http://www.antaranews.com/berita/400857/dua-lagi-t-50i-golden-eagle-tiba-di-tanah-air

Dua lagi T-50i Golden Eagle tiba di Tanah Air
Kamis, 17 Oktober 2013 17:44 WIB | 3004 Views

Oleh Ade P Marboen


 
Jakarta (ANTARA News) - Dua lagi pesawat tempur advanced trainer jet/lead-in 
fighter trainer T-50i Golden Eagle menjejakkan rodanya di Tanah Air, mendarat 
sempurna di landas pacu Pangkalan Udara Utama TNI AU Iswahyudi, Jawa Timur, 
Kamis siang.

Seperti empat unit sebelumnya, kedua Elang Emas berkelir aerobatic scheme biru 
dengan garisan kuning menyala itu diterbangkan langsung secara ferry dari 
pabrikannya, Korea Aerospace Industries, di Sacheon, Korea Selatan, sejak 
beberapa hari lalu. Dengan begitu, sudah enam T-50i Golden Eagle tiba di 
Indonesia.

Dengan aerobatic schemen itu, maka T-50i Golden Eagle bermesin tunggal General 
Electric GE F404 buatan Amerika Serikat itu, akan menjadi tim aerobatik TNI AU 
bersama Tim Jupiter yang memakai pesawat latih KT-1B Wong Bee dari Skuadron 
Udara 102.

Enam T-50i Golden Eagle hasil kerja sama KAI dengan Lockheed Martin, Amerika 
Serikat, pesanan Indonesia berikut yang akan diterbangkan dari Korea Selatan 
nanti akan dilaburi kelir kamuflase (camouflage scheme) loreng tropis; sepintas 
akan mirip sekali dengan tampilan luar F-16 Fighting Falcon dari Skuadron Udara 
3, yang juga berpangkalan di Iswahyudi.

Kali ini dua T-50i Golden Eagle diterbangkan secara ferry oleh penerbang Korea 
Aerospace Industries, yaitu Kwon Huiman, Lee Dongkyo, Khang Cheol, Shin 
Donghak, dengan rute Sacheon/Korea 
Selatan–Kaohsiung/Taiwan–Cebu/Filipina-Sepinggan/Balikpapan–Pangkalan Udara 
Utama TNI AU Iswahjudi, Magetan, Jawa Timur. 

Ketibaan batch ketiga Elang Emas ini juga dilakukan penerbang uji dari 
pabrikannya, dan nomor registrasi yang akan disandang di tubuhnya kode TT-50xx. 
TT bermakna tempur taktis.

Indonesia memesan 16 unit T-50i Golden Eagle baru dengan sumbangan besar 
teknologi Lockheed Martin, dari Korea Selatan, sejalan penandatanganan kontrak 
pembelian pada 2011 lalu.

"Sesuai rencana, setiap dua minggu sekali Korean Aerospace Industries, akan 
mengirimkan dua unit T-50i Golden Eagle, untuk menggenapi pesanan Indonesia 
yang secara total berjumlah 16 unit," kata Kepala Penerangan dan Kepustakaan 
Pangkalan Udara Utama TNI AU Iswahyudi, Mayor Khusus Wahyudi.

Kedatangan kedua unit T-50i Golden Eagle terbaru itu disambut Komandan Skadron 
Udara 15 dari Wing 3 pangkalan udara itu, Letnan Kolonel Penerbang Wastum, dan 
segenap pejabat Pangkalan Udara Utama TNI AU Iswahyudi, di apron utama Skadron 
Udara 15.

T-50i Golden Eagle didedikasikan akan menggantikan 10 Hawk Mk-53 buatan Inggris 
di Skuadron Udara 15, yang telah berdinas sejak sekitar 30 tahun lalu. Untuk 
dapat mengoperasikan T-50i Golden Eagle itu, TNI AU mengirimkan penerbang dari 
Skuadron Udara 15 dan teknisinya dalam beberapa gelombang ke Sacheon.

Indonesia operator perdana T-50i Golden Eagle di luar Korea Selatan; setelah 
pesawat tempur ringan multi-role itu "menang" atas empat rivalnya, yaitu L-159 
buatan Ceko, Yakovlev Yak-130 Mitten buatan Rusia, M-346 buatan Aermacchi 
(Italia), dan Guizhou JL-9 Shanying alias FTC-2000 (China). 
Editor: Suryanto

COPYRIGHT © 2013



http://www.antaranews.com/berita/400512/t50i-golden-eagle-menuju-world-class-air-force

T50i Golden Eagle menuju "World Class Air Force"
Selasa, 15 Oktober 2013 19:31 WIB | 9541 Views

Oleh Ade P. Marboen

 
Pesawat T-50i Golden Eagle disambut semprotan air setibanya di Pangkalan Udara 
Utama TNI AU Iswahjudi, Magetan, Jawa Timur, Rabu (11/9). Dua unit pesawat yang 
datang pada gelombang pertama itu merupakan bagian dari 16 unit pesawat latih 
tempur T-50i Golden Eagle buatan Korean Aerospace Industries pesanan 
Kementerian Pertahanan. (ANTARA FOTO/Siswowidodo)

  ... Pesawat ini yang kita beli, sangat bertenaga... " 

 
Jakarta (ANTARA News) - 11 September lalu, dua T-50i Golden Eagle menjejakkan 
roda-roda pendaratnya di Pangkalan Udara TNI AU Balikpapan, sebagai bagian 
penerbangan ferry-nya dari manufakturnya di Korea Aerospace Industries, 
Sacheon, Korea Selatan, menuju Indonesia.

Itu pendaratan pertama Golden Eagle itu, dua pesawat lagi mendarat pada 26 
September 2013 di Pangkalan Udara Utama Iswahyudi, "rumah" barunya. 

Bagi TNI AU, kehadiran Golden Eagle itu memiliki arti khusus karena akan 
mendekatkan cita-cita dan visi mereka pada predikat World Class Air Force, 
sejalan peta jalan pertahanan Indonesia melalui TNI yang menetapkan pada 2014 
sudah berada pada status kekuatan minimum esensial arsenalnya.


Golden Eagle yang dibeli baru sebanyak 16 unit itu akan menggantikan peran 
seniornya, Hawk Mk-53 buatan Inggris, yang berdinas sejak 1970-an di Skuadron 
Udara 15 Pangkalan Udara Utama Iswahyudi, Jawa Timur.

Semula, ada lima kandidat yang dilirik Kementerian Pertahanan sesuai keperluan 
spesifikasi dari pengguna, TNI AU.

Mereka semua ada di kelas dan spesifikasi kurang lebih sama, yaitu di kelas 
advanced training jets/lead-in fighter trainer; T-50i Golden Eagle, Yakovlev 
Yak-130 Mitten, Aermacchi M-346, L-159 buatan Ceko, dan Guizhou JL-9 Shanying 
alias FTC-2000. 

Dengan L-159, TNI AU pernah punya pengalaman pemakaian, yaitu pada seniornya, 
L-29 Dolphin saat pabrikannya masih bernaung dalam Republik Cekoslovakia.

Yak-130 Mitten dan M-346 memiliki penampilan identik hanya beda mesin, beberapa 
feature avionika/sistem penjejak musuh-peluru kendali, dan kelengkapan sistem 
pendukung saja; Mitten dengan basis Rusia-nya, dan M-346 dengan pilihan sistem 
pendukung lebih luas dari Barat.

Satu yang baru adalah Guizhou JL-9 Shanying alias FTC-2000, yang jujur saja, 
belum teruji di manapun di dunia ini kecuali di negeri asalnya, China. Bicara 
tentang China, negeri ini sangat ambisius mengembangkan industri penerbangan 
sipil dan militernya, dan sangat gencar berpromosi. 

Beberapa persyaratan yang diinginkan pengguna adalah advanced jet trainer yang 
baru harus mampu mengantarkan pilot-pilot tempur TNI AU mengawaki 
pesawat-pesawat tempur baru secara lebih mudah dan canggih.

Skuadron Udara 3 memiliki F-16 Fighting Falcon Blok 15/25, Skuadron Udara 11 
menjadi rumah bagi Sukhoi Su-27 Flankers (Su-27SKM dan Su-30Mk2) yang jumlahnya 
genap 16 unit plus sistem kesenjataannya. 

Mencetak pilot-pilot tempur untuk mengawaki semua pesawat tempur itu jelas 
bukan urusan mudah dan cepat. Belum lagi jika nanti 24 unit F-16 Fighting 
Falcon Blok 32+ eks Angkatan Udara Pengawal Pantai Amerika Serikat tiba, yang 
akan ditempatkan di Skuadron Udara 16. 

Sebagai negara pertama pemakai T-50i Golden Eagle di luar Angkatan Udara Korea 
Selatan, TNI AU akan menempatkan Elang-elang Emas ini bukan cuma sebagai 
pesawat latih semata. Designasi di ekor tegaknya diberi huruf dan angka TT5001 
dan seterusnya, pertanda dia adalah pesawat tempur taktis.

Belajar dari peristiwa Bawean pada 3 Juli 2003 --sebagai misal-- saat F-16 TNI 
AU "dikunci" pesawat tempur asing di wilayah udara kedaulatan sendiri jelas 
bukan hal menyenangkan untuk dialami pilot tempur TNI AU; dan Golden Eagle 
diharapkan bisa memberi pelajaran lebih nyata tentang itu. 

Dari luar, tampilan samping dan tampak atas/bawah T-50i Golden Eagle ini sangat 
mirip dengan F-16 Fighting Falcon; yang lumrah mengingat KAI mengembangkan 
Elang-elang Emas ini dengan terobosan bekerja sama dengan pabrikan barunya, 
Lockheed Martin dari Amerika Serikat. Dalam hal rekayasa rancangan, kerja sama 
ini sangat menguntungkan KAI. 

Dari Lockheed Martin, Elang-elang Emas ini disuplai sistem penginderaan musuh 
radar AN/PG-67(v)4 dan mesin jet tunggal General Electric GE F404, yang cukup 
mampu menerbangkan dia pada kecepatan 1,5 Mach sangat mudah dalam keadaan full 
gear pada bobot maksimal 27.322 pound menuju ketinggian maksimal 55.000 kaki 
dari permukaan laut. 

Juga dikenal (para edisi awal 1992), Elang-elang Emas para generasi terkini 
--yang dibeli Indonesia-- ini juga ditanami radar aktif (AESA/active 
electronically scanned array radar) Israeli EL/M-2032 pulse-Doppler.

Data pabrikan KAI menyatakan, radar ini 66 persen lebih besar dan memiliki 
sistem tautan data lebih canggih ketimbang radar semula yang dipasang di TA-50.

Radar AESA EL/M-2032 sejak awal diunggulkan ketimbang AN/APG-67(V)4 and SELEX 
Vixen 500E AESA radar, yang dipilih Lockheed Martin. Pilihan lain adalah 
Raytheon Advanced Combat Radar dan Northrop Grumman's Scalable Agile Beam 
Radar, bagi produksi-produki mendatang. 

Yang unik, sistem data yang dibangun pada piranti dan sistem radar ini 
memungkinkan T-50i Angkatan Udara Korea Selatan dan F-16 Fighting Falcon 
Angkatan Udara Amerika Serikat saling berkomunikasi.

Bicara hal unik ini, jelas telah memasuki ranah politis mengingat Korea Selatan 
sekutu dekat Amerika Serikat sebagaimana Jepang di Asia Timur. 

Di Tanah Air, Elang-elang Emas ini akan diutilisasi semaksimal mungkin, 
layaknya dinyatakan Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, pengirimannya 
selesai sepenuhnya pada 2014.

"Pesawat ini yang kita beli, sangat bertenaga," kata dia, saat menerima 
delegasi KAI di Jakarta, September 2011.

Berbagai misi akan bisa diemban Elang Emas, mulai dari melatih pilot muda dan 
profisiensi lain, patroli udara, tim aerobatik (sesuai warna biru-aksen kuning 
enam Golden Eagle pertama yang hadir), hingga pertahanan udara. 

Omong-omong, rasio antara jumlah pesawat terbang dan pilot pengawaknya lazim 
dipahami satu banding dua atau tiga; dengan begitu maka paling tidak 32 (kalau 
bukan 48) pilot Elang Emas harus bisa dicetak pada 2014 nanti.
Editor: Priyambodo RH

Kirim email ke