PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 
2013 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG 
MAHKAMAH KONSTITUSI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang:
a. bahwa berdasarkan Pasal 24C ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik 
Indonesia Tahun 1945, hakim konstitusi harus memiliki integritas dan 
kepribadian yang tidak tercela, adil, dan negarawan yang menguasai konstitusi 
dan ketatanegaraan, serta tidak merangkap jabatan sebagai pejabat negara;

b. bahwa untuk menyelamatkan demokrasi dan negara hukum Indonesia, serta untuk 
mengembalikan kepercayaan publik terhadap Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga 
negara yang menjalankan fungsi menegakkan Undang-Undang Dasar, akibat adanya 
kemerosotan integritas dan kepribadian yang tercela dari hakim konstitusi, 
perlu dilakukan perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang 
Mahkamah Konstitusi.

c. bahwa untuk mengatasi keadaan sebagaimana dimaksud dalam huruf b, perlu 
dilakukan perubahan terhadap ketentuan mengenai syarat dan pengajuan hakim 
konstitusi serta pembentukan majelis kehormatan hakim konstitusi;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, 
dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- undang 
tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah 
Konstitusi;

Mengingat:

1. Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran 
Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara 
Republik Indonesia Nomor 4316) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang 
Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 
tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 
Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5226);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan:

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS 
UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI.

Pasal I

Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah 
Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98, Tambahan 
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316), sebagaimana telah diubah dengan 
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 24 
Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia 
Tahun 2011 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5226), 
diubah sebagai berikut:

1. Ketentuan Pasal 1 angka 4 diubah dan ditambah 1 (satu) angka, yakni angka 5, 
sehingga Pasal 1 berbunyi sebagai berikut: Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah 
Pengganti Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:

1. Mahkamah Konstitusi adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman sebagaimana 
dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

2. Dewan Perwakilan Rakyat yang selanjutnya disingkat DPR adalah Dewan 
Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara 
Republik Indonesia Tahun 1945.

3. Permohonan adalah permintaan yang diajukan secara tertulis kepada Mahkamah 
Konstitusi mengenai:

a. pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik 
Indonesia Tahun 1945;

b. sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang- 
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

c. pembubaran partai politik;

d. perselisihan tentang hasil pemilihan umum; atau

e. pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga telah melakukan 
pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, 
tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela, dan/atau tidak lagi 
memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden sebagaimana dimaksud 
dalam Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

4. Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi adalah perangkat yang dibentuk oleh 
Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial untuk menjaga kehormatan dan perilaku 
hakim konstitusi.

5. Panel Ahli adalah perangkat yang dibentuk oleh Komisi Yudisial untuk menguji 
kelayakan dan kepatutan calon hakim konstitusi yang diusulkan oleh Mahkamah 
Agung, DPR, dan Presiden.

2. Ketentuan Pasal 15 ayat (2) huruf b dan huruf h diubah dan ditambah 1 (satu) 
huruf, yakni huruf i serta ayat (3) ditambah 1 (satu) huruf, yakni huruf f, 
sehingga Pasal 15 berbunyi sebagai berikut:

Pasal 15

(1) Hakim konstitusi harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela;
b. adil; dan
c. negarawan yang menguasai konstitusi dan ketatanegaraan.

(2) Untuk dapat diangkat menjadi hakim konstitusi, selain harus memenuhi 
syaratsebagaimana dimaksud pada ayat (1), seorang calon hakim konstitusi harus 
memenuhi syarat:
a. warga negara Indonesia;
b. berijazah doktor dengan dasar sarjana yang berlatar belakang pendidikan 
tinggi hukum;
c. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia;
d. berusia paling rendah 47 (empat puluh tujuh) tahun dan paling tinggi 65 
(enam puluh lima) tahun pada saat pengangkatan;
e. mampu secara jasmani dan rohani dalam menjalankan tugas dan kewajiban;
f. tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang 
telah memperoleh kekuatan hukum tetap;
g. tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan;
h. mempunyai pengalaman kerja di bidang hukum paling sedikit 15 (lima belas) 
tahun;
dan
i. tidak menjadi anggota partai politik dalam jangka waktu paling singkat 7 
(tujuh) tahun sebelum diajukan sebagai calon hakim konstitusi.

(3) Selain persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) calon 
hakim konstitusi juga harus memenuhi kelengkapan administrasi dengan 
menyerahkan:

a. surat pernyataan kesediaan untuk menjadi hakim konstitusi;
b. daftar riwayat hidup;
c. menyerahkan fotokopi ijazah yang telah dilegalisasi dengan menunjukkan 
ijazah asli;
d. laporan daftar harta kekayaan serta sumber penghasilan calon yang disertai 
dengan dokumen pendukung yang sah dan telah mendapat pengesahan dari lembaga 
yang berwenang; dan
e. nomor pokok wajib pajak (NPWP); dan
f. surat pernyataan tidak menjadi anggota partai politik.

3. Di antara Pasal 18 dan Pasal 19 disisipkan 3 (tiga) pasal, yakni Pasal 18A, 
Pasal 18B, dan Pasal 18C, sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 18A

(1) Hakim konstitusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) sebelum 
ditetapkan Presiden, terlebih dahulu harus melalui uji kelayakan dan kepatutan 
yang dilaksanakan oleh Panel Ahli.

(2) Mahkamah Agung, DPR, dan/atau Presiden mengajukan calon hakim konstitusi 
kepada Panel Ahli masing-masing paling banyak 3 (tiga) kali dari jumlah hakim 
konstitusi yang dibutuhkan untuk dilakukan uji kelayakan dan kepatutan.

(3) Panel Ahli menyampaikan calon hakim konstitusi yang dinyatakan lolos uji 
kelayakan dan kepatutan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan jumlah 
hakim konstitusi yang dibutuhkan ditambah 1 (satu) orang kepada Mahkamah Agung, 
DPR, dan/atau Presiden.

(4) Dalam hal calon hakim konstitusi yang dinyatakan lolos uji kelayakan dan 
kepatutan kurang dari jumlah hakim konstitusi yang dibutuhkan, Mahkamah Agung, 
DPR, dan/atau Presiden mengajukan kembali calon hakim konstitusi lainnya paling 
banyak 3 (tiga) kali dari jumlah hakim konstitusi yang masih dibutuhkan.

(5) Dalam hal calon hakim konstitusi yang dinyatakan lolos uji kelayakan dan 
kepatutan sama dengan jumlah hakim konstitusi yang dibutuhkan, Mahkamah Agung, 
DPR, dan/ atau Presiden dapat langsung mengajukannya kepada Presiden untuk 
ditetapkan, atau mengajukan tambahan paling banyak 3 (tiga) calon hakim 
konstitusi lainnya untuk diuji kelayakan dan kepatutan oleh Panel Ahli.

(6) Mahkamah Agung, DPR, dan/atau Presiden memilih hakim konstitusi sesuai 
jumlah yang dibutuhkan dari nama yang dinyatakan lolos uji kelayakan dan 
kepatutan oleh Panel Ahli, dan mengajukannya kepada Presiden untuk ditetapkan.

Pasal 18B

Panel Ahli menyelesaikan tugasnya dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan 
setelah dibentuk oleh Komisi Yudisial.

Pasal 18C

(1) Panel Ahli sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18A ayat (1) berjumlah 7 
(tujuh) orang.
(2) Panel Ahli terdiri atas:

a. 1 (satu) orang diusulkan oleh Mahkamah Agung;
b. 1 (satu) orang diusulkan oleh DPR;
c. 1 (satu) orang diusulkan oleh Presiden; dan
d. 4 (empat) orang dipilih oleh Komisi Yudisial berdasarkan usulan masyarakat 
yang terdiri atas mantan hakim konstitusi, tokoh masyarakat, akademisi di 
bidang hukum, dan praktisi hukum.

(3) Panel Ahli harus memenuhi syarat sebagai berikut:

a. memiliki reputasi dan rekam jejak yang tidak tercela;
b. memiliki kredibilitas dan integritas;
c. menguasai ilmu hukum dan memahami Undang-Undang Dasar Negara Republik 
Indonesia Tahun 1945;
d. berpendidikan paling rendah magister;
e. berusia paling rendah 50 (lima puluh) tahun; dan
f. tidak menjadi anggota partai politik dalam jangka waktu paling singkat 5 
(lima) tahun sebelum Panel Ahli dibentuk.

(4) Anggota Panel Ahli dilarang mencalonkan diri sebagai calon hakim 
konstitusi.(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemilihan Panel Ahli 
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d diatur dengan Peraturan Komisi 
Yudisial.

4. Ketentuan Pasal 20 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 20

(1) Ketentuan mengenai tata cara seleksi, pemilihan, dan pengajuan calon hakim 
konstitusi diatur oleh masing-masing lembaga yang berwenang sebagaimana 
dimaksud dalam Pasal 18A.

(2) Ketentuan mengenai tata cara uji kelayakan dan kepatutan yang dilaksanakan 
oleh Panel Ahli sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18A ayat (1) diatur oleh 
Komisi Yudisial.

(3) Seleksi, pemilihan, dan pengajuan hakim konstitusi sebagaimana dimaksud 
pada ayat (1) dilaksanakan secara obyektif dan akuntabel.

5. Ketentuan Pasal 26 ayat (3) diubah, ayat (4) dan ayat (5) dihapus, sehingga 
Pasal 26 berbunyi sebagai berikut:

Pasal 26 (1) Mahkamah Konstitusi memberitahukan kepada lembaga yang berwenang 
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) mengenai hakim konstitusi yang 
akan diberhentikan dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sebelum:

a. memasuki usia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf c; atau
b. berakhir masa jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf d.

(2) Dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak Mahkamah 
Konstitusi menerima Keputusan Presiden sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat 
(4), Mahkamah Konstitusi memberitahukan kepada lembaga yang berwenang 
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) mengenai hakim konstitusi yang 
diberhentikan berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat 
(1) huruf a, huruf b, huruf e, atau ayat (2).

(3) Lembaga yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) 
mengajukan pengganti hakim konstitusi kepada Presiden sesuai dengan tata cara 
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18A.
(4) Dihapus.
(5) Dihapus.

6. Judul Bab IVA diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

BAB IVA KODE ETIK DAN PEDOMAN PERILAKU HAKIM KONSTITUSI SERTA MAJELIS 
KEHORMATAN HAKIM KONSTITUSI

7. Ketentuan Pasal 27A diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 27A

(1) Mahkamah Konstitusi bersama-sama dengan Komisi Yudisial menyusun dan 
menetapkan Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim Konstitusi yang berisi norma 
yang harus dipatuhi oleh setiap hakim konstitusi dalam menjalankan tugasnya 
untuk menjaga kehormatan dan perilaku hakim konstitusi.

(2) Dalam menyusun Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim Konstitusi sebagaimana 
dimaksud pada ayat (1), Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial dapat 
mengikutsertakan pihak lain yang berkompeten.

(3) Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersifat mengikat serta wajib 
dipatuhi oleh hakim konstitusi.

(4) Untuk menegakkan Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim Konstitusi 
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Mahkamah Konstitusi bersama-sama dengan 
Komisi Yudisial membentuk Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi yang bersifat 
tetap.

(5) Keanggotaan Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi sebagaimana dimaksud pada 
ayat (4) berjumlah 5 (lima) orang yang terdiri atas unsur:

a. 1 (satu) orang mantan hakim konstitusi;
b. 1 (satu) orang praktisi hukum;
c. 2 (dua) orang akademisi yang salah satu atau keduanya berlatar belakang di 
bidang hukum; dan
d. 1 (satu) orang tokoh masyarakat.

(6) Anggota Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi sebagaimana dimaksud pada ayat 
(5) harus memenuhi syarat sebagai berikut:

a. memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela;
b. adil;
c. berusia paling rendah 50 (lima puluh) tahun; dan
d. tidak menjadi anggota partai politik dalam jangka waktu paling singkat 5 
(lima) tahun sebelum diangkat menjadi anggota Majelis Kehormatan Hakim 
Konstitusi.

(7) Masa jabatan Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi sebagaimana dimaksud pada 
ayat (5) selama 5 (lima) tahun dan tidak dapat dipilih kembali.

(8) Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi mempunyai wewenang untuk:
a. memanggil hakim konstitusi yang diduga melakukan pelanggaran kode etik untuk 
memberikan penjelasan dan pembelaan;

b. memanggil pelapor, saksi, dan/atau pihak lain yang terkait untuk dimintai 
keterangan, termasuk untuk dimintai dokumen atau bukti lain; dan

c. memberikan sanksi kepada hakim konstitusi yang terbukti melanggar kode etik.

(9) Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi bersidang secara terbuka untuk 
melakukan pemeriksaan dugaan adanya pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh 
hakim konstitusi.

(10) Ketentuan bersidang secara terbuka sebagaimana dimaksud pada ayat (9) 
tidak berlaku terhadap pemeriksaan yang terkait dengan perbuatan asusila dan 
pemeriksaan yang dapat mengganggu proses penegakkan hukum yang sedang berjalan.

(11) Putusan Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi bersifat final dan mengikat.

(12) Putusan Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi berupa sanksi atau 
rehabilitasi diambil dalam rapat pleno Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi.

(13) Ketentuan lebih lanjut mengenai kode etik dan pedoman perilaku hakim 
konstitusi, tata cara pemilihan Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi, susunan 
organisasi dan tata kerja Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi diatur dengan 
Peraturan Bersama Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial.
(14) Untuk mendukung pelaksanaan tugas Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi 
dibentuk sekretariat yang berkedudukan di Komisi Yudisial dan dipimpin oleh 
Sekretaris Jenderal Komisi Yudisial.

8. Bab VII Ketentuan Peralihan ditambah 1 (satu) pasal, yakni Pasal 87A 
sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 87A Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi tetap melaksanakan tugas 
sampai dengan terbentuknya Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi berdasarkan 
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini.

9. Bab VIII Ketentuan Penutup ditambah 1 (satu) pasal, yakni Pasal 87B sehingga 
berbunyi sebagai berikut:

Pasal 87B

(1) Pada saat Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini mulai berlaku, 
Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim Konstitusi dinyatakan masih tetap berlaku 
sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Pemerintah Pengganti 
Undang-Undang ini

(2) Peraturan pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini 
harus ditetapkan paling lama 3 (tiga) bulan terhitung sejak Peraturan 
Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini diundangkan.
(3) Selama peraturan pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) belum 
ditetapkan, pembentukan Panel Ahli dan Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi 
dilaksanakan oleh Komisi Yudisial.

Pasal II

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal 
diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan 
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam 
Lembaran Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 17 Oktober 2013
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Ttd.

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal 17 Oktober 2013
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA 

Kirim email ke