http://www.hidayatullah.com/read/2013/10/31/7083/hitam-putih-presiden-soekarno.html

Hitam Putih Presiden Soekarno
Kamis, 31 Oktober 2013 - 09:22 WIB 
   
Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dikenal sebagai penakluk 
perempuan cantik. Menikah sembilan kali dan dengan mudah dan para wanita 
cantik-pun takluk padanya 
“Media Seringkali Membuat Banyak Orang Salah Idola” (anonim)

SOEKARNO, laki-laki proklamator RI ini kini menjadi banyak idola kawula muda. 
Buku-buku banyak ditulis memuji-muji kehebatan dia. Mulai dari masa kecilnya, 
remaja dan dewasanya. Dibukukan tulisan-tulisannya dan divideokan 
pidato-pidatonya. Film-film pun dibuat untuk mempropagandakan kepribadian dan 
kehebatannya. Benarkah Soekarno manusia yang hebat tidak ada cacat atau justru 
banyak cacatnya? Tulisan ringkas ini akan mencoba menelaahnya.

Bila ditelusuri Soekarno ternyata pintar bicara tapi ‘miskin’ dalam perbuatan. 
Pidatonya yang berapi-api memang membakar semangat rakyat. Tapi sikap-sikapnya 
terutama dalam politik seringkali menjadi blunder, bahkan kepada dirinya. 
Egonya yang terlalu berlebihan, menjadikan banyak temannya menjadi korban. 
Nafsunya kepada perempuan seringkali tidak terkendalikan.

Entah berapa orang yang menjadi istri atau pasangannya. Ideologi Islam yang 
semasa remaja ditanam Tjokroaminoto di Surabaya, seolah ‘hilang lenyap’ 
tergantikan dengan ideologi Marxisme atau Marhaenisme  yang dipahat oleh 
dosen-dosen Belanda di ITB Bandung.

Kita coba telisik Soekarno mulai dari kasus Piagam Jakarta. Piagam Jakarta yang 
sudah ditandatangani oleh Soekarno sendiri pada 22 Juni 1945, disepakati akan 
dibacakan pada proklamasi republik Indonesia, diganti dengan coret-coretan 
Soekarno.  Hal itu terjadi pada subuh hari 17 Agustus 1945, Soekarno mengajak 
Hatta ke rumah Laksamana Maida untuk mendiskusikan lagi naskah proklamasi yang 
sudah disepakati Tim Sembilan.

Di rumah itu, selain ada petinggi Jepang juga ada Ahmad Subarjo (Nasionalis 
Sekuler) sekretaris Laksamana Maida. Dan akhirnya dalam sejarah tercatat 
Soekarno membacakan proklamasi dengan coretan-coretannya sendiri pada sekitar 
pukul 10.00, 17 Agustus 1945. Tidak ada dalam perundingan dalam rumah Maida itu 
tokoh nasionalis Islam. (lihat Jangan Pertentangkan Islam dan Pancasila)

Lebih tragis lagi pada 18 Agustus 1945. Soekarno lewat rapat kilat tidak sampai 
tiga jam mengganti hal-hal penting yang berkaitan dengan Islam dalam urusan 
politik. Yakni mengganti hal-hal penting dalam UUD 45.  Lewat rapat yang 
dipimpinnya Soekarno mengganti kata Mukaddimah menjadi pembukaan, kata 
Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya 
menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa dan kata presiden adalah orang Indonesia asli 
dan beragama Islam kata “dan beragama Islam dicoret.

Karena tragedi itu, maka setelah Pemilu 1955, tokoh-tokoh Islam bersatu 
menuntut pengembalian Piagam Jakarta atau Islam sebagai dasar negara. Karena 
kemerdekaan Indonesia diperoleh dengan darah dan keringat mayoritas rakyat yang 
beragama Islam. Maka diadakanlah penyusunan UUD kembali oleh Majelis 
Konstituante 1957-1959. Setelah bersidang lebih dari dua tahun, hasilnya 
mentok. Faksi Nasionalis  Islam dengan faksi nasionalis sekuler tidak ada yang 
menang mutlak. 

Soekarno akhirnya membubarkan Majelis Konstituante dengan didukung TNI, dengan 
mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Yang menarik Soekarno saat itu 
menerima usulan dari tokoh-tokoh Islam, untuk menampung aspirasi dari 
nasionalis sekuler dan nasionalis Islam, maka dirumuskanlah salah satu isi 
dekrit itu adalah : Piagam Jakarta menjiwai UUD 45 dan merupakan satu rangkaian 
kesatuan yang tidak terpisahkan. Sayangnya meski bunyi dekrit seperti itu, 
Soekarno tidak menerjemahkannya dalam undang-undang atau peraturan presiden.

Masa Soekarno atau Orde Lama

Bila banyak yang mencela Orde Baru, maka Orde Lama bagi umat Islam terutama 
tokoh-tokohnya terasa ‘lebih sengsara’.  Buya Hamka, ulama besar ini 
menyampaikan isi hatinya dalam Majalah Panjimas yang diasuhnya. Setelah 
mengritik mantan Menteri Subandrio –di sidang Mahmilub- yang hingga tuanya 
tidak mengenal rakaat shalat dan Yusuf Muda Dalam yang tidak mengerti bahwa 
beristri lebih dari empat dilarang dalam Islam, HAMKA menyatakan:

“Inilah contohnya orang-orang yang memegang kekuasaan negara di masa Orde Lama. 
Mengaku percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa di bibir, tetapi tidak pernah 
mendekatkan diri kepada Tuhan menurut agama yang mereka peluk sebagai pusaka 
dari ayah bundanya.

Sehingga terbaliklah keadaan; orang yang tekun kepada Tuhan; mengerjakan 
perintah dan menghentikan larangan Tuhan, dipandang anti Pancasila, orang yang 
taat mengerjakan agama di cap reaksioner atau kontra revolusioner.

“Bersuluh kepada matahari, bergelanggang di mata orang banyak”, bagaimana 
setiap hari hukum-hukum agama itu dilanggar, didurhakai.

Zina menjadi kemegahan, minuman keras diminum laksana minum air teh saja, uang 
negara dihamburkan untuk kepentingan pribadi. Tidak ada sedikit juga rupanya 
rasa takut kapada Tuhan. Karena Tuhan itu hanya untuk penghias pidato, bukan 
untuk penghias hidup, budi moral dan mental.

Mereka pun melanggar dasar negara yang kedua, yaitu Pri Kemanusiaan. Tengoklah 
bagaimana sengsaranya rakyat. Tengoklah kelaparan, karena banjir di Solo, 
karena letusan Gunung Agung di Bali, karena letusan Gunung Kelud, bencana 
kelaparan di Lombok. Tidak seorang juga diantara mereka itu yang sudi 
meringankan langkah buat melihat keadaan rakyat yang malang dan sengsara itu…

Peri Kemanusiaan : dalam prakteknya orang-orang yang dicemburui, dibenci dan 
dipandang akan menghalangi langkah-langkah mereka meneruskan kezaliman itu.

Sampai Sutan Syahrir mati dalam status tahanan. Mereka ditahan, kadang-kadang 
rumah kediamannya dirampas dan dengan seenaknya didiami oleh khadam-khadam 
(pembantu) para pembesar itu. Benar-benar berlaku di negeri ini sebagai yang 
berlaku berates tahun yang laludi zaman kekuasaan raja-raja tidak terbatas, 
yang nasib malang akan menimpa orang yang dibenci oleh pihak istana. Dan anak 
istri orang yang ditahan itu dibiarkan melarat.

Alangkah banyaknya paradoks di dalam negara yang berdasar Pancasila di zaman 
itu. Mobil mewah pejabat meluncur di atas jembatan, sedang dibawahnya tidur 
orang-orang yang kehabisan tenaga buat hidup. Yang di atas menikmati rasa 
kemerdekaan, yang di bawah terlempar ke dalam lumpur kehinaan sejak negara 
merdeka.

Disorak-soraikan amanat penderitaan rakyat. Alangkah seramnya jika dikaji bahwa 
kata-kata Amanat Penderitaan Rakyat itu diungkapkan oleh pemimpin-pemimpin itu 
sendiri, padahal merekalah yang mengkhianatinya.

Mereka belum merasa puas kalau  belum ada undang-undang untuk menyikat bersih 
dari masyarakat orang-orang yang dibenci, sedang kesalahan mereka yang terang 
tidak ada. Lalu diadakan Penetapan Presiden   (Pen-Pres) buat menangguk 
sisa-sisa orang yang dibenci yang masih tinggal, orang-orang yang dipandang  
masih ada pengaruhnya dalam masyarakat. Dengan “dugaan saja, walaupun tidak ada 
bukti sama sekali orang bisa dibenamkan ke dalam tahanan. Itulah Pen-Pres No 11 
yang terkenal dengan sebutan Undang-Undang Subversif…

Indonesia benar-benar menjadi “Mercusuar” dari kebrobokan. Indonesia 
diteropong, bahkan di mikroskop oleh bangsa lain, lalu menjadi tertawaan.  
Tetapi surat-surat kabar yang memuat berita tentang kebrobokan dilarang masuk 
Indonesia.

Sebentar-sebentar diadakan pidato, rapat raksasa, rapat samudera.

Diobati perut yang lapar dengan pidato, diobat jalan-jalan yang rusak dengan 
pidato. Rakyat dikerahkan dengan segala macam daya upaya supaya dari subuh 
sudah berangkat ke tanah lapang mendengarkan pidato.

Perusahaan-perusahaan wajib menutup usahanya dan mengerahkan buruhnya pergi 
mendengarkan pidato. Produksi menurun karena hari habis untuk mendengarkan 
pidato…

Berdirilah gedung-gedung monument, patung-patung yang tidak akan dapat 
mengenyangkan perut rakyat, yang hanya akan ditegahkan (dipertunjukkan) kepada 
tamu luar negeri, padahal kalau tetamu itu datang, sasaran tustel mereka 
bukanlah monument dan patung, melainkan rakyat yang tidur di dalam pipa air 
yang belum dipasang atau mandi telanjang di kali Ciliwung.” ” (lihat Hamka, 
Dari Hati ke Hati, Pustaka Panjimas,2002, hal. 259-262).

Hamka juga mengritik keras gagasan Nasakom yang digulirkan Soekarno.  Karena 
Masyumi dan PSI (Partai Sosialis Indonesia) tidak mau ikut bergabung dengan 
pemerintahan Soekarno, maka kedua partai itu dipaksa bubar.  Tokoh-tokohnya 
dipenjarakan tanpa kesalahan yang jelas di pengadilan –termasuk Buya Hamka yang 
dipenjara lebih dari dua tahun.  Maka, kata cendekiawan ulung ini :

“Akhirnya datanglah klimaks dari NASAKOM ini, yaitu peristiwa Lubang Buaya! 
Inilah akibat dari penyelewengan Pancasila atau Munafik Pancasila itu; yang 
dipidatokan buat dikhianati. Atau di dalam jiwa sendiri tidak ada, sebab itu 
menjadi kosong ke tengah udara bebas.

Tetapi Tuhan Allah tidaklah mengizinkan kemunafikan itu berlanjut sehingga 
lanjutan dari peristiwa Lubang Buaya ialah terbukanya mata rakyat malang yang 
selama ini hanya dibuat, dinina-bobokkan dengan janji-janji dari mereka yang 
berkuasa yang sekali-kali tidak sanggup mereka memenuhinya. ABRI (TNI) dan 
rakyat jelata semuanya bersatu menghadapi Orde Lama yang munafik dan bobrok ini 
dan setiap yang berhutang musti membayarnya” (Hamka, Dari Hati ke Hari, hal. 
265).

Selain HAMKA, mantan Wakil Perdana Menteri RI, Mohammad Roem juga kritis kepada 
Soekarno. Kritik Roem lain lagi. Menurut Roem, Soekarno kurang jujur 
menceritakan masa kecilnya yang dipenuhi kemiskinan, kepada penulis biografinya 
Cindy Adams.

Sebelumnya Roem menyatakan bahwa Soekarno adalah bagaikan buku terbuka.  Kata 
tokoh Masyumi ini :

“Bagi penulis sendiri umpamanya, perjuangan Soekarno sejak ia memimpin PNI 1926 
sampai sekarang  laksana buku terbuka. Tapi kita ingin tahu juga riwayat 
hidupnya menurut buku ini (buku Cindy Adams –pen). Keturunan Soekarno tidak 
tanggung-tanggung! Ibunya Idaju, seorang Bali dari kasta Brahmana keturunan 
bangsawan. Raja Singaradja terakhir adalah  paman ibunya. Ayahnya, Raden Sukemi 
Sosrodihardjo, keturunan Sultan Kediri. Baikpun dari fihak Ibu ataupun dari 
fihak ayah, para nenek moyang Soekarno adalah pejuang-pejuang kemerdekaan 
melawan penjajah Belanda. Salah seorang nenek moyangnya, seorang wanita, 
berjuang di samping pahlawan besar Pangeran Diponegoro di dalam peperangan 
tahun 1825-1830, sampai menemui ajalnya.” (Lihat Mohammad Roem, Bunga Rampai 
Dari Sejarah I, 1977, hal. 167-183).

Roem kemudian mengulas tentang kemungkinan besar ketidakjujuran Soekarno 
tentang kemiskinannya itu.  Roem mengutip biografi Soekarno yang menyatakan : 
“Aku dilahirkan di tengah kemiskinan dan dibesarkan dalam kemiskinan. Aku tidak 
mempunyai sepatu. Aku mandi tidak dalam air yang keluar dari kran. Aku tidak 
mengenal sendok dan garpu. Ketiadaan yang keterlaluan demikian ini dapat 
menyebabkan hati kecil di dalam menjadi sedih.

Mengenai hidup dalam “kemiskinan” ini sangat lengkap…Begitu lengkapnya cerita 
itu, sehingga orang yang tahu keadaan di Indonesia terutama di Pulau Jawa pada 
waktu itu, dengan angka-angka Soekarno sendiri melihat, bahwa keluarga Raden 
Sukemi Sosrodihardjo tidak miskin sama sekali.

Dilihat dalam rangka “Gobang Report”, dalam mana orang Indonesia rata-rata 
hidup dari dua setengah sen setiap hari, maka tiap anggota dari keluarga Raden 
Sukemi Sosrodihardjo yang terdiri dari empat orang, hidup dari 250 gobang 
sebulan atau lebih dari 8 gobang sehari.”

Maka, kata Roem: “ Tidak masuk akal, seperti yang ia (Soekarno –pen) ceritakan  
“Kami sangat melarat sehingga hampir tidak dapat makan satu kali dalam sehari.” 
(Mohammad Roem, hal. 170).

Kritik keras Roem yang lain adalah sikap Soekarno yang merangkul PKI untuk 
menyingkirkan Masyumi. Syafii Maarif mengutip Roem, dalam bukunya “Islam dan 
Politik Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin 1959-1965” menyatakan logika 
revolusi Soekarno ialah menarik garis yang tegas antara sahabat dan musuh 
revolusi. Kata Syafii : “Pada masa demokrasi terpimpin, jargon politik PKI 
tentang golongan “Kepala Batu” sudah menyatu dengan jargon politik Soekarno 
yang juga menilai Masyumi sebagai kekuatan “Kepala Batu” yang merintangi 
penyelesaian revolusi Indonesia.” Demokrasi Terpimpin ini mulai mengkristal 
ketika Soekarno pada 20 Maret 1960 membubarkan parlemen hasil pemilihan umum 
1955 dan membentuk DPRGR (Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong) dimana Masyumi 
dan PSI tidak diikutsertakan.

Walhasil, sebelum merdeka memang Soekarno adalah seorang pemuda yang mempunyai 
ide besar dan semangat tinggi melawan penjajah Belanda. Ia pernah dipenjara dan 
diasingkan pemerintah Belanda saat itu. Tapi pemikirannya sayang setelah dewasa 
lebih banyak diwarnai Marxisme (sekuler) daripada Islam. Sehingga tahun 1930-an 
ia berdebat keras di media massa dengan pemuda Natsir tentang bagaimana bentuk 
negara ke depan. Soekarno menginginkan Indonesia menjadi negara sekuler 
sebagaimana yang dibentuk Kemal Attaturk. Natsir menginginkan negara yang 
dilandasi oleh nilai-nilai Islam, sebagaimana yang diteladankan Rasulullah saw 
dan para sahabatnya.  Soekarno akhirnya menjadi presiden dengan menerapkan 
ide-ide sekuler yang diyakininya dan kemudian di periode akhir pemerintahannya 
menyingkirkan kelompok Natsir Masyumi yang dianggap mengganggu jalan 
revolusinya.

Natsir memang pernah ikut dalam pemerintahan Soekarno, sebagai Menteri 
Penerangan dan Perdana Menteri, karena Natsir ingin membaktikan hidupnya 
memperbaiki atau mengislamkan negeri ini. Tapi ia kemudian berlepas diri dari 
pemerintahan karena partainya ‘dibubarkan dengan paksa’ oleh presiden pada 
tahun 1960.

Kini pertarungan ide negara sekuler dan ide negara Islami terus berlangsung di 
negeri ini. Sebagaimana ide menggulirkan tokoh-tokoh idola. Siapakah yang akan 
menang? Wallahu alimun hakim.*

Penulis adalah peneliti Insitute for the Study of Islamic Thought and 
Civilizations (INSISTS)

Kirim email ke