The Australian ungkap alasan penyadapan SBY dan Ani Yudhoyono

Berita soal penyadapan yang dilakukan intelijen Australia masih terus 
berlanjut. Harian The Australian kini membeberkan alasan aksi mata-mata 
terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ibu Negara Ani 
Yudhoyono .

Hanya berselang tiga hari sebelum berlangsungnya kampanye di Australia, kabel 
diplomatik berstempel 'rahasia' dikirimkan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat 
(AS) di Jakarta kepada diplomat AS 
di Canberra dan CIA. Kabel ini membicarakan dinamika baru peta politik 
Indonesia.

Para intelijen ini meyakini ada pemain yang menjadi 
penasehat penting bagi SBY. Orang tersebut bukan wakil presiden, bukan 
pula menteri dalam kabinet SBY, tapi istrinya sendiri, Ani Yudhoyono .

"Keberadaan Kristiani Herawati telah mengorbankan penasehat kunci 
lainnya. Ibu negara diduga telah memanfaatkan akses kepada presiden 
untuk membantu teman-temannya dan menjatuhkan lawannya, termasuk Wakil 
Presiden (Jusuf) Kalla," tulis kabel tersebut, Minggu (15/12), seperti 
dikutip dari The Australian.

Informasi tersebut membuat 
Direktorat Pertahanan Signal dan mata-mata lain yang bertempat di 
Canberra ingin mengetahui lebih jauh dinamika baru itu. Mereka menilai 
Ibu Ani memainkan peran untuk membangun dinasti keluarga dengan memasang
 Agus Harimurti Yudhoyono sebagai presiden selanjutnya.

Tak 
hanya itu, sumber di Wikileaks juga menyebutkan Ani Yudhoyono adalah 
satu-satunya orang yang mendapat kepercayaan penuh dari presiden dalam 
menghadapi setiap isu. "Ibu Ani adalah satu-satunya orang yang Presiden 
benar-benar bisa percaya pada setiap masalah dan sebagai presiden jalan 
untuk menuju paruh kedua masa jabatannya, ia semakin bergerak di 
berbaris dengan istrinya," ungkap Wikileaks.

Harian The 
Australian juga menyebutkan, Ani sangat berambisi untuk menempatkan Agus
 Harimurti dan menjadikan ibu negara sebagai capres 2014. Jabatan itu 
dilakukan sampai putranya mencapai usia yang cukup sampai dapat dipilih 
menjadi presiden pada Pemilu 2019. 

Wikileaks: Sudi Silalahi sempat frustasi gara-gara Ani Yudhoyono 

Wikileaks membeberkan, posisi Ani Yudhoyono sebagai ibu negara 
membuatnya mudah bergerak bebas di lingkungan istana. Kondisi itu 
membuatnya lebih mudah dalam memberikan masukan kepada Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono (SBY) dalam menghadapi sejumlah masalah.

Menjelang Pemilihan Umum 2009 lalu, salah satu sumber intelijen di 
sekitar istana melaporkan dengan jelas ada pergeseran kekuasaan yang 
mengarah ke Ibu Ani. Kondisi itu membuat penasihat presiden Sudi 
Silalahi semakin merasa terpinggirkan, ia pun tidak lagi memiliki daya 
untuk memberikan nasihat atasannya tersebut.

"Sekretaris 
Kabinet Sudi Silalahi , hampir mundur pada bulan Januari akibat 
frustrasi dengan dinamika baru di istana," ungkap Wikileaks, Minggu 
(15/12).

Sebelumnya diberitakan, harian The Australian 
membeberkan soal penyadapan yang dilakukan terhadap SBY dan Ani 
Yudhoyono . Sebuah kabel diplomatik berstempel 'rahasia' dikirimkan dari
 Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta kepada diplomat AS di 
Canberra dan CIA. Kabel ini membicarakan dinamika baru peta politik 
Indonesia.

Para intelijen ini meyakini ada pemain yang menjadi 
penasehat penting bagi SBY. Orang tersebut bukan wakil presiden, bukan 
pula menteri dalam kabinet SBY, tapi istrinya sendiri, Ani Yudhoyono .

"Keberadaan Kristiani Herawati telah mengorbankan penasehat kunci 
lainnya. Ibu negara diduga telah memanfaatkan akses kepada presiden 
untuk membantu teman-temannya dan menjatuhkan lawannya, termasuk Wakil 
Presiden (Jusuf) Kalla," tulis kabel tersebut. 

Wikileaks juga ungkap kedekatan Ical-Ani Yudhoyono

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Aburizal Bakrie
 (Ical) pernah melakukan pendekatan intensif dengan Ibu Negara Ani 
Yudhoyono pada tahun 2005 lalu. Langkah ini dia lakukan setelah 
direshuffle dari jabatannya sebagai Menteri Koordinator Bidang 
Perekonomian.

Dalam laporan yang dibocorkan Wikileaks, Minggu 
(15/12), Ical dilaporkan langsung tebar pesona untuk mendapatkan kembali
 perhatian dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono . Bahkan, pria yang 
kini menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar ini semakin tekun 
melakukan pendekatan dengan Ani dan keluarganya.

"Entah 
bagaimana (Bakrie) berhasil membalikkan isu bencana aliran lumpur Jawa 
Timur yang diprakarsai perusahaannya Lapindo Bras Corporation, dia juga 
terus meningkat profilnya dalam administrasi kenegaraan," ungkap 
Wikileaks.

Dalam kawat diplomatik berstempel 'rahasia' 
tersebut, mengindikasikan kedekatan Ical dengan ibu negara sempat 
membuat hubungan antara Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dengan Ani 
berada di ujung tanduk. Bahkan, Ani sempat marah saat JK berseloroh soal
 agama yang dianut istri SBY ketika bertarung pada Pilpres 2009.

Di saat bersamaan, JK juga menyimpan minat untuk meningkatkan 
hubungannya dengan Ani, dengan misi mendapat persetujuan dari istri SBY 
tersebut. Keputusan ini akan berdampak besar terhadap kelanjutan 
pasangan SBY-Kalla pada Pemilu 2009.

Sebelumnya diberitakan, 
harian The Australian membeberkan soal penyadapan yang dilakukan 
terhadap SBY dan Ani Yudhoyono . Sebuah kabel diplomatik berstempel 
'rahasia' dikirimkan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta
 kepada diplomat AS di Canberra dan CIA. Kabel ini membicarakan dinamika
 baru peta politik Indonesia.

Para intelijen ini meyakini ada 
pemain yang menjadi penasehat penting bagi SBY. Orang tersebut bukan 
wakil presiden, bukan pula menteri dalam kabinet SBY, tapi istrinya 
sendiri, Ani Yudhoyono .

"Keberadaan Kristiani Herawati telah 
mengorbankan penasehat kunci lainnya. Ibu negara diduga telah 
memanfaatkan akses kepada presiden untuk membantu teman-temannya dan 
menjatuhkan lawannya, termasuk Wakil Presiden (Jusuf) Kalla," tulis 
kabel tersebut.

The Australian ungkap strategi SBY raup suara Islam

Para intelijen nampaknya tidak puas melihat sepak terjang Ibu Negara 
Ani Yudhoyono di lingkaran Istana. Mereka juga memantau pergerakan 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat mengikuti musim kampanye 
Pemilu 2009. Ketika itu, SBY tengah berjuang untuk dapat kembali 
menjabat sebagai presiden.

Dilansir The Australian, Minggu 
(15/12), kala itu Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) coba menyebarkan rumor
 dengan menyebut Ani Yudhoyono beragama Kristen karena jarang 
menggunakan kerudung. Isu tersebut membuat Ani mulai menggunakan busana 
muslim dalam berbagai kesempatan maupun acara-acara resmi.

Di 
saat bersamaan, intelijen Australia mulai memperhatikan hubungan antara 
SBY dengan kelompok Islam untuk mengamankan suara kaum religius. 
Meskipun di pemilihan legislatif April 2009, suara dari partai berlatar 
belakang agama mengalami penurunan dari 38 persen pada 2004 menjadi 28 
persen.

Kelompok Islam masih memiliki peranan penting bagi SBY. Terutama dalam 
menghadapi serangan yang dilancarkan dari kubu JK.

"Yudhoyono tahu pentingnya Islam di Indonesia. Dia (SBY) berupaya 
meyakinkannya dengan beribadah sebagaimana umat muslim dan telah 
melaksanakan ibadah haji. Namun, dia melupakan hubungannya dengan partai
 berazaskan Islam yang bergabung dengan koalisinya, seperti PKS. Di saat
 bersamaan, dia berada di belakang demi mendukung isu yang terjadi di 
kalangan umat muslim, termasuk soal Timur Tengah atau mendukung 
undang-undang antipornografi," tulis kawat diplomatik yang dikirimkan 
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta.

Akan tetapi, 
intelijen tidak menemukan SBY dan Ibu Ani memberikan bantuan dana atau 
dukungan politik bagi kelompok Islam radikal. Keduanya tetap berkomitmen
 untuk memerangi ekstremisme dan terorisme, sekaligus mendukung 
Indonesia menjadi negara sekuler.

"Sejak (PKS) mulai menonjol 
pada lima tahun lalu (Pemilu 2004), PKS telah berbuat banyak untuk 
memecah ketakutan terhadap kegelapan di jantung demokrasi Indonesia. 
Pemimpin partai merupakan pendukung Abu Bakar Ba'asyir, kepala spiritual
 Jemaah Islamiyah, kelompok teroris yang bertanggung jawab atas pemboman
 bunuh diri di Bali yang membunuh ratusan jiwa," seperti dilansir dari 
The Australian.

baca juga :
A Cabinet Of One -- Indonesia's First Lady Expands Her Influence 


Reference id    aka Wikileaks id #126023  ? 
Subject    A Cabinet Of One -- Indonesia's First Lady Expands Her Influence
Origin    Embassy Jakarta (Indonesia)
Cable time    Wed, 17 Oct 2007 10:54 UTC
Classification    SECRET
Source    http://wikileaks.org/cable/2007/10/07JAKARTA2924.html
References    06JAKARTA13526, 07JAKARTA1059
Referenced by    07JAKARTA2948, 07JAKARTA3021, 07JAKARTA3286
History    

    Time unknown: Original unredacted version, leaked to Wikileaks
    Thu, 1 Sep 2011 23:24: Original unredacted version published, with HTML 
goodies

VZCZCXRO1668 OO RUEHCHI RUEHCN RUEHDT RUEHHM DE RUEHJA #2924/01 2901054 ZNY 
SSSSS ZZH O 171054Z OCT 07 FM AMEMBASSY JAKARTA TO RUEHC/SECSTATE WASHDC 
IMMEDIATE 6710 INFO RUEHZS/ASSOCIATION OF SOUTHEAST ASIAN NATIONS PRIORITY 
RUEHBJ/AMEMBASSY BEIJING 4414 RUEHBY/AMEMBASSY CANBERRA 1391 RUEHNE/AMEMBASSY 
NEW DELHI 1391 RUEHPB/AMEMBASSY PORT MORESBY 3483 RUEHKO/AMEMBASSY TOKYO 0976 
RUEHWL/AMEMBASSY WELLINGTON 1892 RHEHNSC/NSC WASHDC RUEAIIA/CIA WASHDC 
RUEKJCS/SECDEF WASHDC RHHJJPI/USPACOM HONOLULU HI
Hide header S E C R E T SECTION 01 OF 02 JAKARTA 002924 SIPDIS SIPDIS 

E.O. 12958: DECL: 10/17/2017 TAGS: PGOV [Internal Governmental Affairs], KDEM 
[Democratization], KISL [Islamic Issues], PINR [Intelligence], ID [Indonesia] 
SUBJECT: A CABINET OF ONE -- INDONESIA'S FIRST LADY EXPANDS HER INFLUENCE 

REF: 
A. JAKARTA 1059 
B. JAKARTA 271 
C. 06 JAKARTA 13526 
JAKARTA 00002924 001.2 OF 002 

Classified By: Pol/C Joseph Legend Novak, reasons 1.4(b,d).

¶1. (S) SUMMARY: According to contacts, Indonesia's First Lady has expanded her 
influence within the Palace and emerged as the President's undisputed top 
advisor. Kristiani Herawati's ascendance has apparently come at the expense of 
other key advisors. The First Lady has allegedly leveraged her access to the 
President to help her friends and disparage her foes, including Vice President 
Kalla. While unconfirmed rumors of the First Lady's business relationships 
continue to float around Jakarta, there is little evidence to support 
accusations that she has enriched herself at the public trough. There is also 
no evidence that the First Lady has exerted her influence on foreign policy 
issues. END SUMMARY. 

A FORCE TO BE RECKONED WITH

¶2. (S) Complaints about the First Lady's role in Palace affairs emerged almost 
as soon as President Yudhoyono assumed office in 2004. According to a host of 
Mission contacts, Ibu Ani--as she is known in Indonesia--quickly demonstrated a 
tendency to weigh in on policy, politics, and personnel matters. The 
President's advisors privately grumbled about her unseen influence in the 
decision-making process, but there was at least a sense in the early days of 
the administration that her voice was only one of the many President Yudhoyono 
listened to during his lengthy deliberations on matters of state. 

¶3. (S) Over the course of the last year or so, contacts have reported that the 
balance of power within the Palace has shifted palpably in Ibu Ani's direction. 
As Presidential Advisor T.B. Silalahi told poloff in Ref B, members of the 
President's staff increasingly feel marginalized and powerless to provide 
counsel to the President. Silalahi, for example, told poloff that his cousin, 
Presidential Cabinet Secretary Sudi Silalahi, almost resigned in January out of 

SIPDIS 
frustration with the new Palace dynamic. 

¶4. (S) According to Dadan Irawan, a high-level Golkar official (Golkar is the 
largest party in Indonesia), Ibu Ani has moved to restrict access to the 
President -- even among members of the Presidential Staff and the newly formed 
Presidential Advisory Board (Ref A). Dadan told poloff that by strengthening 
her gate-keeping role, the First Lady was able to expose the President to views 
and policy perspectives of her own choosing. According to Yahya Asagaf, a 
political appointee at the State Intelligence Agency (BIN), it was also 
becoming more obvious that the First Lady's opinion was "the only one that 
matters." 

A DISTINCT ECHO?

¶5. (S) According to family friend Ridwan Soeriyadi, the First Lady's influence 
could partially be explained as a by-product of the President's own 
cautiousness and his understandable skepticism of his advisors' motives. Ridwan 
told poloff that Ibu Ani was the only person the President could truly trust on 
every issue, and as the President moved into the second half of his term, he 
was increasingly moving in lock-step with his wife. Ridwan likened Yudhoyono's 
relationship with Ibu Ani to former president Suharto's relationship with his 
wife, and believed that on some level Yudhoyono possibly viewed Suharto's 
relationship as a kind of model for his own presidency (SBY worked closely with 
the former president 

HELPING FRIENDS AND PUNISHING FOES

¶6. (S) Dadan Irawan told poloff that Coordinating Minister for People's 
Welfare Aburizal Bakrie was perhaps the most obvious beneficiary of the First 
Lady's Palace role. According to Dadan, after the President demoted Bakrie from 
his perch atop the Coordinating Ministry for the Economy in 

JAKARTA 00002924 002.2 OF 002 

late 2005, Bakrie immediately launched a charm offensive on the First Lady to 
try and work his way back into the President's good graces. Dadan reported that 
over the first half of 2006, Bakrie assiduously ingratiated himself with the 
First Lady and her family; Bakrie's strategic courtship apparently worked in 
spades. Not only did Bakrie somehow manage to weather the East Java mud-flow 
debacle initiated by his Lapindo Bras Corporation, but he has also steadily 
increased his profile within the administration 

¶7. (S) If Bakrie's approach represents the model blueprint for managing 
relations with the First Lady, Vice President Kalla's frosty association with 
Ibu Ani undoubtedly sits at the other end of the spectrum. By all accounts, the 
First Lady actively loathes the Vice President and has launched a not-so-secret 
campaign to have him replaced at the bottom of the 2009 ticket. The Vice 
President has apparently evinced little interest in improving his relationship 
with her. This decision may ultimately come at a cost for Kalla, however, as 
Mission contacts uniformly agree the First Lady will have a major say in 
whether or not the SBY-Kalla pairing stays together in 2009 (see septel). 

ALLEGATIONS OF CORRUPTION

¶8. (S) As Ibu Ani's influence has expanded, so too has the list of her enemies 
both inside and outside the Palace. Accusations of corruption have dogged her 
since Yudhoyono first assumed office, and Ibu Ani's enemies have increasingly 
worked to spread rumors about her in the intervening years. Most of the rumors 
are short on specifics, however, and generally seem to gain currency primarily 
because of the First Family's modest financial means. (Note: The President 
spent the bulk of his career in the military, while the First Lady herself 
comes from a well-known military family. Neither of their families is 
considered to be very wealthy.) Yudhoyono's supporters and adversaries both 
recognize this core financial vulnerability and rumors that Ibu Ani may be 
exploiting the presidency to address this issue seem to gain traction as a 
result. Nevertheless, at this point there is no evidence to substantiate any of 
the rumors involving the First Lady. 

NO INTEREST IN FOREIGN POLICY 

¶9. (S) There is no indication that the First Lady has an abiding interest in 
foreign policy or holds any strong views toward the United States; her 
influence would seem to reside primarily in the domestic political sphere. 
While she accompanies her husband on foreign trips, she rarely travels 
internationally on her own and apparently has little interest in serving as a 
GOI envoy on any international issues. Likewise, we have never heard of foreign 
diplomats trying to meet with her to influence issues and--though she is 
accessible at receptions--she tends to steer clear of substantive exchanges 
with foreigners. 

HUME


Sumber:

http://www.cablegatesearch.net/cable.php?id=07JAKARTA2924

Kirim email ke