Partai politik di NKRI berfungsi seperti perusahaan milik keluarga, jadi 
anggota keluarga bukan saja menduduki posisi pimpinan  dalam partai tetapi 
juga diusahakan untuk  menjadi kepala negara.

From: Al Faqir Ilmi
Sent: Monday, December 16, 2013 2:59 AM
To: undisclosed recipients:
Subject: [inti-net] The Australian ungkap alasan penyadapan SBY dan Ani 
Yudhoyono



The Australian ungkap alasan penyadapan SBY dan Ani Yudhoyono

Berita soal penyadapan yang dilakukan intelijen Australia masih terus 
berlanjut. Harian The Australian kini membeberkan alasan aksi mata-mata 
terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ibu Negara Ani 
Yudhoyono .

Hanya berselang tiga hari sebelum berlangsungnya kampanye di Australia, 
kabel diplomatik berstempel 'rahasia' dikirimkan dari Kedutaan Besar 
Amerika Serikat (AS) di Jakarta kepada diplomat AS di Canberra dan CIA. 
Kabel ini membicarakan dinamika baru peta politik Indonesia.

Para intelijen ini meyakini ada pemain yang menjadi penasehat penting bagi 
SBY. Orang tersebut bukan wakil presiden, bukan pula menteri dalam kabinet 
SBY, tapi istrinya sendiri, Ani Yudhoyono .

"Keberadaan Kristiani Herawati telah mengorbankan penasehat kunci lainnya. 
Ibu negara diduga telah memanfaatkan akses kepada presiden untuk membantu 
teman-temannya dan menjatuhkan lawannya, termasuk Wakil Presiden (Jusuf) 
Kalla," tulis kabel tersebut, Minggu (15/12), seperti dikutip dari The 
Australian.

Informasi tersebut membuat Direktorat Pertahanan Signal dan mata-mata lain 
yang bertempat di Canberra ingin mengetahui lebih jauh dinamika baru itu. 
Mereka menilai Ibu Ani memainkan peran untuk membangun dinasti keluarga 
dengan memasang Agus Harimurti Yudhoyono sebagai presiden selanjutnya.

Tak hanya itu, sumber di Wikileaks juga menyebutkan Ani Yudhoyono adalah 
satu-satunya orang yang mendapat kepercayaan penuh dari presiden dalam 
menghadapi setiap isu. "Ibu Ani adalah satu-satunya orang yang Presiden 
benar-benar bisa percaya pada setiap masalah dan sebagai presiden jalan 
untuk menuju paruh kedua masa jabatannya, ia semakin bergerak di berbaris 
dengan istrinya," ungkap Wikileaks.

Harian The Australian juga menyebutkan, Ani sangat berambisi untuk 
menempatkan Agus Harimurti dan menjadikan ibu negara sebagai capres 2014. 
Jabatan itu dilakukan sampai putranya mencapai usia yang cukup sampai 
dapat dipilih menjadi presiden pada Pemilu 2019.

Wikileaks: Sudi Silalahi sempat frustasi gara-gara Ani Yudhoyono

Wikileaks membeberkan, posisi Ani Yudhoyono sebagai ibu negara membuatnya 
mudah bergerak bebas di lingkungan istana. Kondisi itu membuatnya lebih 
mudah dalam memberikan masukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 
(SBY) dalam menghadapi sejumlah masalah.

Menjelang Pemilihan Umum 2009 lalu, salah satu sumber intelijen di sekitar 
istana melaporkan dengan jelas ada pergeseran kekuasaan yang mengarah ke 
Ibu Ani. Kondisi itu membuat penasihat presiden Sudi Silalahi semakin 
merasa terpinggirkan, ia pun tidak lagi memiliki daya untuk memberikan 
nasihat atasannya tersebut.

"Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi , hampir mundur pada bulan Januari 
akibat frustrasi dengan dinamika baru di istana," ungkap Wikileaks, Minggu 
(15/12).

Sebelumnya diberitakan, harian The Australian membeberkan soal penyadapan 
yang dilakukan terhadap SBY dan Ani Yudhoyono . Sebuah kabel diplomatik 
berstempel 'rahasia' dikirimkan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) 
di Jakarta kepada diplomat AS di Canberra dan CIA. Kabel ini membicarakan 
dinamika baru peta politik Indonesia.

Para intelijen ini meyakini ada pemain yang menjadi penasehat penting bagi 
SBY. Orang tersebut bukan wakil presiden, bukan pula menteri dalam kabinet 
SBY, tapi istrinya sendiri, Ani Yudhoyono .

"Keberadaan Kristiani Herawati telah mengorbankan penasehat kunci lainnya. 
Ibu negara diduga telah memanfaatkan akses kepada presiden untuk membantu 
teman-temannya dan menjatuhkan lawannya, termasuk Wakil Presiden (Jusuf) 
Kalla," tulis kabel tersebut.

Wikileaks juga ungkap kedekatan Ical-Ani Yudhoyono

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Aburizal Bakrie 
(Ical) pernah melakukan pendekatan intensif dengan Ibu Negara Ani 
Yudhoyono pada tahun 2005 lalu. Langkah ini dia lakukan setelah 
direshuffle dari jabatannya sebagai Menteri Koordinator Bidang 
Perekonomian.

Dalam laporan yang dibocorkan Wikileaks, Minggu (15/12), Ical dilaporkan 
langsung tebar pesona untuk mendapatkan kembali perhatian dari Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono . Bahkan, pria yang kini menjabat sebagai Ketua 
Umum Partai Golkar ini semakin tekun melakukan pendekatan dengan Ani dan 
keluarganya.

"Entah bagaimana (Bakrie) berhasil membalikkan isu bencana aliran lumpur 
Jawa Timur yang diprakarsai perusahaannya Lapindo Bras Corporation, dia 
juga terus meningkat profilnya dalam administrasi kenegaraan," ungkap 
Wikileaks.

Dalam kawat diplomatik berstempel 'rahasia' tersebut, mengindikasikan 
kedekatan Ical dengan ibu negara sempat membuat hubungan antara Wakil 
Presiden Jusuf Kalla (JK) dengan Ani berada di ujung tanduk. Bahkan, Ani 
sempat marah saat JK berseloroh soal agama yang dianut istri SBY ketika 
bertarung pada Pilpres 2009.

Di saat bersamaan, JK juga menyimpan minat untuk meningkatkan hubungannya 
dengan Ani, dengan misi mendapat persetujuan dari istri SBY tersebut. 
Keputusan ini akan berdampak besar terhadap kelanjutan pasangan SBY-Kalla 
pada Pemilu 2009.

Sebelumnya diberitakan, harian The Australian membeberkan soal penyadapan 
yang dilakukan terhadap SBY dan Ani Yudhoyono . Sebuah kabel diplomatik 
berstempel 'rahasia' dikirimkan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) 
di Jakarta kepada diplomat AS di Canberra dan CIA. Kabel ini membicarakan 
dinamika baru peta politik Indonesia.

Para intelijen ini meyakini ada pemain yang menjadi penasehat penting bagi 
SBY. Orang tersebut bukan wakil presiden, bukan pula menteri dalam kabinet 
SBY, tapi istrinya sendiri, Ani Yudhoyono .

"Keberadaan Kristiani Herawati telah mengorbankan penasehat kunci lainnya. 
Ibu negara diduga telah memanfaatkan akses kepada presiden untuk membantu 
teman-temannya dan menjatuhkan lawannya, termasuk Wakil Presiden (Jusuf) 
Kalla," tulis kabel tersebut.

The Australian ungkap strategi SBY raup suara Islam

Para intelijen nampaknya tidak puas melihat sepak terjang Ibu Negara Ani 
Yudhoyono di lingkaran Istana. Mereka juga memantau pergerakan Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat mengikuti musim kampanye Pemilu 2009. 
Ketika itu, SBY tengah berjuang untuk dapat kembali menjabat sebagai 
presiden.

Dilansir The Australian, Minggu (15/12), kala itu Wakil Presiden Jusuf 
Kalla (JK) coba menyebarkan rumor dengan menyebut Ani Yudhoyono beragama 
Kristen karena jarang menggunakan kerudung. Isu tersebut membuat Ani mulai 
menggunakan busana muslim dalam berbagai kesempatan maupun acara-acara 
resmi.

Di saat bersamaan, intelijen Australia mulai memperhatikan hubungan antara 
SBY dengan kelompok Islam untuk mengamankan suara kaum religius. Meskipun 
di pemilihan legislatif April 2009, suara dari partai berlatar belakang 
agama mengalami penurunan dari 38 persen pada 2004 menjadi 28 persen.

Kelompok Islam masih memiliki peranan penting bagi SBY. Terutama dalam 
menghadapi serangan yang dilancarkan dari kubu JK.

"Yudhoyono tahu pentingnya Islam di Indonesia. Dia (SBY) berupaya 
meyakinkannya dengan beribadah sebagaimana umat muslim dan telah 
melaksanakan ibadah haji. Namun, dia melupakan hubungannya dengan partai 
berazaskan Islam yang bergabung dengan koalisinya, seperti PKS. Di saat 
bersamaan, dia berada di belakang demi mendukung isu yang terjadi di 
kalangan umat muslim, termasuk soal Timur Tengah atau mendukung 
undang-undang antipornografi," tulis kawat diplomatik yang dikirimkan 
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta.

Akan tetapi, intelijen tidak menemukan SBY dan Ibu Ani memberikan bantuan 
dana atau dukungan politik bagi kelompok Islam radikal. Keduanya tetap 
berkomitmen untuk memerangi ekstremisme dan terorisme, sekaligus mendukung 
Indonesia menjadi negara sekuler.

"Sejak (PKS) mulai menonjol pada lima tahun lalu (Pemilu 2004), PKS telah 
berbuat banyak untuk memecah ketakutan terhadap kegelapan di jantung 
demokrasi Indonesia. Pemimpin partai merupakan pendukung Abu Bakar 
Ba'asyir, kepala spiritual Jemaah Islamiyah, kelompok teroris yang 
bertanggung jawab atas pemboman bunuh diri di Bali yang membunuh ratusan 
jiwa," seperti dilansir dari The Australian.

baca juga :
A Cabinet Of One -- Indonesia's First Lady Expands Her Influence



Reference id    aka Wikileaks id #126023  ?Subject 
A Cabinet Of One -- Indonesia's First Lady Expands Her Influence
Origin    Embassy Jakarta (Indonesia)
Cable time    Wed, 17 Oct 2007 10:54 UTC
Classification    SECRET
Source    http://wikileaks.org/cable/2007/10/07JAKARTA2924.html
References    06JAKARTA13526, 07JAKARTA1059
Referenced by    07JAKARTA2948, 07JAKARTA3021, 07JAKARTA3286
History

    Time unknown: Original unredacted version, leaked to Wikileaks
    Thu, 1 Sep 2011 23:24: Original unredacted version published, with 
HTML goodies

VZCZCXRO1668 OO RUEHCHI RUEHCN RUEHDT RUEHHM DE RUEHJA #2924/01 2901054 
ZNY SSSSS ZZH O 171054Z OCT 07 FM AMEMBASSY JAKARTA TO RUEHC/SECSTATE 
WASHDC IMMEDIATE 6710 INFO RUEHZS/ASSOCIATION OF SOUTHEAST ASIAN NATIONS 
PRIORITY RUEHBJ/AMEMBASSY BEIJING 4414 RUEHBY/AMEMBASSY CANBERRA 1391 
RUEHNE/AMEMBASSY NEW DELHI 1391 RUEHPB/AMEMBASSY PORT MORESBY 3483 
RUEHKO/AMEMBASSY TOKYO 0976 RUEHWL/AMEMBASSY WELLINGTON 1892 RHEHNSC/NSC 
WASHDC RUEAIIA/CIA WASHDC RUEKJCS/SECDEF WASHDC RHHJJPI/USPACOM HONOLULU 
HI
Hide header S E C R E T SECTION 01 OF 02 JAKARTA 002924 SIPDIS SIPDIS

E.O. 12958: DECL: 10/17/2017 TAGS: PGOV [Internal Governmental Affairs], 
KDEM [Democratization], KISL [Islamic Issues], PINR [Intelligence], 
ID[Indonesia]SUBJECT: A CABINET OF ONE -- INDONESIA'S FIRST LADY EXPANDS HER 
INFLUENCE

REF:
A. JAKARTA 1059
B. JAKARTA 271
C. 06 JAKARTA 13526
JAKARTA 00002924 001.2 OF 002

Classified By: Pol/C Joseph Legend Novak, reasons 1.4(b,d).

¶1. (S) SUMMARY: According to contacts, Indonesia's First Lady has 
expanded her influence within the Palace and emerged as the President's 
undisputed top advisor. Kristiani Herawati's ascendance has apparently 
come at the expense of other key advisors. The First Lady has allegedly 
leveraged her access to the President to help her friends and disparage 
her foes, including Vice President Kalla. While unconfirmed rumors of the 
First Lady's business relationships continue to float around Jakarta, 
there is little evidence to support accusations that she has enriched 
herself at the public trough. There is also no evidence that the First 
Lady has exerted her influence on foreign policy issues. END SUMMARY.

A FORCE TO BE RECKONED WITH

¶2. (S) Complaints about the First Lady's role in Palace affairs emerged 
almost as soon as President Yudhoyono assumed office in 2004. According to 
a host of Mission contacts, Ibu Ani--as she is known in Indonesia--quickly 
demonstrated a tendency to weigh in on policy, politics, and personnel 
matters. The President's advisors privately grumbled about her unseen 
influence in the decision-making process, but there was at least a sense 
in the early days of the administration that her voice was only one of the 
many President Yudhoyono listened to during his lengthy deliberations on 
matters of state.

¶3. (S) Over the course of the last year or so, contacts have reported 
that the balance of power within the Palace has shifted palpably in Ibu 
Ani's direction. As Presidential Advisor T.B. Silalahi told poloff in Ref 
B, members of the President's staff increasingly feel marginalized and 
powerless to provide counsel to the President. Silalahi, for example, told 
poloff that his cousin, Presidential Cabinet Secretary Sudi Silalahi, 
almost resigned in January out of

SIPDIS
frustration with the new Palace dynamic.

¶4. (S) According to Dadan Irawan, a high-level Golkar official (Golkar is 
the largest party in Indonesia), Ibu Ani has moved to restrict access to 
the President -- even among members of the Presidential Staff and the 
newly formed Presidential Advisory Board (Ref A). Dadan told poloff that 
by strengthening her gate-keeping role, the First Lady was able to expose 
the President to views and policy perspectives of her own choosing. 
According to Yahya Asagaf, a political appointee at the State Intelligence 
Agency (BIN), it was also becoming more obvious that the First Lady's 
opinion was "the only one that matters."

A DISTINCT ECHO?

¶5. (S) According to family friend Ridwan Soeriyadi, the First Lady's 
influence could partially be explained as a by-product of the President's 
own cautiousness and his understandable skepticism of his advisors' 
motives. Ridwan told poloff that Ibu Ani was the only person the President 
could truly trust on every issue, and as the President moved into the 
second half of his term, he was increasingly moving in lock-step with his 
wife. Ridwan likened Yudhoyono's relationship with Ibu Ani to former 
president Suharto's relationship with his wife, and believed that on some 
level Yudhoyono possibly viewed Suharto's relationship as a kind of model 
for his own presidency (SBY worked closely with the former president

HELPING FRIENDS AND PUNISHING FOES

¶6. (S) Dadan Irawan told poloff that Coordinating Minister for People's 
Welfare Aburizal Bakrie was perhaps the most obvious beneficiary of the 
First Lady's Palace role. According to Dadan, after the President demoted 
Bakrie from his perch atop the Coordinating Ministry for the Economy in

JAKARTA 00002924 002.2 OF 002

late 2005, Bakrie immediately launched a charm offensive on the First Lady 
to try and work his way back into the President's good graces. Dadan 
reported that over the first half of 2006, Bakrie assiduously ingratiated 
himself with the First Lady and her family; Bakrie's strategic courtship 
apparently worked in spades. Not only did Bakrie somehow manage to weather 
the East Java mud-flow debacle initiated by his Lapindo Bras Corporation, 
but he has also steadily increased his profile within the administration

¶7. (S) If Bakrie's approach represents the model blueprint for managing 
relations with the First Lady, Vice President Kalla's frosty association 
with Ibu Ani undoubtedly sits at the other end of the spectrum. By all 
accounts, the First Lady actively loathes the Vice President and has 
launched a not-so-secret campaign to have him replaced at the bottom of 
the 2009 ticket. The Vice President has apparently evinced little interest 
in improving his relationship with her. This decision may ultimately come 
at a cost for Kalla, however, as Mission contacts uniformly agree the 
First Lady will have a major say in whether or not the SBY-Kalla pairing 
stays together in 2009 (see septel).

ALLEGATIONS OF CORRUPTION

¶8. (S) As Ibu Ani's influence has expanded, so too has the list of her 
enemies both inside and outside the Palace. Accusations of corruption have 
dogged her since Yudhoyono first assumed office, and Ibu Ani's enemies 
have increasingly worked to spread rumors about her in the intervening 
years. Most of the rumors are short on specifics, however, and generally 
seem to gain currency primarily because of the First Family's modest 
financial means. (Note: The President spent the bulk of his career in the 
military, while the First Lady herself comes from a well-known military 
family. Neither of their families is considered to be very wealthy.) 
Yudhoyono's supporters and adversaries both recognize this core financial 
vulnerability and rumors that Ibu Ani may be exploiting the presidency to 
address this issue seem to gain traction as a result. Nevertheless, at 
this point there is no evidence to substantiate any of the rumors 
involving the First Lady.

NO INTEREST IN FOREIGN POLICY

¶9. (S) There is no indication that the First Lady has an abiding interest 
in foreign policy or holds any strong views toward the United States; her 
influence would seem to reside primarily in the domestic political sphere. 
While she accompanies her husband on foreign trips, she rarely travels 
internationally on her own and apparently has little interest in serving 
as a GOI envoy on any international issues. Likewise, we have never heard 
of foreign diplomats trying to meet with her to influence issues 
and--though she is accessible at receptions--she tends to steer clear of 
substantive exchanges with foreigners.

HUME



Sumber:

http://www.cablegatesearch.net/cable.php?id=07JAKARTA2924

--
I am using the free version of SPAMfighter.
SPAMfighter has removed 1387 of my spam emails to date.
Get the free SPAMfighter here: http://www.spamfighter.com/len

Do you have a slow PC? Try a Free scan 
http://www.spamfighter.com/SLOW-PCfighter?cid=sigen

Kirim email ke