http://www.hidayatullah.com/read/2013/11/08/7199/prof-farid-wajdi-ibrahim-jamin-uin-ar-raniry-tak-akan-liberal.html

Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh 
Prof Farid Wajdi Ibrahim Jamin UIN Ar-Raniry tak Akan Liberal
Jumat, 8 November 2013 - 10:12 WIB 
   
Rektor UIN Ar-Raniry Prof Farid Wajdi Ibrahim 
INSTITUT Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry Banda Aceh akhirnya telah berubah 
secara resmi statusnya menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, 
setelah keluar Peraturan Presiden (Perpres) RI Nomor 64 Tahun 2013 tanggal 1 
Oktober 2013.

Perpres yang ditandatangani langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo 
Bambang Yudhoyono diterima Rektor Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA di Kantor 
Sekretariat Kabinet (Setkab) Jakarta. Isinya mengatur tentang perubahan status 
IAIN Ar-Raniry menjadi UIN Ar-Raniry yang berkedudukan di Banda Aceh.

Peresmian dilakukan tepat hari ulang tahun emas (yang ke-50) pada 5 Oktober 
2013 lalu. Meski demikian, hingga kini,  perubahan UIN Ar-Raniry masih 
melahirkan pro dan kontra. Dinamika ini misalnya terlihat dari respon-respon 
publik di media massa terhadap wacana perubahan.

Pendapat yang resisten mengkhawatirkan jika setelah berubah menjadi UIN, ciri 
khas keislaman IAIN akan pudar seiiring dengan masuknya fakultas dan jurusan 
umum dalam sistem pendidikan di UIN. Mereka berpendapat, Aceh yang sedang 
menerapkan syariat Islam perlu mendapatkan dukungan penuh dari institusi 
pendidikan Islam, terutama lembaga pendidikan tinggi ternama, seperti IAIN.

Sebelumnya, kami telah berkesempatan mewawancarai mewawancarai Prof Dr Farid 
Wajdi Ibrahim di Gedung Lantai 1 Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, MA.  Prof Farid 
ditemani oleh asistennya, Saifullah, MA yang juga dosen Fakultas Tarbiyah IAIN 
Ar-Raniry.

Ia meyakinkan bahwa perubahan ini tidak akam membawa kampus UIN Ar Raniry 
berpaham liberal.

“Paham-paham liberal dan sekuler ini sangat tidak cocok dengan kebutuhan dan 
tuntutan umat Islam dewasa ini. Jika ada satu dua dosen IAIN yang liberal, maka 
itu tidak ada hubungan dengan IAIN sebagai intitusi,” demikian ucapnya. Inilah 
wawancara lengkapnya.

 Apa target utama yang diharapkan dari perubahan status IAIN menjadi UIN?

Ini dalam rangka menyahuti tuntutan kebutuhan integrasi ilmu bagi umat Islam.  
Dengan terjadinya integrasi ilmu ini, kita mengharapkan agar Aceh menjadi 
kiblat pendidikan Islam. Kita tidak menggunakan istilah Islamisasi ilmu, karena 
memang semua ilmu bisa disatukan dengan Islam.

Kita memakai pendekatan integratif, yaitu integrasi ilmu agar semua ilmu bisa 
disatukan dengan Islam. Ini adalah keuntungan besar saat IAIN menjadi UIN. 
Keuntungan lain, dengan menjadi UIN, kita bisa membiyai sampai tujuh institusi 
lain.

Seperti apa contoh dari keuntungan itu?

Setelah IAIN berubah menjadi UIN, akan ada jurusan-jurusan umum yang kita buka. 
Seperti yang berkaitan dengan humaniora, teknik, dan ekonomi Islam. Jadi, 
setelah jadi UIN, dengan jurusan umum yang kita buka, kita berharap mahasiswa 
yang belajar ilmu eksak (umum), mereka juga bisa memahami agama.

Untuk itu, di jurusan umum itu nantinya mahasiswa juga akan belajar agama. Kita 
harus jujur, bahwa ilmu-ilmu umum seperti kedokteran merupakan bagian dari 
khazanah keilmuan Islam juga, di mana di era kejayaan Islam banyak ulama yang 
juga ahli kedokteran. Hal yang sama juga bagi ilmu hukum, ilmu ini harus 
disatukan lagi dengan agama. Jadi kita ingin mengembalikan lagi kejayaan ini.

(Prof Farid memberi contoh dengan UIN Malang yang berhasil melakukan integrasi 
ilmu. Menurutnya, banyak alumnus UIN Malang saat ini yang meskipun dia alumnus 
jurusan eksak, namun dia juga seorang hafiz yang menghafal al-Quran saat di 
perkuliahan. Ini yang kita inginkan. Dan jurusan agama tetap akan jalan seperti 
biasa di UIN Ar-Raniry nanti).

Perubahan status dikhawatirkan akan membuat IAIN Ar-Raniry menjadi liberal?

IAIN Ar-Raniry tidak akan menjadi sarang bagi paham Islam liberal, apalagi 
sekuler. Kalau jaringan Islam Liberal (JIL) adalah corong bagi kepentingan 
orientalis. Ada LSM-LSM asing yang membawa kepentingan sendiri di belakang 
mereka. Jadi tidak ada hubungannya dengan perubahan status ini.

Paham-paham liberal dan sekuler ini sangat tidak cocok dengan kebutuhan dan 
tuntutan umat Islam dewasa ini. Jika ada satu dua dosen IAIN yang liberal, maka 
itu tidak ada hubungan dengan IAIN sebagai intitusi.  Kajian pemahaman agama di 
Aceh memang lebih terbuka, tapi diharapkan mahasiswa bisa memilih yang lurus 
dan tidak terlibat paham-paham yang di luar Islam.

Begitu juga, jika ada dosen-dosen yang liberal maka mereka akan dibina secara 
khusus, seperti kasus Islam protestan. Kita sudah panggil yang bersangkutan 
untuk kita bina, bagaimanapun konotasi dari Islam protestan tetap negatif di 
mata umat Islam, meskipun mungkin maksudnya baik. Maka masyarakat tidak perlu 
khawatir dengan perubahan IAIN menjadi UIN.

Tapi nanti kan ilmu dan pemikiran di UIN akan semakin berkembang, apakah tidak 
akan menjerumuskan mahasiswa ke pemikiran liberal?

Memang IAIN dan juga UIN nanti tetap harus mengajarkan ragam paham dan 
pemikiran, termasuk mu’tazilah. Tapi kita berharap agar pemikiran mahasiswa 
bisa tetap lurus. Selain itu, mahasiswa IAIN juga harus memiliki dasar 
pemahaman yang bagus sebelum masuk ke IAIN, khususnya yang akan mengambil 
jurusan-jurusan pemikiran dan keagamaan.

(Prof Farid menceritakan pengalamannya saat mengajari mahasiswa, pernah saat 
membahas paham Mu’tazilah, lalu ada mahasiswa yang mencurigainya telah menjadi 
Mu’tazilah, tapi kemudian mahasiswa ini jadi yakin 1000 persen bahwa beliau 
Ahlu Sunnah wal Jama’ah (Sunni) saat beliau menyampaikan bahasan tentang paham 
Sunni dalam ruang perkuliahan. Ia juga menegaskan, pihaknya akan konsisten 
melawan paham Orientalisme dengan segala macam tipu dayanya. Ia menerangkan, 
salah satu propaganda Orientalisme di dunia Islam adalah paham sekulerisme. 
Paham ini mencoba memisahkan agama dengan negara  dan semua tatanan kehidupan 
dan urusan publik. Namun demikian, paham ini telah gagal di banyak dunia Islam 
seperti di Turki. Saat paham sekulerisme ini dijadikan sebagai mazhab resmi 
negara Turki, warganya justru menjadi lebih Islam dalam semua aspek kehidupan. 
Artinya, yang terjadi di Turki justru Islamisasi, bukan sekulerisasi).

Bagaimana pandangan profesor tentang paham orientalis ini?

Orientalisme dipelajari pada program Islamic Studies di Barat. Banyak yang 
belajar Islamic Studies tapi mereka tidak beriman. Namun demikian, tidak semua 
paham Orientalisme ini radikal atau negatif walau ini lebih banyak. Ada paham 
Orientalisme yang pertengahan, artinya mereka belajar Islam apa adanya, 
objektif. Kalau benar, ya mereka akui. Kemudian ada paham Orientalisme model 
baru di mana generasi orientalis ini sangat bertentangan dan berlawanan dengan 
Orientalisme yang radikal dan negatif.

IAIN sendiri kata Prof Farid Wajdi, setelah berubah menjadi UIN maka kurikulum 
dan silabusnya nanti akan disusun agar tidak melahirkan fundamentalis, radikal, 
dan orientalis. Jadi lebih ke tengah. Begitu juga materi akhlak dan moral akan 
ditata kembali agar betul-betul bisa melahirkan alumnus yang berakhlak dan 
bermoralnya.

Bagaimana cara UIN membina relasi dengan kalangan dayah?

Setelah IAIN berubah menjadi UIN, hubungan dengan dayah akan tetap akan mesra. 
Selama ini pun, tidak ada gap antara IAIN dan dayah.  Lulusan IAIN tidak ada 
yang dicurigai oleh kalangan dayah. Dan sejauh ini, IAIN sangat bisa konek 
dengan dayah, karena fakta selama ini masukan-masukan dari akademisi IAIN 
selalu diterima oleh orang-orang dayah. Itu membuktikan bahwa nanti UIN 
Ar-Raniry dengan dayah tetap akan bisa saling mengisi.

(Prof Farid memberi contoh kemesraan hubungan IAIN dengan dayah selama ini. 
Misalnya dia sering diundang saat acara Studium General dan Sidang Terbuka di 
STAI Al-Aziziyah Samalanga yang didirikan oleh kalangan dayah. Selain itu, 
pendirian STAI banyak yang minta izin dan rekomendasi kepada dirinya selaku 
Rektor IAIN Ar-Raniry).

Kemesraan dayah dengan IAIN juga bisa dibuktikan dengan realitas tidak adanya 
bentrokan fundamental antara kalangan dayah dengan IAIN selama ini. Hubungan 
mahasiswa IAIN yang berasal dari dayah dengan dosen-dosen di IAIN, baik di S1 
maupun S2 juga cukup mesra.

Bagaimana pendapat profesor tentang kelompok yang menentang pelaksanaan Syariat 
Islam di Aceh?

Memang ada pihak-pihak tertentu yang resisten dengan formulasi qanun-qanun 
syariat Islam dengan alasan mengekang kebebasan beragama, kebebasan berekpresi, 
atau melanggar HAM. Padahal kan umat non-Islam di Aceh selama ini tidak pernah 
mendapat hukuman dari penerapan syariat Islam. Jadi bagaimana mungkin syariat 
Islam disebut tidak toleran?

Kalau mau jujur, tidak yang terkekang di Aceh dengan penerapan syariat Islam, 
bandingkan dengan di Arab yang nyetir bagi perempuan saja  dilarang. Kita di 
Aceh  justru bebas sekali bahkan.  Hukum juga longgar, praktek juga bebas. Yang 
salah tidak dicambuk, malah didamaikan dan atau dinikahkan. Jadi apa alasan 
mereka menolak qanun-qanun syariat Islam?

Menurut Anda, bagaimana harusnya mereka bersikap?

Kita berharap agar yang tinggal dan atau masuk ke Aceh agar bisa menghargai 
syariat Islam. Yang mengatakan Syariat Islam mengekang itu karena tidak paham.  
Tidak boleh pergaulan bebas, maisir, dan khalwat memang mengekang. Tapi harus 
dilihat maqashid syariahnya dulu.

Memang syariat Islam berbanding lurus dengan kepentingan dunia. Tapi semua 
hukum Islam memiliki tujuan yang lebih besar sesuai dengan maqashid syar’iyah. 
Yaitu untuk memelihara jiwa (hifzi nafsi), memelihara harta (hifzil amwal), 
memelihara akal (hifzi aqli), memelihara  keturunan (hifzi nasli), dan 
memelihara lingkungan (hifzil bi’ah). Jadi sebagai umat Islam kita tidak boleh 
bertentangan dengan yang berlawanan dengan mqashid syariah.

Mereka yang bertentangan dengan maqhasid syariah adalah tidak paham. Maka jika 
suatu hari mereka bersatu melawan syariat Islam itu wajar-wajar saja, karena 
mereka memang tidak paham. Di sini dituntut peran media massa dan para 
muballigh untuk memberi mereka pemahaman tentang Islam dan maqashid 
syari’ah.*/Teuku Zulkhairi, Aceh

Rep: 
Anonymous 
Editor: Cholis Akbar 

Kirim email ke