http://www.sinarharapan.co/news/read/30540/mengitung-efek-domino-kenaikan-elpiji-12-kg



Mengitung Efek Domino Kenaikan Elpiji 12 Kg
06 January 2014 Moh Ridwan Ekonomi dibaca: 92

Keberadaan elpiji 12 kg selama ini memang ibarat buah simalakama bagi PT 
Pertamina (Persero).

Seiring riuh bunyi trompet dan dentuman kembang api yang menerangi langit 
serta keceriaan masyarakat menyambut tahun baru 2014, PT Pertamina 
(Persero) datang membawa kado pahit bagi konsumen elpiji 12 kilogram (kg) 
di Tanah Air.

Keceriaan pada malam tahun baru itu pun langsung sirna. Ini terjadi ketika 
esok harinya masyarakat harus menerima kenyataan pahit, harga elpji 12 kg 
diputuskan naik Rp 3.959 per kg.

Jika dihitung rata-rata, kenaikan harga jual elpiji 12 kg nonsubsidi dari 
Rp 5.850 per kg naik menjadi Rp 9.809 per kg. Jadi, harga pokok gas elpiji 
tersebut dari Pertamina naik dari Rp 70.200 per tabung menjadi Rp 117.708 
per tabung.

Seperti sifat gas yang gampang meledak, keputusan sepihak PT Pertamina 
(Persero) menaikkan harga elpiji 12kg itu pun langsung menyulut reaksi di 
tengah-tengah masyarakat.

Pasalnya, harga jual elpiji 12kg di tingkat konsumen pun langsung 
melambung hingga di kisaran Rp 150.000-300.000 per tabung.

Meski bukan komoditas yang disubsidi pemerintah, keberadaan elpiji 12 kg 
selama ini memang ibarat buah simalakama bagi PT Pertamina (Persero).

Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang selama ini diandalkan sebagai 
mesin uang pemerintah, Pertamina "dipaksa" menjual elpiji 12 kg dengan 
harga di bawah harga produksi mereka.

Di sisi lain, mereka harus menyalurkan elpiji 3 kg untuk masyarakat miskin 
yang disubsidi pemerintah.

Celakanya, hingga saat ini, pemerintah tidak membuat mekanisme penyaluran 
elpiji 3 kg bersubsidi yang tepat sasaran. Tak heran, ketika harga elpiji 
12 kg diputuskan naik, konsumen menengah ke atas yang semula menggunakan 
elpiji 12 kg, kini mulai beralih ke elpiji 3 kg yang sebenarnya 
diperuntukkan untuk konsumen tidak mampu.

Cerita yang nyaris sama dengan mekanisme penyaluran bahan bakar minyak 
(BBM) jenis solar dan premium bersubsidi yang hingga kini masih banyak 
dikonsumsi konsumen yang tidak tepat sasaran.

Jual Rugi Selama Enam Tahun

PT Pertamina (Persero) beralasan, terpaksa memutuskan menaikkan harga 
elpiji nonsubsidi kemasan 12 kg menyusul tingginya harga pokok LPG di 
pasar dan turunnya nilai tukar rupiah yang menyebabkan kerugian perusahaan 
semakin besar.

Dengan konsumsi elpiji nonsubsidi kemasan 12 kg tahun 2013 yang mencapai 
977.000 ton, di sisi lain harga pokok perolehan elpiji rata-rata meningkat 
menjadi US$ 873, serta nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar, 
kerugian Pertamina sepanjang tahun ini diperkirakan mencapai lebih dari Rp 
5,7 triliun. Kerugian tersebut timbul sebagai akibat dari harga jual 
elpiji nonsubsidi 12 kg yang masih jauh di bawah harga pokok perolehan.

Harga yang berlaku saat ini merupakan harga yang ditetapkan pada Oktober 
2009 yaitu Rp 5.850 per kg, sedangkan harga pokok perolehan kini mencapai 
Rp 10.785 per kg. Dengan kondisi ini, Pertamina selama ini telah "jual 
rugi" dan menanggung selisihnya sehingga akumulasi nilai kerugian mencapai 
Rp 22 triliun dalam enam tahun terakhir.

“Kondisi ini tentunya tidak sehat secara korporasi karena tidak mendukung 
Pertamina dalam menjamin keberlangsungan pasokan elpiji kepada 
masyarakat," tutur Vice President Corporate Communication Pertamina, Ali 
Mundakir.

“Untuk itu, terhitung 1 Januari 2014 pukul 00.00, Pertamina memberlakukan 
harga baru elpiji nonsubsidi kemasan 12 kg secara serentak di seluruh 
Indonesia dengan rata-rata kenaikan di tingkat konsumen Rp 3.959 per kg. 
Besaran kenaikan di tingkat konsumen akan bervariasi berdasarkan jarak 
SPBBE ke titik serah (supply point). Dengan kenaikan ini pun, Pertamina 
masih jual rugi kepada konsumen elpiji nonsubsidi 12 kg sebesar Rp 2.100 
per kg,” ia menjelaskan.

Keputusan tersebut, kata Ali, merupakan tindak lanjut atas rekomendasi 
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam laporan hasil pemeriksaan pada 
Februari 2013. Pda lapaoran itu, Pertamina menanggung kerugian atas bisnis 
elpiji nonsubsidi selama 2011 hingga Oktober 2012 sebesar Rp 7,73 triliun.

Hal itu dapat dianggap menyebabkan kerugian negara. Selain itu, sesuai 
Permen ESDM No 26/2009 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Liquefied 
Petroleum Gas Pasal 25, Pertamina telah melaporkan kebijakan perubahan 
harga ini kepada menteri ESDM.

Dengan pola konsumsi elpiji nonsubsidi 12 kg di masyarakat yang umumnya 
digunakan untuk satu hingga satu setengah bulan, kenaikan harga akan 
memberikan dampak tambahan pengeluaran sampai Rp 47.000 per bulan atau Rp 
1.566 per hari.

Kondisi ini diyakini tidak akan banyak berpengaruh pada daya beli 
masyarakat. Ini mengingat konsumen elpiji 12 kg adalah kalangan mampu. 
Untuk masyarakat konsumen ekonomi lemah dan usaha mikro, pemerintah telah 
menyediakan elpiji 3 kg bersubsidi yang harganya lebih murah.

Migrasi ke Elpiji 3 Kg

Terkait kekhawatiran kenaikan harga elpiji 12 kg akan memicu migrasi 
konsumen ke elpiji 3 kg, Ali mengatakan, Pertamina saat ini telah 
mengembangkan sistem monitoring penyaluran elpiji 3 kg (SIMOL3K), yang 
diimplementasikan secara bertahap di seluruh Indonesia mulai Desember 
2013.

"Dengan sistem ini, Pertamina akan dapat memonitor penyaluran elpiji 3 kg 
hingga level pangkalan berdasarkan alokasi daerahnya. Namun, dukungan 
pemerintah tetap diharapkan melalui penerapan sistem distribusi tertutup 
elpiji 3 kg serta penerbitan ketentuan yang membatasi jenis konsumen yang 
berhak menggunakan elpiji 3 kg,” Ali menegaskan.

Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), Sofyano Zakaria, menilai 
migrasi pengguna elpiji 12 kg ke elpiji 3 kg sulit dihindari. Pasalnya, 
selama ini pemerintah tidak pernah mengatur distribusinya, baik di tingkat 
agen maupun ke masyarakat sebagai pengguna.

"Padahal, dalam Peraturan Menteri ESDM No 26/2009 tentang Penyediaan dan 
Pendistribusian LPG, dengan jelas diatur distribusi elpiji 3 kg. Dalam 
permen itu dikatakan, distribusi elpiji 3 kg dilakukan secara tertutup. 
Jadi, hanya warga yang telah didata saja yang dapat membeli elpiji 3 kg. 
Begitu pun dengan agen-agennya juga sudah didata sebelumnya. Namun, semua 
itu tidak berjalan sebagaimana mestinya," kata Sofyano, Minggu (5/1).

Dia menambahkan, awalnya distribusi elpiji 3 kg tersebut dilakukan kepada 
masyarakat pengguna minyak tanah, sebagai bagian konversi. Saat pertama 
kali didistribusi, semua masyarakat yang menerima telah didata pemerintah. 
Begitu juga agen-agen penyalurnya, telah didata dan ditunjuk pemerintah.

Untuk para penyalur elpiji 3 kg, ia mengatakan, sesuai aturan yang ada 
harus memiliki izin untuk mendistribusikannya dari Dirjen Migas. Tapi 
faktanya, Sofyano mengatakan, sampai saat ini belum ada agen yang memiliki 
surat penyaluran seperti yang diisyaratkan tersebut.

Akibat kelalaian pemerintah, saat ini sistem distribusi terhadap tabung 
elpiji 3 kg tidak jelas, dan lebih ke sistem distribusi terbuka. Ini 
disebabkan siapa pun dan di mana pun bisa memperoleh tabung elpiji 3 kg.

Pemerintah, menurutnya, harus memperhatikan masalah kacaunya sistem 
pendistribusian elpiji 3 kg. Ini karena bila tidak, kembali subsidi 
pemerintah tidak akan tepat sasaran. Itu karena pengguna elpiji 3 kg nanti 
bukan hanya warga miskin.

Ditinjau Ulang

Meski terkesan terlambat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta 
Pertamina meninjau ulang kebijakan kenaikan harga elpiji 12 kg.

"Peninjauan kembali atau kebijakan kenaikan harga elpiji 12 kg saya 
harapkan tetap melalui prosedur dan mekanisme yang diatur undang-undang. 
Saya meminta Pertamina dan menteri terkait yang diamanahkan undang-undang 
untuk menyelesaikan peninjauan kembali itu dalam waktu satu hari, satu 
kali 24 jam," kata Presiden Yudhoyono dalam konferensi pers di Bandara 
Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu.

Pernyataan tersebut diungkapkan presiden setelah menggelar rapat kabinet 
terbatas selama kurang lebih dua jam di Bandara Halim Perdanakusuma. Rapat 
tersebut diadakan begitu Presiden Yudhoyono tiba di Halim seusai melakukan 
kunjungan kerja di Surabaya.

Presiden menegaskan agar malam ini para pejabat terkait melakukan 
pembahasan peninjauan tersebut, untuk kemudian esok pagi (Senin-red) 
dikonsultasikan dengan BPK dan siangnya disampaikan kepada masyarakat.

"Malam ini mereka sudah bekerja, esok hari berkonsultasi dengan BPK, siang 
harinya korporat atau Pertamina sudah selesai melakukan peninjauan. 
Kemudian bisa disampaikan kepada masyarakat, apa yang akan dilakukan 
Pertamina untuk mengatasi permasalahan elpiji 12 kg ini," kata presiden.

Ia mengungkapkan, konsultasi dengan BPK dibutuhkan untuk memecahkan solusi 
harga tersebut. Hal ini mengingat hasil pemeriksaan BPK merupakan salah 
satu alasan kenaikan harga elpiji 12 kg.

"Alasan dan tujuan kenaikan elpiji 12 kg oleh Pertamina utamanya didorong 
dan disebabkan hasil pemeriksaan BPK. Dalam auditnya ditemukan kerugian 
Pertamina sebesar Rp 7,7 triliun. Kerugian didapatkan utamanya harga yang 
dianggap terlalu rendah dari elpiji 12 kg," kata presiden.

Padahal, Presiden Yudhoyono melanjutkan, elpiji 12 kg tidak termasuk 
elpiji yang mendapatkan subsidi (harganya ditentukan pemerintah). Berbeda 
dengan elpiji 3 kg yang disubsidi.

Selain itu, Presiden Yudhoyono menambahkan, BPK dalam pemeriksaannya juga 
merekomendasikan dilaksanakannya kenaikan harga untuk mengatasi atau 
paling tidak mengurangi kerugian Pertamina.

Untuk itu, menurut Presiden Yudhoyono, konsultasi dengan BPK diperlukan 
agar solusi dan tindakan yang dilakukan Pertamina berkaitan dengan masalah 
kenaikan harga elpiji 12kg itu. Ini nantinya tetap sesuai hasil audit dan 
rekomendasi BPK.

Presiden menambahkan, prinsip yang pemerintah pilih dalam kebijakan elpiji 
12 kg ini adalah Pertamina dan negara tidak terus-menerus dirugikan. 
Apalagi, dalam jumlah yang besar sebagaimana ditemukan BPK.

"Namun, penyesuaian atau kenaikan harga haruslah dilakukan dengan 
mempertimbangkan kemampuan dan daya beli masyarakat, juga bisa ditempuh 
dengan tahapan yang tepat dan tidak memberikan beban yang tidak semestinya 
kepada masyarakat," kata Presiden Yudhoyono.

Pengamat energi dari Energy Watch, Mamit Setiawan, menyesalkan sikap 
Pertamina yang menaikkan harga elpiji 12 kg saat kondisi ekonomi yang 
kurang baik. Menurutnya, saat ini daya beli masyarakat masih rendah, 
ditambah turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kondisi tersebut, 
dia nilai sebagai resesi ekonomi kecil yang sedang dihadapi masyarakat.

Menurutnya, Pertamina boleh saja mengatakan selama ini mereka mengaku 
melakukan "jual rugi". Namun, secara korporasi, Pertamina sebenarnya tidak 
mengalami kerugian.

"Jadi, sebaiknya jangan dinaikkan dulu harga gas elpiji 12 kg, sebab tidak 
terlalu mendesak hal itu dilakukan Pertamina. Meskipun mereka mengatakan 
merugi karena menjual gas di bawah harga pasar, secara keseluruhan 
usahanya, Pertamina masih untung," kata Mamit saat dikonfirmasi SH.

Pengamat minyak dan gas, Kurtubi, malah meminta kebijakan Pertamina 
menaikkan harga elpiji 12kg agar ditinjau ulang. Menurutnya, penentuan 
harga elpiji tidak boleh diserahkan ke pelaku usaha karena saat ini 
Pertamina masih memonopoli bisnis elpiji.

Dia berpendapat, untuk komoditas energi yang dibutuhkan orang banyak, 
seharusnya kebijakan harganya ditentukan pemerintah.

Hal ini sesuai keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membatalkan salah 
satu pasal dalam UU No 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, yang 
menyerahkan penentuan harga migas mengikuti mekanisme pasar. Jadi, 
harganya akan berfluktuasi mengikuti harga migas di pasar internasional.

"MK menganggap pasal yang dibatalkannya itu bertentangan dengan Pasal 33 
UUD 1945. Hal ini mengingat minyak dan gas adalah kekayaan alam yang 
menyangkut hajat hidup orang banyak dan berada dalam penguasaan negara. 
Jadi, kalau harga gas ditentukan Pertamina, itu sama dengan melanggar 
putusan MK," ujarnya.

Karena itu, meski elpiji 12 kg tidak disubsidi, menurutnya, kebijakan 
harga elpiji tidak boleh diserahkan ke pelaku usaha. Terlebih lagi, bisnis 
ini dimonopoli Pertamina, harga bisa ditentukan semaunya.

Anggota Komisi VII DPR, Dewi Aryani mengatakan, kenaikan harga elpiji 
karena melemahnya rupiah terhadap dolar AS tidak bisa dijadikan alasan 
bagi Pertamina untuk menaikkan harga. Ini karena, menurutnya, setiap tahun 
pemerintah telah memprediksi nilai tukar dolar AS terhadap rupiah pada 
saat membuat postur anggaran. Karena itu, seharusnya risikonya juga telah 
diperhitungkan.

"Dengan menaikkan harga gas elpiji, itu membuktikan pemerintah kurang jeli 
dalam menganalisis berbagai kemungkinan yang terjadi secara makro maupun 
mikro," tuturnya.

Kita tunggu saja keputusan apa yang akan diambil pemerintah?

+++++

http://www.sinarharapan.co/news/read/30515/-kenaikan-elpiji-di-sumsel-menyumbang-angka-kemiskinan



Kenaikan Elpiji di Sumsel Menyumbang Angka Kemiskinan
06 January 2014 Muhamad Nasir Ekonomi

ALEMBANG - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS)  Sumatra Selatan, Bachdi 
Ruswana, melansir data terbaru tentang profil kemiskinan di Palembang. 
Dan, kebijakan kenaikan gas elpiji 12 kiloram akan berpotensi semakin 
memperbesar jumlah kelompok masyarakat miskin.

"Kenaikan harga gas riskan juga terhadap angka kemiskinan," ujar Ruswana 
ketika ditemui SH, di kantornya, di Palembang, baru-baru ini.

Ia mengatakan, kenaikan harga gas 12 kg berdampak langsung pada kenaikan 
harga makanan jadi. Masyarakat segmen usaha kecil sangat rentan terhadap 
dampak kebijakan ini. Kenaikan harga makanan jadi akan mengalami laju 
inflasi yang kemudian berkorelasi dengan angka kemiskinan di Sumsel.

"Kenaikan elpiji, risikonya sangat besar sekali, kenaikan  angka 
kemiskinan tinggi  dan ini sangat rentan terhadap kebijakan makro 
ekonomi," dia menegaskan.

Dalam hal ini, pemerintah perlu kebijakan dan strategi penyangga agar 
jumlah penduduk miskin tidak semakin banyak karena kebijakan makro 
ekonomi.

"Sehingga kalau terjadi syok tidak berdampak langsung," ucap dia.

Sementara itu, Manager  Senior Supervisor Ektrnal  Relations Pertamina 
Marketing Operation  Marketing Operation Region II Sumbagsel Alicia 
Irzanova saat dikonfirmasi menyebutkan, sekitar 5.700 MT Elpiji 12 kg 
telah disiapkan untuk mengantisipasi melonjaknya permintaan konsumen.

“Untuk stok elpiji 12 kg wilayah Sumsel 5.700 MT disiapkan. Konsumsi 
harian elpiji di Sumsel untuk gas 12 kg sekitar 110MT per hari. Kitapun 
telah menyiapkan stok elpiji 3kg sebanyak 480MT” Alicia menuturkan.

Meresahkan
Sementara itu, melambungnya harga gas elpiji 12 kilogram di  di Sumatera 
Selatan (Sumsel) membuat warga kesal. Melonjaknya harga hingga 60 persen 
dan kurangnya sosialisasi dari pemerintah juga menjadi alasan kekesalan 
masyarakat.

Darmini (31), ibu rumah tangga, warga Talang Kelapa, Palembang, mengatakan 
kenaikan gas elpiji sangat memberatkan masyarakat, terutama rakyat kecil 
seperti dirinya.

“Kenaikannya tidak masuk akal, mencapai enam puluh persen, tentu ini 
sangat memberatkan,” ujar dia.

Kenaikan harga gas elpiji ini juga sangat minim sosialisasi. Ia mengaku 
kaget ketika membeli elpiji 12 kilogram seharga Rp 126.500.

"Bagaimana pemerintah ini, tidak ada sosialisasinya, tiba-tiba harganya 
naik seperti ini," ujar dia.

Rahman, pemilik rumah makan mobil yang biasa mangkal di dekat 
International Plasa (IP) mengaku sangat bingung mencari solusi dari 
kenaikan elpiji.

"Hitung-hitungan, lebih murah pakai arang. Tapi, kalau semua orang beralih 
ke arang, gimana," kata dia.

Dia khawatir pasokan arang tak cukup, dampaknya langka dan harganya ikut 
membumbung.

Ny Hamidah, pemilik catering juga mengaku kesulitan mengatasi kenaikan 
elpiji ini. Mau beralih ke kayu bakar, nantinya dia yakin kayu bakar juga 
bakal naik.

Berbeda dengan warga yang berlangganan gas rumah tangga.

"Kami tak terganggu, karena per bulan paling-paling Rp 75 ribu, " ujar Ny 
Nurlela yang tinggal di kawasan Bukit Besar.

Jalur pipa gas rumah tangga memang belum bisa melayani semua warga 
Palembang. Baru di beberapa kawasan dengan pelanggan tak mencapai 20.000 
an orang.
--
I am using the free version of SPAMfighter.
SPAMfighter has removed 2463 of my spam emails to date.
Get the free SPAMfighter here: http://www.spamfighter.com/len

Do you have a slow PC? Try a Free scan 
http://www.spamfighter.com/SLOW-PCfighter?cid=sigen

Kirim email ke