa mulai menangani ekses 
mereka sendiri, mempertanyakan lembaga dan gaya hidup mereka sendiri, sebelum 
memutuskan pada tindakan yang benar bagi orang lain.” (Peter Cox, 
“Globalization of What?”, hal. 6.)

Di tengah-tengah gencarnya isu terorisme Islam, Martin Jacques, dalam bukunya, 
When China Rules the World, justru mengungkapkan, bahwa tantangan yang lebih 
besar terhadap  peradaban Barat pasca Perang Dingin, bukanlah terorisme Islam, 
tetapi suatu era yang disebutnya sebagai "Era modernitas yang diperdebatkan".  
Di antara banyak isu-isu kunci, Jacques berpendapat bahwa ide-ide yang 
berkaitan dengan makna kemajuan, pengembangan, dan peradaban tidak akan lagi 
identik dengan Barat.

Seorang pakar Cina kontemporer terkemuka, Huang Ping, dengan percaya diri 
menekankan perbedaan mendasar antara peradaban Cina dan Barat dan seseorang 
akan berpendapat bahwa, "Praktek Cina sendiri mampu menghasilkan alternatif 
konsep, teori, dan framework yang lebih meyakinkan.”

Ulrich Beck, seorang sosiolog di University of Munich dan London School of 
Economics, dalam sebuah wawancara belum lama ini, berbicara tentang bagaimana 
kesuksesan besar Modernitas Eropa pertama dari abad ke-18 hingga tahun 1960-an 
dan 1970-an kini telah menghasilkan konsekuensi yang tak terjawab, seperti 
perubahan iklim dan krisis keuangan. Dia menambahkan, "Krisis keuangan adalah 
contoh kemenangan interpretasi spesifik dari modernitas: modernitas neo-liberal 
setelah keruntuhan sistem komunis, yang menyatakan bahwa pasar adalah solusi 
dan semakin kita meningkatkan peran pasar , semakin baik. Tapi sekarang kita 
melihat bahwa model ini jatuh dan kita tidak memiliki jawaban." Menurutnya,  " 
...modernitas Eropa adalah proyek bunuh diri ... Menciptakan modernitas kembali 
bisa menjadi tujuan khusus untuk Eropa.”

Demikianlah paparan tentang munculnya berbagai gerakan dewesternisasi dan 
dekolonisasi dari Prof. Wan Mohd Nor.  Paparan ini menyadarkan, bahwa munculnya 
usaha-usaha dewesternisasi dan dekolonisasi di belahan dunia – termasuk di 
Negara Barat sendiri – semakin memperkuat logika keabsahan adanya proses 
islamisasi dalam bidang keilmuan.

Banyak ilmuwan Muslim yang telah menulis tentang dampak buruk konsep keilmuan 
sekuler Barat terhadap kemanusiaan. Tetapi, sebuah langkah berdasar pada konsep 
yang sistematis dan mendasar telah dipelopori oleh Prof. Syed Muhammad Naquib 
al-Attas, yang sejak lama mengingatkan bahwa problem utama umat Islam adalah 
“problem ilmu pengetahuan” (the problem of knowledge).

Dalam berbagai karyanya, yang dimulai di awal 1970-an, Prof. Naquib al-Attas 
menjelaskan dasar-dasar perbedaan ontologis, epistemologis, etika dan budaya 
antara Islam dan Barat sekuler yang dominan. Al-Attas pun telah meluncurkan 
wacana serius tentang dewesternisasi dan dekolonisasi melalui proyek 
intelektual islamisasi pengetahuan kontemporer, yang berpusat di universitas. 
Menurut al-Attas, islamisasi adalah: “usaha untuk membebaskan manusia 
pertama-tamanya dari tradisi magis, mitos, animistik, kultur nasional, lalu 
membebaskan dari jeratan sekular yang membelenggu akal dan bahasanya. Orang 
Islam adalah orang yang akal dan bahasanya tidak lagi dikontrol oleh magis, 
mitos, animisme dan tradisi nasionalisme dan kulturalnya. Inilah perbedaan 
antara Islam dan sekularisme.”

Menurut Prof. Wan Mohd Nor, tujuan akhir dari dewesternisasi, dekolonisasi, dan 
Islamisasi pengetahuan dan pendidikan kontemporer harus benar-benar difokuskan 
pada pembentukan manusia yang tepat yang akan melakukan berbagai peran dalam 
masyarakat. Proyek dekolonisasi, de-westernisasi, dan Islamisasi bukan sekedar 
reaksi untuk kondisi eksternal yang tidak islami belaka, tetapi yang lebih 
penting, dan mendasar, adalah kembali kepada tujuan dan sifat asli manusia yang 
membawa manusia ke tujuan penerimaan dan penyebaran pengetahuan dan makna serta 
tujuan pendidikan, yakni terbentuknya manusia yang baik, manusia yang beradab.

Penjelasan pakar pendidikan Islam internasional ini sangat penting untuk kita 
renungkan dalam rangka mengevaluasi dan terus memperkuat gerakaaan Islamisasi 
ilmu dan juga lembaga-lembaga pendidikan.  Seperti ditegaskan Prof Wan Mohd 
Nor, di saat westernisasi dan kolonisasi dalam berbagai bentuknya masih 
berpengaruh dalam konteks globalisasi saat ini, upaya sejumlah ilmuwan Muslim 
untuk melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer,  bukan hanya usaha 
yang sah untuk mempertahankan identitas agama dan budaya mereka, tetapi juga 
usaha untuk menawarkan alternatif  yang lebih baik dari modernitas Barat, yang 
telah menunjukkan defisit yang serius pada level global.

Fakta menunjukkan, defisit modernitas Barat itu telah melintasi batas-batas 
agama, budaya, dan batas-batas negara, sehingga banyak ilmuwan non-muslim dan 
pembuat kebijakan di berbagai tempat menyampaikan hujjah tentang perlunya 
melakukan usaha de-westernisasi, dekolonialisasi, dan pribumisasi dari 
framework ilmu pengetahuan. De-westernisasi dan Islamisasi ilmu kontemporer – 
dalam keterkaitannya dengan konsep universitas Islam dan adab – adalah salah 
satu dari usaha-usaha ini. Bahkan, dibandingkan dengan gerakan sejenis, 
islamisasi ilmu kontemporer, lebih bersifat spiritual, komprehensif, universal 
dan lebih kuat pengaruhnya.

Penegasan Prof. Wan Mohd Nor tentang nilai strategis gerakan Islamisasi ilmu 
ini bisa kita jadikan sebagai bahan evaluasi proses gerakan islamisasi ilmu 
yang telah dan sedang diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam, mulai 
tingkat dasar sampai perguruan tinggi.  Kita perlu menekankan dan mengingat 
terus, bahwa hakekat dan tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencetak manusia 
yang baik, seperti ditegaskan oleh Prof. Naquib al-Attas dalam bukunya, Islam 
and Secularism: “The purpose for seeking knowledge in Islam is to inculcate 
goodness or justice in man as man and individual self. The aim of education in 
Islam is therefore to produce a good man… the fundamental element inherent in 
the Islamic concept of education is the inculcation of adab…” 

Manusia diciptakan Allah dalam kondisi dan potensi yang berbeda-beda satu 
dengan lainnya. Dalam kaitan inilah, kita perlu memahami dan 
mengimplementasikan konsep keunikan manusia, sebagaimana disabdakan oleh Nabi 
Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam: “Manusia itu adalah barang tambang, 
laksana emas dan perak. Orang-orang terbaik  diantara mereka di masa Jahiliyah 
adalah orang-orang terbaik juga di masa Islam, apabila mereka faqih fid-ddin.” 
(Muttafaq 'alaih).

Manusia-manusia yang ingin kita hasilkan dari lembaga pendidikan kita adalah 
manusia yang baik, manusia yang bermanfaat untuk manusia. Godaan syahwat 
materialisme dan hedonisme telah banyak menggoda lembaga pendidikan untuk 
terjun ke pusaran pragmatisme di bidang pendidikan, khususnya di perguruan 
tinggi. Kekeliruan dan ketidaktahuan konsep ilmu dalam Islam telah menjerat 
banyak potensi-potensi unggul kaum Muslim ke pusaran pragmatisme, tanpa sadar 
melupakan amanah keilmuan dan keulamaan yang wajib diemban oleh ummat 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam. 

Kita melihat, kini, tak sedikit sarjana-sarjana pintar yang terjebak dalam 
rutinitas pekerjaan, tanpa terpikir lagi untuk meningkatkan keilmuan fardhu ain 
dan fardhu kifayahnya. Tidak sedikit yang kemudian terjebak ke dalam kubangan 
kehidupan materialisme, dengan melupakan tujuan hidup dan kewajibannya sebagai 
umat pengemban dakwah Islam, mewujudkan misi rahmatan lil-alamin.

Itulah perlunya islamisasi ilmu, yang tujuan finalnya adalah untuk melahirkan 
manusia-manusia yang beradab tinggi, manusia yang mampu mengemban amanah 
khalifatullah dan amanah risalah kenabian. Apa yang dipaparkan oleh Prof Wan 
Mohd Nor kita jadikan sebagai bahan nutrisi tambahan untuk meningkatkan stamina 
kita dalam melakukan proses islamisasi yang tiada kenal henti. Sebab, tantangan 
intenal dan eksternal pun terus menghadang.  Wallahu a’lam bish-shawab.*/Doha, 
Qatar, 14 Ramadhan 1434 H/23 Juli 2013

Catatan Akhir Pekan [CAP] hasil kerjasama antara Radio Dakta 107FM dan 
www.hidayatullah.com

Rep: 
Anonymous 
Editor: Cholis Akbar 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke