http://www.ambonekspres.com/index.php?option=com_k2&view=item&id=2658:panggung-terakhir-sby&Itemid=637


Panggung Terakhir SBY
  a.. Jumat, Jan 03 2014
  b.. Ditulis oleh  amex
  c..
Смесители для душа и ванны
Детские игрушки, развивающие игры
Cetak Email
Oleh : Wahada Mony (Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) 
Periode 2013-2015)

“Terwujudnya Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur serta 
mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera, aman dan damai serta meletakan 
fondasi yang lebih kuat bagi indonesia yang adil dan demokratis”.

Begitulah bunyi tageline politik yang tertuang dalam visi-misi Presiden 
dan Wakil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono paska terpilih 
pada Pemilu tahun 2009 silam. Rasanya belum diwujudkan secara fundamental 
dan holistik oleh SBY. Pemerintahan era reformasi ini setelah melegitimasi 
kekuasaannya bersama Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II yang di 
bentuk guna mewujudkan cita-cita politik kenegaraan Indonesia seperti yang 
tertuang dalam perangkat visi tersebut. Kurang lebih empat (4) tahun 
terakhir ini dari 2009 hingga 2013, perjalanan politik pemerintahan 
episode kedua SBY-Boediono tak pernah luput dari ancaman, kritikan maupun 
rintangan yang amat panjang. Perilaku publik demikian adalah lumrah 
sebagai fungsi kontrol pemerintah atas kinerja dan kebijakan yang di 
anggap tidak sesuai harapan.

Jika kembali menengok kebelakang maka kinerja pemerintahan SBY-Boediono 
selama memimpin negara hingga kurun waktu empat tahun ini cukup 
memprihatinkan dibanding era pemerintahan sebelumnya. Bahkan publik 
menilai ternyata rezim Orde Baru masih di anggap baik oleh masyarakat 
Indonesia dibanding reformasi saat ini. Hal ini ditandai dengan kinerja 
pemerintah di beberapa sektor vital dan strategis seperti ekonomi, hukum, 
politik, pertahanan keamanan maupun hubungan internasional yang dianggap 
publik gagal diwujudkan oleh SBY. Karena itu, kinerja pemerintahan 
SBY-Boediono masih saja dipertanyakan. Tak ayal, komparasi adalah hal yang 
sering dilakukan ketika situasi tidak memenuhi harapan masyarakat. Maka 
sangat wajar ketika rakyat menilai rezim kepemimpinan era sebelumnya masih 
sangat baik ketimbang kondisi bangsa saat ini yang dipimpin Presiden SBY.

Keprihatinan publik ini ibarat mimpi disiang bolong, tak ada harapan yang 
didapat tapi justru duka nestapa yang di alami bangsa. Negara jatuh bangun 
karena Indonesia yang mandiri, maju, adil, makmur dan sejahtera tak 
kunjung wujud memenuhi amanah dasar Pancasila dan konstitusi UUD 1945. 
Kondisi ekonomi yang semakin saja terpuruk, keadaan hukum yang semrawut 
serta penataan sistem politik yang carut marut adalah sederaet peristiwa 
kelam yang terjadi dipenghujung usia pemerintahan SBY. Sontak masyarakat 
merasa tidak puas bahkan pesimis atas kinerja pemerintah. Lembaga survei 
Indo Barometer misalnya merekam tingkat ketidakpuasan publik terhadap 
kinerja SBY-Boediono masih di bawah angka 50 %. Kondisinya mencerminkan 
kalau mayoritas masyarakat Indonesia tidak puas dengan pencapaian 
reformasi sebesar 55 % dan yang puas hanya sekitar 29,7 %, (Indo 
Barometer; 2010).

Raport Merah SBY


Kinerja kepemimpinan Jilid II SBY-Boediono mendapat cobaan amat berat 
ketika diuji  pada awal masa 100 hari kerja pemerintahan. Kala itu SBY 
belum memenuhi janji mewujudkan visi Indonesia yang komprehensif. Sorotan 
publik menuai tak sedap dengan mengecap rezim SBY masih memiliki nilai 
raport merah di tahun 2010. Berikut presiden bersama kabinetnya terus 
melakukan recovery dan perbaikan sistem kinerja di berbagai aspek. Namun 
lagi-lagi tak mencapai perubahan pembangunan yang signifikan. Tahun 2012 
penelusuran lembaga riset politik yang terungkap dalam rilis Riset Politik 
Charta Politika Indonesia kembali mengungkap fakta kinerja kegagalan 
SBY-Boediono, sebanyak 41,6 % publik mengaku kurang puas dengan kinerja 
pemerintahan SBY-Boediono. Sementara yang mengaku puas hanya berkisar 35,7 
%, sedangkan yang tidak puas sama sekali sebanyak 9,0 %.

Realitas diatas menunjukan bahwa rendahnya tingkat kepuasaan publik diatas 
juga terkait erat dengan persepsi publik yang negatif terhadap kinerja 
menteri dari kalangan parpol yang kian susut. Menteri Agama (Suryadharma 
Ali) hanya memberi trend kepuasan publik yang paling tinggi sebanyak 26,4 
%. Perolehan ini disusul Menko Perekonomian Hatta Rajasa (22,4 %), 
Menkominfo Tifatul Sembiring (21,5 %), Menpora Andi Mallarangeng (saat 
itu) (19,8 %) dan Menteri Pertanian Suswono (19 %).

Selanjutnya, Menteri Sosial Salim Segaf al-Jufrie (18,3 %), Menko Kesra 
Agung Laksono (17, 4 %), Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan (15,2 %), 
Menteri Perhubungan EE Mangindaan (14,5 %), MenPAN dan Reformasi Birokrasi 
Azwar Abu Bakar (14,4 %), Menteri ESDM Jero Wacik (14,3 %), Menteri 
Kehutanan Zulkifli Hasan (13,6 %), Menakertrans Muhaimin Iskandar (13,4 
%), Menkumham Amir Syamsuddin (13,3 %), Menteri Kelautan dan Perikanan 
Syarif Cicip Sutardjo (12,7 persen), dan Menteri PDT A Helmy Faisal (10,6 
%), (Charta Politika Indonesia:30/8/2012).

Rata-rata tingkat ketidak puasan publik terhadap kinerja kebijakan menteri 
yang paling besar menteri dari kalangan partai politik yang paling cukup 
rendah dengan mencapai tingkat ketidakpuasan publik dibawah angka 50 %. 
Hal ini yang menurut banyak pengamat bahwa tingkat ketidakpuasana publik 
atas kinerja pemerintahan SBY-Boediono disebabkan akibat faktor “Koalisi 
Semu” yang di bangun dalam Kabinet Jilid II (KIB II) yang dibuktikan 
dengan ketidakpuasan terhadap figur menteri dari partai yang cukup besar. 
Yang amat sinis di mata publik, raport merah yang di capai dalam kinerja 
pemerintah SBY terjadi pada beberapa sektor penting dan strategis yakni 
sektor ekonomi, hukum, dan politik. Sektor ekonomi sebagai penyumbang 
tingkat ketidakpuasan publik yang paling besar hingga mencapai 67,4 %, 
menyusul sektor hukum berkisar 58 % dan politik mencapai angka terendah.

Lain lagi fakta rilis Lembaga Survei Indonesia (LSI) juga menunjukkan 
terjadinya peningkatan ketidakpuasan publik terhadap dinamika keadaan 
nasional. Dari aspek ekonomi, ketidakpuasan publik meningkat dari 32.4% 
(Januari 2011) ke 35.7% (Juni 2011). Aspek politik juga sama dari 24.4% 
(Januari 2011) ke 33.9% (Juni 2011). Begitupula dengan aspek penegakan 
hukum, dari 31.2% (Januari 2011) ke 33.1% (Juni 2011). Dan dalam aspek 
keamanan, dari 11.4% (Januari 2011) ke 14.9% (Juni 2011). Meningkatnya 
ketidakpuasan publik di atas merupakan protes terhadap lemahnya 
kepemimpinan SBY dalam menangani persoalan-persoalan bangsa.

Kinerja Kepemimpinan SBY-Boediono periode dua ini gagal memperbaiki sistem 
kinerja pembangunan yang dicapai. Kerasnya pemerintah yang sering 
mengklaim kinerja SBY saat ini dianggap baik dan positif hanya berkutat 
pada value dan angka-angka pembangunan yang ditunjukan. Jika pemerintah 
berteori dengan menunjukan pertumbuhan ekonomi terus meningkat dan 
membaik, kehidupan politik dan demokrasi semakin maju serta keadaan hukum 
mulai membenah. Maka hal ini akan berbeda dengan kondisi masyarakat kecil 
yang tinggal di daerah pedalaman maupun pinggiran kota.

Masyarakat miskin yang masih sulit mengenyam pendidikan gratis, masyarakat 
wong cilik yang susahnya hidup sehat, penderita gizi buruk tanpa peduli 
pemerintah. Dimanakah janji Presiden SBY untuk menjawab kebutuhan 
masyarakat agar hukum itu diberi adil tanpa pandang bulu, agar ekonomi 
tumbuh hingga mencapai 7-8 persen, sumber daya alam tak lagi dirampok 
apalagi industri dan pasar tidak untuk dikuasai asing, mewajibkan 
pendidikan murah nan gratis tanpa biaya dari APBN wajib 20 persen serta 
petani, pedagang maupun buruh tak lagi bergejolak.

SBY hanya bisa berprestasi pada aspek politik pencitraan yang di 
lakoninya. Sebagai seorang negarawan dan tokoh pemimpin bangsa yang 
pandai, tegas dan berwibawa serta berani mengambil keputusan saat kondisi 
negara genting. Politik pencitraan dilakukan sebagai senjata ampuh yang 
digunakan untuk mengambil hati rakyatnya. Sangat wajar jika seorang 
presiden membentuk citra sebaik mungkin demi menjaga imej baiknya di mata 
masyarakat Indonesia. Tapi bukan untuk kesejahteraan rakyat, justru 
pencitraan SBY terburuk dalam menjalankan roda pemerintahan dan kinerja 
tak memuaskan masyarakat Indonesia.

Sektor dan Masa Darurat


Sepanjang perjalanan pemerintahan SBY kondisi Indonesia mengalami pasang 
surut yang semakin tak menentu. Sinisme publik atas kegagalan kinerja 
seakan mengemuka dan menguat. Dinamika politik, ekonomi, sosial budaya, 
serta hukum dan HAM menunjukan betapa negeri ini belum mapan dan kian jauh 
dari harapan. Ikatan politik antara rakyat dengan pemimpinnya mulai 
renggang bahkan publik menilai kalau SBY adalah pemimpin yang otoriter 
masa kini. Kepentingan politik praktis menjadi capaian utama diatas 
kepentingan negara dan rakyatnya. Ironisnya, negara belum mewujudkan rasa 
keadilan bagi negerinya bahkan rakyat masih hidup di bwah garis 
kemiskinan. Keadaan ini membuat sektor ekonomi, hukum serta politik saat 
ini menjadi genting dan dalam keadaan darurat negara. Artinya, kinerja SBY 
dibidang ekonomi merosot drastis, begitu halnya dengan kondisi hukum dan 
politik yang amburadul. Ketiga segmen itulah penyumbang prestasi buruk 
dalam kepemimpinan SBY sampai saat ini.

Sektor ekonomi adalah yang paling strategis dan yang menentukan arah 
kompas pembangunan Indonesia dibanding sektor lainnya. Selama era SBY, 
kondisinya memburuk tak sebagus yang terucap dalam fakta dan data faktual 
pemerintah. Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik oleh pemerintah 
hanya terasa pada masyarakat ekonomi kelas menengah keatas sementara bagi 
masyarakat ekonomi kelas bawah justru keadaannya terbalik dan semakin 
terpuruk (Yudi Latif;2013). Dalam survei Indonesia Network Election Survey 
tahun 2013 mencatat, selama pemerintahan SBY keadaan ekonomi 74,4 persen 
dalam keadaan menurun. Hal ini berakibat melonjaknya harga BBM hingga 
membuat daya beli masyarakat menurun dan kehidupan ekonomi rakyat semakin 
berat. Yang paling parah adalah praktek liberalisasi pasar kian merajai 
era pemerintahan SBY.

Dari ekonomi pasar hingga industri, dari tambang sampai ke migas bahkan 
dari sektor hulu ke hilir kini sudah dikuasi asing. Rezim SBY yang 
berkuasa tanpa peduli telah menarik kebijakan ekonomi ke kapitalis dan 
neoliberal. Membuat ekonomi indonesia kembali menambah utang negara yang 
awalnya mencapai Rp 1.977,71 Triliun pada akhir 2012 dan sekarang naik 
menjadi Rp 2.273,76 triliun pada September 2013. Dengan demikian, aset 
negara pun dikuasai pihak asing hingga menembus level 70-80 persen. Maka 
secara kualitas kemiskinan mengalami involusi dan cenderung semakin 
kronis. Sisi lain pengangguran Indonesia sebesar 6,25 persen atau sebanyak 
7,39 juta orang (Agustus 2013), ketika dibanding tahun 2012 yang hanya 
berkisar 6,14 persen.

Angka pengangguran bertumbuh lantaran ekonomi tumbuh hanya 5,62 persen. 
Artinya perlambatan ekonomi terjadi karena pengurangan lapangan kerja. 
Dalam keadaan ekonopmi genting seperti itu, mala SBY ingin sekedar 
menaikan citra pemerintah dengan rela merogok kocek 109 Miliar untuk 
kegiatan WTO di Bali pada beberapa waktu lalu. Namun apa yang didapat dari 
kesepakatan perdagangan tersebut , tak banyak memberikan profit bagi 
Indonesia justru pemerintah hanya menebar pesona atas negara-negara di 
dunia yang ikut dalam agenda pertemuan itu.

Sisi hukum masa SBY juga menjadi abnormal eksistensinya saat ini. 
Indonesia belum memiliki kepastian hukum yang jelas. Pengadilan hukum 
masih menjatuhkan vonis kepada kelompok lemah yang menyisahkan kaum 
penguasa di atasnya. Rasanya publik tak percaya dengan pemberantasan 
korupsi di zaman SBY. Sekitar 72,3 persen masyarakat tak puas dengan 
penegakan hukum di masa ini. Yang paling fatal, korupsi terjadi melibatkan 
orang-orang dekat SBY terutama di Demokrat. Data audit Badan Pemeriksa 
Keuangan (BPK)  selama tujuh tahun kepemimpinan SBY ditemukan penyimpangan 
anggaran sebesar Rp 103,19 triliun. Akibat korupsi pada rezim SBY, negara 
rugi Rp 2,169 Triliun. SBY-Boediono menjadi gagal dalam menegakkan 
supremasi hukum. Berbagai megaskandal korupsi yang terjadi selama 
pemerintahannya tak pernah mampu diselesaikan. Seperti skandal Bank 
Century, mega proyek Hambalang, pembangunan Wisma Atlet di Palembang, SKK 
Migas, hingga menyeret lembaga hukum tertinggi Mahkamah konstitusi (MK).

Politik oligarki maupun dinasti politik yang melilit zamannya SBY membuat 
kondisi politik nasional makin tak sehat dan stabil. Kondisinya memburuk 
apalagi menjelang tahun politik Pemilu 2014 membuat suhu politik mejadi 
gaduh. Kisruh DPT adalah babak akhir dari politik desaign pemerintah untuk 
menyelamatkan kepentingan kelompok tertentu. Rakyat masih ragu dengan 
pemerintah jika demokrasi tak akan berjalan pincang dan penuh noda politik 
akibat perilaku elita maupun pejabat yang tidak fair. Jika demikian 
terjadi maka partisipasi politik masyarakat akan menurun. Yang terlahir 
adalah konflik politik maupun kepentingan (interes conflict). Meskipun 
aneh kondisinya tapi nyata roda politik yang terjadi benar-benar membuat 
publik semakin miris atas keadaan yang sebenarnya. Karena ulah praktek 
demokrasi, sekitar 311 pejabat Kepala Daerah di Indonesia menjadi pelaku 
korupsi (Akbar Tanjung Institute:2013).

Kini usia kepemimpinan SBY akan segera lengser pada medio 2014 mendatang. 
Agenda politik kini menjadi momentum penting tengah disiapkan pemerintah. 
Jelang Pemilu 2014 maka tokoh pengganti SBY untuk melanjutkan estapet 
pemerintahan untuk lima tahun mendatang menjadi diskursus politik di tahun 
panas ini. Ketika publik menyatakan ketidakpuasannya kepada SBY dan 
pemerintah maka sejatinya ekspektasi masyarakat akan lebih hati-hati dalam 
memilih calon pemimpin presiden berikutnya. Dua periode kepemimpinan SBY 
tak meninggalkan sejarah emas dan jejak politik untuk ditiru. Hanya 
tertinggal kisah mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia untuk mengenang 
masa kepemimpinannya. Semoga pemilu tahun ini menjadi dambaan seluruh 
masyarakat Indonesia. (*)

--
I am using the free version of SPAMfighter.
SPAMfighter has removed 2369 of my spam emails to date.
Get the free SPAMfighter here: http://www.spamfighter.com/len

Do you have a slow PC? Try a Free scan 
http://www.spamfighter.com/SLOW-PCfighter?cid=sigen

Kirim email ke