Terlepas dari apa pendirian politik setiap orang, di sini kita bisa melihat
atau menilai siapa yang jantan dan siapa yang bukan. Yang satu bisanya cuma
main pecat sebagaimana telah menjadi kebiasaannyat bila kena kritik keras
tanpa bisa atau mampu bela diri. Tapi yang lain dengan tegas menyatakan apa
yang dia rasakan dan mengatakannya dengan berani dan berterus terang. Demokrasi
memang selalu menguji setiap orang pakah dia emas atau loyang.
ASAAHAN
----- Original Message -----
From: Chan CT
To: Arnold ; wahana-news
Sent: Thursday, September 12, 2013 4:32 PM
Subject: [wahana-news] Re: Chan mohon delete email saya dari Gelora
[GELORA45] Fw: Film 40 Years of Silence
Ooouh, ... rupanya bung Arnold sedang berkabung di saat hari 11 September,
... biar bung bisa meneruskan sisa hidup lebih tenang, permintaan mendelete
email bung dari GELORA45 telah saya jalankan!
Salam,
ChanCT
From: Arnold
Sent: Thursday, September 12, 2013 4:00 PM
To: Chan CT ; wahana-news
Subject: Chan mohon delete email saya dari Gelora [GELORA45] Fw: Film 40
Years of Silence
Dear my Communist Fascist Chan, dan pendukung berat serangan teroris
diseluruh dunia, dengan ini pada hari September 11, saya mohon delete emai dan
membership saya dari milis Fasis anda.
Selamat berhasil dengan penyebaran ideologi Komunis Fasis anda.
//AL
----------------------------------------------------------------------------
From: Chan CT <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]
Sent: Tuesday, September 10, 2013 12:19 AM
Subject: Re: PERINGATAN Untuk Arnold [GELORA45] Fw: Film 40 Years of Silence
PERINGATAN
Hendaknya Bung Arnold TIDAK lagi main tuduh orang lain, khususnya saya
menjalankan budaya fasis, ... tanpa membuktikan dengan fakta, data yang akurat.
Itu namanya bung sedang bikin onar di GELORA45, sekali lagi bung lakukan
sikap demikian, tanpa ragu-ragu suara bung di GELORA45 juga akan saya CABUT,
...!
Terimakasih saya ucapkan atas perhatian yang diberikan dan menerima
“PERINGATAN” dengan merubah sikap untuk berbaik-baiklah berbicara mengajukan
masalah, ...
Salam,
ChanCT
From: Arnold
Sent: Tuesday, September 10, 2013 2:43 AM
To: [email protected] ; wahana-news
Subject: Untuk Chan [GELORA45] Fw: Film 40 Years of Silence
Dear Chan yang ingin membawa milis Gelora dengan kebudayaan fasis,
pembredelan dan pembungkaman suara seperti dalam zaman Orba terhadap
pemberitaan media yang Chan sendiri kecam, dan milis Gelora telah Chan ciptakan
sedemikian rupa
Chan sendiri sebagai korban pembungkaman dalam masalah PKI, terlihat
lakukan hal yang sama dalam milis Gelora terhadap berita pelakuan terhadap
religious persekusi yang dilakukan oleh Islamist sebagai Ideologi. Saya
mengerti bahwa Chan seorang Anti Christ/Atheist sehingga membungkam suara
korban ratusan juta yang percaya Tuhan memenuhi rasa kebencian dalam Chan
terhadap pemilik agama Kristen.
FYI "Islamist diseluruh dunia dan Chan bersetubuh untuk bungkam bersama"
dan menggunakan TAKTIK LAMA yang sama yaitu menuduh setiap pembawa berita
artikel persekusi agama dan serangan aksi teror yang dilakukan atas nama Islam
sebagai pembenci dan anti Islam.
Sekarang bahkan Muslim moderate berikan laporan bahwa taktik yang Chan
gunakan justru yang membawa Islam kedalam kehancuran yang lebih dalam, karena
pelaku Jihad gunakan moral support yang Chan khusus berikan untuk melakukan
aksi teror atas nama Islam hampir setiap 5 menit/setiap hari/365 diseluruh
dunia.
Chan beruntung sebagai PKI bahwa pembantaian G30SPKI berhenti dan hanya
berlaku sekali ditahun itu dgn korban maksimal 3 juta.
Karena pembantaian PKI tidak terjadi 5 menit lalu, banyak ahli yang menulis
bahwa korban pembantain umat Kristen diseluruh dunia dimana saat ini Chan
dukung secara moral dengan pembungkaman suara dan fitnah, telah merengut nyawa
sekitar 100- 200 juta korban vs 3 juta PKI..
Dengan email ini bila Chan akan tetap lakukan pembungkaman suara korban
persekusi agama, dan mendukung aksi teror diseluruh dunia, saya mohon secara
publik untuk hapuskan email saya dari milis Gelora.
//AL
--------------------------------------------------------------------------
From: Chan CT <[email protected]>
To: GELORA_In <[email protected]>
Sent: Sunday, September 8, 2013 7:40 PM
Subject: [GELORA45] Fw: Film 40 Years of Silence [1 Attachment]
From: ExLibris 1965
Sent: Monday, September 9, 2013 10:21 AM
To: undisclosed-recipients:
Subject: Film 40 Years of Silence
Pembaca yang budiman,
Hari Kamis 5 September yl. di Ruang Pleno Komnas HAM, Jl. Latuharhari 4b
Jakarta Pusat telah ditayangkan Film "40 Years of Silence";
Bagi yang berminat melihatnya, kami kirim tautan videonya:
https://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=DLKC2WarNzM
http://www.40yearsofsilence.com/
Sinopsis kami lampirkan.
Pengelola ExLibris 1965
Sinopsis:
Film ini berkisah tentang empat keluarga Indonesia yang menjadi korban
tragedi 1965 - 1966.
Keluarga Lanny di Jawa Tengah, keluarga Budi di Yogyakarta, Degung dan
Kereta di Bali.
Alex, ayah Lanny adalah seorang tokoh Baperki. Penangkapan dan kematian
Alex telah mengubah kehidupan Lanny sekeluarga. Ibu Lanny mendidik anak-anaknya
dengan keras.
Lanny ditolak masuk Fak Kedokteran UGM karena Ibunya tidak memiliki cukup
uang sejumlah yang diminta UGM.
Budi mengalami trauma dan dendam akan apa yang dialami Kris, kakaknya.
yang menerima stigma sebagai anak PKI. Budi seperti hidup di dua dunia, hitam
dan putih, dendan dan bersabar. "40 Years of Silence" mengikuti perkembangan
kejiwaan Budi selama beberapa.
Orang tua Degung adalah tokoh penting pendukung Soekarno. Mereka menjadi
korban tragedi tersebut pada saat Degung masih berumur lima tahun. Degung kecil
juga menyaksikan pembunuhan seorang Mantrinya yang baik hati.
Degung dibesarkan oleh pekerja seks komersial. Saat ini Degung masuk
dalam dunia intelektual dan kebudayaan.
Kereta menyaksikan pembunuhan-pembunuhan terhadap orangtua dan
keluarganya. Kereta mengalami trauma yang berat. Saat ini Kereta hidup dengan
roh-roh yang merasuki dirinya.
Rob Lemelson memberikan diagnosa Posttraumatic Stress Disorder (PTSD)
terhadap keempat keluarga tersebut. Peristiwa politik memberikan peran terbesar
dalam trauma jutaan orang Indonesia. Tiga Sejarawan, Romo Baskara T Wardaya,
John Roosa dan Geoffrey Robinson, menerangkan temuan-temuan dalam penelitian
mereka mengenai tragedy tersebut. Bahwa pembunuhan massal itu diorganisasikan
dan berkaitan erat dengan politik nasional dan internasional masa perang dingin.
Soekarno mengambil jalan nonblok, dan itu artinya dianggap pro komunis
oleh Amerika Serikat. Amerika Serikat kemudian mendukung Angkatan Darat untuk
menghancurkan kekuatan Soekarno. Pembunuhan massal th 1965/1966 belum dikenal
luas di Indonesia. Diperkirakan 500,000 sampai satu juta orang telah dibunuh
pada pertengahan oktober 1965 sampai April 1966. Ratusan ribu lainnya ditahan
dan dikirim ke kamp selama bertahun-tahun, tanpa proses pengadilan. Puluhan
ribu meninggal di dalam kamp-kamp penahanan. Peristiwa ini adalah salah satu
kejahatan kemanusiaan yang belum terungkap di Indonesia.