Terima kasih May Swan sayapun bersamaa istri mengucapkan selamat menjelang 
Natal dan tahun baru 2014. Ya betul, dulu ketika masih muda semuanya terasa 
serba cepat kecuali  datangnya tahun baru  yang terasa susah menunggunya karna 
selalu tidak sabar untuk meledakkan mercon tahun baru. Tapi di usia tua 
sekarang ini(saya), menyaksikan tahun baru merupakan kebahagiaan tesendiri. 
Umur dunia bertambah, umur kita juga bertambah. Selanjutnya tak ada yang terasa 
berubah. Tapi mengapa kita senang dan merasa bahagia. Untuk saya karena merasa 
masih bisa menyaksikan kehidupan dan keberadaan. Hal itu selalu menarik, 
apalagi bila masih bisa menuliskannya. Baru-baru ini saya membaca sebuah buku 
yang berjudul(saya terjemahkan bebas):" 21 orang yang hidup lebih dari 100 
tahun" di Belanda. Sungguh menarik mendengar kisah-kisah mereka. Ternyata hidup 
panjang itu tidak selalu dengan kondisi badan yang sehat dan banyak menemukan 
kebahagiaan dalam hidup. Banyak sekali yang sebaliknya, yang pada umumnya 
menjalani dan mengalami penderitaan berbagai penyakit(termasuk kangker dan 
penyakit jantung), nasib malang dan bermacam kesialan dan kecelakaan yang tak 
terduga yang semua mereka jadi terbajakan atau tertempa mental dan fisiknya dan 
terus menjalani hidup hingga melampaui umur lebih dari satu abad. Hingga saya 
menyimpulkannya bahwa menyaksikan dan terus merasakan kehidupan adalah juga 
kebahagiaan. Sudah tentu dengan harapan yang sial-sial dan tak menyenangkan 
dalam hidup sesedikit mungkin ditemui atau sama  sekali bisa dihindari. Lalu 
ada lagi berita yang bersifat statistik bahwa katanya di Belanda setiap tiga 
bayi yang lahir sejak sekarang maka satu di antaranya akan bisa hidup seratus 
tahun. Dan tahun 2020 akan ada 1000 orang Belanda yang melampaui usia 100 
tahun. Mudah-mudahan saja gejala itu akan terjadi di seluruh dunia. Tapi belum 
apa-apa Pemerintah mereka sudah mulai pusing dan ketakutan. Dari mana uang bagi 
memelihara dan membayar pensiun itu para kakek-kakek yang tidak mati-mati itu. 
Sekarang saja uang pensiun(termasuk pensiun saya) sudah pada dipotongi 
Pemerintah untuk menambah kas negara yang kata mereka mengalami krisis akibat 
resesi Global. Tentu menyaksikan dan mengalami yang begini tidak enak tapi  
semoga saja bisa hidup lebih dari 100 tahun sesuai dengan pengalaman para kakek 
Belanda yang katanya pahit getir juga obat untuk bisa hidup satu abad. Saya 
berharap May Swan akan hidup lebih dari satu abad dan semoga saya bisa nanti 
menuliskan riwayat hidupnya di pesta ulang tahun yang ke 100.
Salam gembira ria.
ASAHAN.
  ----- Original Message ----- 
  From: May Swan 
  To: [email protected] 
  Cc: [email protected] 
  Sent: Monday, December 16, 2013 6:51 PM
  Subject: Re: Fw: [RumahKita] Fwd: Maling


  Slamat malam Bung Asahan,
  Apa kabar? Sebentar lagi tahun 2013 akan kita lalui, terasa deras banget 
jalannya waktu. Sebaliknya, entah kenapa, dulu ketika masih muda, setahun 
terasa lama sekali.
  Disini saya ucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2014 bagi Bung Asahan dan keluarga, 
juga kepada seluruh keluarga RumahKitaBersama.
  May Swan.

  2013/12/17 ASAHAN <[email protected]>

      

    Tulisan di bawah ini bagaimnapun mengandung titik-titik optimisme yang juga 
enak dibaca. Saya sendiri punya pandangan suram terhadap penanganan korupsi di 
Indonesia. Saya tidak percaya pada hukum yang manapun yang akan ditegakkan atau 
diciptakan. Saya membandingkan korupsi di Indonesia seperti penyakit kangker 
ganas yang tak lagi bisa disembuhkan dengan obat atau kemoterapi. Saya 
berpendapat korupsi di Indonesia hanya bisa dibasmi(meskipun tidak sampai 
bersih betul) hanya  dengan revolusi .Sampai di sini tentu banyak orang akan 
berhenti membaca tulian saya. Sayapun sangat mengerti. Apa yang tidak 
menjemukan di abad kita sekarang ini selain kata "revolusi".Kata itu akan 
terdengar banal, vulgar, bombastis dan juga hambar serta ketinggalan jaman.Tapi 
yang ada di kepala saya tidak ada yang lain kecuali yang dirasakan banyak orang 
itu sebagai yang paling tidak enak untuk didengar. Dan untuk itulah saya jadi 
dipencilkan banyak orang yang membuat saya sepi terpencil tapi juga damai, 
tentram kerta raharja. Saya jadi manusia yang tidak menarik karena keranjingan 
kata revolusi. Tapi saya memang menunggu pada satu saat di Indonesia akan pecah 
revolusi. Dan kalau itu tidak disiapkan secara dini alangkah kocar kacirnya 
revolusi semacam itu yang akan pecah dan melanda Indonesia. Semua akan jadi 
korban revolusi termasuk rakyat Indonesia, para koruptor dan semua penguasa 
yang sedang memerintah. Tapi revolusi akan terjadi bukan saja karena alasan 
sudah meraja lela nya korupsi. Revolusi akan terjadi karena kebudaayaan dan 
sivilisasi(bukan syphilis) kita yang tak maju-maju atau rendah atau katakanlah 
peradaban kita yang tetap saja primitif sehingga naluri "amok" atau kebiasaan 
ngamok, naik pitam. kemasukan setan pada bangsa kita suatu hari akan super 
kumat  alias kambuh dalam skala teramat besar, alias revolusi. Bisakah revolusi 
semacam itu dihindari?  Tentu saja bisa asalkan kita tahu semua penyebabnya dan 
kita tidak mau revolusi terjadi dan kita mau menyelesaikan semua persoalan 
berat kita secara beradab, berkebudayaan, sambil mempertahankan sivilisasi kita 
jangan sampai merosot seperti sekarang ini. Bisakah? Bisaaa...Karena kalau 
tidak bisa, revolusi pasti akan pecah seperti bisul yang sudah sangat masak dan 
harus mengeluarkan nanah kuning tua campur darah tanpa operasi dan itu bukan 
main sakitnya. Kasihan bukan pada rakyat, kasihan pada para koruptor, kasihan 
pada penguasa yang semuanya akan menjadi korban, tapi sebagai imbalan, 
masyarakat baru akan lahir tanpa dibebani korupsi, tanpa penghisapan  maupun 
penindasan sesama bangsa sendiri. Nah itulah baru afdol. Daaag korupsi...! 
(Paling tidak untuk sementara)

    ASAHAN.

    ----- Original Message ----- 
    From: May Swan 
    To: Audy ; [email protected] ; Yoko Lubis 
    Cc: Anwari Doel Arnowo ; May Swan ; [email protected] 
    Sent: Monday, December 16, 2013 9:53 AM
    Subject: [RumahKita] Fwd: Maling


      

    Hi Audy & Omie   
    Ini saya fw tulisan dari sahabat kita Anwari yang telah dibikin sangat 
kesal melihat banyaknya kasus korupsi di kelas elite, maka mengajukan jalan 
keluarnya seperti yang tertera dalam tulisan di bawah. Anwari memiliki a lively 
mind that made him very interesting and forever hopeful. Foto terkait diambil 
ketika kami hadir di Seminar INTI baru baru ini. 
    Seperti kita ketahui, isteri tercinta Anwari sedang menerima perawatan 
medis. Mari kita doakan bersama agar ia diberi kekuatan melawan serangan 
penyakit. 
    Thank you,
    May Swan.
      


    ---------- Forwarded message ----------
    From: Anwari Doel Arnowo <[email protected]>
    Date: 2013/12/15
    Subject: Maling
    To: May Swan <[email protected]>





    Anwari Doel Arnowo  -  2012/12/15

    Buat undang-undang, apa sulit?



    Sudah terlalu lama rasanya saya bertanya seperti itu. Apakah hanya karena 
saya bukan ahli hukum ataukah apapun, sehingga saya tidak mengerti jawabannya? 
Ah itu memang salah satu kemungkinan besar. Apa saya tidak paham politik? Itu 
memang benar sekali, saya akui itu. Lalu apa pasal saya tetap juga tidak 
mengerti apa yang menghambat para legislathieves yang ada tidak mampu bekerja 
cepat singkat dan mangkus? Apa, sekali lagi, saya harus mengakui kekurangan 
saya yang lain, yang berkaitan dengan ini? Tidak mengerti, tidak memahami? 
Tidak layak ikut bicara? Baiklah dikata-katai apa saja saya akan teruskan 
menulis ini.

    Dari sekian banyaknya hiruk pikuk pembicaraan, dialog para pengamat 
poliitk, keamanan, ekonom dan para cerdik pandai, berpangkat rendah para 
pegawai negeri sampai yang tertinggi, saya tidak bisa menyimpulkan apa susahnya 
sih membuat undang-undang? Mengapa begiiiitu lama membuatnya. 

    Begini saja, saya akan menerangkan apa keinginan saya.

    Semua tentu sudah pernah mendengar atau membaca berita macam-macam 
informasi mengenai ketidak-adilan dalam menghukum para koruptor. Yang saya 
maksud adalah mereka yang jelas terlibat kejahatan menyalah gunakan hak dan 
uang milik rakyat Indonesia, baik yang kaya raya maupun yang miskiiin-kin.  
Bagi saya, kelakuan mereka sama saja dengan maling biasa yang istilah 
populernya adalah maling ayam atau maling sandal jepit atau maling biji kakao. 
Satu Rupiah yang dimalingi itu tetap sama dengan yang dimalingi oleh Angelina 
Sondakh atau Nazaruddin atau siapapun yang disebut dengan istilah lebih keren: 
koruptor. Luthfi Hassan Ishaak atau Akil Mukhtar juga sama saja. Panggil saja 
mereka itu maling. Titik habis. Istilah itu dipakai saja di dalam 
undang-undang. Bereslah, kata saya. 

    Sudah diwacanakan (heh istilah ini apa sih arti sebenarnya) juga 
didiskusikan (nggak juga bosan rupanya?) serta disetujui (apa pula ini?) bahwa 
para maling itu dimiskinkan. Sudah lama kan? Belum ada tindak lanjutnya kan?

    Saya usulkan saja beberapa hal:

    1.  Persyaratan menjadi Calon Legislatif dan calon jabatan eselon berapapun 
diubah isinya dengan sedikit lebih KEJAM, tetapi korek dan pantas. Sebelum 
mencalonkan secara resmi, mereka harus menandatangani secara sah dan memenuhi 
syarat secara hukum bahwa secara resmi bersedia akan menyerahkan seluruh 
kekayaannya yang terdaftar di KPKPN (Komisi Pengawas Kekayaan Penyelenggara 
Negara, yang sekarang adalah bagian dari KPK) sebagai imbal balik terhadap 
seberapa kecilnyapun hasil korupsi yang bisa dibuktikan di Pengadilan Negeri 
setempat, tanpa berperkara lagi. Langsung dilakukan penyitaan total, disamping 
juga semua hasil korupsinya ikut disita. Dengan demikian maka maling ini 
menjadi miskin benar benar miskiiin kin!

    2. Istri (berapapun jumlah istrinya) harus ikut menandatangani sebagai 
tanggung renteng.

    3. Anak-anak kandungnya (berapapun jumlah anaknya) juga menandatangani yang 
sama.

    Bilamana 1., 2. Dan 3. sudah resmi dilakukan, maka pencalonan bisa 
dilanjutkan.          

    Selanjutnya silakan menyimak semua aspek terkait, apa yang harus dihadapi 
dengan dibuatnya undang-undang ini, misalnya HAM (Hak Azasi Manusia), Syariah 
yang manapun, Adat Istiadat apapun. Pada prinsipnya jangan kasihan kasihan. 
Mereka, para maling seperti itu adalah penjahat BESAR. Hukumannya adalah 
sekarang selama mereka masih hidup. Pengadilannya adalah pengadilan dunia fana, 
sekarang. Kalau tiba masanya sampai di urusan neraka, ya biar saja dua kali 
dihukum, di dunia dan di akhirat. Itu akan menjadi bagian dari masyarakat adil 
dan makmur yang selama ini tidak pernah kelihatan, tidak pernah terjadi. Saya 
tidak pernah  merasakan ini selama hidup di Indonesia.

    Jangan biarkan lagi mereka cengengesan pergi berobat dengan VIP treatment, 
masih terima pensiun dan masih menikmati tempat hukuman khusus segala. 
Campurkan saja dengan para narapidana biasa, di penjara biasa saja, penjahat 
biasa juga. Remisi? Lupakan saja!!

    Saya bukannya pendendam yang ngawur, tetapi usul membuat undang-undang itu 
tidak mudah didengar oleh para legislathieves. Karena mungkin sekali, mereka 
justru bagian dari yang menerima akibat apabila undang-undang yang saya usulkan 
itu bila menjadi kenyataan.

    Kalau memang terjadi, saya mau kaul: menggundul plontos rambut saya.



    Anwari Doel Arnowo  -  2012/12/15 






    Best regards / Kirim Salam,

    Anwari Doel Arnowo
    [email protected] 
    BintaroBantenIndonesia
    Make mortality your ally









    

Kirim email ke