Pro dan kontra tentang sebuah film itu biasa. Semua orang bebas mengutarakan pendapatnya masing-masing yang mungkin saling bertentangan satu sama lain. Tapi bila pendapat yang kontra lalu mengajukannya ke pengadilan dan kemudian sebuah film akan dilarang atau segra distop pemutarannya, itu sudah menyalahi dan melanggar kebebasan mengeluarkan pendapat dan itu merugikan pihak yang pro. Demokrasi kembali tidak berjalan dan kebebasn melontarkan pendapat kembali tercekik. Ini tidak baik untuk Indonesia yang punya tradisi membredel atau melarang peredaran sebuah buku oleh Penguasa karena tidak atau melawan selera penguasa dan ini berarti kembali ke jaman suharto. Segi-segi negatif Sukarno bukan hanya sekarang dikenal dan dibicarkan orang. Bahkan di jaman Sukarno-pun segi-segi negatif beliau sudah menjadi rahasia umum dan menjadi pembicaraan umum dan itu terus berlangsung hingga sekarang.Tapi dengan lahirnya film "Sukarno" segi-segi negatif Sukarno ditentang ditonjolkan dalam film dan diprotes keras oleh mereka(pencinta) yang bersimpati pada Sukarno. Itu bisa saja. Tapi untuk sampai melarang film ini beredar, itu sudah terlampau jauh mundur ke belakang. Pertanyaan banyak orang, mengapa tidak boleh menonjolkan segi-segi negatif Sukarno dalam film? Janganlah main larang karna ini juga adalah sejenis bakar buku karna tidak setuju isinya. Melarang sebuah film yang sedang beredar sama saja dengan pembakaran buku yang tidak disukai. Kalau tidak setuju bikinlah film tandingan yang menonjolkan segi-segi positif Sukarno atau kritiklah ke berbagai media. Mengajukan ke pengadilan untuk tujuan melarang peredaran sebuah film, jelas menunjukkan sifat anti demokrasi, anti berexpresi secara bebas. Film tentang "Pembertontkan PKI" yang total adalah pembohongan dan fitnah besar terhadap PKI tidak pernah dilarang hingga sekarang. Menilai sutradarnya (film"Sukarno") sebagai tidak punya pengetahuan tentang Sukarno, saya rasa tidak adil. Saya kira seorang sutradara bukanlah orang bodoh dan tak berpengetahuan tapi dia juga punya pendapat sendiri, punya penafsiran sendiri yang tidak boleh ditindas dan dicekik bila orang lain tidak setuju. Kalau setiap yang tidak disetujui selalu dianggap fiksi dan yang disenangi adalah realitas, itu lebih dekat ke naifitas, kekanak-kanakan dan sama sekali jauh dari objektivitas. ASAHAN.
----- Original Message ----- From: isa To: Salim Said ; [email protected] ; 'Djoko Suyanto ; A Dahana ; A. Rahman Tolleng ; A.H. Amparita ; Abdillah Toha II ; Abidin Abidin ; Abuprijadi Santoso (Tosi) ; achmad Mubarok ; Achmad Sujudi Dr. ; Agus Abubakar ; Agus Widjojo ; Ahmad W. Pratiknya ; Ahmad Yani Basuki ; Ahmad Zen Umar Purba ; alfan alfian ; Ali Mohamad Sungkar ; AM Hendropriyono ; amran nasution ; Amris F. Hassan ; Andi Wijayanto ; Anwar Nasution,Prof. ; ASAHAN ; Asahan Aidit ; Astrid Suryo ; August Parengkuan ; B. J Habibie ; Bahtiar Effendy ; Bambang Harimurty ; Burhanuddin Abdullah ; Burhanuddin Muhtadi ; Chan ; chappy hakim ; Christianto Wibisono ; Daud Sinjal ; Dedy Jamaludin Malik ; Dewi Fortuna Anwar ; Dharmawan Ronodipuro ; Didik Rachbini, Professor Dr. ; Dinna Wisnu ; Donny Gahral Adian Dr. ; Dr. Joe Sulaiman ; Dr. Saafroedin Bahar ; Dr. Taufik Abdullah ; Dr. Yuddi Chrisnandi ; Dr.Priyono Chpto Heriyono ; Endriartono Sutarto ; Erry Ryana Harjapamekas ; Fahmi Idris ; Fahrul Razi Jenderal ; Farid Prawiranegara ; Farouk Muhammad. ; ferry baldan ; Freddy Tulung ; Ganjar Pranowo ; halim perdanakusuma ; Handojo Priopranoto ; Hendri Saparini, Dr. ; HS Dillon ; Ichsan Loulembah ; Ikrar Nusa Bhakti ; Indria Samego ; Ir. A.M. Luthfi ; ishaq iskandar ; Jayadi Hanan ; Joseph Daves ; Juwono Sudarsono ; Kiki Syahnakri ; Kusnadi Kardi ; Liddle, Bill ; Makmur Makka ; Mangadang Napitupulu ; Mar. Norman ; Mohamad Sobari ; mohtar Mas'oed ; Mustafa Kamal ; Pro.Dr. Bungaran Saragih ; Prof. Dr. Djoko Rahardjo ; Prof. Hikmahanto Yuwono ; Prof.Dr. Amir Santoso ; Prof.Dr. Ryaas Rasyid. ; R.M.A.B Kusuma ; Rachmat Pambudy, Dr. Ir Ms ; Retno L Marsudi ; Rizal Sukma ; RODON PEDRASON ; Rusadi Kantaprawira ; sabam sirait ; Salahuddin Wahid ; Salim Said ; sayidiman suryohadiprojo ; Sinansari Ecip ; sjafrie sjamsoeddin ; Syamsul Maarif ; Teddy P. Rachmat ; teddy sunardi ; Usep Setiawan ; Zaenal Muttaqin ; alumnas-oot ; Djoko Rahardjo ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; Zainal Bintang Sent: Friday, December 20, 2013 8:11 PM Subject: Kolom IBRAHIM ISA -- Film “SOEKARNO” Menuai Kritik Keras,* * *,,Kesan DR SALIM SAID “SETELAH MENONTON (Film) SUKARNO Kolom IBRAHIM ISA Sabtu, 21 Desember 2013 ---------------------------------- Film “SOEKARNO” Menuai Kritik Keras * * * Kesan DR SALIM SAID “SETELAH MENONTON (Film) SUKARNO * * * Beberapa hari yang lalu aku menerima kiriman dari sahabatku sejarawan Dr Hoesein Rushdy sebuah foto. Di situ diabadikan suatu aksi unjuk rasa puluhan pendemo di depan kantor PT Tripar Multivision, Jakarta. Mereka memprotes film baru tentang Sukarno yng disutsradarai oleh Hanung Barmantyo. Pengunjuk rasa yang yang beraksi atas nama “Masyarakat Pencinta Bung Karno”, menyatakan bahwa film tsb adalah UPAYA DESOEKARNOISASI, Mereka menuntut penghentian pemutaran film Soekarno. Menurut mereka film karya Hanung Bramantyo tsb banyak memotong peristiwa sejarah perjuangan saat melawan Jepang. Tidak sulit untuk menyimpulkan bahwa pembutan film SOEKARNO adalah kelanjutan yang logis dari kampanye-media tertentu di masyarakat untuk “menghidupkan kembali imago-buruk mantan Presiden Suharto” yang sudah babak-belur dilanda gerakan Reformasi dan Demokratisasi -- karena prestasinya bergelimang dengan KKN. Dan berakhir dengan Suharto “lengser keprabon – mandek pandito” . . . Proses itu menunjukkan betapa bosan dan muaknya masyarakat dengan politik-ekonomi pelelangan kekayaan tanah air dan penjualan bangsa kepada kekuatan modal monopoli kapitalisme global. Sesungguhnya bangkrutnya politik rezim Orba dan tuntutan masyarakat untuk suatu PERUBAHAN FUNDAMENTAL dalam politik-ekonomi Indonesia yang mengutamakan kepentingan tanah air dan bangsa, sudah menjadi kenyataan, realita yang pasti. Para pembela politik-ekonomi rezim Orba kini berusaha mengangkat kembali imago Suharto. Di segi lain mereka MELAKUKAN KAMPANYE MEMBURUKKAN IMAGO BAPAK BANGSA BUNG KARNO. Seperti yang dinyatakan oleh “Masyarakat Pencinta Bung Karno”, suatu “upaya DESOEKARNOISASI”. Dalam bahasa cuaca, apa yang dilakukan para pembela Suharto dan kekuatan anti-Sukarno ini adalah suatu ARUS SAKAL!! MEMBALIKKAN PERKARA . .. Yang cepat atau lembat keseluruhannya akan dicampakkan oleh logika normal masyarakat Indonesia. * * * Ditiupkanlah isu-isu bahwa rakyat “merindukan kembalinya jaman Orba” . . Lalu dipopulerkan celetukan -- “Lebih enak jamanku toh?' Entah berapa ratus atau ribu “billboard” foto Suharto tersenyum . . . yang disebarkan dan dipasang dimana-mana. Mengiringi dan meramaikan dibangunnya “musium Suharto” ( 1 Maret 2013) di Godean, Kemusuk, Sleman D.I. Yogyakarta. Di Facebook bisa dibaca banyak lagi kritik terhadap film karya Hanung tsb. * * * Mantan Dubes RI di Praha, DR Salim Said menyatakan di awal komentarnya bahwa “Setelah menonton Sukarno, film terbaru Hanung Bramantyo, saya harus dengan sedih menyatakan kekecewaan saya”. Tulisnya lagi: Kesan pertama saya setelah meninggalkan gedung pertunjukan, Hanung tidak mempelajari dengan baik Soekarno dan dinamika perjalanan hidupnya. Lalu dinyatakannya terus terang bahwa karya Hanung film Soekarno itu, adalah “SUATU KECOROBOHAN KONYOL!!”. Berikut ini lengkapnya kesan Salim Said tampil dengan tulisan: Setelah Menonton Sukarno Oleh: Salim Said Setelah menonton Sukarno, film terbaru Hanung Bramantyo, saya harus dengan sedih menyatakan kekecewaan saya. Hanung adalah salah seorang sutradara terbaik Indonesia sekarang. Filmnya ttg Kiyai Haji Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) adalah satu dari beberapa film Indonesia terbaik hingga saat ini secara sinematis. Film itu dibuat dengan teliti dan dengan selera yang bagus berdasarkan skenario yang rapi dalam mengungkapkan jalannya cerita. Ketika saya menjadi salah seorang anggota juri FFI waktu itu, saya berjuang agar karya Hanung itu mendapatkan hadiah sebagai film terbaik. Kami para juri akhirnya sepakat, tapi panitia FFI membatalkan keputusan kami. Sebagai mantan kritikus film majalah TEMPO, saya termasuk penonton awal Sukarno sesaat setelah film produksi Raam Punjabi itu memasuki pasar. Kesan pertama saya setelah meninggalkan gedung pertunjukan, Hanung tidak mempelajari dengan baik Soekarno dan dinamika perjalanan hidupnya. Mungkin untuk mengatasi kelemahannya dalam hal tersebut, film muncul sebagai serangkaian fragmen-fragmen perjalanan hidup Soekarno. Ini sangat berbeda dengan perjalanan hidup Ahmad Dahlan yang diceritakan secara lancar pada karya Hanung sebelumnya. Dinamika hidup Soekarno memang lebih rumit dari hidup Kiyai Dahlan. Tapi hal demikian sudah harus diketahui Hanung sebelum memulai shooting filmnya. Seharusnya Hanung mencermati dengan saksama skenario (jika ditulis orang lain) sebelum menterjemahkannya ke layar lebar. Akibat dari kelemahan dan kurangnya persiapan sutradara dan kelemahan skenario, yang jadi tokoh menonjol dalam film itu bukan Sukarno atau Hatta, melainkan Syahrir. Dalam bahasa orang film, Syahrir adalah protagonis dan Sukarno adalah antagonis. Bukan cuma itu, akibat kecerobohan skenario, Sukarno tampil dalam karya Hanung itu sebagai seorang seks maniak yang bermoral rendah dan tanpa perasaan. Tidak ada digambarkan proses yang meyakinkan lahirnya keputusan Sukarno jatuh cinta dengan Fatma yang menyebabkan Inggit meninggalkan Sukarno. Perkawinan Sukarno dengan Inggit adalah cerita tentang daya tarik Sukarno yang berhasil "merebut" Inggit dari suami pertamanya, Haji Sanusi. Dengan menggambarkan Sukarno mudah "mencampakkan" Inggit yang lebih tua untuk mendapatkan Fatma yang masih remaja, kesan yang dipancarkan oleh film karya Hanung adalah gambaran Sukarno yang sekmaniak, egois dan tidak tahu menghargai pengorbanan Inggit. Pada bagian yang menggambarkan kelahiran Guntur (suatu penggambaran yang berlebihan dan nyaris tidak menyumbang apa-apa terhadap jalan cerita) memang ada dialog tentang Sukarno yang bahagia karena akhirnya mendapatkan keturunan setelah sebelumnya hanya punya sejumlah anak angkat. Tapi akan lebih berguna bagi jalan cerita dan watak Sukarno jika pernyataan Sukarno itu dimunculkan ketika Sukarno akhirnya mengambil Fatma yang remaja untuk menggantikan Inggit yang tidak kunjung melahirkan keturunan. Adegan Sukarno ikut "bekerja" seperti banyak Romusha yang menderita, (di depan kamera para pemotret Kantor Propaganda Jepang) adalah kreasi Hanung yang mungkin dimaksudkan sebagai gambaran betapa menderitanya Sukarno sebagai "kaki tangan " Jepang. Tapi karena Syahrir sudah dan terus menerus digambarkan sebagai tokoh anti Jepang, maka kesan yang timbul dari adegan kerja Sukarno di tengah-tengah penderitaan para Romusha, akhirnya hanya makin menekankan Sukarno sebagai kolaborator Jepang yang menjual rakyatnya untuk menjadi kuli bagi pemerintahan militer Jepang. Tidak kurang menarik mengamati kecerobohan sutradara dan penata busana pada adegan rapat yang melahirkan Pancasila. Pada adegan itu wakil golongan Islam bukan saja digambarkan sebagai grombolan berangasan yang berteriak-teriak memaksakan Syariat Islam sebagai dasar negara, mereka juga ditampilkan dalam pakaian yang mengingatkan saya para pekerja asal anak benua India saat mereka membersihkan Masjidil Haram di Mekkah. Kalau saja Hanung dan penulis skenarionya membaca secara saksama sejarah persiapan kemerdekaan Indonesia menjelang takluknya Jepang, niscaya kecerobohan konyol demikian pasti bisa dihindarkan. (cetak tebal oleh I.I.) Tentu ada kekecualian terhadap komentar saya, jika Hanung memang berpendirian bahwa Sukarno adalah seorang seksmaniak yang mencampakkan Inggit dengan dingin agar bebas memetik daun segar (Fatma) di Bengkulu. Juga kalau Hanung memang melihat Sukarno sebagai kolaborator Jepang dan Syahrir sebagai patriot. Dan dalam soal penggambaran rokoh-tokoh Islam dan pakaian mereka yang bagaikan kuli yang membersihkan Masjidil Haram, Hanung barangkali memang punya sikap merendahkan wakil-wakil Islam dalam sidang membicarakan dasar negara waktu itu. * * * Kepada DR Hoesein Rusdhy yang mengirimkan bahan tentang unjuk rasa itu, kutulis: Bila benar-benar serius siapa saja yang hendak membuat film tentang Bung Karno . .. Ceriteranya sebaiknya disusun oleh sebuah komisi atau panitia . .. Mutlak mencakup sejarawan seperi Dr Aswi Warman Adam dan Dr Baskara Wardaya, Bonnie Triyana, Wilson, Hilmar Farid dll.. . . . . . . Riwayat BK seyogianya ---- disusun atas dasar karya-karya politiknya yang telah dibukukan seperti "Dibawah Bendera Revolusi" Jiid I, II, dan "Revolusi Belum Selesai", Jilid I, II. DAN . . . . . . buku edisi terakhir "BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT", Cindy Adams (1965). . . dll . . . . .. Hanya dengan cara demikian baru ceritera BK bisa dianggap serius . . . . .. Kalau tidak jangan-jangn hanya mengada-ada saja . . .. atau berdongeng tanpa dasar . . . . * * * Ketika bertukar fikiran dengan kawanku Yanti Mirdayanti, dosen di Universitas Hamburg, Jerman, kukatakan, sbb: Tentang seorang tokoh atau peristiwa sejarah telah banyak ditulis ceritera dan novel . . . . Juga telah dibuat film cerita . . . . Ada keleluasaan penulis/sutradara untuk membubuhkan interpretasinya bahkan variasinya sendiri. . . . . . . Namun, . . . Bagaimanapun bila menulis ceritera atau dokumentasi tentang seorang tokoh sejarah . . . bukankah pada tempatnya SIPENULIS /SUTRADRA berusaha MENGENAL tentang tokoh yang mau ditulisnya? Betapapun fantasi dan fiksi yang ada diotak penullis/sutradara tsb . . . DIA SEYOGIANYA terlebih dahulu berusaha MENGENAL TENTANG ORANG YANG DICERITERAKANNYA ITU . .. Ia bebas berceritera, itu termasuk FREEDOM OF EXPRESSION . . . freedom of speech, writing etc... Tapi kalau misinya adalah untuk memberikan pencerahan sekitar sejarah bangsa . . . jangan terlalu banyak fiksi atau fantasi penulis sendiri . . . Yang pokok adalah mengetahui benar tentang tokoh mengenai siapa ia akan tulis atau bikin film . .?, . Jangan mengutamakan fantasi atau fiksinya sendiri . . . Tapi kalau tokh mau mendahulukan fantasi atau fiksi serta interpretasinya sendiri . . ., ITUPUN TIDAK AKAN ADA YANG MELARANGNYA .... FREEDOM OF EXPRESSION . . . . . * * * Tampaknuya Hanung Barmantyo tidak hanya berfantasi dan berfiksi tentan SOEKARNO., . . seperti seru pengunjuk rasa “Masyarakat Pencinta Bung Karno”: Yang dilakukan Produser Sutradara HANUNG BARMANTYO, adalah suatu UPAYA DESOEKARNOISASI!! * * *
