http://www.hidayatullah.com/read/2013/11/07/7176/gereja-sejarah-kalender-masehi-dan-tahun-baru-hijriyah-1.html


Gereja, Sejarah Kalender Masehi dan Tahun Baru Hijriyah (1)
Kamis, 7 November 2013 - 08:05 WIB 
   
wiki 
Ilustrasi: Paus Gregorius XIII merayakan pengenalan kalender Gregorian 
Oleh: Abby Fadhillah Yahya

SELAMA ini kita mengenal ada 2 macam bentuk penanggalan yaitu lunar (mengacu 
pada bulan), solar (mengacu pada matahari), dan lunisolar (mengacu pada 
keduanya).  Yang paling kita kenal di dunia ini adalah penanggalan Hijriyah dan 
Masehi. Kalender Hijriyah adalah kalender  yang mengacu pada perputaran bulan. 
Sedangkan kalender Masehi mengacu pada perputaran matahari.  

Kata Masehi digunakan oleh umat Kristen awal untuk menetapkan hari kelahiran 
Yesus yang dalam bahasa latin disebut Anno Domini (AD) yang berarti “Tahun 
Tuhan Kita” atau Common Era/CE (Era Umum) untuk era Masehi, dan Before 
Christ/BC (sebelum [kelahiran Kristus) atau Before Common Era / BCE (Sebelum 
Era Umum).

Sebagian besar orang non-Kristen biasanya mempergunakan singkatan M dan SM ini 
tanpa merujuk kepada konotasi Kristen tersebut. Sistem penanggalan yang merujuk 
pada awal tahun Masehi ini mulai diadopsi di Eropa Barat selama abad ke-8.

Semula biarawan Katolik, Dionisius Exoguus pada tahun 527 M ditugaskan pimpinan 
Gereja untuk membuat perhitungan tahun dengan titik tolak tahun kelahiran Nabi 
Isa as (Yesus). Dan mula-mula dipergunakan untuk menghitung tanggal Paskah 
(Computus) berdasarkan tahun pendirian Roma.

Awalnya penghitungan hari Orang Romawi terbagi dalam 10 bulan saja (kecuali 
Januari dan Februari). Persis dengan pemberian nama hari, pemberian nama bulan 
pada tarikh yang kemudian menjadi penghitungan hari Masehi ini ada kaitannya 
dengan dewa bangsa Romawi. Bulan Martius mengambil nama Dewa Mars, bulan Maius 
mengambil nama Dewa Maia dan bulan Junius mengambil nama Dewa Juno.

Sedang  nama-nama Quintrilis, Sextrilis, September, October, November dan 
December diambil berdasarkan angka urutan susunan bulan. Quntrilis berarti 
bulan kelima, Sextilis bulan keenam, September bulan ketujuh, October bulan 
kedelapan dan December bulan kesepuluh.

Aprilis diambil dari kata Aperiri, sebutan untuk cuaca yang nyaman di dalam 
musim semi. Berdasarkan nama-nama tersebut di atas, tampak¸bahwa di zaman 
dahulu permualaan penanggalan Masehi jatuh pada bulan Maret.

Penanggalan yang terdiri atas 10 bulan kemudian berkembang menjadi 12 bulan. 
Berarti ada tambahan 2 bulan, yaitu Januarius dan Februarius. Januarius adalah 
nama dewa Janus. Dewa ini berwajah dua, menghadap ke muka dan ke belakang, 
hingga dapat memandang masa lalu dan masa depan. Karenanya Januarius ditetapkan 
sebagai bulan pertama. Februarius diambil dari upacara Februa, yaitu upacara 
semacam bersih kampung atau ruwatan untuk menyambut kedatangan musim semi. 
Dengan ini Februarius menjadi bulan yang kedua, sebelum musim semi datang pada 
bulan Maret.

Awalnya bulan-bulan terdahulu letaknya di dalam penanggalan baru menjadi 
tergeser dua bulan, dan susunannya menjadi: Januarius, Februarius, Martius, 
Aprilis, Maius, Junius, Quintrilis, Sextilis, September, October, November dan 
December.

Ketika Julius Caesar berkuasa, ia menerima anjuran para ahli perbintangan Mesir 
untuk memperpanjang tahun 46 SM menjadi 445 hari dengan menambah 23 hari pada 
bulan Februari dan menambah 67 hari antara bulan November dan December. Setelah 
kembali ke Roma, Julis Caesar mengeluarkan maklumat penting dan berpengaruh 
luas hinga kini yakni penggunaan sistem matahari dalam sistem penanggalan 
seperti yang dipelajarinya dari Mesir.

Keputusannya kala itu,  setahun berumur 365 hari karena beralasan,  bumi 
mengelilingi matahari selama 365,25 hari. Kedua setiap 4 tahun sekali, umur 
tahun tidak 365 hari, tapi 366 hari, disebut tahun kabisat. Tahun kabisat ini 
sebagai penampungan kelebihan 6 jam setiap tahun yang dalam 4 tahun menjadi 
4×6=24 jam atau 1 hari.

Untuk menghargai jasa Julius Caesar dalam melakukan penyempurnaan penanggalan 
itu, maka penanggalan tersebut disebut penanggalan Julian. Dengan menganti nama 
bulan ke-5 yang semula Quintilis menjadi Julio, yang kita kenal sebagai bulan 
Juli.

Waktu terus berjalan, rupanya penanggalan Julian juga memperlihatkan 
kemelesetan juga. Apabila pada zaman Julis Caesar jatuhnya musim semi mundur 
hampir 3 bulan, kini musim semi justru dirasakan maju beberapa hari dari 
patokan.

Guna meluruskan kemelesetan, Paus Gregious XIII pimpinan Gereja Katolik di Roma 
pada tahun 1582 mengoreksi dan mengeluarkan sebuah keputusan. Pertama, angka 
tahun pada abad pergantian, yakni angka tahun yang diakhiri 2 nol, yang tidak 
habis dibagi 400, misal 1700, 1800 dsb, bukan lagi sebagai tahun kabisat 
(catatan: jadi tahun 2000 yang habis dibagi 400 adalah tahun kabisat)

Kedua untuk mengatasi keadaan darurat pada tahun 1582 itu diadakan pengurangan 
sebanyak 10 hari jatuh pada bulan October, pada bulan Oktober 1582 itu, setelah 
tanggal 4 Oktober langsung ke tanggal 14 Oktober pada tahun 1582 itu.

Ketiga sebagai pembaharu terakhir Paus Regious XIII menetapkan 1 Januari 
sebagai tahun baru lagi. Berarti pada perhitungan rahib Katolik, Dionisius 
Exoguus tergusur. Tahun baru bukan lagi 25 Maret seiring dengan pengertian Nabi 
Isa. as (Yesus) lahir pada tanggal 25, dan permulaan musim semi pada bulan 
Maret.

Ternyata, penanggalan tahun Masehi yang dipakai saat ini  berdasarkan Astrologi 
Mesopotamia yang dikembangkan oleh astronum-astronum para penyembah dewa-dewa. 
Maka nama-nama bulan pun memakai nama dewa dan tokoh-tokoh pencetus penanggalan 
kalender Masehi. Lalu  ditetapkan oleh Paus Katolik dan menjadi tradisi umat 
Kristen se-Dunia.*/bersambung ARTIKEL KEDUA

Penulis adalah Mahasiswa IAIN sunan ampel, Surabaya

Rep: 
Anonymous 
Editor: Cholis A

http://www.hidayatullah.com/read/2013/11/08/7200/gereja-sejarah-kalender-masehi-dan-tahun-baru-hijriyah-2.html

Gereja, Sejarah Kalender Masehi dan Tahun Baru Hijriyah (2)
Jumat, 8 November 2013 - 10:18 WIB 
Lanjutan ARTIKEL Pertama
Oleh: Abby Fadhillah Yahya

Kebenaran Hijriyah

Pada masa kini, manusia pada umumnya (khususnya kaum Muslim) lebih sering 
menggunakan kalender Masehi daripada kalender Hijriyah. Padahal, ini mempunyai 
dampak terhadap ibadah umat Muslim seperti pada puasa, hari raya, dan shalat.

Sebagai contoh, jika kita mengacu pada kalender Masehi,maka shalat Isya yang 
dilaksanakan pada tengah malam atau pada pukul 00.00 maka apakah masih sah 
shalat yang kita tunaikan? Karena dalam Islam, permulaan waktu terletak pada 
waktu terletak pada waktu terbenamnya matahari. Sedangkan, dalam kalender 
Masehi, permulaan waktu terletak pada pukul 00.00.  Jadi, jika kita shalat Isya 
hari Rabu pukul 00.00 berarti bukannya kita sudah masuk hari Kamis? Ini harus 
menjadi pelajaran bagi umat Muslim secara keseluruhan.

Hijriyah adalah penanggalan perdana dalam sejarah hidup umat manusia, bukan 
hanya umat Muslim saja. Alkisah, ketika itu umat Muslimin belum mengetahui 
tentang ihwal penetapan tahun. Ketika zaman kekhalifahan,  Abu Musa Al-Asyari 
menulis surat kepada amirul mu’minin yang tidak ada tanggal dan tahunnya 
sehingga membingungkan. Lalu Umar ketika itu mengumpulkan para sahabat-sahabat 
senior untuk bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan 
berdasarkan milad Rasulullah, ada yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan 
Rasulullah menjadi Rasul, dan ada yang mengusulkan berdasarkan momentum 
hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Maka diputuskanlah berdasarkan 
momentum hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah sebagai awal penetapan 
kalender Islam.  

Tahun qamariyah atau lunar year adalah tahun yang lebih panjang dikarenakan 
orbit bukan berbentuk lingkaran bundar, elips, ataupun lonjong. Karena bentuk 
lingkaran begini akan menimbulkan kekacauan dan susah untuk diramalkan. Orbit 
demikian tidak mungkin terjadi dalam tarik menariknya tata surya dengan bumi. 
Karena bumi berada pada titik perihelion atau terdekat dengan matahari dia 
harus membelokkan arah layangnya ke kiri beberapa derajat mengitari surya yang 
didekati. Orbit tatasurya berbentuk oval. Dengan orbit oval terbentuklah daya 
layang berkelanjutan dan aktivitas sunspots yang berubah sepanjang tahun untuk 
mewujudkan perubahan cuaca di muka bumi.

Itulah salah satu tanda yang telah Allah Subhanahu Wata’ala jelaskan dalam 
al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 189:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ 
وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوْاْ الْبُيُوتَ مِن ظُهُورِهَا وَلَـكِنَّ 
الْبِرَّ مَنِ اتَّقَى وَأْتُواْ الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَاتَّقُواْ اللّهَ 
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal (bulan), katakanlah “ia adalah penentu 
waktu bagi manusia dan haji. Dan tiada kebaikan bahwa kamu mendatangi 
rumah-rumah (penanggalan)dari belakangnya, tetapi kebaikan itu ialah ia yang 
menginsyafi. Datangilah rumah-rumah pada pintunya. Insyaflah pada Allah semoga 
kamu menang.”

Hal ini juga tertera dalam firman Allah surat At-taubah ayat 37

إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُواْ 
يُحِلِّونَهُ عَاماً وَيُحَرِّمُونَهُ عَاماً لِّيُوَاطِؤُواْ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ 
اللّهُ فَيُحِلُّواْ مَا حَرَّمَ اللّهُ زُيِّنَ لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ 
وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Artinya: “Sesungguhnya pengunduran (bulan haram) itu hanya menambah kekafiran. 
Orang-orang kafir disesatkan dengan (pengunduran) itu, mereka menghalalkannya 
suatu tahun dan mengharamkannya pada suatu tahun yang lain, agar mereka dapat 
menyesuaikan dengan bilangan yang diharamkan Allah, sekaligus mereka 
menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Dijadikan terasa indah bagi 
perbuatan-perbuatan buruk mereka. Dan Allah tidak memberi petujuk kepada 
orang-orang yang kafir.”

Kalender Hijriyah layak mendapatkan perhatian lebih karena ia tidak terikat 
dengan pergantian musim. Salah satu dampak positifnya bagi umat Islam dalam 
kalender ini adalah saat menjalankan syariat.  Beberapa di antaranya yang 
terikat dengan penanggalan ini adalah masalah puasa dan haji.

Semoga hari-hari ke depan kita bisa memulai dan membiasakan diri menggunakan 
warisan Islam, berupa kalender Hijriyah. Wallahu a’lam bish-shawab.*

Mahasiswa IAIN sunan ampel, Surabaya

Rep: 
Anonymous 
Editor: Cholis Akbar 

Kirim email ke