Nyoto tidaklah seperti yang digambarkan oleh wartawan atau beberapa tokoh Lekra 
yang sudah mencong pendirian politiknya. Saya mengenal Nyoto meskipun tidak 
mendalam, pernah bersahabat dengan adiknya. Saya tahu persis persahabatan 
antara Nyoto dengan Aidit sebagai ketua Partai: sangat baik dan mesra yang  
saya saksikan dengan mata kepala sendiri. Tapi tentu persahabatan yang bersifat 
emosional harus dipisahkan dengan urusan-urusan Partai, urusan Politik, 
ideologi dan organisasi. Menjelang ahir kehidupannya, Nyoto memang tersangkut 
dengan urusan wanita, urusan cinta di luar perkawinan dengan wanita Rusia yang 
saya kenal namanya dan orangnya sedangkan Nyoto sudah punya keluarga (anak-anak 
dan istri). Sebagai kader tinggi PKI tentu soal itu tidak semata urusan pribadi 
Nyoto sendiri. PKI adalah partai politik yang juga anti poligami dan 
memperhatikan kehidupan kesejahteraan keluarga para anggotanya. Njoto tentu 
mendapat kritik termasuk oleh ketua PKI sendiri dan itu telah diselesaikan 
dengan sangat baik dalam intern Partai. Jangankan Nyoto sebagai kader tinggi 
Partai yang begitu penting, ayah saya saja yang bukan anggota Partai dan cuma 
sebagai ayah dari ketua PKI, ketika mengambil istri kedua (berpoligami) 
mendapat teguran dari ketua PKI dan ahirnya ayah saya secara sukarela mencerai 
istri ke duanya setelah berunding secara kekeluargaan.
Tapi musuh-musuh PKI dan juga elemen anti Komunis yang lalu diikuti segelintir 
tokoh Lekra (yang ironisnya, di antaranya , ada yang keluaran Pulau Buru 
setelah , mengalami kegoncangan ideologi dan kehancuran pandangan politik hasil 
didikan suharto di kamp-kamp penyiksaan di seluruh Indonesia) lalu ingin 
MENGADU DOMBA antara pimpinan PKI yang antara lain antara Nyoto dan Aidit. 
Mereka membikin cerita-cerita sensasi atau isapan jempol, termasuk beberapa 
pengarang Lekra yang sudah miring ideologi dan politiknya lalu membuat 
cerita-cerita fiksi(salah satu bakat penting mereka) tentang :" Aidit - Nyoto - 
Lekra yang tidak berhasil di PKI-kan Aidit... " dsb,dsb. Cerita-cerita fiksi 
yang tak mungkin terbuktikan  kebenarannya itu lalu digemari olah para wartawan 
TEMPO untuk membikin majalah mereka tambah menarik. Dan akibatnya sejarah telah 
dibengkokkan sejadi jadinya, bahkan hingga mengalahkan suharto sendiri. 
Sayangnya almarhum Oei Hai Djoen sangat gemar melontarkan cerita-cerita 
fiksinya tentang "Nyoto menentang Aidit yang ingin mengkomuniskan Lekra". Dalam 
kenyataan, sebelum 30 September, semua anggota Lekra lebih ingin diresmikan 
menjadi anggota Partai, melebihi keinginan siapapun. Tapi setelah G30S-suharto 
melibas PKI, segelintir seniman Lekra yang menyesal masuk Lekra atau menyesal 
masuk PKI, lalu turut-turut antusias meniup-niup isapan jempol "Pimpinan PKI 
ingin mengkomuniskan Lekra dan gagal". Pelurusan sejarah semakin ironis karena 
ada sementara ex tokoh Lekra sendiri turut membengkokannya karena kemerosotan 
moral politik yang mereka derita. 
Ada pengarang Lekra yang menulis buku:"Mati baik-baik kawan". Yah! memang cukup 
banyak yang mati kurang baik atau sama sekali tidak baik. Dan sejarah telah 
mencatatnya.
ASAHAN




----- Original Message ----- 
From: Chan CT 
To: GELORA_In 
Sent: Tuesday, October 29, 2013 5:14 AM
Subject: #sastra-pembebasan# Mengenang Njoto di Lekra - Aidit Tak Mampu 
Mem-PKI-kan Lekra


  

http://www.tempo.co/read/news/2013/09/30/173517718/Mengenang-Njoto-di-Lekra
Senin, 30 September 2013 | 11:16 WIB
Mengenang Njoto di Lekra

Njoto, akhir 1950-an. dok. ANRI



TEMPO.CO, Jakarta - Njoto kerap datang ke rumah di Jalan Wahidin 10, Jakarta 
Pusat, pada pertengahan 1950-an. Di kediaman M.S. Ashar itulah Wakil Ketua 
Central Comite Partai Komunis Indonesia ini bertemu dan berdiskusi dengan 
seniman-seniman muda, termasuk Amrus Natalsya. Kala itu masih berusia 25 tahun, 
Amrus bolak-balik ke Jakarta untuk mengerjakan pesanan dekorasi dan poster. Dia 
kerap singgah di rumah yang dipakai sebagai markas Lembaga Kebudayaan Rakyat 
itu.

Amrus mengenang Njoto sebagai orang yang tak segan-segan mengulurkan tangan 
kala dia kesulitan dalam urusan pekerjaan. Kalau tak punya uang untuk membeli 
bahan patung dan lukisan, ”Saya bilang saya perlu kayu, dia membantu,” kata 
perupa yang kini berusia 80 tahun itu, menceritakan pengalamannya kepada Tempo, 
awal September lalu.

Di markas tempat Lekra digagas itu, Amrus juga bertemu dengan A.S. Dharta, Henk 
Ngantung, M.S. Ashar, dan pendiri serta seniman Lekra lainnya. Di antara 
pendiri Lekra, Njoto paling menonjol.


Lahir pada 1927 di Jember, Jawa Timur, Njoto dikenal sebagai pemuda jenius. 
Ayahnya, Raden Sosro Hartono, mendidiknya dengan tegas, keras, dan berdisiplin. 
Pada usia 16 tahun, dia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat di 
Yogyakarta, wakil Partai Komunis Indonesia Banyuwangi. Padahal, dia masih duduk 
di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)--setingkat sekolah menengah 
pertama--di Solo, Jawa Tengah.

Di Yogya, Njoto bertemu dengan Aidit dan M.H. Lukman. Mereka bertiga lah yang 
lalu membangun kembali PKI setelah meletus peristiwa Madiun, 19 September 1948.

Njoto, D.N. Aidit, dan sejumlah seniman mendirikan Lekra di Jakarta dua tahun 
setelah peristiwa Madiun. PKI juga mulai bangkit. Sebagai Pemimpin Redaksi 
Harian Rakyat, Njoto memberi ruang luas bagi seniman-seniman Lekra untuk 
menulis dan mengekspresikan pendapat. Mantan jurnalis Harian Rakyat dan seniman 
Lekra, Amarzan Ismail Hamid, kini 72 tahun, tahu persis Njoto adalah politikus 
dan seniman multi-kemampuan. Selain berorasi, Njoto lihai menulis puisi dan 
esai, meniup saksofon, berdansa, serta fasih berbicara soal musik. “Dia seniman 
serba bisa,” kata Amarzan, pertengahan September lalu.



Njoto pula yang menjaga “garis” Lekra tidak diubah menjadi “merah” oleh PKI. 
Njoto tahu tak semua anggota Lekra komunis dan dia ingin tetap mempertahankan 
posisi Lekra seperti itu. 

(Baca selengkapnya dalam edisi khusus Lekra Majalah Tempo terbitan 30 September 
2013)




TIM TEMPO



Senin, 30 September 2013 | 13:29 WIB
Cerita Soal Markas Lekra

Gedung Tri Dharma Widya yang terletak di Jl Cidurian 19, Cikini, Menteng, 
Jakarta Pusat (21/9). Gedung tersebut sebelumnya merupakan rumah setengah 
kantor milik ketua LEKRA, Oey Hay Djoen. TEMPO/Dhemas Reviyanto


TEMPO.CO, Jakarta - Kediaman Oey Hay Djoen, anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat 
(Lekra) yang juga menjadi wakil rakyat dari Partai Komunis Indonesia, 
dihibahkan untuk dijadikan markas Lekra. Dulu, alamatnya di Jalan Cidurian 19, 
bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

Berdasarkan penuturan Jane Luyke, istri mendiang Oey Hay Djoen kepada Tempo, 
rumahnya yang dijadikan sekretariat pusat Lekra dibelinya dari kocek pribadi. 
Persis setahun setelah Mado, putri keduanya, lahir pada Februari 1956. 


Tak lama setelah pindah dari Semarang ke Jakarta, suatu malam suaminya meminta 
izin menjadikan rumah mereka sebagai markas Lekra. Sebelumnya, para seniman 
kerap berkumpul di rumah novelis M.S. Azhar di Jalan Dr Wahidin Nomor 10, 
Jakarta. “Tanpa banyak alasan, saya mengiyakan.”

Semenjak itu, rumah Oey Hay Djoen langsung gegap-gempita. Setiap hari tak 
pernah sepi. Tetamu mengalir datang untuk beraktivitas. Hidangan pun terus 
disajikan. “Tak pernah kami bedakan mana yang untuk tamu dan tuan rumah, meski 
keuangan kami kewalahan lantaran harus berbagi anggaran,” ujar Jane. 



Setelah merasa kewalahan, Jane akhirnya meminta pada suaminya untuk membuatkan 
ruangan khusus bagi kantor Lekra di halaman belakang rumah. Akhirnya berbekal 
kayu-kayu bekas peti kemas dari Kedutaan Besar Polandia, Oe Hay Djoen 
mendirikan sebuah bedeng yang disebutnya sebagai sanggar. Sejak saat itu, Lekra 
bermarkas di sana.

(Baca Selengkapnya pada Edisi Khusus Lekra Majalah Tempo Edisi 30 September 
2013)



Senin, 30 September 2013 | 11:45 WIB
Aidit Tak Mampu Mem-PKI-kan Lekra

Sampul majalah TEMPO edisi khusus Lekra.



TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Central Comite PKI Dipa Nusantara Aidit berselisih 
dengan Njoto perihal posisi Lembaga Kebudayaan Rakyat, atau Lekra, yang mereka 
dirikan. Aidit ingin Lekra melebur dan menjadi bagian dari PKI, tetapi Njoto 
yang juga menjadi wakilnya di Central Comite PKI menolak.

Menurut Aidit, PKI membutuhkan Lekra sebagai organisasi resmi seniman sebagai 
motor pendulang suara partai melalui kesenian. Lekra pada tahun 1960-an telah 
merambah hingga tingkat kecamatan. Tingginya popularitas Lekra itu yang membuat 
Aidit kepincut dan ingin melegalkannya di bawah PKI. 

Namun, Njoto berkukuh menolak. Alasannya, di tubuh Lekra juga bergabung seniman 
nonkomunis yang bukan anggota partai, seperti Pramoedya Ananta Toer dan Utuy 
Tatang Sontani. Menyeret Lekra menjadi organ resmi partai hanya akan 
menyebabkan para seniman terkenal dan berpengaruh itu hengkang. (Baca 
selengkapnya di majalah Tempo edisi 30 September 2013).

Meski Aidit dan Njoto sama-sama pendiri Lekra, tapi di lembaga itu Njoto lebih 
disegani. Selain pengetahuan tentang kesenian yang luas, Njoto memiliki 
kemampuan orasi yang memukau. Oleh karena itu, tampaknya sebagian besar anggota 
Lekra pusat lebih sepakat dengan pendapat Njoto.

Dengan demikian, Lekra secara organisasi tetap bersifat terbuka. Seniman yang 
tidak aktif di partai bahkan yang tak mendukung komunisme boleh menjadi anggota 
Lekra. Dua pendirinya, A.S. Dharta dan M.S. Ashar, juga bukan seniman komunis. 
Lekra memiliki kongres dan anggaran dasar sendiri dengan menegaskan tak ada 
kaitan formal dengan PKI. Kondisi Lekra di daerah juga tidak jauh berbeda. 
Sebagian anggotanya bukan anggota partai. Karena itu, agak sulit menyebut Lekra 
sebagai onderbouw PKI. 

“Tapi juga salah jika menyebut Lekra tak punya hubungan sama sekali dengan 
PKI,” kata sastrawan Lekra Amarzan Ismail Hamid. Sebagian orang Lekra pusat 
adalah anggota PKI. Sebagian Lekra tingkat daerah juga didirikan atas inisiatif 
partai.

Hingga PKI dan Lekra diberangus pemerintah Orde Baru, Aidit belum berhasil 
mem-PKI-kan Lekra. "Tak satu pun yang berhasil mem-PKI-kan Lekra, kecuali 
Soeharto. Bahkan, Aidit tidak bisa,” kata Putu Oka Sukanta, seniman Lekra dari 
Bali, yang menyumbangkan satu puisi untuk antologi Kepada Partai.

TIM TEMPO


Senin, 30 September 2013 | 12:43 WIB
Begini Cara Lekra Memerahkan Ketoprak


TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga Kesenian Rakyat atau Lekra memanfaatkan kesenian 
sebagai sarana perjuangan dan propaganda. Lekra masuk dan mengubah seni tradisi 
menjadi seni yang progresif revolusioner, salah satunya adalah seni ketoprak. 
Seperti yang terjadi pada ketoprak Kridomardi, yang ada di bawah Lekra 
Yogyakarta.

Kala itu Kridomardi kerap mengubah pakem dan lakon ketoprak. Seperti lakon 
Suminten Edan. Semestinya lakon itu berkisah tentang Suminten, putri seorang 
warok Ponorogo yang gila gara-gara gagal menikah dengan Subroto, anak Adipati 
Trenggalek yang memilih menikahi Wartiyah--yang juga putri seorang warok. Di 
akhir kisah, Suminten berhasil sembuh dan selanjutnya dipoligami oleh Subroto.

Namun, Kridomardi mementaskan Suminten Edan dengan cara yang berbeda. Gilanya 
Suminten justru membuat para warok Ponorogo bersatu dan menyerang Subroto yang 
dianggap mengadu domba warok. "Karena PKI antipoligami, sehingga ceritanya 
diubah," ujar seniman ketoprak Bondan Nusantara, 61 tahun. Bondan adalah anak 
Khadariyah yang merupakan anggota Kridomardi.

Begitu pula lakon Bandung Bondowoso yang semestinya berkisah tentang kesatria 
yang membangun seribu candi dalam waktu satu malam dengan bantuan jin. 
Kridomardi mengubahnya menjadi kisah pembangunan candi dengan cara kerja paksa. 
Hal itu yang menyebabkan petani, buruh, dan masyakat kelas bawah gandrung 
dengan ketoprak Lekra. (Baca selengkapnya di Majalah Tempo edisi 30 September 
2013)

TIM TEMPO






Kirim email ke