http://internasional.kompas.com/read/2013/12/15/1050456/Inilah.Alasan.Australia.Sadap.Ani.Yudhoyono

Inilah Alasan Australia Sadap Ani Yudhoyono  (1)
  a.. Minggu, 15 Desember 2013 | 10:50 WIB

Ibu Ani Yudhoyono. | KOMPAS/RIZA FATHONI
65
PADA 17 Oktober 2007, sebuah telegram rahasia dikirim Kedutaan Besar AS di 
Jakarta untuk para diplomat Amerika di Canberra, Australia, dan CIA. 
Isinya, saat terungkap enam tahun kemudian, menjadi aspek paling 
kontroversial dari skandal mata-mata Australia terhadap Indonesia karena 
sasarannya adalah ibu negara Indonesia.

Telegram tersebut membahas "dinamika baru" dalam keseimbangan kekuasaan di 
pentas politik Indonesia dengan munculnya seorang pemain yang menjadi 
penasihat paling berpengaruh bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). 
Namun, orang penting baru ini, kata telegram itu, bukan wakil presiden, 
bukan pula anggota kabinet inti SBY. Dia adalah istri SBY, yaitu Kristiani 
Herawati, atau dikenal sebagai Ibu Ani Yudhoyono. Demikian laporan media 
Australia, The Australian, dalam situs webnya, Sabtu (14/12/2013).

"Menurut sejumlah kontak, ibu negara Indonesia telah menancapkan 
pengaruhnya ke Istana dan muncul sebagai penasihat tak terbantahkan bagi 
Presiden SBY," kata telegram itu. "Naiknya Kristiani Herawati rupanya 
mengorbankan para penasihat penting lainnya. Ibu negara diduga telah 
memanfaatkan aksesnya ke Presiden demi membantu teman-temannya dan 
menyingkirkan  para musuhnya, termasuk Wakil Presiden (Jusuf) Kalla," 
tulis laporan itu.

Telegram itu mengatakan, Ibu Ani membatasi akses para penasihat lain ke 
Presiden dan bahwa "dengan memperkuat perannya sebagai gatekeeper, ibu 
negara mampu menyediakan bagi Presiden pandangan dan perspektif kebijakan 
yang dipilihnya sendiri."

Pandangan yang termuat dalam telegram pihak Amerika itu dibagikan 
badan-badan intelijen Australia, yang juga mencatat pengaruh Ibu Ani 
tersebut. Di kalangan intelijen Barat, Ibu Ani diketahui tidak punya minat 
untuk jadi presiden, tetapi telah menjadi broker kekuasaan di dalam 
pemerintahan negara tetangga terbesar dan terpenting bagi Australia.

Bagi lembaga intelijen Australia Defence Signals Directorate (DSD) dan 
sejumlah badan mata-mata lain di Canberra, mereka secara alamiah penasaran 
untuk tahu lebih banyak tentang dinamika baru di Jakarta tersebut. Mereka 
mempertimbangkan apakah peran kekuasaan Ibu Ani merupakan bagian dari 
rencana yang dicurigai untuk membuat dinasti keluarga yang berpuncak anak 
sulungnya akhirnya akan menjadi presiden. Dan, apa dinamika antara Ibu Ani 
dan kelompok-kelompok Islam yang dia rayu untuk menopang dukungan politik 
buat suaminya?

Menurut The Australian, ketika keputusan diambil pihak DSD untuk memantau 
telepon Presiden Yudhoyono dan rekan-rekan paling senior dalam 
kepemimpinannya, diyakini bahwa ada alasan kuat untuk juga menyasar ponsel 
milik Ibu Ani. "Memantau pemikiran dan koneksi penasihat politik terdekat 
Presiden sangat berguna," kata salah satu orang dalam di operasi itu yang 
meminta tidak disebutkan namanya.

"Dengan siapa dia berurusan secara keuangan, siapa berperan sebagai apa 
dalam partai, bagaimana struktur dan apa basis kekuatan yang sedang 
bergeser di Indonesia? Setiap badan intelijen akan senang untuk memiliki 
informasi tersebut."

Namun, bulan lalu, ketika dokumen yang dibocorkan mantan karyawan Badan 
Keamanan Nasional (NSA) AS, Edward Snowden, itu menunjukkan bahwa pada 
2009 DSD telah menyasar ponsel SBY, Ibu Ani, dan delapan pemimpin 
Indonesia lainnya, respons awal dari banyak kalangan di Indonesia dan 
Australia adalah, "Mengapa harus ibu negara?" Para ibu negara hidup dalam 
bayang-bayang para suami mereka, tersenyum malu-malu di depan umum, 
mendukung aksi amal, dan membesarkan anak-anak. Menyadap ponsel mereka 
pasti hanya akan menghasilkan informasi tentang daftar belanja dan gosip 
murahan. Itu pasti langkah yang terlalu jauh, sebuah langkah arogan yang 
melampaui batas dari negara yang badan mata-matanya tampak bertindak di 
luar kendali.

Menurut The Australian, tampaknya SBY setuju bahwa penyadapan telepon 
istrinya merupakan langkah yang terlalu jauh. Lihat saja kemarahan yang 
terpancar dari tweet awalnya di Twitter setelah berita itu tersiar.

Namun, Inquirer mengatakan, badan-badan intelijen yakin ada alasan 
keamanan nasional untuk membenarkan penyadapan terhadap Ani Yudhoyono. 
Keputusan untuk memantau teleponnya jelas disengaja dan diperhitungkan, 
dan tidak didasarkan pada gagasan sembrono bahwa DSD mencoba untuk 
mendengarkan hanya karena hal itu bisa dilakukan. Keputusan untuk menyadap 
juga tidak hanya didasarkan pada kenyataan bahwa SBY sesekali menggunakan 
ponsel istrinya dan bukan miliknya sendiri.

Sifat hubungan pembagian kekuasaan antara SBY dan Ibu Ani membuat tak 
terelakkan bagi DSD saat memutuskan untuk menyadap telepon Presiden SBY, 
maka mereka juga menyadap ponsel  Ibu Ani.

Kantor Perdana Menteri Australia menolak untuk mengomentari laporan itu. 
Pihak kementerian mengatakan, mereka tidak mengomentari masalah intelijen.

Baca Lanjutannya di : Inilah Alasa Australia Sadap Ani Yudhoyono 2

+++++

http://internasional.kompas.com/read/2013/12/15/1541251/Inilah.Alasan.Australia.Sadap.Ani.Yudhoyono.2.
Inilah Alasan Australia Sadap Ani Yudhoyono (2)
Minggu, 15 Desember 2013 | 15:41 WIB

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono | 
KOMPAS.COM/Sandro Gatra

ADA sejumlah faktor yang tampaknya telah membuat Defence Signals 
Directorate (DSD), lembaga mata-mata Australia yang sekarang dikenal 
sebagai Australian Signals Directorate (ASD), menaruh minat pada Ibu Ani 
Yudhoyono pada tahun 2009, saat penyadapan terhadapnya dan suaminya 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terjadi. Ketika SBY memulai masa 
jabatan presidennya untuk lima tahun pertamanya tahun 2004, para diplomat 
AS menilai bahwa suara istrinya "hanya salah satu dari banyak pihak" yang 
dia dengarkan dalam "pembahasan panjang tentang urusan negara."

Tetapi, hal itu mulai berubah dalam periode pertama itu. Demikian laporan 
di The Australian, Sabtu (14/12/2013).

Ani Yudhoyono, yang adalah putri Sarwo Edhie Wibowo, seorang letnan 
jenderal yang mengepalai pasukan khusus Indonesia saat penumpasan gerakan 
komunis tahun 1960-an, sejak awal karier politik SBY telah memainkan peran 
aktif dengan membantu kampanye suaminya.

Menurut The Australian, persoalan bagi badan-badan intelijen yang ingin 
mempelajari lebih jauh pemikiran terdalam SBY adalah bahwa dia merupakan 
sosok penyendiri yang jarang mengungkapkan pemikirannya bahkan kepada 
kolega-kolega dekat. Tren itu tampak jelas pada masa jabatan pertamanya 
sehingga meningkatkan ketergantungannya pada istrinya sebagai orang 
kepercayaan dalam urusan politik.

Media itu mengutip seorang pakar yang mengatakan, "Di depan umum mereka 
punya gaya yang sangat agung soal kepresidenan. (Dalam kehidupan privat) 
mereka membaca koran bersama-sama di pagi hari, mereka senang dan sedih 
bersama-sama, saling terbuka dan curhat satu sama lain."

Pada Oktober 2007, orang-orang Amerika mencatat dalam telegram rahasia 
mereka, yang kemudian diungkapkan WikiLeaks, "Ibu Ani satu-satunya orang 
yang Presiden benar-benar bisa percaya untuk setiap masalah dan saat 
Presiden memasuki paruh kedua masa jabatannya, ia semakin satu langkah 
dengan istrinya."

Selama 2009, badan-badan intelijen Australia mencoba untuk mengungkap 
peran Ibu Ani dalam apa yang mereka yakini merupakan sebuah rencana 
suksesi presiden yang kompleks. Badan-badan intelijen Australia mengendus, 
keluarga SBY ingin memastikan kursi presiden RI tetap di tangan mereka 
walau masa jabatan SBY untuk periode kedua berakhir tahun 2014. Menurut 
laporan The Australian itu, Ibu Ani selalu menggenggam ambisi tinggi bagi 
anak sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono, seorang perwira militer lulusan 
Harvard yang kini berusia 35 tahun. Orang di lingkaran dalam mengatakan, 
pada 2009 Presiden SBY dan istrinya memikirkan rencana untuk memasang Ibu 
Ani sebagai presiden pada 2014 sampai anak mereka itu sudah cukup umur 
untuk menduduki kursi itu tahun 2019.

Rencana tersebut tampaknya kandas, paling tidak karena jajak pendapat 
menunjukkan tingkat elektabilitas Ani Yudhoyono sangat rendah, yaitu hanya 
hampir 4 persen.

Namun, kembali ke tahun 2009, rencana suksesi tersebut dianggap serius. 
Seorang wartawan dipekerjakan khusus untuk menulis artikel tentang Ibu Ani 
di newsletter partai, tampaknya untuk meningkatkan profilnya.

Menurut The Australian, seandainya rencana itu berlanjut, hal itu tentu 
akan punya konsekuensi signifikan bagi politik Indonesia, dan tentu saja 
Australia.

Pengaruh Ibu Ani yang sedang naik ketika itu tidak terbatas pada suaminya. 
Dia juga mengerahkan kekuasaan terkait perubahan di kabinet SBY dan 
orang-orang di lingkaran dalam. Kedubes AS mengidentifikasi dia sebagai 
pengaruh utama di balik keputusan SBY menyingkirkan Wakil Presiden Jusuf 
Kalla dari calon wakil presiden pada Pemilu 2009.

Jika badan-badan intelijen, entah dengan cara bagaimana, bisa memantau 
hubungan Ibu Ani dengan elite politik Indonesia, hal itu bisa membantu 
Canberra untuk lebih memahami dinamika internal yang membentuk politik 
Indonesia.

Faktor lain dalam menyadap Ibu Ani diyakini karena peran aktif yang dia 
mainkan tahun 2009 dalam membangun konstituen politik di Indonesia. Karya 
belakang layarnya dipuji karena berperan mengamankan kemenangan SBY pada 
pemilu bulan Juli tahun itu dengan raihan suara 60 persen.

Menurut The Australian, para pengamat mengatakan, SBY, jika memungkinkan, 
lebih suka menyerahkan kepada istrinya dan para pembantu istrinya untuk 
menjangkau konstituen politik kunci. "Ibu Ani mengontrol banyak hal ini, 
sebagian karena dia seorang penggerak dan SBY, sebagai Presiden, tidak 
ingin tangannya kotor," kata salah satu orang dalam.

Dengan memonitor ibu negara, badan mata-mata Australia juga berharap untuk 
mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang posisi keuangan keluarga ibu 
negara Indonesia itu dan jaringan patronase yang mengalir dari situ.

Pada awal Juni 2006, para diplomat AS di Jakarta mencatat dalam sejumlah 
telegram mereka tentang upaya-upaya keluarga Presiden, "Terutama ibu 
negara Kristiani Herawati ... untuk mendapatkan keuntungan finansial dari 
posisi politiknya. Ibu negara Kristiani Herawati semakin berusaha untuk 
mendapat keuntungan pribadi dengan bertindak sebagai broker atau 
fasilitator untuk usaha bisnis.... Banyak kontak juga memberitahu kami 
bahwa anggota keluarga Kristiani telah mulai membangun perusahaan demi 
mengomersilkan pengaruh keluarga mereka."

Dalam masalah keamanan, diyakini bahwa badan-badan intelijen Australia 
juga menaruh minat terkait link ibu negara itu dengan kelompok Islam saat 
dia berusaha untuk mengamankan suara dari kelompok itu bagi suaminya. 
Ketika itu, dukungan rakyat untuk partai-partai Islam di Indonesia semakin 
berkurang. Dalam pemilihan parlemen pada April 2009 terungkap penurunan 
dukungan bagi partai-partai berbasis agama dari 38 persen p adatahun 2004 
menjadi hanya 28 persen pada 2009 itu.

Namun, kelompok-kelompok Islam masih merupakan konstituen penting bagi 
keluarga yang berkuasa itu, terutama karena salah satu rival politik SBY 
dalam Pemilu 2009, yaitu Wakil Presiden Jusuf Kalla, mencoba untuk 
menggambarkan keluarga yang berkuasa itu tidak Islami. The Australian 
menulis, ketika Kalla menyebarkan desas-desus bahwa Ibu Ani mungkin 
seorang Kristen karena dia jarang memakai jilbab, tuduhan itu mendorong 
sang ibu negara untuk mulai memakai jilbab.

Pada Juli 2009, Kedutaan AS menulis, "Yudhoyono tahu pentingnya Islam di 
Indonesia, dia menjelaskan dia seorang Muslim yang taat dan dia telah 
melakukan ibadah haji. Ia juga menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang 
berbasis Islam yang telah bergabung dengan koalisinya, seperti PKS (Partai 
Keadilan Sejahtera). Selain itu, dia saat itu mendukung isu-isu yang 
menjadi perhatian komunitas Muslim, termasuk mengenai Timur Tengah atau 
dengan mendukung RUU anti-pornografi yang kontroversial."

Tidak ada dugaan bahwa SBY atau Ibu Ani memberi dukungan finansial dan 
politik untuk elemen Islam radikal. Keduanya merupakan lawan gigih 
ekstremisme dan terorisme, dan pendukung kuat bagi Indonesia yang sekuler. 
Namun, selama satu dekade teror bom marak terjadi di Indonesia, 
badan-badan intelijen asing penasaran untuk tahu semua yang mereka bisa 
tahu tentang struktur kekuasaan dan hubungan antara Istana Presiden dan 
kelompok Islam besar, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

DSD dan lembaga lainnya juga sangat penasaran tahun 2009 itu untuk tahu 
lebih banyak soal aliansi politik Partai Demokrat dan PKS yang berbasis 
Islam, yang saat itu digambarkan penulis yang berbasis di Washington, 
Sadanand Dhume, sebagai versi Indonesia dari Ikhwanul Muslimin. "Para 
pemimpin partai itu (PKS) adalah pendukung vokal Abu Bakar Bashir, 
pemimpin spiritual Jemaah Islamiyah, kelompok teroris yang bertanggung 
jawab atas serangan bom bunuh diri di Bali yang menewaskan ratusan orang."

Pada Agustus 2009, ketika sejumlah dokumen yang dibocorkan Edward Snowden 
memperlihatkan DSD berusaha untuk memantau pemikiran para pemimpin 
Indonesia, termasuk SBY dan istrinya, para agen mata-mata Australia sedang 
sibuk dalam upaya untuk memecahkan misteri pengeboman yang terjadi bulan 
sebelumnya di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta yang menewaskan 
tujuh orang, termasuk tiga warga Australia. Saat itu, dalang pengeboman 
Noordin Mohammad Top masih dalam pelarian. Dalam konferensi pers di luar 
Istana Presiden setelah serangan itu, SBY secara emosional menunjukkan 
sejumlah foto dirinya yang telah digunakan sebagai target oleh orang-orang 
bertopeng tak dikenal yang memegang senjata. "Aksi teroris ini diyakini 
telah dilakukan oleh kelompok teroris, tetapi belum tentu jaringan teroris 
yang sudah kita kenal sejauh ini di Indonesia," katanya. Hanya sebulan 
kemudian, Noordin M Top tewas dalam serangan yang dilakukan oleh tim 
antiteroris Indonesia.

Pengeboman di dua hotel itu menaikkan jumlah korban tewas warga Australia 
dalam pengeboman teroris di Indonesia menjadi 95 orang antara tahun 2002 
dan 2009. Lembaga-lembaga mata-mata Australia punya minat besar soal 
pemikiran terdalam Presiden SBY dan istrinya pada masa bergejolak itu, 
ketika nyawa warga Australia jadi korban.

Meski demikian, ada perbedaan tentang bagaimana menafsirkan peristiwa di 
Indonesia itu, baik di dalam komunitas intelijen Australia maupun antara 
Canberra dan Washington. Orang-orang Amerika, terutama CIA, cenderung 
berpandangan pesimistis tentang Indonesia saat itu ketimbang Organisasi 
Intelijen Pertahanan Australia (DIO) dan kantor perdana menteri Office of 
National (ONA).

CIA lebih cemas ketimbang DIO atau ONA tentang prospek Indonesia bisa 
bergerak ke arah negara Islam yang berhaluan garis keras. CIA mendapat 
sejumlah dukungan dalam hal ini dari agen mata-mata domestik Australia, 
ASIO, yang lebih hati-hati tentang ancaman Islam Indonesia ketika itu 
dibandingkan badan-badan intelijen Australia lainnya.

Keputusan untuk menyadap telepon SBY, istrinya, dan pemimpin senior 
Indonesia lainnya mungkin telah dibuat DSD, tetapi juga bisa saja diminta 
oleh mitranya, NSA.

Perdebatan soal benar atau salah menyadap telepon pribadi SBY dan istrinya 
telah berlangsung di Australia beberapa bulan lalu. Para pengecam umumnya 
masuk dalam dua kubu, mereka yang menganggap bahwa semua bentuk mata-mata 
merupakan ilegal dan tidak bermoral, dan mereka yang menerima bahwa semua 
negara saling memata-matai, tetapi mempertanyakan apakah lembaga Australia 
telah melampaui batas ketika juga menyadap ibu negara Indonesia.

The Australian menutup artikel panjangnya dengan mengatakan, Indonesia 
adalah teman Australia tetapi juga sebuah raksasa, tetangga Islam yang 
secara historis tidak stabil yang demokrasinya relatif masih bayi, dan di 
mana teroris telah merenggut banyak nyawa warga Australia dalam satu 
dekade terakhir. Dalam konteks itu, keputusan untuk menyadap ibu negara 
Indonesia yang cerdas, berkuasa, yang digambarkan oleh para diplomat 
Amerika sebagai "cabinet of one" buat suaminya, Presiden Yudhoyono, 
tidaklah begitu mengejutkan.

--
I am using the free version of SPAMfighter.
SPAMfighter has removed 1414 of my spam emails to date.
Get the free SPAMfighter here: http://www.spamfighter.com/len

Do you have a slow PC? Try a Free scan 
http://www.spamfighter.com/SLOW-PCfighter?cid=sigen

Kirim email ke