res: Bagus sekali kalau kenyataan masa depan gemilang bisa terwujud bagi NTT, 
tetapi masa depan itu kapan ataukah masa depan itu berada di horisont yang 
kalau dituju ke depan masih saja garis horisont tetap jauh dan tidak akan 
pernah bisa dicapai. Pertanyaan berikut ialah mengapa baru sekarang dikatakan 
masa depan NTT, apakah dari dulu selama kurang lebih 70 tahun tidak ada masa 
depan bagi NTT?

Kalau mengenai perikanan rezim berkuasa di Jakarta telah menanda tangani 
perjanjian dengan beberapa negara (paling tidak dua negara) dimana diberikan 
izim untuk mereka melakukan penangkapan ikan di perarian Nusantara. 
Negera-negara tsb mempunyai armada perikanan yang besar lagi modern, 
dibandingkan dengan kemampuan nelayan-nelayan NTT dan di wilayah  sekitarnya.  
Dapat dipastikan bahwa hasil keuntungan dari penangkapan ikan tidak akan 
diberikan kepada rakyat NTT, apalagi untuk mempekerjakan tenaga kerja NTT, sama 
halnya dengan perusahaan-perusahan perikanan yang dibentuk baru-baru ini di 
Jakarta.

Kalau hutan bisa  dibabat seenaknya, maka penangkapan ikan di laut pun bisa 
tidak akan ada beda  penyedotannya. Kalau hutan dibabat bisa dilihat, tetapi 
kalau ikan habis di lautan akan sulit di lihat dengan mata dan baru diketahui 
jika hasil penangkapan makin hari makin berkurang  menuju kepunahan. Contoh , 
sebelumnya penangkapan ikan di laut Baltik dan laut Utara  tanpa batas, 
akibatnya ikan hampir  menuju kepunahan total. Untuk mencegah kehabisan ikan 
maka pemerintah negeri-negeri berbatasan menentukan jumlah quota yang boleh 
ditangkap oleh masing-masing negara. Di  USA dan  Kanada penangpan ikan dan 
kepiting di Laut Bering  ditentukan lamanya waktu bisa menangkap, hal ini 
terkait pemeliharan agar tidak habis ditangkap dan ada waktu untuk ikan-ikan 
dan kepiting bisa bermamak biak dan quotanya bisa pulih kembali .  Contoh lain 
ialah laut disekitar Somalia, dulu banyak ikan, dengan adanya armada asing 
menangkap ikan tanpa aturan, maka makin hari makin jauh jarak bagi nelayan 
somalia untuk menangkap ikan, karena ikan dipesisir sudah  tidak ada untuk  
untuk ditangkap maka oleh sebab itu susah bagi nelayan kecil untuk mencari 
nafkah.

Silahkan baca artikel-artikel dibawah ini :

1)    Perizinan Usaha Perikanan Tangkap Dipermudah :   
http://www.suarapembaruan.com/ekonomidanbisnis/perizinan-usaha-perikanan-tangkap-dipermudah/43547
2)    Perikanan dan Kelautan Indonesia Bisa Jadi Nomor Wahid :  
http://www.suarapembaruan.com/ekonomidanbisnis/perikanan-dan-kelautan-indonesia-bisa-jadi-nomor-wahid/29205
3      How many more fish in the sea  :  
ttp://www.aljazeera.com/indepth/features/2012/06/201261462834779767.html
3)     Oceans' Fish Could Disappear by 2050  : 
http://news.discovery.com/earth/oceans/oceans-fish-fishing-industry.htm

Semoga ada faedahnya.


http://www.shnews.co/detile-27814-masa-depan-ntt-di-perairan-laut-.html

Masa Depan NTT di Perairan Laut 
Daniel Tagukawi | Senin, 11 November 2013 - 14:30 WIB

: 89 


(dok/ist)
Pantai Kolbano NTT. 
Semestinya NTT tidak layak masuk kategori tertinggal atau bisa segera keluar 
dari zona tertinggal.


Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan provinsi kepulauan. Setidaknya, 
ada 1.192 pulau baik yang dihuni maupun tidak. Dari 21 kabupaten dan satu kota 
di NTT, semua kabupaten yang berjumlah 21 kabupaten masuk kategori tertinggal. 
Hanya Kota Kupang yang lolos dari status ketertinggalan. 

Tentu, terlalu banyak alasan untuk mencari penyebab ketertinggalan provinsi 
yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari perairan laut. 

Ada tantangan besar untuk mengelola wilayah kepulauan dan perairan ini. Di satu 
sisi wilayah kepulauan menuntut biaya besar untuk pengembangan infrastruktur. 
Di sisi lain, ada juga potensi perairan yang sesungguhnya bisa dijadikan modal 
untuk mengangkat kesejahteraan di NTT. 

Berdasarkan data Provinsi NTT, luas wilayah daratan sekitar 47.349,9 km2, 
wilayah laut hampir empat kali lipatnya, sekitar 200.000 km2. Dengan kondisi 
seperti ini, sesungguhnya potensi terbesar NTT berada di laut. Apalagi, musim 
kemarau di NTT sekitar delapan bulan dan empat bulannya musim hujan. 

Hanya saja, fakta menunjukkan potensi kelautan NTT belum disentuh dengan baik. 
Bahkan, sebagian terbesar penduduk NTT masih berorientasi ke darat, sehingga 
yang bekerja sebagai nelayan hanya sekitar 101.522 orang dari 5,1 juta penduduk 
NTT. 

Padahal, kekayaan laut NTT sangat besar, bukan saja sebagai penghasil ikan, 
melainkan juga menawarkan berbagai potensi wisata laut. Saat ini, sesuai data 
Pemerintah Daerah (Pemda) NTT, ada delapan kawasan konservasi perairan laut di 
NTT. 

Pertama, Taman Nasional Laut Sawu (3.517.170 ha) yang meliputi Kabupaten Timor 
Tengah Selatan, Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua, Sumba Timur, Sumba Barat, Sumba 
Tengah, Sumba Barat Daya, Manggarai Barat, dan Manggarai. 

Kedua, Kawasan Konservasi Laut Daerah Alor (400.008,3 ha) di Kabupaten Alor. 
Ketiga, Konservasi Perairan Daerah Sikka (42.250 ha) di Kabupaten Sikka. 
Keempat, Taman Wisata Alam (TWA) Gugusan Pulau Teluk Maumere (59.450 ha) di 
Sikka. 

Kelima, Taman Nasional Komodo (132.572 ha) di Manggarai Barat. Keenam, TWA 
Tujuh Belas Pulau Riung (9.900 ha) di Ngada. Ketujuh, Cagar Alam Riung (2.000 
ha) di Ngada. Kedelapan, TWA Teluk Kupang (5.000 Ha) di Kota Kupang dan 
Kabupaten Kupang. 

Dari delapan wilayah konservasi ini, Perairan Laut Sawu belum mendapat 
penetapan dari pemerintah pusat sebagai taman nasional, meski kegiatan 
konservasi tetap berlangsung di kawasan ini. 

Direktur Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, 
Agus Dermawan, ketika mengikuti Rakor Taman Nasional Laut Sawu di Kupang pada 1 
November mengatakan, Kawasan Konservasi Perairan (KKP) adalah kawasan perairan 
yang dilindungi dan dikelola dengan sistem zonasi, untuk mewujudkan pengelolaan 
sumber daya ikan dan lingkungannya secara berkelanjutan. 

Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu telah dicadangkan melalui Keputusan 
Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor KEP.38/MEN/2009 tanggal 
8 Mei 2009, bertepatan dengan kegiatan World Ocean Conference di Manado. 

Penetapan Taman Nasional (TN) Laut Sawu sebenarnya sudah pada tahapan 
finalisasi. Namun, pihaknya tidak mau terburu-buru melakukan penetapan. Ada 
konsekuensi dan komitmen yang harus dijaga bersama untuk kelangsungan 
pengelolaan TN Laut Sawu. Selain itu, ia mengatakan, harus ada rencana 
pengelolaan yang jelas. 

“Ada 10 kabupaten yang terkait di sini, sehingga perlu kehati-hatian. Kita 
tidak mau nanti setelah ditetapkan, justru ada yang berubah lagi. Kita butuh 
komitmen,” katanya di Kupang, 1 November lalu. 

Selama ini, Agus mengatakan, persoalan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) 
yang melintasi perairan laut sawu juga menjadi titik krusial. Dengan adanya 
ALKI, wilayah itu menjadi alur perlintasan kapal sehingga dikhawatirkan 
menganggu konservasi. 

Namun, Kolonel Laut Sunarno Adi dari Lantamal VII Kupang menjelaskan, 
keberadaan ALKI tidak akan mengganggu konservasi sebab ada peraturan yang jelas 
bagi kapal asing yang melintasi kawasan konservasi, untuk tidak melakukan 
pencemaran atau melakukan berbagai aktivitas di kawasan laut. “Semua ada aturan 
untuk melintas bagi kapal asing,” ia menegaskan. 

Keanekaragaman 

Perairan Laut Sawu merupakan wilayah coral triangle atau wilayah segitiga 
terumbu karang dan memiliki keanekaragaman hayati laut sangat tinggi. 

Sesuai hasil survei Reconaissance tahun 2001-2002, setidaknya ada 336 jenis 
ikan karang, 31 spesies mamalia laut, terdiri dari 18 spesies paus, 12 spesies 
lumba-lumba, dan satu jenis dugong. Juga ditemukan enam spesies penyu di Taman 
Laut Sawu. 

Survei lain pada September 2013 yang dilakukan The Nature Conservancy (TNC) 
Indonesia bekerja sama dengan Dr Benjamin Kahn dari APEX Environmental, 
Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan berbagai institusi lain, menemukan 
setidaknya 1.595 fauna laut dari berbagai spesies menjadikan Laut Sawu sebagai 
habitat atau tempat migrasi. 

Survei ini juga menemukan setidaknya 10 spesies mamalia laut terancam 
keberadaannya, yakni paus sperma, paus biru, paus bongkok, paus pembunuh palsu, 
paus kepala semangka, lumba-lumba abu-abu, lumba-lumba fraser, lumba-lumba 
paruh panjang, lumba-lumba totol, dan lumba-lumba hidung botol. 

“Kawasan ini memiliki keragaman biota sangat tinggi dan merupakan tempat 
sempurna, baik untuk migrasi maupun habitat beragam spesies paus dan 
lumba-lumba, burung laut, serta fauna laut lainnya,” ungkap Benjamin Kahn saat 
memaparkan hasil survei di Kupang, 1 November lalu. 

Keanekaragaman Laut Sawu tidak lepas dari posisinya di antara Samudra Pasifik 
dan Hindia, memiliki parit laut dengan kedalaman yang dapat mencapai lebih dari 
2.000 meter. 

Kombinasi antara arus kuat dan tebing-tebing curam bawah air menjaga karang 
tetap dingin, serta melindungi karang dari pemutihan selama periode 
meningkatnya suhu air. Kondisi ini juga membuat habitat laut lebih produktif, 
menjaga populasi ikan, seperti tuna dalam jumlah besar dan membuat Laut Sawu 
sebagai “keranjang roti” kawasan Nusa Tenggara. 

Potensi Ekonomi 

Dengan kekayaan hayati seperti itu, sesungguhnya Taman Laut Sawu menyimpan 
potensi ekonomi besar. 

Menurut Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Rokhmin Dahuri, di 
Kupang, 1 November, setidaknya ada sembilan potensi ekonomi yang bisa 
dikembangkan di Laut Sawu, yakni perikanan tangkap, perikanan budi daya laut 
(mariculture), perikanan budi daya air payau (tambak), industri bioteknologi 
kelautan, pariwisata bahari, migas dan mineral lain, agribisnis dan 
agroindustri, transportasi laut, serta industri dan jasa maritim. 

Rokhmin memberikan simulasi tambak intensif udang vaname di perairan laut Sawu. 
Dengan luas areal 50.000 ha (5.000 ha per kabupaten), setiap tahun diperkirakan 
menghasilkan produksi 200.000.000 kg per tahun atau 2.000.000 ton per tahun (40 
ton per ha). 

Dengan produksi seperti itu, akan menghasilkan US$ 10 miliar per tahun atau Rp 
100 triliun per tahun (harga US$ 5 per kg). Usaha ini juga menyedot tenaga 
kerja langsung sekitar 200.000 orang untuk areal 50.000 ha. 

Itu baru tambak udang vaname. Masih ada potensi rumput laut. Rokhmin memberikan 
simulasi budi daya laut potensial seluas 3,2 juta ha. Dengan areal seluas 
100.000 ha, berpotensi menghasilkan 2.000.000 ton kering per tahun. Dengan 
harga US$ 1,5 per kg, ada potensi penghasilan US$ 300 juta per tahun atau 
sekitar Rp 27 triliun per tahun, dan mampu menyerap sekitar 800.000 tenaga 
kerja langsung. 

Kalau saja ada kebijakan dan pengelolaan yang tepat di bidang kelautan, 
semestinya NTT tidak layak masuk kategori tertinggal atau setidaknya bisa 
segera keluar dari zona tertinggal. 

Nelayan yang ditemui di Rote pada 2 November, juga mengungkapkan betapa wilayah 
laut NTT sangat kaya aneka ragam hasil laut. “Wilayah perairan di sekitar Rote 
sangat kaya dengan ikan. Tapi, kami tidak didukung peralatan tangkap memadai,” 
kata Dahlan Asrap, seorang nelayan di Pantai Papela, Rote Ndao. 

Rekan Dahlan, MJ Asenong, juga mengungkapkan hal senada. Kesulitan utama 
nelayan bukan hanya peralatan tangkap yang terbatas, melainkan juga kesulitan 
mendapatkan es batu yang cukup. “Kalau ikan sangat banyak, ada kesulitan 
peralatan tangkap dan penjualan. Kalau tidak ada es, nanti ikan mudah rusak,” 
katanya. 

Keduanya hanya berharap pemerintah memperhatikan nelayan sehingga bisa keluar 
dari kesulitan ekonomi. “Misalnya kami gunakan es dari kulkas, kalau listrik 
padam ya kita pilih tidak melaut, karena tidak ada es,” ujarnya

Kirim email ke