SBY Bergelimang Tipu Mundurlah! (1) 

by Iwan piliang | 25 December 2012 

SBY saya maksudkan, Soesilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik 
Indonesia, terpilih dua kali, menang pemilihan presiden mayoritas 
mutlak. Kekuasaannya tinggal dua tahun lagi. Mengacu ke judul, tak ada 
maksud menuding. Sejatinya tajuk ini saya angkat dari fakta, baik saya 
temui sendiri maupun dari memverifikasi kalimat, pernyataan, tabiat laku-lakon 
diperbuat.

Di saat awal mendirikan Partai Demokrat, SBY telah mengawalinya dengan 
laku memanfaatkan sarana negara. Tepatnya kantor Menteri Kordinator 
Politik Hukum dan Keamanan untuk mengadakan rapat-rapat pembentukan 
partai. Setidaknya saya mendengar cerita langsung dari Max Sopacua, 
mangkal sebagai wartawan TVRI di sana, kini salah satu Ketua DPP Partai 
Demokrat. Ia acap menyelinap di usai jam kantor membicarakan pendirian 
Partai Demokrat di fasilitas negara itu. Hal ini juga pernah diceritakan
 Kurdi Mustofa, salah satu Deputi di Menkopolhukam kala itu, kini Ketua 
Persaudaran Haji Indonesia.

Di ranah manapun segala sesuatu 
dimulai dengan memanfaatkan segala sesuatu tidak pada porsinya 
mengalirkan ketidak-baikan. Tidak maslahat. Ini sabda alam saja adanya.

Dalam perkembangan perjalan politik SBY, sebutlah di saat kampanye 
presiden. Di depan Komisi Etik Komisi Pemberantasan Korupsi, dari 
obrolan ringan dengan mantan salah satu Ketua KPK, saya mendapatkan 
konfirmasi bahwa: KPK pernah menanyakan sumber-sumber dana kampanye SBY.
 Untuk beberapa sumber dana besar, SBY selalu menyebut, “Tulis saja dari
 Hamba Allah.” Giliran dicecar lagi, “Tulis dari Hamba Allah Satu, Dua 
dan seterusnya.”

Bila puncak kekusaan negara demikian, apatah pula di bawahnya?

Di perkembangan saya di medio hingga penghujung tahun ini terlibat 
menyusun buku panduan pengawasan Pemilu dengan Badan Pengawasan Pemilu 
(Bawaslu) untuk Organisasi Masyarakat dan Jurnalis, juga ikut 
mensosialisasikan ke-4 kota; maka saya pun menemui fakta, bahwa pada 
2009 lalu, Bawaslu pernah melaporkan sumber dana kampanye SBY lumayan 
besar melebihi ketentuan Undang-Undang di Bank BTPN. Apa lacur? Bawaslu 
melaporkan ke polisi, pihak kepolisan kala itu jangankan memproses, 
menerima saja tidak. Apakah karena polisi langsung berada di bawah 
presiden? Bisa jadi 2009 jabatan kedua SBY.

Jauh sebelumnya, di
 masa awal menjagokan diri menjadi Presiden, SBY pernah meminta ke 
rakyat, berilah dia kesempatan menjadi presiden sekali saja. Ia pun 
menyebut nama Tuhan, demi Tuhan hanya untuk sekali saja. Kenyataannya 
Tuhan pun sudah ditipu SBY. Dan kepada rakyat banyak ia katakan  tidak 
akan berdekat-dekat dengan konglomerat hitam, nyatanya kini bukan dekat 
lagi tetapi lengket.

Bila diteruskan kalimat ini, mengalirkan 
panjang tipu-tipu. Pada kasus korupsi Nazaruddin, di mana saya sempat 
melakukan Skype ketika dia melarikan diri, yang dianggap publik 
fenomenon itu. SBY ke publik mengaku tidak paham apa terjadi. Tumpahan 
kesahalan seakan SBY tujukan ke pengurus partai. Padahal secara faktual,
 kasus uang suap, dan uang dolar dalam amplop ditemukan di Kongres 
Partai Demokrat di Bandung yang memenangkan Anas Urbaningrum sebagai 
Ketua Umum, nyata diketahui oleh SBY. Atas pengetahuannya itu, maka SBY 
menyusun kabinat Partai Demokrat dengan cara-cara akomodatif. Dan 
indikasi uang yang mengalir ke Kongres Partai Demopkrat itu, sudah 
terang benderang berasal antara lain dari proyek Hambalang, sebagai mana
 sudah berkali-kali dituturkan Nazaruddin.

Mencloknya dua orang
 mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), Anas Urbaningrum dan 
belakangan Andi Nurpati ke Partai Demokrat, memperkuat dugaan permainan 
teknologi informasi KPU. Indikasi penggelembungan angka kemenangan SBY, 
seakan bukan basa-basi, ditambah fakta adanya peristiwa lampu mati di 
saat perhitungan suara di Hotel Borobudur, angka-angka kemenangan 
kemudian signifikan. Perihal ini sempat hendak diangkat mantan ketua KPK
 Antasari Azhar, tetapi ia bernasib diprodeo.

Century, juga 
sebuah kebijakan yang dihindari diakuai diketahui oleh SBY. Beragam 
fakta mengungkap termasuk dokumen yang dimiliki Misbakhun, mengatakan 
SBY sangat tahu akan kebijakan pengambilan langkah bailout ini. Dan 
karena langkah mengingkari kebenaran itu, sosok ibu-ibu seperti Kirana, 
yang hanya staf biasa  menupang kehidupan keluarganya, karena suami 
sakit, membesarkan anak dari menjadi karyawan di Century., kini harus 
mendekam 10 tahun penjara. Begitulah kememimpinan SBY terhadap kaum ibu.

Saya pun secara tak sengaja pernah bertanya dua hari sebelum mantan 
Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa mengundurkan diri. Pertanyaan 
saya padanya: berapa kali selama menjadi menteri diajak rapat empat mata
 oleh SBY? Di luar dugan saya sama sekali: Suharso menjawab tidak pernah
 sekalipun ada rapat kordinasi empat mata bersama presiden. Yang ada 
hanya rapat-rapat kabinet formal di istana negara.

Sebagai mana
 sebuah opini, kolom yang normal ditulis 500 kata, hingga alinea ini 
sudah 677 kata. Dan panjang lagi bisa dituliskan akan laku “tipu-tipu” 
SBY sebagai pribadi terlebih sebagai presiden. Ia acap mengatakan tidak 
mencampuri urusan hukum. mendukung pemberantasan korupsi, dengan paparan
 di atas apakah ia bisa menggigit?

Dalam perjalanan saya 
sebagai citizen journalist, kebetulan Persatuan Pewarta Warga Indonesia 
(PPWI), menjalin kerjasama pelatihan menulis dengan Puspen TNI, di mana 
saya menjadi salah satu pengajar. Dari dialog informal dengan perwira 
menengah di TNI, dapat informasi di era kinilah intelijen TNI berada di 
titik terlemah. Sebagai penglima tertinggi TNI, saya menduga hal ini 
bukan tidak diketahui SBY, tetapi bisa saja disengaja. SBY memberi porsi
 lebih ke polisi.

Memberi lebih porsi ke polisi itu, dapat 
dilihat dari kerjasama Densus 88 dengan Amerika Serikat. Program dan 
anggaran yang overlap dengan Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT), dan 
SBY seakan membiarkan indikasi korupsi tinggi di sana. Lebih dari itu, 
dari 700 mereka dianggap teroris, setidaknya sepertiga saya ragukan 
keterorisannya. Mengapa saya berani mengatakan demikian, saya memiliki 
sumber yang kredibel di dalam BNPT sendiri. Kalau sudah begini, suatu 
saat akan menjadi api dalam sekam bagaimana indikasi laku SBY sebagai 
pemimpin melanggar HAM berat.

Entah pola apa yang iya terapkan 
dalam kepemimpinannya, SBY tidak berpikir bagi meningkatnya 
kesejahteraan rakyat. Ia cenderung hanya berpikir untuk ke atas dan di 
atas. Ia konsen ke ekonomi makro dan kredit consumer, bermain aman dari 
berbagai Pendapatan Asli Daerah (PAD) dominan dari pajak kendaraan 
bermotor, ekenomi riil melempem. Pola komunikasi Opini Kontra Opini 
(OKO) terus ia kembangkan, untuk mebangun citra personalnya baik.

Barulah di era kepemimpinan SBY, saya mendengar negara ini mengimpor 
Singkong. Sehingga di media sosial saya katakan SBY sejatinya sudah 
dilaknat pohon singkong se Indonesia.

Tulisan ini akan 
bersambung ke bagian dua. Namun sebagai penutup saya sebagai pribadi, 
Narliswandi Piliang, ingin mengetuk lubuk hati SBY paling dalam, agar 
mundur saja sebagai presiden. Sehingga beragam niat baik dan program 
kebaikan untuk bangsa ini dapat berjalan, tidak tersandera, 
pemberantasan korupsi utamanya.

SBY Bergelimang Tipu Mundurlah (2)

Bagian pertama tulisan ini, telah mendapatkan tanggapan meriah di media
 sosial. Bambang Walujo Wahab, di twitter mengatakan secara terbuka, ia 
bisa menambahkan lebih banyak lagi urusan tipu itu. Beberapa kawan 
lantas memintanya menuliskan, tapi hingga bagian dua ini saya tulis 
belum terlihat jua.

Mohammad Hasin Adi, di Kompasiana, 
menyarankan melakukan konperensi pers terhadap premis saya tulis. Ia 
katakan, “Siapa tahu Bapak Iwan bisa jadi pahlawan. Dan mudah-mudahan 
tidak jadi pecundang. â€Bagi saya menulis bukan untuk menjadi pahlawan. 
Bukan pula untuk mencetak uang. Tetapi saya konsisten taat kaedah kepada
 ilmu yang diajarkan dosen  saya di fakultas komunikasi. Komunikasi 
menyampaikan pesan, landasannya akal, budi, hati nurani. Kalau 
keberpihakannya, Bill Kovach dan Tom Rosentiel di buku  The Element of 
Journalism secara nyata dan jernih menuliskan: hanya kebenaran untuk 
warga, lain tidak.

Ada juga tentu pembelaan kepada SBY. “SBY 
dan Boediono mempermudah perinjinan impor alat tanam padi saya yang di 
persulit oleh birokrat kementrian perdagangan. Maka di mata saya beliau 
berdua adalah pemimpin yg baik dan hanya dirusak wibawanya oleh birokrat
 busuk, DPR busuk dan LSM busuk, semoga kalian semua terbakar di neraka 
karena mempersulit dan membohongi rakyat kecil, merongrong kekuasaan dan
 wibawa pemerintah yang sah terpilih oleh rakyat,†tulis Cucun Wijaya, 
masih di Kompasiana.

Begitulah dinamika di media sosial. Setiap
 orang dapat merespon secara interaktif setiap info kita tuliskan. Poin 
utama saya selalu, perihal ini akan meningkatkan mutu peradaban jika 
semua pihak terlibat di proses tanggap menanggap, tulis menulis, 
identitasnya jelas, batang hidungnya nyata, sehingga komentar miring pun
 dapat dipertanggung-jawabkan.

Sebagaimana saya menulis, 
tentulah tidak asal njeplak. Semua saya paparkan berangkat dari sumber 
kredibel, verifikasi fakta di media, serta proses perjalanan menjadi 
jurnalis warga, bisa dibilang tidak singkat dengan volume tulisan dapat 
di-trace.

Dari semua dinamika itu, setelah dua hari tulisan 
bagian pertama saya upload, saya menyimak di RCTI bahwa Abraham Samad, 
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, menyampaikan bahwa 
Boediono, sebagai Wapres, sudah bisa dilengserkan DPR, karena status 
kasus bail out Bank Century sudah ditingkatkan penyidikannya oleh KPK. 
Menjadi pertanyaan saya mengapa Samad mendorong DPR, bukankah wewenang 
KPK acap dikatakan super body? Begitu KPK menetapkan Boediono tersangka,
 maka seketika itu juga ia harus lengser. Dari kenyataan ini saya 
melihat tarik ulur, karena secara nyata memelorotkan kekuasaan SBY yang 
di tulisan 1 memang bergelimang tipu.

Melanjutkan bagian dua 
ini, ingin saya ingatkan Anda. Ihwal kampanye presiden SBY di televisi 
pada 2009 lalu. Anda tentu mafhum jingle Indomie. Di antara liriknya, 
“Dari Sabang sampai Merauke Indomie seleraku.†Lirik asli itu telah 
dipelesetkan ujungnya menjadi ,â€SBY pilihanku.â€

Sejak jingle 
pelesetan itu keluar saya tak pernah menyimak ada badan independen atau 
semacam Komisi Penyiaran menegur langkah itu. Semua seakan diam seribu 
basa. Bila tak keliru saya seakan bernyanyi sendiri di media sosial 
mengatakan bahwa Indomie telah melakukan pelanggran etika nyata. 
Mengapa? Karena sebuah iklan produk, mulai dari biaya produksinya, 
pembelian slot iklan media, semuanya mereka bebankan ke total cost 
produksi produk. Itu artinya konsumen ikut memikul biaya. Sebuah jingle 
lalu dikenal, dibiayai semua rakyat sebagai pembeli itu produk.

Eh dengan semena-mena produk itu mengalihkan jingle top of mind itu 
untuk kepentingan seseorang menjadi presiden. Saya sangat percaya di 
2009 itu pastilah tidak semua pemakan Indomie pendukung SBY. Namun 
khalayak semuanya seakan sudah dikooptasi menyanyikan SBY pilihanku.

Di lain sisi perilaku kelompok usaha Salim di era silam melakukan 
monopoli impor gandum. Kini walaupun dipecah-pecah unit usahanya, tetap 
saja masih dalam satu atap usaha. Kapitalisasi dari “revolusi†pangan
 warga ke mie instan telah membuat Indomie menjadi bagian utama 
pemasukan Salim Grup. Setidaknya hingga Oktober di tahun ini saja untung
 Indofood sudah mencapai Rp 14 triliun. Dengan kapitalisasi tambun, 
kelompok usaha ini memang bisa saja menjadikan seseorang presiden RI, 
apalagi pola politik kini segala-gala harus fulus mulus.

Kembali ke SBY, dukungan seharusnya ia tolak, seperti pelesetan jingle 
Indomie tidak ber-etik itu, dia nikmati saja. Bahkan dari informasi tim 
komunikasi SBY kala 2009, SBY menikmati betul. SBY anggap sebagai 
kampanye signifikan memenangkannya.

Bisa Anda bayangkan sensitifitas seorang kepala negara pilihan demikian?

Maka tidaklah salah bila kemudian sebagai presiden SBY melakukan banyak
 hal kontradiktif. Sebutlah contoh ia secara terang-gamblang mengkritik 
keras Foke, Mantan Gubernur DKI di forum rapat resmi gubernur, terbuka 
ke media. Tetapi ia pula kemudian menjagokan Foke kembali menjadi 
gubernur DKI.

Beberapa kali dalam pidatonya SBY mengkritik 
ortang yang tertidur mendengar pidatonya. Bahkan kanak-kanak tertidur 
pun tak lepas dari tegurannya. SBY telah menghinakan jabatan presiden 
secara langusung, dengan mengkritik kanak-kanak tertidur mendengar 
pidatonya, tanpa peduli ia harus instropeksi diri, kepada siapa ia 
berpidato, di mana, untuk apa, premis apa  pas?

Maka dalam 
fakta dan kenyataan demikian, SBY pun menjadi linglung. Ia memberikan 
saja grasi bagi tindak kejahatan besar di bidang narkoba. Ia memberi dua
 grasi atas kejahatan narkoba di tahun ini.

Bila sudah 
demikian; sudah tak tahu di mana ia berpidato sehingga anak kecilpun 
harus dikritik dan tak paham narkoba adalah kejahatan amat besar, dan 
bangsa serta negara ini kini sudah menjadi pasar nerkoba terbesar: SBY 
memang linglung.  Saya tak tahu kata apa yang harus ditujukan kepadanya
 selain: mundur!

Tulisan ini akan belanjut ke bagian tiga, 
ihwal indikasi perannya di dalam monopoli pengadaan BBM di unit usaha 
Pertamina, Petral, bersama Hatta Rajasa. Sementara, ini saya naikkan 
dulu. Esok sebelum tutup tahun saya publish bagian tiga.

Iwan Piliang , Citizen Reporter

Kirim email ke