Golongan fanatik Islam anti Komunis menganggapKomunisme sebagai musuh bebuyutan 
sama seperti kaum Imperialis menghadapi Komunisme sebagai musuh abadi mereka. 
Tapi ketika Komunisme sedang dikalahkan, kaum Imperialis menganggap Islam 
sebagai musuh mereka meskipun di abad sekarang pernyataan musuh abadi itu tidak 
terang-terangan diumumkan dan bahkan Obama sendiri mengaku Islam bukan musuh 
mereka dan bila perlu bersekutu dengan mereka demi maksud-maksud dan keuntungan 
yang lebih besar yang itu membuat kaum Islam terpecah belah, saling bunuh dan 
tidak bisa bersatu.
Perjuangan golongan Islam fanatik anti Komunis serta golongan Islam reaksioner 
lainnya di Indonesia tidak mungkin mencapai kemenangan tanpa bekerja sama 
dengan Komunis. Golongan Islam anti Komunis tidak bisa mengalahkan kaum 
penguasa pemindas dan penghisap sabagai musuh Tuhan mereka tanpa bekerja sama 
dengan Komunis dan itu adalah kenyataan sejarah Indonesia. Golongan Islam hanya 
bisa menunaikan agama mereka dengan wajar dan tenang(dan juga agama-agama lain) 
bila berjuang bersama Komunisme dan memenangkan perjuangan. Fanatisme yang 
menyalahi Islam serta terorisme tidak bisa ditolerir oleh Komunisme. Golongan 
Islam fanatik anti Komunis tidak akan pernah bisa membasmi komunisme di 
Indonesia betapapun kejamnya mereka karena mereka akan selalu minoritas dalam 
golongan Islam terbesar di Indonnesia. Komunisme tidak dendam terhadap Islam 
dan selalu bersedia berjuang bersama dan bekerja sama dalam menggulingkan kaum 
penindas dan penghisap.Tapi di segi lain orang-orang komunis bukanlah 
orang-orang yang bersedia meyerahkan kepalanya begitu saja kepada teroris dan 
fanatikus Islam  reaksioner.Orang Komunis juga manusia  dan sebagai manusia 
selalu akan membela diri dari serangan musuh dari luar maupun dalam.
Revolusi  di Mesir maupun di berbagai negeri Arab lainnya punya satu persamaan 
diantara banyak perbedaan lainnya: Dua pihak yang bertentangan yang berebut 
kuasa ingin mendirikan negara Islam. Manusia di dunia moderen sekarang ini 
sudah tidak bisa menerima Negara Islam baru, pihak Islam manapun yang ingin 
mendirikannya. Mengapa? Karena Islam fanatik dan konservatif hanya akan 
melahirkan pertumpahan darah sepanjang masa, permusuhan di antara ummat mereka 
dan mengerem kemajuan. Kita tahu Islam dan Komunisme tidak bisa dibasmi oleh 
siapapun. Tapi yang hanya bisa diterima ummat manusia saja yang akan  tetap 
ujud sepanjang jaman. Militerisme itu tidak beragama, tidak berideologi dan 
tidak berpolitik. Militerisme hanya bertuhan pada kekuasaan, pemaksaan dan 
kekayaan pribadi para perwiranya.
ASAHAN.


  ----- Original Message ----- 
  From: heri latief 
  To: [email protected] ; gelora 
  Cc: [email protected] ; ChanCT 
  Sent: Wednesday, October 16, 2013 10:57 PM
  Subject: Re: Mursi, PKI, dan Sejarah yang Berulang Oleh Ahmad Rizky 
Mardhatillah Umar


  awalnya udah membingungkan, "menyamakan" situasi politik di mesir dan 
indonesia sangatlah berbeda. mursi itu dari kelompok agama seperti pks di 
indonesia, sedangkan pki bukan partai yg berdsarkan agama. marxistme itu bukan 
agama.


  analisisnya masih mentah. jangan memanipulasi situasi politik demi 
kepentingan pks.


  salam, hl 

  http://herilatief.wordpress.com/
  http://akarrumputliar.wordpress.com/
  http://sastrapembebasan.wordpress.com/
  @herilatief





------------------------------------------------------------------------------
  From: "[email protected]" <[email protected]>
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, October 16, 2013 5:46 PM
  Subject: #sastra-pembebasan# Mursi, PKI, dan Sejarah yang Berulang Oleh Ahmad 
Rizky Mardhatillah Umar



    
  Mursi, PKI, dan Sejarah yang Berulang

  oleh: Ahmad Rizky Mardhatillah Umar
  Diunggah IndoPROGRESS pada 28 Agustus 2013 dalam Analisa Politik, 
Internasional

  Ahmad Rizky Mardhatillah Umar, Alumnus FISIPOL UGM dan Pegiat Forum KAMMI 
Kultural

  DALAM Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte, Karl Marx menulis, ‘Sejarah 
selalu berulang pada dirinya sendiri, ‘pertama sebagai tragedi, kemudian 
menjadi lelucon’ (history repeats itself, ‘the first as tragedy, then as 
farce.’) Sepertinya, taushiyah Marx ini menjadi sangat relevan ketika kita 
memelototi stasiun televisi dan posting teman-teman di media sosial yang 
memberitakan tragedi kemanusiaan di Timur Tengah sana.

  Kudeta 1965

  Di tahun 1965, Partai Komunis Indonesia (PKI) sedang berada dalam kondisinya 
yang paling prima. Ia ‘dekat’ dengan lingkar inti kekuasaan Bung Karno –yang 
memerlukan PKI sebagai legitimasi kekuasaannya— memiliki basis-basis buruh dan 
tani yang loyal, serta tidak memiliki pesaing politik yang setara setelah PSI 
dan Masyumi, dibubarkan oleh Soekarno atas desakan TNI angkatan darat. 
Satu-satunya pesaing politik PKI terkuat hanyalah TNI-AD

  Namun, sebuah kejadian yang berlangsung cepat di malam 30 September 1965 
membuat keadaan berubah 360 derajat. Tidak saja bagi PKI, tapi bagi bangsa ini 
secara keseluruhan.

  PKI dituding melakukan upaya ‘pengambilalihan kekuasaan secara tidak sah’ 
dengan menculik para Jenderal Angkatan Darat. Isu ‘Dewan Jenderal’ dihembuskan. 
PKI memang sedang bersitegang dengan militer dalam berbagai isu. Keesokan 
harinya, TNI-AD mengambil-alih beberapa fasilitas publik dan mulai menyatakan 
‘perang’ terhadap PKI dan organisasi underbouw-nya.

  Hari-hari itu, setelah PKI dituduh sebagai ‘dalang’ dari percobaan 
pengambilalihan kekuasaan dan pembunuhan para jenderal, mulailah dilakukan 
operasi ‘pembersihan’ besar-besaran terhadap semua elemen yang diduga PKI atau 
tersangkut PKI. Setelah Jenderal Soeharto secara resmi mengambil alih kekuasaan 
pada 11 Maret 1966, bandul politik yang dulunya dikuasai oleh Soekarno, partai 
merah, dan loyalis Sukarno, berubah arah. Militer menajamkan dominasinya dan, 
sesegera mungkin, mulai melakukan proses pembersihan terhadap kekuatan paling 
berbahaya di Indobnesia waktu itu: PKI. Ratusan ribu – bahkan tiga juta jiwa 
menurut taksiran jenderal Sarwo Edi Wibowo, mertua presiden Susilo Bambang 
Yudhoyo, mati berkalang tanah akibat operasi tumpas kelor itu. Ribuan orang 
lainnya dipenjarakan dan dipekerja paksakan di Pulau Buru oleh rezim Orde Baru.

  Aidit, sang pemimpin partai, ditembak mati. Yang lain dibuang ke Buru, 
Plantungan, dan beberapa daerah buangan lainnya. Selama lebih tiga dekade, 
mereka tak dianggap sebagai warga negara yang punya hak, hanya karena satu 
label: PKI.

  Memahami G30S mungkin tidak semudah memahami Mesir dari kacamata Indonesia. 
Ada banyak sekali fragmen informasi yang tertutup dan tercerai-berai. Semua hal 
yang berbau Marxisme, Leninisme, atau anasir-anasir kiri, diberantas. 
Dokumen-dokumen semacam itu di perpustakaan kampus Universitas Gadjah Mada 
(UGM), menurut keterangan beberapa dosen ‘saksi sejarah,’ dibakar dan tak ada 
lagi di kampus. Dari proses pembersihan inilah, sebuah ‘tatanan dunia baru’ 
(New Order) segera dicanangkan di Indonesia. Tatanan yang bertahan selama 
kurang lebih 32 tahun dan ambruk di tahun 1998.

  Sejarah yang berulang

  Sekelumit sejarah Indonesia ini memang kelam sekali jika dingat-ingat. Namun, 
persis seperti kata Marx dulu, apa yang sebenarnya terjadi di Indonesia 32 
tahun silam itu kini berulang, dengan bentuk dan ‘orang’ yang berbeda, di Mesir.

  Setelah satu tahun dipimpin oleh Mohammad Mursi, tokoh Ikhwanul Muslimin yang 
memenangi pemilu paling demokratis pertama di Mesir tahun 2012, Mesir terus 
dihantui oleh berbagai gejolak. Lanskap politik Mesir ketika Mursi menang 
Pemilu hampir sama dengan kondisi Indonesia sebelum tahun 1965: terbagi oleh 
banyak sekali kubu-kubu politik. Selain IM, kelompok ‘Islamis’ terbagi atas 2 
kekuatan besar lain di parlemen: Salafi dan Jama’ah Islamiyah. Belum lagi kaum 
‘Islamis Moderat’ di partai Wasat, Islah wa Nahdha, dan Masry Qawy, yang 
dulunya adalah aktivis-aktivis Ikhwan sebelum dikeluarkan oleh tanzhim Ikhwan 
(Wasat berdiri tahun 1996).

  Tak ketinggalan, tentu saja, kelompok Nasseris yang dipimpin Hamdeen Sabbahi, 
fraksi liberal Mohammad El-Baradei, gerakan-gerakan kiri, aktivis Pemuda 
(Gerakan 6 April, Ahrar, RYC, dll), Wafd, hingga orang-orang lama dari 
pemerintah Mubarak. Lebih dari 33 kekuatan politik bertarung dalam lanskap 
politik Mesir.

  Tapi kita jangan melupakan satu kekuatan lain: militer. Mereka bukanlah 
orang-orang yang cuma mengawasi perbatasan dan melakukan latihan untuk 
berperang. Di saat-saat tertentu, militer bisa menjadi kekuatan politik yang 
sangat kuat.

  Ketika Mursi naik tahta di tahun 2012, ia mendapati masih kuatnya 
bayang-bayang militer di pemerintah Mesir. SCAF, Dewan Tinggi Militer, punya 
jaring-jaring yang diwarisi sejak Mubarak dulu. Tentu saja Mursi tak ingin 
pemerintahannya digembosi dari dalam; ia mencoba untuk bernegosiasi dengan para 
tentara. Itulah sebabnya hubungan Mursi dan militer seringkali tegang (walau 
ada kalanya bermesraan). Ia menggunakan kekuasaan presidensialnya untuk 
mengganti orang-orang lama di pemerintahan. Mursi memensiunkan dini beberapa 
jenderal dan menempatkan orang-orang baru di sekelilingnya.

  Salah satu ‘orang baru’ yang ditempatkan Mursi itu ialah Abdul Fattah 
as-Siisi, yang menggantikan Husein Thantawi sebagai Menteri Pertahanan. Tapi 
Mursi lupa bahwa siapapun orang yang ada di dalamnya, militer tetaplah militer. 
Kesetiaan mereka bukanlah pada rezim sipil, sedemokratis apapun rezim itu, 
melainkan pada pimpinan yang memberikan mereka doktrin-doktrin tertentu.

  Militer Mesir tak bisa dilepaskan dari satu ideologi politik yang sudah 
berurat berakar sejak Republik dibangun: Nasserism. Setelah Jenderal Najib dan 
Nasser menggulingkan kekuasaan raja Faruk (Ikhwanul Muslimin ikut 
berpartisipasi dalam penggulingan itu), militer segera menempati ruang yang 
sangat istimewa dalam kancah politik Mesir. Apalagi, setelah Nasser menulis The 
Philosophy of Revolution dan mencanangkan pertubuhan ‘revolusi’ dan militer’; 
bahwa revolusi 1952 yang dicapai dengan susah payah harus dijaga oleh militer 
sebagai ‘penjaga gawang revolusi.’

  Kendati Nasser meninggal dan Sadat, penggantinya, melakukan perubahan 
signifikan, doktrin ini tetap terjaga. Hal yang sama sebenarnya juga terjadi di 
Indonesia tahun 40an awal. Sejak awal republik ini didirikan, militer sudah 
mengklaim bahwa merekalah yang berjasa telah memberikan kemerdekaan republik 
ini. Posisi mereka serupa dengan Nasserism: menempatkan militer sebagai 
kekuatan politik yang tak terduga: sewaktu-waktu bisa mengambil kekuasaan.

  Hal inilah yang terjadi di Indonesia tahun 1965 dan Mesir Juli, 2013 kemarin. 
Ketika para politisi sipil gagal membangun konsensus gara-gara perebutan 
kekuasaan yang berkepanjangan, militer punya alasan legal-politik untuk ambil 
langkah. Di Indonesia, pemindahan kekuasaan secara berdarah dari Sukarno ke 
Soeharto berlangsung sukses. Di Mesir, Abdul Fattah as-Sisi segera mengambil 
tindakan ‘strategis’ dengan mengumumkan penggantian presiden dan penangkapan 
tokoh-tokoh Ikhwan.

  Hasilnya bisa diduga: aktivis-aktivis Ikhwan protes keras. Dan protes mereka 
segera disambut oleh popor senjata dari tentara. Terbunuhlah lebih dari 200 
orang di Medinat Nasr (kota yang dinamai dari pendiri Republik Mesir, Nasser).

  Sadarkah anda, bahwa apa yang terjadi di Mesir sampai saat ini, pada titik 
tertentu, merupakan perulangan dari kejadian tahun 1965 dulu? Bedanya cuma: 
peristiwa 1965 menempatkan orang-orang Komunis sebagai korban, sementara Mesir 
2013, menempatkan orang-orang Ikhwan sebagai korban.

  Kini, kita seperti melihat orang-orang PKI yang dibantai pada tahun 1965 lalu 
di Rab’ah al-Adawiyah, Mesir. Militer, tanpa kenal ampun seperti masa lalu, 
menembaki dan menangkapi mereka yang berlabel Ikhwan. Kabarnya, ribuan jiwa 
menjadi korban. Dan Ikhwan kini nasibnya hampir sama seperti PKI: menjadi 
organisasi terlarang.

  Tak penting melihat apakah mereka yang jadi korban itu adalah Ikhwan, Salafi, 
Komunis, atau orang-orang lain. Toh itu cuma label. Yang jadi pertanyaan, atas 
dasar apa mereka dibunuh? Bukankah mereka juga manusia?

  Pelajaran

  ‘Adakah bedanya,’ tanya Judith Butler dalam bukunya, The Precarious Life, 
‘nyawa para tentara yang meninggal di Perang Dunia Pertama, dengan ratusan ribu 
muslim yang meninggal dalam serangan Amerika Serikat di Timur Tengah?’

  Bagi kita yang berada di Indonesia, pertanyaan ini perlu direnungkan. 
Terkadang mudah sekali bagi kita untuk men-judge bahwa kekerasan itu sah; tanpa 
menyadari bahwa kekerasan itu adalah ‘sejarah yang berulang’ dan bisa saja 
pernah dialami oleh orang yag dekat dengan kita.

  Semoga para aktivis yang berdemonstrasi dan bersolidaritas untuk Mesir, atau 
para proponen liberalisme yang sering berkomentar di layar televisi, juga bisa 
mengambil pelajaran. Jika anda menertawakan atau bersikap nyinyir kepada 
perlawanan massa –baik di Indonesia atau Mesir— maka anda perlu introspeksi: 
jangan-jangan itu adalah sejarah yang berulang di waktu dan tempat yang berbeda.

  Saya lalu jadi ingat kalimat Pramoedya Ananta Toer yang terkenal itu: mari 
bersikap adil sejak dalam pikiran.***

  Sumber: http://indoprogress.com/mursi-pki-dan-sejarah-yang-berulang/
  


Kirim email ke